'Two States Solution’ Bagi Palestina Harus Ditolak!


Penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina merupakan tindakan dzalim. Haram Umat Islam ridho terhadap apa yang dilakukan oleh penjajah Israel terhadap Palestina.
Akhir-akhir ini konflik Israel–Palestina semakin mencuat di tengah-tengah umat. Mencuatnya konflik Israel–Palestina diawali oleh pidato presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump dalam pidatonya memberikan pengakuan resmi bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. Ia juga menjelaskan bahwa pemindahan Kedutaan Besar AS akan segera berproses (news.detik.com, 2017).
Pernyataan Trump berujung penolakan di berbagai negara, termasuk di negaranya sendiri dan di negeri kita tercinta ini.
Bila melihat solusi yang ditawarkan oleh PBB (Persatuan Bangsa-bangsa), tentu Palestina yang dirugikan. PBB memberikan solusi dua negara (Two States Solution) untuk mengatasi konflik Israel-Palestina. Solusi dua negara merupakan salah satu opsi solusi konflik Israel–Palestina menyerukan untuk dibuatnya "Dua negara untuk dua warga." Dengan solusi dua negara, Negara Palestina berdampingan dengan Israel, di sebelah barat Sungai Yordan. Sejarah dari kerangka solusi telah tertulis dalam resolusi PBB mengenai "Penyelesaian damai tentang masalah Palestina" yang ada sejak tahun 1974 (id.wikipedia.org, 2017).
Dalam pandangan Islam solusi dua negara adalah kebhatilan yang harus ditolak karena tanah palestina adalah tanah kharajiyah, tanah milik kaum muslimin selamanya. Tanah kharaj adalah tanah suatu negeri yang dibebaskan melalui peperangan atau perdamaian (nusr.net, 2017). Ustadz Ismail Yusanto (Juru Bicara Hizbut Tahrir) melalui Twitternya mengatakan, “Palestina adalah tanah kharajiyah. Milik kaum muslimin. Tak seorangpun yg berhak menyerahkannya pd org lain. Karena itu, ‘two states solution’ hrs ditolak. Ini bukan solusi tp justru akan memberi jalan penjajahan menjadi abadi”.
Bila melihat sejarah Islam, ketika Kekhilafah Islam berdiri, Khalifah Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak memberikan tanah Palestina walau se-inchi pun kepada Yahudi. “Aku tidak akan memberikan satu inchi tanah dari Palestina kepada Yahudi sebab Palestina bukanlah milikku namun ia adalah milik umat dan umat telah menumpahkan darah mereka untuk mempertahankan tanah ini”. Sultan Abdul Hamid II, kepada Theodore Herzl, 1896.
Bagi umat Islam Palestina adalah tanah miliki kaum muslimin, haram baginya dimiliki oleh kaum kafirin walaupun se-inchi saja. Solusi dua negara adalah solusi bathil dan dzalim. Umat Islam haram ridho atasnya. Jauh-jauh hari Khalifah Sultan Abdul Hamid II menegaskan, “Jika kekhilafahan Islam ini hancur pada suatu hari, mereka dapat mengambil Palestina tanpa biaya. Tetapi selagi Aku masih hidup, aku lebih rela sebilah pedang merobek tubuhku daripada melihat bumi Palestina dikhianati dan dipisahkan dari kekhilafahan Islam. Perpisahan tanah Palestina adalah suatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kamimasih hidup”
Maka dari itu, solusi total untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina dengan menyatukan kekuatan Umat Islam seluruh dunia dalam satu kepemimpinan, berjihad dan menegakkan Syariah Islam secara sempurna dalam institusi Khilafah. Mengakhiri penderitaan Umat Islam dan mengembalikan kembali kejayaan Umat Islam sebagaimana yang alami pada masa kekhilafahan Khalifah Sultan Abdul Hamid II. Wallahu’alam
[Irfan wahyudin, Mahasiswa FPEB UPI Bandung]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget