Khilafah adalah Kepemimpinan Pasca-Kenabian


Khilafah adalah Kepemimpinan Pasca-Kenabian
(Kajian Hadits Kepemimpinan)

Oleh: Hafid Karmi
Pengkaji di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat

Teks Hadits

« كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء ، كلما هلك نبى خلفه نبى ، وإنه لا نبى بعدى ، وسيكون خلفاء فيكثرون . قالوا فما تأمرنا قال فوا ببيعة الأول فالأول ، أعطوهم حقهم ، فإن الله سائلهم عما استرعاهم »

Arti Hadits

”Dulu Bani Israel diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka banyak.” Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama. Maka yang pertama saja. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang diminta agar mereka mengurusnya.”

Takhrij

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Abu Awanah, Abu Ya’la, Ibnu Abi Syaibah, dll.

Jenis Hadits

Berdasarkan jumlah rawi, termasuk Hadits Ahad, karena tidak memenuhi ciri-ciri sebagai Hadits Mutawatir. Berdasarkan matan, dari segi bentuk matan, termasuk Hadits qauli (ucapan). Dari segi sandaran (idhafah) matan, termasuk Hadits marfu’ (idhafah pada Nabi), dan karena tanda bentuk dan idhafahnya eksplisit maka disebut haqiqi. Berdasarkan sanad, termasuk Hadits muttashil (bersambung).

Kualitas Hadits

Setelah kami mengkaji secara seksama aspek sanad dan matannya (dari semua jalur periwayatannya), berdasarkan kualitasnya, hadits tersebut masuk ke dalam hadits maqbul dengan kategori hadits shahih. Hadits shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi adil dan dhabith, sanadnya muttashil (liqa’), tidak ada illat (penambahan pengurangan dan penggantian), dan tidak ada kejanggalan (tidak bertentangan dengan al-Qur’an, Hadits shahih, dan akal sehat). Secara i’tibar, konvensi muhadditsin bahwa jenis kitab hadits menjelaskan kualitas Haditsnya, maka karena hadits ini terdapat dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim, maka dapat disimpulkan hadits ini memiliki derajat shahih.

Tathbiq Hadits

Hadits ini terkategori ma’mul bih (dapat diamalkan), karena lafazhnya muhkam (jelas). Adapun jika mutasyabih (lafazhnya tidak jelas), mansukh (hukum yang dihapus, jika ta’arudh), dan marjuh (yang dilemahkan, jika ta’arudh), maka ghair ma’mul bih (tidak dapat diamalkan)

Penjelasan dan Maksud Lafazh

قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيل تَسُوسهُمْ الْأَنْبِيَاء كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيّ خَلَفَهُ نَبِيّ ) أَيْ : يَتَوَلَّوْنَ أُمُورهمْ كَمَا تَفْعَل الْأُمَرَاء وَالْوُلَاة بِالرَّعِيَّةِ ، وَالسِّيَاسَة : الْقِيَام عَلَى الشَّيْء بِمَا يُصْلِحهُ . وَفِي هَذَا الْحَدِيث : جَوَاز قَوْل : هَلَكَ فُلَان ، إِذَا مَاتَ ، وَقَدْ كَثُرَتْ الْأَحَادِيث بِهِ ، وَجَاءَ فِي الْقُرْآن الْعَزِيز قَوْله تَعَالَى : { حَتَّى إِذَا هَلَكَ قُلْتُمْ لَنْ يَبْعَث اللَّه مِنْ بَعْده رَسُولًا } .

قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( وَتَكُون خُلَفَاء فَتَكْثُر قَالُوا : فَمَا تَأْمُرنَا ؟ قَالَ : فُوا بَيْعَة الْأَوَّل فَالْأَوَّل ) قَوْله : ( فَتَكْثُر ) بِالثَّاءِ الْمُثَلَّثَة مِنْ الْكَثْرَة ، هَذَا هُوَ الصَّوَاب الْمَعْرُوف ، قَالَ الْقَاضِي : وَضَبَطَهُ بَعْضهمْ ( فَتُكْبَر ) بِالْبَاءِ الْمُوَحَّدَة كَأَنَّهُ مِنْ إِكْبَار قَبِيح أَفْعَالهمْ ، وَهَذَا تَصْحِيف . وَفِي هَذَا الْحَدِيث : مُعْجِزَة ظَاهِرَة لِرَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيث : إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَةٍ بَعْد خَلِيفَة فَبَيْعَة الْأَوَّل صَحِيحَة يَجِب الْوَفَاء بِهَا ، وَبَيْعَة الثَّانِي بَاطِلَة يَحْرُم الْوَفَاء بِهَا ، وَيَحْرُم عَلَيْهِ طَلَبهَا ، وَسَوَاء عَقَدُوا لِلثَّانِي عَالِمِينَ بِعَقْدِ الْأَوَّل أَوْ جَاهِلِينَ ، وَسَوَاء كَانَا فِي بَلَدَيْنِ أَوْ بَلَد ، أَوْ أَحَدهمَا فِي بَلَد الْإِمَام الْمُنْفَصِل وَالْآخَر فِي غَيْره ، هَذَا هُوَ الصَّوَاب الَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابنَا وَجَمَاهِير الْعُلَمَاء ،

وَقِيلَ : تَكُون لِمَنْ عُقِدَتْ لَهُ فِي بَلَد الْإِمَام ، وَقِيلَ : يُقْرَع بَيْنهمْ ، وَهَذَانِ فَاسِدَانِ ، وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوز أَنْ يُعْقَد لِخَلِيفَتَيْنِ فِي عَصْر وَاحِد سَوَاء اِتَّسَعَتْ دَار الْإِسْلَام أَمْ لَا ، وَقَالَ إِمَام الْحَرَمَيْنِ فِي كِتَابه الْإِرْشَاد : قَالَ أَصْحَابنَا : لَا يَجُوز عَقْدهَا لِشَخْصَيْنِ ، قَالَ : وَعِنْدِي أَنَّهُ لَا يَجُوز عَقْدهَا لِاثْنَيْنِ فِي صُقْع وَاحِد ، وَهَذَا مُجْمَع عَلَيْهِ . قَالَ : فَإِنْ بَعُدَ مَا بَيْنَ الْإِمَامَيْنِ وَتَخَلَّلَتْ بَيْنهمَا شُسُوع فَلِلِاحْتِمَالِ فِيهِ مَجَال ، قَالَ : وَهُوَ خَارِج مِنْ الْقَوَاطِع ، وَحَكَى الْمَازِرِيُّ هَذَا الْقَوْل عَنْ بَعْض الْمُتَأَخِّرِينَ مِنْ أَهْل الْأَصْل ، وَأَرَادَ بِهِ إِمَام الْحَرَمَيْنِ ، وَهُوَ قَوْل فَاسِد مُخَالِف لِمَا عَلَيْهِ السَّلَف وَالْخَلَف ، وَلِظَوَاهِر إِطْلَاق الْأَحَادِيث . وَاَللَّه أَعْلَم .( شرح النووي على صحيح مسلم, 6: 316)

Makna Siyasah

Syaikh Samih Athif Az-zain dalam As-siyasah wa As-siyasatu Ad-dauliyyah, menjelaskan makna siyasah secara bahasa sebagai berikut:
ساس الدوب يسوسها سياسة, اذا قام عليها وراضها وادبها...
"Apabila seseorang mengurus hewan tersebut, membimbing serta melatihnya". Maka pengertian politik kebanyakan digunakan untuk ri'ayah (pemeliharaan), pembinaan serta pelatihan hewan tunggangan. Kemudian secara majazi digunakan untuk ri'ayah (pemeliharaan) terhadap urusan masyarakat.

Pengarang kitab Al-mughrib fii tartibil Mu'rib, juga menegaskan hal yang sama:
وَيُقَالُ الرَّجُلُ ( يَسُوسُ ) الدَّوَابَّ إذَا قَامَ عَلَيْهَا وَرَاضَهَا ( وَمِنْهُ ) الْوَالِي يَسُوسُ الرَّعِيَّةَ سِيَاسَةً أَيْ يَلِي أَمْرَهُمْ
Jadi dapat kita simpulkan bahwa kata siasah identik ri'ayah.

Secara lebih spesifik pengertian politik di dalam Islam didiskripsikan di dalam Mu'jamu Lughah al-Fuqaha' dengan:
رعاية شئون الامة بالداخل والخارج وفق الشريعة الاسلامية

Terkait Para Khalifah yang Banyak

وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيث : إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَةٍ بَعْد خَلِيفَة فَبَيْعَة الْأَوَّل صَحِيحَة يَجِب الْوَفَاء بِهَا ، وَبَيْعَة الثَّانِي بَاطِلَة يَحْرُم الْوَفَاء بِهَا ، وَيَحْرُم عَلَيْهِ طَلَبهَا ، وَسَوَاء عَقَدُوا لِلثَّانِي عَالِمِينَ بِعَقْدِ الْأَوَّل أَوْ جَاهِلِينَ ، وَسَوَاء كَانَا فِي بَلَدَيْنِ أَوْ بَلَد ، أَوْ أَحَدهمَا فِي بَلَد الْإِمَام الْمُنْفَصِل وَالْآخَر فِي غَيْره ، هَذَا هُوَ الصَّوَاب الَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابنَا وَجَمَاهِير الْعُلَمَاء ...

"Makna hadits ini adalah apabila terjadi bai'ah untuk seorang khalifah setelah (sebelumnya dibai'ah) khalifah, maka bai'ah yang pertamalah yang benar, dan wajib mencukupkan diri dengan bai'ah untuk yang pertama tersebut. Sedangkan bai'ah yang kedua adalah bathil dan haram mencukupkan diri dengan bai'ah tersebut. Dan haram atas yang kedua menuntut bai'ah, baik apakah dia tahu ataupun tidak terhadap bai'ah yang pertama. Baik mereka berdua ada di dua negeri atau di satu negeri, atau salah satu dari keduanya berada di negerinya yang (posisinya) terpisah sedangkan yang lain di luar negerinya. Inilah yang benar dimana shahabat-shahabat kita di dalamnya, begitupula mayoritas ulama'…"

Pemahaman dan Hukum

1. Kata “tasusuhum” menunjukkan bahwa para Nabi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menerapkan hukum kepada para pengikut mereka; atau dengan kata lain, mengatur urusan mereka dengan aturan yang diturunkan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada mereka.
2. Kata “khulafa” merupakan jamak dari kata “khalifah”, dan dengan kata kerja “yaktsurun” menunjukkan bahwa akan ada banyak khalifah setelah Rasulullah. Dengan demikian, hadits ini memberikan bantahan atas pendapat yang mengatakan bahwa khilafah hanya ada pada masa khulafa ar-rasyidin saja.
3. Memang ada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa khilafah berlangsung selama 30 tahun. Menurut Ibnu Taimiyah, hadits tersebut hanya menunjukkan suatu masa (periode) khilafah yang benar-benar mengikuti sunnah dan berjalan sesuai dengan metode Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu masa khulafa ar-rasyidin). Jadi hadits tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi periode khilafah hanya 30 tahun. Dengan cara menggabungkan dua pemahaman tersebut, maka kedua hadits tersebut dapat dipahami secara utuh.
4. Sebagaimana penjelasan Imam an-Nawawi, hadits ini menunjukkan bahwa dalam satu periode, kaum muslim hanya diperbolehkan memiliki seorang khalihah saja; dan bai’at yang diberikan kepada orang lain, sementara telah ada seorang khalifah, dianggap sebagai bai’at yang tidak sah.
5. Wajib berusaha melanjutkan kehidupan Islam dengan menegakan Khilafah. Upayanya memang membutuhkan proses panjang, sehingga perlu kesabaran dan senantiasa menjaga keikhlasan
6. Khilafah identik dengan kebaikan,
«يَكُوْنُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِيْ خَلِيْفَةٌ يَحْثُوْ الْمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا»
Akan ada pada akhir umatku seorang khalifah yang memberikan harta secara berlimpah dan tidak terhitung banyaknya. (HR. Muslim)

Wallahu a’lam.

@RaudhahTsaqafiyyah

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget