Inspirasi: Keberhasilan di Balik Misi Zakir Naik

Penyerahan Cindera Mata Oleh Randy dan Tachta

Obrolan santai pagi hari itu menghantarkan pada peristiwa luar biasa. Tachta, seorang jurnalis surat kabar cukup tersohor di Jawa Barat memulai perbincangan dengan tiga orang kawannya sesama jurnalis. “Saya punya misi besar, yang jika misi ini berhasil memberikan dampak luar biasa bagi dakwah Islam, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di manca negara”, ujarnya sambil menghirup segelas kopi hangat. Selasa (28/03) Irfan, Randi dan Syarif menemui Tachta bukan untuk membicarakan misi besar itu pada awalnya, mereka bermaksud untuk menjenguk Tachta yang dikabarkan mengalami kecelakaan dua hari yang lalu. Begitulah karakter Tachta, Ia mempunyai rencana-rencana “gila” yang seringkali tak banyak orang memikirkannya.
“Nanti akan ada Konferensi Pers dari PanitIa Zakir Naik Indoneia Visit 2017 di UPI, kamis (30/03), kita akan berikan Dr Zakir Naik cindera mata berupa Ar-Roya dan Al-Liwa” ungkapnya dengan penuh serius. “Nanti kita akan publikasikan, kemudian kita viralkan. Dengan banyaknya orang yang melihat publikasi itu, saya yakin keberadaan Panji Rasulullah (Ar-Roya dan Al-Liwa, red) akan makin dicintai umat ”, ujar Ia lebih lanjut. Tentu Irfan, Randi dan Syarif menyambut positif tawaran tersebut, meskipun mereka tahu, ada banyak risiko yang akan mereka dapatkan.
Hanya satu hari mereka mempersiapkan segala hal untuk dapat menemui Dr Zakir Naik dalam konferensi pers tersebut. Hari yang dinantipun tiba, Tachta mengumpulkan ketiga rekannya untuk melaksanakan briefing pada Kamis (30/03) pukul 14:00 WIB. Kini tim yang diberi nama Zakir Naik Mission tak hanya beranggotakan Irfan, Randi dan Syarif. Tachta mengundang dua orang lagi untuk menjalankan misi ini, mereka adalah Fajar dan Adam. Dengan nada tegas Ia bertanya ke masing-masing anggota, “Irfan, Antum siap untuk serius menjalani misi ini?” tentu pertanyaan ini bukan sekedar pertanyaan retorika tapi ini adalah pertanyaan untuk menguji komitmen tiap anggota agar serius menjalankan misi ini. Pertanyaan itupun Ia sampaikan kepada rekannya yang lain. “Jika kalian siap, maka konsekuensinya kalian harus patuh terhadap apa yang saya intruksikan!”, “faham!” lanjut Ia menegaskan. “Dengarkan saya, saya satu langkah lebih tahu dari kalian, maka saya harap kalian ikuti intruksi saya”, tegas ia.
“Hari ini Zakir Naik tidak hadir dalam konferensi pers, karena beliau tiba di Jakarta besok”, ucapnya. “Tapi tetap moment konferensi pers ini harus kita optimalkan sebagai lahan untuk kita agar kita semakin dikenal oleh jurnalis lain”, ucapnya lebih lanjut. Konferensi pers pun berlangsung pada pukul 15:30 WIB, moment istimewa ini kita pergunakan untuk show up menunjukkan eksistensi kita, agar dikemudian hari jurnalis lain dan panitia tak asing lagi melihat wajah kita. Seperti itulah yang amanahkan oleh Tachta kepada para rekannya.
Sekitar pukul 16:30 konferensi perspun selesai, dilain sisi terlihat kekecewaan pada raut muka mereka, tentu karena misi mereka belum tercapai. Tachta mencoba menemui panitia acara dan melobi agar diadakan konferensi pers dengan menghadirkan Dr Zakir Naik. Namun, apa daya, panitia hanya mengatakan, konferensi pers yang dihadiri oleh Dr Zakir Naik secara langsung hanya dilaksanakan di Gedung MUI Pusat di Jakarta, besok (31/03). Tachta dan rekan-rekannya kemudian bermusyawarah, merencanakan niatannya untuk pergi ke Jakarta esok hari.
Jum’at, pukul 07:30 terdengar hand phone Irfan berbunyi, pertanda pesan masuk. Melihat pesan bertuliskan ajakan dari Tachta berkumpul di UPI pada Sabtu, (01/04) pukul 13:00 WIB untuk melaksanakan konferensi pers, membuat irfan bingung untuk menjawabnya, berhubung ia harus mengisi kajian islam di salah satu sekolah menengah atas di daerahnya. “Mohon maaf kang, saya tidak bisa ikut”, tulisnya membalas pesan dari Tachta. Tak lama pesan terkirim, Tachta langsung membalas pesan Irfan dengan nada tegas, bahwa ia tidak akan memaafkan kesalahan Irfan. “Antum tidak akan saya maafkan” tulisnya. “Antum tidak bisa membuat skala prioritas! konferensi pers besok akan dihadiri langsung oleh Dr Zakir Naik dan itu moment langka yang mungkin tak akan terulang kedua kalinya, sedangkan mengisi kajian bisa Antum carikan orang lain untuk sementara menggantikan Antum”, tulisnya lebih lanjut. Tak lama kemudian, dengan rasa bersalah, Irfan mengakui kesalahannya dan memohon untuk tetap ikut dalam misi itu. Begitulah Tachta, sekali lagi menunjukkan karakternya sebagai pemimpin yang tegas.
Sabtu, (01/04) pukul 13:00 WIB mereka bersua, Tachta, Irfan, Randy, Syarif, Fajar dan Adam telah siap dengan amanah mereka. Ke enam orang tersebut terbagi menjadi dua regu. Tiga orang bertugas sebagai kameramen, tiga orang bertugas sebagai reporter. Ar-Roya dan Al-Liwa serta tulisan hastag #IslamRahmatanlilAlamin dalam ukurna A4 juga piagam penghargaan untuk Dr Zakir Naik telah mereka siapkan dengan teliti. “Sebelum kita berangkat ke lokasi konferensi pers, saya mengajak rekan-rekan untuk bertawashul dan berdoa terlebih dahulu, demi kesuksesan misi kita”, ucap Tachta dilanjutkan memberikan semangat.
Pukul 15:30 WIB, konferensi pers dimulai. Benar apa yang dikatakan oleh Tachta, Dr Zakir Naik hadir dalam konferensi pers. Sebagaimana yang telah direncanakan, ada tiga pertanyaan “bombastis” yang telah disiapkan oleh regu reporter. Ketiga pertanyaan tersebut menyangkut khilafah, panji rasulullah dan politik Indonesia.
Ada perkataan menarik yang dikatakan oleh Dr Zakir Naik, bahwa khilafah akan tegak sebelum hari kiamat, karena itu janji Allah kurang lebih seperti itu, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Kemudian Ia pun menegaskan bahwa demokrasi bukan dari Islam dan demokrasi bertentangan dengan Islam, tegasnya.
Sekitar pukul 16:40 WIB konferensi pers resmi ditutup. Tak lama kemudian Tachta maju menghampiri Dr Zakir Naik sambil memeluknya, ia memberikan cindera mata spesial tersebut langsung kepada ulama spesial, yakni Dr Zakir Naik. Tak hanya Tachta, Randy pun berkesempatan untuk memberikan Ar-Roya dan Al-Liwa. Randy tak habis pikir, ia bisa berjabat tangan dan menyerahkan Ar-Roya dan Al-Liwa secara langsung kepada Dr Zakir Naik. Sebagaimana diketahui, bahwa Randy selama konferensi pers berlangsung, tak henti-hentinya ia lantunkan dzikir dan istigfar demi keberhasilan misi ini, ungkapnya.
Dengan penuh haru dan bahagia, misi menyerahkan Ar-Roya dan Al-Liwa berhasil dilaksanakan. Tentu, keberhasilan ini tak semata-mata hasil jerih payah mereka. Hanya pertolongan Allah dan doa dari orang-orang soleh yang menjadikan misi itu berhasil. Karena bisa jadi, mudah bagi Allah untuk menolong atau bahkan menggagalkan misi tersebut. Sekali lagi, hanya Allah satu-satunya yang memberikan pertolongan, manusia hanya bisa berikhtiar. Atas kemurahan dan kasih sayang Allah, misi  tersebut dapat tercapai. [IW]
     
Tim Zakir Naik Mission beserta dua orang jurnalis(dari Kiri, Tachta, Irfan, Syarif, jurnalis TVRI, jurnalis Radar, Randy, Adam dan Fajar) 


Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget