Ijazah Nasi Goreng


Beliau kepala Program Studi (Prodi) di lingkungan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) UPI. Jenjang akademiknya sudah mentok, Doktor. Masih ingat saat bimbingan, ia menganalogikan proses kuliah seperti proses pembelajaran menghasilkan nasi goreng. Pembelajar nasi goreng harus mengeyam beberapa SKS (Sistem Kredit Semester) untuk menghasilkan nasi goreng yang nikmat. Ia harus menempuh 2 SKS mata kuliah mengiris bawang, 2 SKS mata kuliah menyalakan kompor, 2 SKS meracik bumbu, 3 SKS menggoreng telur, 3 SKS mencampurkan bumbu, telur dan nasi, hingga akhirnya ia harus diuji dengan menyerahkan laporan tertulis langkah-langkah yang ia tempuh untuk menghasilkan nasi goreng nikmat spesial.
Bagaimana jika hasil nasi goreng yangia racik tidak sesuai dengan apa yang dilakukan oleh chef nasi goreng lainnya? Tak masalah, justru disana letak pembelajarannya. Ia akan mendapatkan masukan dari sesama chef nasi goreng lainnya, begitupun chef lainnya, akan mendapatkan rekomendasi terbaik agar nasi goreng yang dihasilkan lebih baik lagi.
Saya coba berfikir, menerapkan analogi yang ia sampaikan dalam kehidupan yang sudah saya alami dan yang terjadi saat ini. Selama pembelajaran di kampus, menyusun skripsi bisa dikatakan hal yang paling menyulitkan, namun hasil penelitian skripsi tidak bisa dikatakan salah jika hasil penelitian tidak sesuai dengan peneliti lain, yang terpenting proses terlaksana sesuai dengan langkah-langkah ilmiah yang berdasarkan data dan dapat dipertanggungjawabkan. Misal, metode pembelajaran Mind Mapping dalam penelitian yang dilakukan oleh fulan dapat meningkatkan hasil belajar Ekonomi, sedangkan hasil penelitian peneliti lain menyimpulkan bahwa Mind Mapping tidak dapat meningkatkan hasil belajar Ekonomi. Lantas apakah salah hasil penilitian yang dilakukan oleh fulan? Tentu tidak, jika penelitiannya didasarkan langkah-langkah ilmiah yang berdasarkan data dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sayangnya, budaya ilmiah di negeri ini kian hari kian menipis. Penguasa negeri ini melakukan segala cara untuk membungkam lawan politik yang berbeda pandangan dengannya, tanpa melalui jalur imiah, diskusi dan klarifikasi. Lewat Perppu No 2 Tahun 2017, ormas-ormas yang dianggap bertentangan dengan Pancasila, menurut kacamata penguasa, wajib dibubarkan. Penguasa mempunyai hak tunggal penafsir Pancasila. Tak hanya itu, ada ormas, sebut saja Banser yang menyatakan diri paling pancasialis, membubarkan pengajian dan persekusi terhadap ulama. Apakah budaya ilmiah sudah tidak berlaku di negeri ini? Diskusi, konfirmasi dan komunikasi tergantikan dengan persekusi, menebar fitnah hingga berujung anarki?
Seakan-akan perubahan tidak dikehendaki, mereka yang mengaku diri paling pancasialis berfikir bahwa NKRI harga mati, Pancasila tak terganti! Sejak awal negeri ini berdiri perubahan selalu terjadi, rezim Soekarno, NKRI masih meliputi Papua Nugini, Rezmi putrinya, Megawati, Papua Nugini sudah lepas dari NKRI. Apakah ini yang dimaksud NKRI harga mati? Sekarang, Rezim Jokowi, sumber daya alam memang masih bercokol di NKRI, tapi coba tanyakan, siapa yang menguasai? Asing dan Aseng! Bukan rakyat pribumi.
Sekarang kita lihat Pancasila, setiap rezim berganti, Pancasila ditafsirkan berbeda. Tergantung kepentingan penguasa. Rezim Soeharto, Pancasila condong ke Komunis Sosialis, Rezim SBY, Pancasila condong ke Kapitalis Liberal, sekarang Rezim Jokowi Pancasila kembali condong ke Komunis Sosialis. Lalu dimana suara mereka yang mengatakan Pancasila tak terganti? Tak bersua, mungkin karena sudah kenyang dapat uang melimpah.
Maka, perubahan adalah hal yang pasti, dalam penelitian, hasil penelitian menunjukkan hasil berbeda, bukan berarti salah, coba konfirmasi dan diskusi barangkali keliru dalam proses atau keliru dalam data. Maka perlu intropeksi. Begitupun negeri ini, sudah lebih setengah abad negeri ini merdeka tapi belum terlihat tanda-tanda sejahtera. Mungkin karena masih berfikir purbakala, tidak mau menerima perubahan yang lebih pasti, yaitu Islam yang sudah terbukti. Wallahu’alam
[Irfan Wahyudin, Alumnus FPEB UPI]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget