Urgensi Literasi Media Diterapkan Pada Sistem Pendidikan di Era Digital

Urgensi Literasi Media Diterapkan Pada Sistem Pendidikan di Era Digital



Oleh: Rudi Saeful Nazar*

Selama ini pendidikan masih dianggap sebagai sebuah protector dan solutor dalam menangani berbagai permasalahan yang dihadapi oleh Negeri ini, terutama yang berkaitan dengan moral, karakter yang tengah dihadapi bangsa Indonesia di era Globalisasi seperti saat ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang ilmuan ahli analisis sosial yaitu Alfin Toffler, menurut Alfin Toffler perubahan dunia saat ini sudah memasuki gelombang ke tiga atau dikenal dengan “the third wave society” (masyarakat gelombang ketiga) yaitu jaman teknologi informasi dan komunikasi. Jaman ini membuat masyarakat dunia menjadikan infromasi sebagai kebutuhan utama, dan kemampuan menggunakan serta memanfatatkan teknologi sebagai sebuah keterampilan wajib yang harus dikuasai. Terlebih lagi pada era globalisasi ini, dunia di bombadir dengan banyaknya infromasi yang beredar, mengalir dengan deras tak terbendung lagi. Saat ini kita hidup di dunia yang sesak dengan media, yaitu tranparansi infromasi yang dengan mudah kita akses dan dapatkan kapan saja dan dimana saja. Melalui kemudahan tersebut, nyatanya membuat masyarakat kita bingung dan cemas dalam mencari sebuah kebenaran terhadap infromasi yang beredar.

Faktanya, dilansir dalam halaman akun sosial media Facebook Walikota Bandung yaitu Ridwan Kamil yang diposting pada tanggal 19 Januari 2017 terdapat 2700-an berita palsu (hoax) yang sengaja diproduksi selama tahun 2016 sehingga mengakibatkan konflik yang berujung pada kebencian, hujat menghujat, sampai pada perpecahan antar golongan. Haruslah kita sadari bahwa media massa saat ini membawa sebuah pesan yang sudah menjadi kepentingan suatu golongan tertentu, terlebih media sekarang yang sudah di komersialisasikan dan menempatkan khalayak media sebagai sebuah konsumen tanpa memerhatikan dampak / pengaruh negatif yang ditimbulkan, akibatnya mempengaruhi cara pandang dan pola perilaku masyarakat terhadap sebuah realitas sosial.

Fenomena ini tentunya membawa sebuah kekhawatiran bagi para orang tua dan guru terhadap anak-anak didiknya yang dekat dengan media infromasi seperti Televisi, Smartphone, dna Internet serta menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan utama bagi mereka. Bagaimana tidak, banyak sekali anak-anak kita yang usianya masih dalam masa perkembangan dan pertumbuhan lebih lama menghabiskan waktunya dengan alat-alat elektronik tersebut daripada menghabiskan waktunya dengan teman sebaya untuk berinteraksi. Sangat jarang sekali pada jaman sekarang melihat anak-anak berkumpul bermain bersama-sama dengan kekompakannya, sekarang menjamur sikap individualitas dari anak-anak. Oleh karena itu. ini menjadi PR bagi kita semua sebagai agen sosial untuk membantu meningkatkan keterampilan sosial serta berpikir kritis (critical thinking) peserta didik terhadap media massa agar bersikap selektif serta menganalisis lebih dalam terhadap informasi yang disampaikan oleh media massa. Keterampilan tersebut dikenal sebagai keterampilan literasi media (media literacy).

Pentingnya mengajarkan, mempelajari, dan memiliki kemampuan dalam hal media literacy menjadi isu perbincangan dan perhatian khusus Negara-negara di Dunia saat ini. menurut Trilling & Fadel menyatakan bahwa salah satu keterampilan abad 21 yang harus dikembangkan dalam diri seorang anak yaitu keterampilan information media and technology skills (keterampilan teknologi dan media informasi) meliputi literasi infromasi, dimana seseorang mampu mengakses infromasi secara efektif (sumber informasi) dan efisien (waktunya), mengevaluasi infromasi yag akan digunakan secara kirtis dan kompetem; menggunakan dan mengelola infromasi secara akurat dan efektif untuk mengatasi masalah. Kemudian, literasi media, yang mana seorang individu mampu memilih dan mengembangkan media yang digunakan untuk berkomunikasi, dan literasi ICT yaitu seorang individu mampu menganalisis media informasi serta menciptakan media yang sesuai untuk melakukan komunikasi.

Oleh karena itu, agar bisa memanfaatkan infromasi yang diperoleh dari media massa sekaligus juga dapat berpikir kritis dalam menerima informasi dari media. Maka pendidikan, dalam hal ini lebih ditekankan kepada guru yang memiliki peran sebagai katalisator dalam mencapai tujuan pendidikan nasional dan tentunya dekat dengan siswa perlu mempersiapkan peserta didik dengan memberi keterampilan melek media (media literacy). Hal tersebut seperti yang diungkapkan Media Literacy Project B Collage of Education University of Oregion at Eugenei dalam Tamburaka, 2013, hlm. 10 bahwa:
Media literacy is concered with helping students develop an informed and critical understanding of the nature of the mass media, the techniques used by them, and the impact of the techniques. More spesifically, it is education that aims to increase students umderstanding and enjoyment of how the media work, how they produced meaning, how they are organized, and how the construct reality. Media literacy also to provide students with the ability to create media product.
Literasi media memiliki fokus dalam membantu para siswa mengembangkan suatu pemahaman kritis yang diberitahu sifat alami media massa, teknik-teknik yang digunakan oleh mereka, dan dalmpak dari teknik-teknik tersebut. Lebih spesifik lagi bahwa pendidika mengarahkan untuk meningkatkan pemahaman para siswa dan kesenangan dari cara media bekerja, bagaimana mereka membangun kenyataan. Literasi media juga bertujuan untuk menyiapkan para siswa agar memiliki daya cipta sehingga dapat terangsang untuk menciptakan produk-produk media.

Dengan begitu, dapat kita pahami bahwa seseorang yang memiliki daya media literacy yang tinggi akan mampu memiliki sebuah pandangan kritis dari sudut pandang yang tidak sempit terhadap sebuha pesan yang disuguhkan oleh media massa. Adapun pandangan kritis tersebut menurut Aspen Media Literacy Leadership Insitute mengatakan bahwa literasi media memiliki kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, serta dapat menciptakan dalam berbagai macam bentuk. Dengan demikian, membekali pemahaman media literacy siswa dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya karena dapat memproteksi diri untuk terhindar dari pengaruh negatif media massa, selain itu siswa dapat berpartisipasi terhadap penyediaan konten media massa sehingga dapat memerangi / mengobati pesan media massa yang membuat berita palsu (hoax) dari ketidak benaran.

*Ketua Keluarga Mahasiswa Garut Universitas Pendidikan Indonesia dan Founder Indonesian Youth Inspiration

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget