Menolak Pembubaran HTI, Tokoh dan Ulama Ciamis Datangi DPRD




BDG.NEWS. CIAMIS--Sekitar 20 orang yang terdiri dari kalangan tokoh masyarakat, ulama, dan perwakilan ormas Islam mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Ciamis pada Jum'at, 26/05/2017, pukul 09.00 WIB. Mereka tergabung dalam Forum Ukhuwah, Tokoh, Ulama, dan Umat Islam (FUTUUI) Kabupaten Ciamis yang dikoordinatori oleh Kurnia Agus.

Maksud kedatangan mereka untuk menyampaikan aspirasi berupa Petisi Dukungan dari para tokoh dan ulama di Ciamis untuk menolak kriminalisasi ulama dan ormas Islam. Seperti yang diungkapkan oleh Kurnia Agus (Koordinator FUTUUI), "Tujuan kami datang ke sini untuk menyampaikan aspirasi dari tokoh, ulama, dan ormas Islam yang dituangkan dalam 4 butir petisi, diantaranya menolak kriminalisasi ulama, ajaran Islam, dan ormas Islam, serta menolak berbagai kebijakan pemerintah yang melahirkan UU neoliberal."

Delegasi rombongan FUTUUI diterima langsung oleh Nanang Permana, S.H., selaku Ketua DPRD Kabupaten Ciamis, didampingi oleh Asep Juju (Wakil Ketua Komisi I), dan jajaran pimpinan DPRD lainnya. Ketua DPRD Kabupaten Ciamis menyambut baik kunjungan para tokoh, ulama, dan perwakilan ormas Islam tersebut. Beliau menyampaikan bahwa hal ini juga menjadi keprihatinan kita semua, apalagi sebagai seorang muslim. Apa yang menjadi aspirasi dari para tokoh dan ulama ini akan disampaikan sesuai prosedur yakni melalui Pemerintah Daerah.

Beberapa perwakilan tokoh dan ulama yang hadir menyampaikan berbagai aspirasinya, di antaranya:

Ajengan Anas (Tokoh Ulama Buniseuri Ciamis): "Saya atas nama perwakilan para ulama, sebelumnya mengucapkan terima kasih atas waktu yang telah diberikan kepada saya, selanjutnya, kedatangan kami semua ke tempat ini khususnya kepada Pimpinan DPRD, sebagaimana yang tadi diketahui dan terdengar oleh kita, bahawa jika benar-benar terus terusan ormas Islam dan ulama dikriminalisasi, mau bagaimana selanjutnya Indonesia ke depan? Padahal kita semua sudah tahu, jasa para ulama untuk Indonesia, sebagaimana kita belajar di sekolah, Indonesia merdeka hampir semua itu adalah jasa para ulama kiyai dan para ustadz. Dan sekarang mereka yang telah berjasa ini akan dikriminalisasi oleh pemerintah, untuk itu saya memohon kepada Ketua DPRD Ciamis, aspirasi dari kami semua disampaikan kepada pusat, sehingga beliau-beliau berpikir 180 derajat."

Ajengan Maman (Tokoh Ulama Saguling Ciamis): "Selanjutnya, apa tadi yang telah disampaikan, saya selaku warga masyarakat Indonesia khususnya di Kabupaten Ciamis, merasa khawatir juga dengan adanya situasi dan kondisi terkini, bahwa para ulama dan ormas Islam sekarang sedang sangat disoroti. Sedangkan jika kita semua mengingat, apabila kita telah jauh dari para ulama, mau seperti apa akibatnya? Apa yang tadi telah disampaikan, kepada bapak-bapak perwakilan masyarakat yang ada di Kabupaten Ciamis, mohon untuk disampaikan kepada para petinggi yang ada di Jakarta supaya betul-betul memperhatikan nasibnya para ulama jangan sampai dikriminalisasi. Apa sebabnya? Nanti nasib anak-anak kita mau bagaimana? Pada kesempatan ini memohon kepada bapak yang punya wewenang tolong sampaikan, tolong rapatkan, sehingga ada solusi yang hasilnya "enak" untuk semuanya. Jangan ada istilahnya, kemenangan sepihak, tapi yang "enak" untuk semuanya, utamanya dari kalangan para ulama, dan kalangan ormas Islam yang sejatinya ingin memperjuangkan syariat Islam yang sebenar-benarnya. Juga bertujuan ingin memahamkan umat Islam akan syariat Islam yang sebenar-benarnya. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, alhamdulillah atas kuasa Allah, bisa duduk bersama, saling bertatap muka, juga punya unek-unek tolong disampaikan tolong dirapatkan, agar tercapai hasil yang "enak" untuk semua. Terus terang saya merasa khawatir mendengar adanya ini, mana yang harus diikuti. Untuk itu saya tidak akan banyak bicara, bapak-bapak sudah lebih tahu atas kondisi terkini. Ini bukti nyata kekhawatiran kami sebagai warga masyarakat."

Ust. Zaenal (Perwakilan PD PERSIS Kabupaten Ciamis): "Prinsipnya setuju sesuai dengan yang dipaparkan tadi. Sebab, yang namanya mengurus masyarakat itu, susahnya minta ampun, semua masyarakat menginginkan atas masyarakat sholeh. Tak ada satupun yang menginginkan masyarakat yang membuat kerusakan. Telah terdengar dan terlihat di media dan di yang lain, mengenai ormas Islam & ulama yang dikrimanalisasi. Hal itu memprihatinkan apalagi untuk masyarakat Persatuan Islam, sebab nanti akan ada "ujung" dari persoalan tersebut. Untuk itu saya atas nama perwakilan PERSIS, dan juga sama meminta kepada pimpinan dewan beserta staf, untuk bisa menjembatani menyelesaikan yang terjadi saat ini, yaitu kriminalisasi ulama dan rencana pembubaran HTI."

Ust. Ade (Perwakilan SII Kabupaten Ciamis): "Saya mewakili Syarikat Islam, punya pemikiran harus bagaimana untuk mengurus masyarakat di tempat masing-masing. Jika kebenaran terombang-ambing, jangankan masyarakat, dewan juga pasti bingung, mana yang harus diikuti? Oleh karena itu, saya menyerahkan minta dibereskan, soalnya makin kesini bukan semakin kecil boroknya malah semakin besar, dari mulai gencetan ekonomi, dan gencetan yang lain-lain. Rakyat tidak tahu makanya mewakilkan ke anggota dewan tolong dibereskan. Sudah terlalu banyak masalah, saya tidak akan cerita semua, anggota dewan pasti udah tahu permasalahan Ciamis, mendunianya seperti itu. Saya serahkan, gimana baiknya, posisi rakyat harus di mana, dan harus berbuat apa."

Ust. Asep Darkiman (Tokoh Ulama Rancah Ciamis): "Saya sungguh tidak mengerti, mengapa begitu rupa pemerintah dan Polri tega melakukan kriminalisasi terhadap ulama. Padahal peran ulama sangat banyak berjasa. Contoh, Habib Rizieq yang mengubah paradigma para pemuda dan umat Islam dalam jihad Ambon, dan amar ma'ruf nahi munkar. Kemudian, ada Ust. Bachtiar Natsir yang dituduh terlibat ISIS. Padahal beliau dalam rangka menggalang dana untuk membantu umat Islam di Suriah. Terkait stigmatisasi ajaran dan gagasan Islam seperti Khilafah, syariat Islam, jihad, dll seolah dipandang jelek dan najis. Padahal ajaran-ajaran tersebut adalah ajaran Islam yang terdapat dalam kitab-kitab pesantren. Di sinilah keprihatinan kita. Mari kita membuka mata hati kita tentang jasa apa yang sudah dilakukan oleh para ulama dan ormas Islam. Seperti di sekolah-sekolah dan kampus-kampus HTI berjasa memberikan peran mengubah paradigma mahasiswa yang materialis menjadi berpikir positif dan kritis untuk kebaikan bangsa ini. Selain itu, keprihatinan kami juga adanya perlakukan diskriminasi terhadap aktifis dan umat Islam. Misal, aktifis KAMMI yang mendapat perlakuan kekerasan. Bandingkan dengan sekelompok orang yang berdemo melewati jam malam dibiarkan. Mereka yang mengacungkan pedang di bandara menolak dan mengancam ulama dibiarkan. Ini jelas memprihatinkan."

Di akhir acara dilakukan penyerahan sejumlah ratusan petisi yang menolak kriminalisasi ulama dan ormas Islam kepada Pimpinan DPRD Kabupaten Ciamis. Selanjutnya, ditutup dengan foto bersama. [MI-Ciamis]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget