Mengenal Sosok KH. Muhammad Isa Anshary "Sang Singa Podium" Mengaum Bagaikan Napoleon Masyumi



Mengenal Sosok KH. Muhammad Isa Anshary "Sang Singa Podium" Mengaum Bagaikan Napoleon Masyumi*

Oleh : Tatang Hidayat**

Para Nabi dan Rasul yang dikirim ke dunia pada umumnya adalah ahli pidato yang ulung, juru dakwah yang bijak, mubaligh yang tangkas. Tulisan dan jejak pena seorang pengarang, menjadi pelopor dari suatu pemikiran, pandangan, keyakinan, idea dan cita. Revolusi-revolusi besar di dunia selalu didahului oleh jejak pena dari seorang pengarang. Beliau adalah KH. Muhammad Isa Anshary seorang ulama yang memiliki keahlian pidato, sehingga di juluki sebagai “Sang Singa Podium”, mengaum bagaikan napoleon Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).

Julukan tersebut sangat pantas diberikan kepada kyai satu ini, sebab keahlian dan kefasihan berorasi mampu mengobarkan semangat setiap orang yang mendengarkan orasinya. Kyai Isa, nama panggilan, memiliki nama lengkap Muhammad Isa Anshary, lahir di Manunjau, Sumatera Barat tanggal 1 Juli 1916. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga religius yang sangat kental dengan pendidikan Agama Islam. Selain mempelajari ilmu agama dari kedua orang tuanya, ia juga menimba ilmu di surau sekitar rumahnya. Di usia muda sudah aktif didunia politik di daerah kelahirannya, baru usia 10 tahun (tahun 1926 - 1929 ) sudah menjadi kader PSII Maninjau, dan diusia 13 tahun aktif menjadi Mubaligh Muhammadiyah ( tahun 1929 – 1931).

Menginjak Usia 16 tahun, setelah menyelesaikan pendidikan di Madrasah Islam, Isa Anshary merantau ke pulau Jawa dan menetap di Kota Bandung untuk mengenyam pendidikan lebih dalam, dengan mengikuti berbagai kursus ilmu pengetahuan umum. Dan untuk meningkatkan pemahaman ke-Islamannya, masuk dalam jam’iyyah PERSIS Bandung. Aktifitas organisasi dan politiknya semakin menggebu – gebu, terbukti ia telah memimpin beberapa organisasi besar diantaranya, Ketua Persatuan Muslimin Indonesia Bandung, Pemimpin Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia Bandung dan Sekretaris Partai Islam Indonesia Bandung. Kyai Isa pun terlibat dalam mendirikan Muhammadiyah cabang Bandung. Selain itu, ia pun bergabung dengan kelompok pemuda yang disebut-sebut radikal, seperti M. Natsir. Juga aktif menjadi anggota Indonesia Berparlemen, Sekretaris Umum Komite Pembela Islam dan Pemimpin Redaksi majalah Daulah Islamiyah.

Dalam berorganisasi sosok Kyai Isa sangat mencolok, ia memiliki sikap yang sangat tegas, bahkan banyak yang menilai sikapnya tidak kompromitis. Dengan sikapnya tersebut pada masa penjajahan jepang, ia mengkomandoi Gerakan Anti Fasis (Geraf). Herbert Feith menyebutnya dengan figur politisi fundamentalis yang memiliki keyakinan teguh. Dua hal yang menjadi ciri dari figur Kyai Isa Anshary ini yaitu ketika ia berpidato dan hasil torehan penanya. Dalam berpidato, Kyai Isa senantiasa bersemangat dan berapi – api, hal ini membuat semua perhatian tertuju kepadanya, dan tentunya itu merupakan senjata ampuh dalam mempengaruhi orang. Sehingga mendapat julukan “Singa Podium”. Mendapat teguran dari aparat keamanan menjadi hal yang biasa baginya. Begitupun juga dengan hasil torehan penanya, terkenal analisanya sangat tajam sehingga seringkali membuat gerah orang – orang yang bersebrangan dengannya termasuk Soekarno, pada jaman Orde Lama.

Setelah menetap di Bandung Kyai Isa Anshary bergabung dalam jam’iyyah Persis, dan pada tahun 1940 dilantik menjadi anggota hoofbestuur atau Pimpinan Pusat Persis. Dalam kiprahnya di Persis Kyai Isa banyak memberikan kontribusi positif sehingga menjadi torehan penting dalam sejarah perjalanan organisasi Persis, salah­satunya yang monumental adalah ia melakukan reorganisasi di tubuh Persis. Namun sayang ketika masa pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan, Persis sempat mengalami masa-masa vakum. Dan setalah memasuki masa kemerdekaan, Persis melakukan revitalisasi, yaitu kembali kepada prinsip Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Pada tahun 1953 tepatnya pada kegiatan Muktamar ke V Persis, beliau dipercaya untuk terlibat dalam tim perusmus Qanun Asasi Persis yang diterima secara bulat oleh para peserta Muktamar, dan akhirnya disempurnakan pada Muktamar VIII Persis tahun 1967.

Kyai Isa terpilih menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Persis pada tahun 1953 hingga 1960, menggantikan para pendahulunya seperti KH. Zamzam, KH. Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Mohammad Natsir. Hal tersebut diraih berkat keberhasilannya dalam mereorganisasi Persis. Semasa memimpin Persis, Kyai Isa senantiasa memberikan kesadaran akan bahaya sekularisme dan komunisme, karena dua ideologi tersebut dipandang bersebrangan dengan Islam, yang pada saat itu sedang merebak masuk ke sendi – sendi masyarakat dan Negara.

Sikap Kyai Isa Anshary terhadap Komunisme

Dalam sebuah kesempatan Presiden Soekarno berpidato tepatnya pada bulan Januari 1953 di Kalimantan Selatan, pada saat itu Presiden Soekarno menyampaikan bahwa berdirinya Negara Islam akan memicu pecahnya NKRI. Mendengar hal tersebut membuat Kyai Isa Anshary tidak terima bahkan ia menuduh kalau ucapan presiden RI itu sangat tidak demokratis dan Inskontitusional. Karena menurut Kyai Isa Anshary justru dalam Negara Islam akan membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, aman serta masyarakat non muslim akan mendapatkan jaminan perlindungan akan hak –hak kehidupannya. Kalaupun terjadi beberapa pemberontakan oleh kaum separatis itu disebabkan oleh kesalahan dari pemerintahan sekular itu sendiri, karena tidak menjadikan Islam sebagai filsafat Negara. Pensikapan Kyai Isa Anshary lebih ditegaskan dalam sebuah kesempatan pidato di alun – alun kota Semarang, yang merupakan basis PKI pada saat itu. Dihadapan ribuan masyarakat dengan lantang ia menentang keberadaan komunis di Indonesia. Tentu saja hal tersebut menjadi sorotan semua media dan masyarakat, karena pada saat itu bertepatan dengan suhu politik yang tengah memanas dampak dari merajalelanya Partai Komunis Indonesia.

Pidato yang berisikan menyibak strategi komunis dalam perlawanannya sangat menginpirasi masyarakat, yang akhirnya menjadi perhatian bagi para petinggi Masyumi pada saat itu. Bahkan lebih jauh orasi Sang Singa Podium tersebut menjadi pemicu munculnya kebangkitan masyarakat dalam melakukan perlawanan terhadap komunis. Mereka tak menyangka orasi Sang Singa Podium ini membuat masyarakat bangkit. Ini ditandai dengan munculnya gerakan yang menentang koalisi PNI-PKI menjelang Pemilu 1955.

Di tengah koalisi PNI-PKI yang berusaha menjegal Masyumi, dengan cepatnya ia mengajak masyarakat membentuk Front Anti Komunis. Menurut dia, komunisme adalah musuh paling berbahaya di Tanah Air karena menurut paham komunis agama dianggap hanyalah candu yang mengekang manusia. Paham ini tidak boleh hidup di atas bumi pertiwi nusantara. Alhasil, perlawanan anti-PKI ini yang semakin tumbuh subur, kemudian menyebar ke seluruh nusantara. Dalam menyampaikan pemahamannya akan bahaya paham komunisme Kyai Isa selain melalui pidato – pidatonya juga melalui tulisan dalam buku – buku karyanya. Diantarnya buku berjudul : Partai Komunis Indonesia (PKI), Pembela Negara Asing (1955), Bahaya Merah Indonesia (1956) dan Islam Menentang Komunisme (1956)

Kiprah KH. Isa Ashari di Partai Masyumi

Dalam perjuangan tegaknya syariat Islam, Kyai Isa Anshary memilih berjuang melalui parlemen, dan Partai Masyumi sebagai pilihan kendaraan politiknya, karena partai Masyumi merupakan wadah bagi para ulama kritis, bagi mereka berpolitik merupakan bagian tuntutan agama. Mereka selalu meneriakkan kebenaran walaupun pahit dirasakan. Dan berpolitik adalah alat untuk mencapai cita-cita umat Islam. Di bawah bendera Masyumi, ia semakin memperkuat posisinya sebagai politisi.

Tahun 1949, ia memimpin sebuah kongres Gerakan Muslimin Indonesia. Peran politik di Masyumi begitu menonjol, hal terbut sangat menyedot perhatian masyarakat pada saat itu. Sosoknya seperti mengandung magnet, terbukti setiap kali Kyai Isa Ansyari berpidato sudah dapat dipastikan dipenuhi oleh massa, bahkan bukan hanya masa partisipan Masyumi saja yang hadir tapi masyarakat umum pun banyak yang hadir.

Perannya dipentas politik tersebut mengundang resiko yang tidak kecil, seperti pada bulan Agustus 1951, Kyai Isa Anshary ditangkap dalam razia terhadap orang-orang yang diisukan ingin membunuh presiden dan wakil presiden. Karena tidak ditemukan bukti – bukti kuat maka ia dinyatakan tidak bersalah dan akhirnya dibebaskan. Pada tahun 1958, bertepatan dengan terjadinya Tragedi Permesta, Kyai Isa Anshary kembali ditangkap, pada saat itu ia sedang berada di Madiun bersama Prawotomangkusasmito, M. Roem, M. Yunan Nasution dan EZ. Muttaqien serta beberapa tokoh lainnya. Kyai Isa Anshary ditunjuk menjadi juru bicara bagi kubu Masyuni ketika terjadinya konflik antar kelompok, sebagian kelompok menginginkan Indonesia berideologikan sekuler nasionalis dan berdasarkan Pancasila. Dan kelompok lain menghendaki terbentuknya Negara Islam atau setidaknya Negara yang berideologikan syariat Islam. Sedangkan cita – cita untuk mendirikan Negara Islam sangat kuat di tubuh Masymi. Namun, cita – cita untuk mewujudkan Negara Islam ternyata gagal yang disebabkan beberapa hal, di antaranya munculnya polarisasi mengenai bentuk dan konsep negara Islam itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa aturan dan ajaran Islam harus terwujud lebih daluhu yang nantinya dengan sendiri akan terbentuk negara Islam. Dan Kyai Isa Anshary termasuk dalam kelompok ini. Di sisi lain ada yang berpendapat bahwa negara Islam harus di bentuk dahulu, baru kemudian diberi corak dan warna Islam. Di Luar itu, muncul kelompok yang memiliki pemahaman lain. Maka meledaklah peristiwa DII/TII di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh serta gerakan Ibnu Hajar di Kalimantan.

Karya Tulis KH. Isa Anshary

Sebagai gambaran sikap politik dari Kyai Isa tergambar dalam salah satu hasil karyanya buku yang diberi judul “Mujahid Dakwah” bab X. Mimbar Politik, halaman 215 s.d 221. “Jika saudara memasuki suatu partai politik (tentunya partai Islam), karena kegiatan dan perjuangan saudara selama ini, sudah pasti saudara akan mendapatkan kedudukan yang baik dalam partai yang saudara masuki…” Memasuki partai, artinya menerjunkan diri ke dalam lapangan perjuangan politik Islam, memperjuangkan ideologi Islam dalam lapangan kenegaraan atau kemasyarakan.

Syarat mutlak yang harus saudara miliki ialah: Pertama, mengerti benar ideologi Islam dalam lapangan kenegaraan dan khittah perjuangan dari partai yang saudara masuki; Kedua, saudara paling sedikit harus mempunyai basis-basis teori dari perjuangan politik. Apa yang dinamakan prinsip perjuangan, asas perjuangan, taktik dan strategi perjuangan; Ketiga, saudara harus mengetahui benar kondisi dan konstelasi politik, perimbangan kekuatan politik di negeri ini, dan dimana policy partai saudara dalam konstelasi politik itu.

“….Sekarang saya akan berbicara suatu kemungkinan terjadi dalam diri saudara. Saudara menjadi anggota parlemen karena angkatan, karena pengaruh saudara dalam masyarakat; atau karena pilihan, partai saudara mencalonkan saudara dalam pemilihan umum. Akan tetapi ternyata, menjadi anggota parlemen sebenarnya bukan “tempat” saudara. Saudara tidak ada bakat dan tidak ada kapasitas, tidak ada kemampuan mengikuti apa saja yang dibicarakan dalam parlemen. Naskah parlemen tidak pernah saudara baca, apalagi hendak menelaah Anggaran Belanja Negara yang sulit dan rumit itu; jangan lagi hendak menilai Keterangan Pemerintah yang menyeluruh sifatnya. Saudara hanya datang ke sidang untuk menambah “angka”, menandatangani daftar hadir, menerima uang sidang dan uang harian, habis bulan menerima uang kehormatan. Dalam rapat tertutup saudara tak pernah memberikan pandangan, dalam sidang paripurna yang terbuka buat umum saudara bungkam dalam seribu bahas Kalau memang demikian, lebih baik saudara mundur teratur, letakkan keanggotaan parlemen itu, serahkan kepada orang lain.
Artinya saudara menjadi Mubaligh yang “kesasar”, salah jalan. Saudara harus kembali ke pangkalan, ialah kembali kepada masyarakat tempat saudara tumbuh, kembali ke asal saudara “jadi”. Saudara harus mengharamkan menerima uang Negara tanpa jasa dan karya, menerima gaji tanpa prestasi. Kalau saudara masih senang dengan kedududkan yang begitu, itu satu tanda budi saudara sudah rusak.” Itulah petikan tulisan dari Kyai Isa, yang diambil dari salah satu buku karyanya yang berjudul “ Mujahid Dakwah” bab X. Mimbar Politik, halaman 215 s.d 221. Analisa begitu tajam dan tentunya sangat berani dalam mengungkapkan fakta – fakta yang terjadi, hal tersebut merupakan ciri khas dari Kyai yang satu ini.

Di antara hasil karyanya adalah: Islam dan Demokrasi, Tuntunan Puasa, Islam dan Kolektivisme , Pegangan Melawan Fasisme Jepang, Barat dan Timur, Falsafah Perjuangan Islam, Sebuah Manifesto, Islam Menghadapi Pemilihan Umum, Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum, Inilah Partai Masyumi, Islam dan Nasionalisme, Partai Komunis Indonesia (PKI), Pembela Negara Asing , Bahaya Merah Indonesia,Islam Menentang Komunisme, Manifes Perjuangan Persatuan Islam, Bukan Komunisto, Ke Depan Dengan Wajah Baru, Pesan Perjuangan , Umat Islam Menentukan Nasibnya, Mujahid Dakwah, Tugas dan Peranan Generasi Muda, Islam dalam Pembinaan Orde Baru Sebelum beliau berpulang (2 Syawal 1389/ 11 Desember 1969), beliau nsempat menyelesaikan dua naskah lagi: Falsafah Moral dan Pelita Indonesia dan Kembali ke Haramain.

Akhir hayat Kyai Isa Anshary

KH. Isa Anshary dikenal sebagai sosok yang tidak mengenal lelah, berbagai aktifitas ia geluti terutama dalam dunia dakwah, bahkan menjelang akhir hayatnya ia masih tetap bekerja untuk umatnya. Pada 11 Desember 1969 atau sehari setelah Hari Raya Idul Fitri 1389 H ia meninggal dunia, di RS Muhammadiyah Bandung. Sehari sebelumnya ia menyatakan bersedia memberikan khutbah Idul Fitri, namun takdir berkehendak lain. Naskah khutbah itu sempat diketiknya dua halaman, dan tak sempat terbacakan.

*Tulisan ini diringkas dari Majalah Suara Ulama Edisi 5 tahun 2017

**Mahasiswa Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget