Aksi 1712 Disinyalir Menjadi Ajang Kampanye Penguasa Untuk 2019.


Momentum reuni alumni 212 yang berbau wangi kalangan Islamis dan oposisi juga akan sengaja ditenggelamkan, dengan adanya aksi 1712 yang diadakan pada Ahad (17/12). Indikasi kuat tercermin dari statemen Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin pada Selasa (13/12).

Dikutip dari tribunnews.com, Ketua MUI dari kalangan yang dekat dengan pemerintah, Nahdatul Ulama (NU) menegaskan aksi 1712 akan jauh lebih besar dari reuni alumni 212.

"Kita harapkan nanti umat Islam dan umat-umat yang lain, secara bersama-sama untuk mendorong adanya pengakuan secara sah terhadap negara Palestina, supaya Donald Trump menarik keputusannya," katanya.

"Insya Allah, kita lebih besarlah," ujarnya

Reuni Alumni 212 sendiri dikenal sebagai momen peringatan kemenangan umat Islam terhadap Ahok. Ahok, sekalipun dekat dengan presiden Jokowi tetap bisa dipenjara sekalipun melalui proses yang berbelit belit. 2 tahun dirasa cukup singkat untuk seorang penista agama yang diidolakan oleh kalangan anti Islam sehingga efek jera tidak terwujud.

Kita amati bersama bahwa massa 212 yang digerakkan oleh eks HTI, FPI, GNPF berhasil menenggelamkan massa dari kalangan yang terindikasi dekat dengan pemerintah seperti MUI dan NU. Alhasil dibutuhkan panggung untuk mengampil posisi dan menampilkan citra positif untuk keperluan Pilpres 2019.

Indikasi lain, adalah kooperatifnya aparat kepolisian dalam mengamankan aksi umat Islam yang bersifat kolosal. Bukan rahasia lagi, pihak aparat berkali kali memicu kontroversi dengan menghalang halangi dan mempersulit perizinan umat Islam yang akan mengikuti aksi 212, 287, 299 dan reuni alumni 212.

Aksi Selamatkan Rohingnya di Magelang jelas merupakan bukti tak terbantahkan bahwa pihak kepolisian sengaja menghalang halangi aksi persatuan umat Islam. Juga, perampasan bendera tahuid yang dialami oleh umat Islam termasuk kontributor Mediaoposisi.com semakin memperkuat keberpihakan pihak kepolisian kepada siapa.

Kapolri, Tito Karnavian yang terkenal dekat dengan penguasa pun acapkali melontarkan statemen kontroversial ketika melihat persatuan umat Islam.

Salah satunya, dikutip dari Aktual.com, sosok yang turut dekat dengan Ahok ini berkomentar sinis terhadap umat Islam yang ingin Ahok –sang penista agama- dipenjara.

“Langkahnya solid jangan lagi bicara cakar-cakaran, tidak bicara misalnya agama ini dan agama itu, tidak bicara mengenai suku ini dan suku itu, tidak bicara keturunan ini dan keturunan itu,” ujarnya, Senin (14/8)

Pertanyannya, mengapa polisi begitu lunaknya di Aksi 1712 ? Bahkan, menurut informasi yang Redaksi Mediaoposisi.com dapatkan Kapolri memimpin rapat persiapan aksi 1712, ada apa sebenarnya ?

Ketika Pencitraan Terbongkar

Menimbang sosok yang akan diuntungkan dari adanya aksi 1712, tak lain adalah sosok yang dekat dengan Ahok, Presiden Jokowi. Jokowi sebelumnya menghadiri KTT OKI sekaligus menyampaikan 6 poin resolusi

 6 poin usulan sikap negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) terhadap langkah Amerika Serikat yang mengakui Al Quds/Yerussalem sebagai ibu kota Israel adalahs sebagai berikut.

Two state solution merupakan satu-satunya solusi dengan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina. Presiden Jokowi mengajak semua negara yang memiliki kedutaan besar di Tel Aviv untuk tidak mengikuti langkah Amerika Serikat memindahkannya ke Yerusalem. OKI dapat menjadi motor untuk menggerakkan dukungan negara-negara yang belum mengakui kemerdekaan Palestina untuk segera melaksanakannya. Presiden Jokowi menyerukan sejumlah negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel untuk meninjau kembali hubungan diplomatik tersebut. Anggota OKI harus mengambil langkah bersama dalam hal meningkatkan bantuan kemanusiaan, peningkatan kapasitas, dan kerja sama ekonomi terhadap Palestina," ujar Jokowi. OKI menjadi motor bagi gerakan di berbagai forum internasional dan multilateral untuk mendukung Palestina.

Pasca penyampaian resolusi yang “manis”  itu, di Indonesia MUI akan mengadakan aksi besar besaran untuk mendukung Palestina.  Tentu, perjalanan menuju 2019 menjadi semakin mudah dan lancar untuk Jokowi, apalagi umat Islam memang seringkali tidak sadar bahwa dimanfaatkan suaranya.

Sayangnya, statemen presiden Jokowi nampaknya hanya pemanis belaka. Pasalnya, dikutip dari tribunnews.com. Duta Besar AS,  untuk Indonesia, Joseph Donovan, Kamis (7/12/2017). mengatakan keputusan pengakuan Al Quds/ Yerusalem sebagai ibu kota Israel sudah dikonsultasikan dahulu dengan negara-negara lain termasuk Indonesia.

"Kami telah berkonsultasi dengan para teman, mitra, dan sekutu kami, termasuk Indonesia, sebelum Presiden Trump mengeluarkan keputusannya," katanya.

Sebuah kebodohan bagi Donald Trump bila melakukan kebijakan kontroversial tanpa melakukan pembungkaman para penguasa negeri muslim.

Lalu, bukankah sebuah pencitraan yang manis bila Jokowi memberikan resolusi perihal sesuatu yang ia pada dasarnya senada dengan Trump.

Waspada ditunggangi wahai MUI dan Ulama ulama yang hanif ! [MO]

Sumber: Mediaoposisi.com

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget