Hari Pendidikan Nasional: Kembalikan Pendidikan yang Memanusiakan Manusia.




Oleh : Eko Ruslamsyah*

Hari ini, tepat tanggal 2 mei merupakan peringatan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Namun sudahkah pendidikan kita mampu mewujudkan generasi yang memanusiakan manusia? Hal ini menjadi sebuah pertanyaan sederhana terhadap potret pendidikan Indonesia saat ini.

Pendidikan di Indonesia saat ini cenderung ke arah materialistik sehingga kebanyakan masyarakat menganggap pendidikan hanya untuk mencari gelar tertinggi dan akibatnya banyak kecurangan dalam dunia pendidikan seperti suap menyuap saat penerimaan siswa baru dan lain sebagainya, sehingga menyebabkan kesenjangan dalam dunia pendidikan dan banyak yang berpikiran bahwa yang bisa sekolah adalah orang kaya. Hal ini tentu tidak memikirkan aspek halal atau tidaknya terhadap perlakuan tersebut. Oleh karena itu, banyak anak anak yang dari keluarga miskin putus sekolah.

Menurut (Complex, 2015) Indikator Pendidikan Indonesia dengan negara yang tergabung dalam IDB berada diposisi 20 jika dilihat dari Angka Melek Huruf. Sementara Berdasarkan data Profil Anak Indonesia 2015 yang dilansir oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahwa Angka Putus Sekolah pada jenjang pendidikan SD adalah sebesar 1,41 persen pada tahun 2014, pada jenjang pendidikan SMP, angka putus sekolah mencapai 2,24 persen dan pada jenjang pendidikan sekolah menengah angka putus sekolah mencapai 1,74 persen. Biaya sekolah yang mahal memberikan persentase terbesar penyebab utama angka putus sekolah. Sehingga beberapa pelajar memutuskan untuk berhenti sekolah karena orangtuanya tidak sanggup membayar seluruh biaya sekolah. Sehingga pendidikan disini jauh dari tujuan pendidikan yang seharusnya ada dalam dunia pendidikan ini.

Menurut (Ki Hajar Dewantara (1977) menyatakan bahwa pendidikan merupakan tuntutan bagi pertumbuhan anak-anak. Artinya, pendidikan menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada diri anak-anak, agar mereka sebagai manusia sekaligus sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pengertian pendidikan juga tercantum di dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Oleh karena itu,
diperlukan sebuah pendidikan yang bisa menjadikan semua masyarakat bisa mengaksesnya. Selain itu, diperlukan juga pendidikan yang bisa mewujudkan pendidikan yang mampu memanusiakan manusia. Pendidikan semacam ini tentunya hanya dimiliki islam melalui pendidikan Islamnya. Menurut (Tafsir, 2010) menyatakan bahwa pendidikan islam adalah pendidikan yang seluruh komponen atau aspeknya didasarkan pada ajaran islam.

Dalam pendidikan islam, aqidah Islam menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru serta budaya sekolah yang akan dikembangkan. Paradigma pendidikan yang berasas aqidah harus berlangsung secara berkesinambungan pada seluruh jenjang pendidikan wajib yang ada di Indonesia yaitu mulai dari TK hingga Perguruan tinggi. Namun, penetapan aqidah Islam sebagai asas pendidikan tidak berarti bahwa setiap ilmu pengetahuan harus bersumber dari aqidah Islam. Islam tidak memerintahkan demikian karena itu tidak sesuai dengan kenyataan dan tidak semua ilmu pengetahuan terlahir dari aqidah Islam Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terporgram dan sistematis untu membentuk manusia yang berkarakter dalam unsur ideologi pendidikan islam itu sendiri.Oleh karena itu orientasi keluaran (Output) dari pendidikan itu tercermin dari keseimbang pada ketiga Visi Pendidikan Islam yaitu terbentuknya kepribadian Islam, Tsaqofah Islam dan Ilmu Pengetahuan umum sebagai penunjang kehidupannya.

Ketiga unsur tersebut harus merupakan satu kesatuan yang utuh. Berdasar pada kondisi obyektif pedidikan saat ini, maka yang diperlukan adalah langkah optimasi pada muatan pembentukan kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah), Tsaqofah Islam serta mempertahankan atau meningkatkan muatan bagi penguasaan ilmu kehidupan dan keahlian sebagaimana yang sudah ada sekaligus mengintegrasikan ketiganya sehingga tersusunlah struktur dan Performa Komponen kurikulum.

Selain muatan penunjang proses pembentukan syakhsiyyah Islamiyyah yang secara terus menerus diberikan pada tingkat TK-SD dan SMP-SMU-PT, muatan Tsaqofah Islam dan Ilmu kehidupan (Iptek dan Keahlian) diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan peserta didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing.

1. Syakhshiyyah Islamiyyah
Pembentukan harus dilakukan pada semua jenjang pendidikan sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Salah satu diantaranya adalah dengan menyampaikan tsaqofah Islam kepada para siswa/mahasiswa. Seperti tampak pada Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum.
Setelah mencapai usia baligh, yakni pada SMP, SMU dan PT, materi yang diberikan bersifat Lanjutan (Pembentukan, Peningkatan dan Pematangan). Hal ini dimaksudkan untuk memelihara dan sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatan dengan syariat Islam. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadarannya melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari seluruh larangan Allah.

2. Tsaqofah Islam
Tsaqofah Islam adalah ilmu-ilmu yang dikembangkan berdasar aqidah Islam, yang sekaligus menjadi sumber peradaban Islam. Materi ini diberikan di seluruh jenjang pendidikan secara proporsional. Adapun Materinya bisa dilihat pada susunan program pengajaran masing-masing tingkatan.

3. Ilmu Kehidupan (Iptek dan Keahlian)
Muatan yang ketiga ini diberikan secara bertingkat sesuai dengan perkembangan kemampuan anak. Materi yang bersifa penunjang ini lebih banyak terapan guna mempersiapkan anak didik untuk mandiri, yaitu Matematika, IPA ( Fisika, Biologi dan Kmia), IPS ( Ekonomi, Sejarah dan Geografi), Bahasa ( Inggris, Indonesia dan Arab), Pendidikan Jasmani, Kerajinan dan Kesenian dan Ilmu terapan lanjutan ( Akuntansi, komputer dan lain-lain).

Melihat keberagaman agama yang ada di Indonesia saat ini, pendidikan Islami tentu tidak akan menjadi persoalan dari keberagaman ini. Karena dengan melihat tujuan dan visi pendidikan islami ini justru akan membuat sikap toleransi antar sesama.

Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi masyarakat yang mayoritas muslim ini untuk kembalikan pendidikan kepada khittahnya dengan melalui sistem pendidikan yang islami.

*Ketua Umum Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget