Ini Bukti Kecintaan HTI Terhadap Indonesia

“Khilafah dan Wawasan kebangsaan (Menjawab Syubhat, Menyikap Tabir, dan Penjelasan Bagi yang Masih Samar)”



Bdg.News. Bandung. Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Bandung sukses menyelanggarakakan Diskusi Panel bertajuk “Khilafah dan Wawasan kebangsaan (Menjawab Syubhat, Menyikap Tabir, dan Penjelasan Bagi yang Masih Samar)”, Kamis (27/04). Bertindak sebagai pembicara, Pengurus Hizbut Tahrir Indoensia (HTI) Kota Bandung, Yuana Ryan Tresna, M.AG memaparkan makalah berjudul “Khilafah dan Wawasan Kebangsaan Perspektif Hizbut Tahrir Indonesia”. Ia menjelaskan, HTI cinta Indonesia. Ekpresi kecintaan HTI ditunjukkan dengan penolakan terhadap paham Sekulerisme. ”Karena Sekulerisme adalah paham yang ditanamkan oleh penjajah untuk melemahkan negara terjajah, khususnya negeri-negeri Muslim termasuk Indonesia”, terangnya. Selain itu, ekpresi kecintaan HTI ditunjukan dengan sikap tidak membolehkan pihak asing melakukan penguasaan, dominasi apalagi sampai melakukan penjajahan terhadap negeri kita ini. “HTI, sebagai wadah perjuangan umat, pun dengan tegas menolak segala bentuk penjajahan, dan tak henti mengingatkan umat terhadap ancaman penjajah baru atau neoimperialisme”, tegasnya.
Yuana merasa aneh bila ada yang mengatakan HTI dengan kampanye syariahnya akan memecah belah bangsa. Justru HTI mengajak umat untuk mewujudkan Islam dalam realitas kehidupan bermasyarakat dan bernegara guna mengatasi berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini seperti persoalan kemislinan, kerusakan moral, korupsi, kriminalitas merajalela, eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) oleh korporasi asing dan sebagainya, jelasnya.
Acara yang diselenggarakan di Mesjid Al-Hidayah, Cibeunying Kaler, Bandung ini dihadiri oleh empat oleh panelis yang bergantian menanggapi presentasi Yuana. Panelis pertama, Ahli Hukum Tatanegara UIN Bandung, DR. H. UU Nurul Huda, S.H., M.H., mempertanyakan mengapa HTI menolak paham Demokrasi. Selain itu, ia mengusulkan agar HTI masuk ke dalam parlemen (mekanisme pemilu, red) untuk melakukan perubahan. Menanggapi pertanyaan tersebut, Yuana menjelaskan, HTI menolak paham Demokrasi dalam makna yang sebenarnya. Yaitu definisi Demokrasi yang dikemukakan oleh Abraham Lincoln, yang menyatakan, kedaulatan untuk mengeluarkan hukum menurut kehendak manusia. Lebih lanjut ia menjelaskan, HTI menolak paham Demokrasi karena Demokrasi membolehkan kebebasan berprilaku dan kebebasan berpendapat tanpa batas. Mengenai usulan agar masuk ke dalam parlemen, Yuana menjelaskan, perubahan dapat terjadi melalui beberapa cara diantaranya melalui pemilu, kudeta atau jalan umat. Lebih lanjut ia menjelaskan, HTI mengadakan perubahan melalui jalan umat, karena hakikatnya masyarakyat memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri. Melalui jalan umat masyarakat akan menuntut kepada penguasa dan atau mengusahakan sendiri terjadinya perubahan sistem hidup di tengah masyakarat.
Selain UU, Akademisi Universitas Padjadjaran (UNPAD), DR.H.Asep Agus Handaka, Akademisi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), DR. Arim Nasim, M.SI, dan Pengasuh Pondok Pesantren Baiturrahman, Ujung Berung, Bandung, KH M. Rif’at Syadli, LC,. M.AG. bertindak sebagai panelis dalam diskusi tersebut. Mengakhiri presentasinya, Yuana mengabarkan, hari ini umat Islam semakin banyak yang menolak paham Sekulerisme dan menyadari akan kewajiban menerapkan syariah dan menegakkan Khilafah. [IW]


Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget