Visi Pendidikan Khilafah: Menghidupkan Kembali Generasi dan Peradaban Emas


Oleh : Dr. Nazreen Nawaz (Direktur Divisi Muslimah pada Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir)

Allah Swt berfirman,
﴿الَر كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ﴾
Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” [QS. Ibrahim: 1]

Saudari-saudariku yang tercinta dan para tamu undangan yang saya hormati, tidak ada keraguan bahwa masing-masing dari kita di sini menginginkan berakhirnya sistem pendidikan yang gagal di negeri-negeri Muslim dan mengharapkan kelahiran sebuah model pendidikan yang benar-benar cemerlang, yang akan memenuhi aspirasi pendidikan para pemuda kita dan menghasilkan generasi emas kaum ulama, inovasi, dan peradaban emas yang unggul dalam berbagai bidang studi dan terkemuka karena kemajuan dan pembangunannya; model pendidikan yang akan menjadi sumber sejati kebanggaan bagi umat ini dan sebuah mercusuar yang ditiru oleh dunia.

Tetapi saudariku, untuk membangun Sistem Pendidikan Kelas Dunia tersebut membutuhkan suatu sistem politik Kelas Dunia pula – yakni yang merangkul sebuah visi politik yang jelas, tinggi, dan independen bagi negaranya dan bagi dunia. Sebuah visi politik yang didasarkan pada ayat yang saya bacakan sebelumnya - untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan dan kebodohan akibat kekufuran dan dari segala kerusakan, keputusasaan, ketidakadilan, dan mimpi-mimpi yang hancur yang ditebarkannya di atas bumi ini, menuju cahaya Islam dan keadilan, serta mengangkat umat manusia di setiap bidang kehidupan - spiritual, intelektual, moral, politik, ekonomi, serta sains dan teknologi. Sistem politik kelas dunia ini adalah Khilafah yang berdasarkan metode kenabian, yang mengimplementasikan keyakinan, hukum, dan sistem Islam secara komprehensif di dalam sebuah negara, dan yang selama berabad-abad pernah memimpin dunia dalam keunggulan institusi-institusi akademiknya juga inovasi-inovasi dan penemuannya yang mutakhir, serta kontribusinya yang sangat  besar terhadap pembangunan manusia.

Saudariku, tidak ada keraguan bahwa sistem Khilafah Islam yang mulia ini, yang merangkul pandangan Islam yang termasyhur tentang pendidikan, yakni menuntut ilmu itu sangat erat hubungannya dengan menyembah Allah Swt (ibadah) dan imbalanpahala yang besar di akhirat. Pandangan ini, ditambah dengan visi politik Islam yang besar seperti telah saya jelaskan, bersama-sama akan membangun sebuah sistem pendidikan kelas dunia teladan yang akan meningkatkan generasi muda serta membangun umat dan negara yang mewujudkan kualitas untuk memimpin umat manusia dari kegelapan menuju cahaya, seperti yang diperintahkan oleh Allah Swt.

Hal ini karena sebuah negara yang berusaha untuk memimpin dunia dengan Dien kebenaran dan keadilan, tidak akan menerima kurikulum pendidikannya untuk dibentuk sesuai dengan agenda sekuler asing yang menyebarkan kerusakan dan kebodohan. Negara ini tidak akan menerima model-model pendidikan hasil gunting-tempel (cut and paste) dari negara-negara lain atau mengikuti jejak di belakang mereka dalam keberhasilan akademik. Negara ini tidak akan menerima sistem pendidikan kelas dua yang didanai oleh uang receh negara; dan tidak akan menerima harus bergantung pada negeri asing manapun demi pengembangan sektor ekonomi, pertanian, industri, kesehatan, pendidikan, militer, sains dan teknologi, atau bagian-bagian negara yang lain yang terbuka untuk dimanipulasi oleh pemerintahan kolonial.

Tidak, Saudariku! Karena sebagai sebuah negara yang berusaha untuk memimpin dunia ini dengan cahaya Islam, Khilafah diwajibkan oleh Allah Swt untuk memiliki visi politik yang independen secara domestik maupun internasional hanya berdasarkan pada Islam; dan karenanya juga menjadi independen dalam pembentukan kurikulum pendidikannya, serta penyediaan layanan-layanan dan infrastruktur publik, dan pemenuhan kebutuhan negara dan rakyatnya, karena Allah Swt berfirman,
﴿وَلَن يَجْعَلَ اللّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً﴾
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” [QS. an-Nisaa’:141]

Oleh karena itu, Khilafah akan membangun sebuah sistem pendidikan yang hebat, yang akan memungkinkan negara ini untuk memenuhi tujuan-tujuan yang mulia ini, sehingga akan terjadi perkawinan yang kuat antara pendidikan dengan pemenuhan isu-isu vital dan kepentingan negara dan warganya, memastikan kemandirian dan keberlanjutan yang independen. Maka hal ini akan mengakhiri putusnya hubungan antara sistem pendidikan di negeri kita dengan kebutuhan-kebutuhan industri, pertanian, teknik, dan sebagainya di dalam masyarakat kita yang mengarahkan pada ketergantungan kepada bangsa-bangsa lain. Di samping investasi besar Khilafah di dalam industrialisasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara independen dan untuk menjadikannya adidaya dunia, hal ini juga akan mengelola dan memanfaatkan keterampilan-keterampilan dan benak-benak yang luar biasa yang dimiliki oleh para sarjana umat ini bagi pembangunan negara, sehingga kemampuan mereka yang berharga tidak disia-siakan atau dibajak oleh pemerintah asing.

Pondasi Pendidikan di dalam Khilafah:
Jadi Saudariku, bagaimana secara praktis Khilafah dapat mencapai visi yang luar biasa untuk sistem pendidikan kelas dunia ini? Di dalam Rancangan Undang-Undang Dasar Negara Khilafah dan publikasinya, Pondasi Kurikulum Pendidikan Negara Khilafah, Hizb ut Tahrir telah merinci prinsip-prinsip dasar, tujuan, metode pengajaran, kurikulum subjek, dan struktur kebijakan pendidikan negara ini untuk menjawab pertanyaan ini - semua tegak di atas dalil-dalil Islam yang jelas.
Saudariku, poin pertama dan paling penting untuk dipahami adalah bahwa dasar yang mendefinisikan semua aspek sistem pendidikan di dalam Khilafah - dari tujuan, subjek yang diajarkan, isi pelajaran, pegaturan sekolah, dan lain sebagainya, adalah aqidah Islam saja, karena aqidah adalah satu-satunya dasar dari kehidupan Muslim dan negara Khilafah. Aqidah adalah satu-satunya ukuran yang digunakan untuk memutuskan apa yang harus terkandung dalam kurikulum dan apa yang harus ditolak, karena Allah Swt berfirman,

﴿وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. Ali Imran: 85]

Oleh karena itu, kurikulum pendidikan Khilafah tidak akan mengajarkan materi-materi yang bertentangan dengan keyakinan Islam. Negara ini juga akan menutup setiap sekolah atau lembaga pendidikan asing yang merupakan alat propaganda yang nyata bagi budaya liberal Barat di negeri-negeri Muslim. Sekolah-sekolah swasta dapat didirikan oleh warga negara Khilafah dengan syarat hanya mengadopsi kurikulum negara saja dan turut mencapai tujuannya. Tidak akan ada pencampuran antara laki-laki dan perempuan di lembaga-lembaga pendidikan sebagaimana ditentukan oleh Islam - apakah antara murid atau guru, yang akan mengakhiri kasus-kasus hubungan tidak bermoral dan pelecehan seksual terhadap para gadis yang banyak terjadi di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, dan universitas kita hari ini. Insya Allah.

Bahkan tahap-tahap pendidikan dibentuk di atas aqidah Islam karena didefinisikan berdasarkan dalil-dalil Syariah yang terkait dengan berbagai aturan Islam, kewajiban, dan hukuman yang diterapkan kepada anak pada berbagai usia. Misalnya, Nabi SAW bersabda:

«رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يَفِيقَ»

“Diangkat pena dari tiga golongan: orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil hingga ia baligh, dan orang gila sampai kembali akalnya atau sadar.” (HR. Abu Dawud di dalam Sunan-nya).

Dan beliau juga bersabda,

«مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ»

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun.” (HR. Imam Ahmed di dalam Musnad-nya).

Berdasarkan dalil-dalil ini, dan dalil Islam lainnya, tahap sekolah dibagi menjadi 3 – sekolah tingkat I (ibtidaiyah) – dari usia genap 7 tahun sampai 10 tahun; sekolah tingkat II (mutawasithah) – dari usia genap 10 tahun sampai 14 tahun; sekolah tingkat III (tsanawiyah) – dari usia genap 14 tahun hingga berakhirnya jenjang pendidikan dasar.

Kedua, merupakan kewajiban Islam bagi Khilafah untuk memberikan pendidikan yang berkualitas bagi setiap warganya sebagai hak dasar - terlepas dari agama, ras, atau gender mereka. Pasal 178 Rancangan Undang-Undang Dasar Negara Khilafah yang disusun Hizb ut Tahrir menyatakan: "Merupakan kewajiban bagi Negara untuk mengajar setiap individu, laki-laki atau perempuan, akan hal-hal yang diperlukan untuk arus utama kehidupan. Hal ini harus diwajibkan dan disediakan secara gratis di tingkat pendidikan primer dan sekunder, dan Negara harus, dengan upaya terbaik yang dapat diberikannya, memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara gratis." Hal ini karena Islam memandang bahwa mengajarkan individu tentang apa yang mereka butuhkan untuk kehidupan dasar adalah salah satu kebutuhan penting manusia yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, Khilafah wajib menyediakan sekolah dasar dan menengah yang cukup, serta guru untuk SEMUA warga negara dan membekali mereka dengan semua yang mereka butuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan kebijakan pendidikan, tanpa dipungut biaya. Selain itu, Khilafah juga akan mendanai studi subjek-subjek pendidikan tinggi yang merupakan keharusan bagi negara seperti sains Islam, kedokteran, teknik, dan pelatihan guru tanpa biaya, sementara juga berusaha sebisa mungkin untuk membiayai mereka yang mempelajari subjek-subjek non-esensial.

Perlu dipahami, Saudariku, bahwa investasi dalam pendidikan akan menjadi prioritas bagi Khilafah. Sebagai negara yang berusaha untuk memimpin dunia dan benar-benar melayani masyarakat dan umat manusia, Khilafah tidak akan menerima dunia ketiga atau sistem pendidikan terbaik kedua hanya karena kurangnya pendanaan. Sebaliknya, Khilafah akan berusaha untuk membangun para guru dan dosen yang terlatih dan bergaji tinggi dalam jumlah yang berlimpah, serta sekolah-sekolah, perguruan tinggi, universitas, pusat penelitian, perpustakaan, laboratorium, observatorium, dan sebagainya, yang berfasilitas lengkap dan paling mutakhir, menggunakan kekayaan dari Baitul Mal. Kekayaan Khilafah Islam akan sangat berlimpah karena sifat sistem ekonominya yang sehat memiliki warisan sejarah telah menciptakan kemakmuran di negeri-negeri Muslim kita. Selanjutnya, Khilafah akan mendirikan sebuah kompleks 'sekolah yang komprehensif' di tengah desa-desa kecil dan mengatur transportasi bebas biaya para murid dari rumah mereka ke sekolah, untuk memastikan bahwa tidak ada perbedaan antara daerah perkotaan dan pedesaan dalam kualitas pendidikan yang diberikan, karena Khilafah memiliki Islam kewajiban Islam untuk menjadi penjaga dan penjamin hak-hak semua warga negara, sebagaimana Nabi SAW bersabda,

«وَالإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Imam (penguasa) adalah pemimpin, dan ia bertanggungjawab atas rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar)

Semua ini, Saudariku, akan mengakhiri dijadikannya pendidikan sebagai komoditas yang menghasilkan pendapatan bagi pemerintah atau bagi orang-orang kuat dan berkuasa, dan mengakhiri sistem pendidikan dua-tingkat di negeri-negeri kita, di mana pendidikan yang berkualitas adalah hak istimewa hanya bagi orang-orang kaya, sementara orang-orang miskin diberikan remah-remahnya. Sebaliknya, negara akan mendukung setiap murid untuk mencapai potensi penuhnya terlepas dari kekayaan mereka dan membantu mereka untuk menguasai tingkat tertinggi dari keilmuan dan inovasi untuk menghasilkan kelimpahan mujtahidin, ilmuwan, dan penemu yang hebat. Insya Allah. Pasal 179 Rancangan Undang-Undang Dasar Negara Khilafah yang disusun Hizb ut Tahrir menyatakan "Negara menyediakan perpustakaan, laboratorium, dan semua sarana ilmu pengetahuan lainnya di luar sekolah dan universitas, untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin melanjutkan penelitian dalam berbagai bidang ilmu, seperti fiqh, hadits dan tafsir Alquran, pemikiran (fikr), kedokteran, teknik dan kimia, penemuan-penemuan (discovery and invention), dll. Hal ini dilakukan untuk menciptakan sekelompok besar mujtahidin serta para ilmuwan dan penemu yang luar biasa di dalam umat."

Tujuan-Tujuan Sistem Pendidikan Khilafah:
Jadi Saudariku, apakah tujuan Sistem Pendidikan Khilafah dan bagaimana ia akan mencapai tujuan tersebut? Pertama-tama, ada tiga tujuan utama dari pendidikan sekolah
  • Membangun Kepribadian Islam:

Tujuan pertama adalah untuk membangun Syakhshiyyah Islam, kepribadian Islam putra-putri umat, dengan menanamkan aqidah Islam, pemikiran dan perilaku Islam pada murid sehingga mereka menjadi Muslim yang menjadikan Islam sebagai satu-satunya dasar untuk semua pemikiran, penilaian, kecenderungan, dan tindakan mereka, serta membentuk seluruh hidup mereka sesuai dengan Dien mereka. Tujuan ini bercermin pada maksud Nabi SAW dalam pengajaran beliau kepada umat Islam di Mekah dan Madinah, karena beliau juga berusaha untuk mewujudkan kepribadian Islam dalam pemikiran dan perilaku mereka.

Syakhshiyyah Islam anak-anak dibangun dengan terlebih dahulu membangun aqidah Islam dengan keyakinan kuat di dalam diri mereka, yakni dengan memberikan mereka bukti-bukti rasional yang konkrit akan keberadaan Allah Swt dan Alquran adalah Firman-Nya. Kemudian mereka diajarkan pemikiran dan aturan Islam, tetapi dalam cara yang praktis sehingga mereka selalu mengerti bagaimana menerapkannya pada realitas relevan yang mereka alami, dan dengan cara yang mempengaruhi pemikiran dan emosi mereka sehingga para murid mengadopsi sikap yang diwajibkan syara’ ketika menghadapi masalah tersebut - dengan bertindak atasnya atau berpantang darinya - sehingga tidak sekedar teoritis. Oleh karena itu, subjek-subjek Islam seperti bahasa Arab, Tafsir Alquran, Sunnah Nabi SAW, Sirah Nabawi dan Sejarah Islam, diajarkan dengan cara yang selalu berupaya untuk mengembangkan kepribadian Islam mereka - sehingga Alquran diajarkan tidak hanya dengan tujuan agar murid menghafal sebagian besar isinya sebelum baligh, tetapi juga memahami keajaiban dalam bahasanya serta aturan dan pelajaran yang dapat diterapkan untuk usia mereka. Sirah Nabawi dipelajari untuk memahami aturan dalam mengemban dakwah, menegakkan Negara Islam, serta mengatur urusan dalam dan luar negerinya. Dan pelajaran sejarah Islam akan berfokus pada kualitas kepribadian-kepribadian Islam yang luar biasa seperti para Sahabat, para Tabi'in, para penguasa, dan para ulama, dengan menekankan keberanian, kesabaran, ketakwaan, keteguhan melawan ketidakadilan, dan perlindungan kepada umat dan Islam sehingga para murid terinspirasi untuk meniru karakter-karakter ini. Selanjutnya, Islam diajarkan secara komprehensif sehingga aturan-aturannya dipahami dalam setiap bidang kehidupan - di dalam ibadah, moralitas, kehidupan keluarga, ekonomi, masalah hukum, politik, dan seterusnya.

Tujuannya adalah untuk menyelesaikan proses ini dalam membangun kepribadian Islam seiring berakhirnya sekolah tingkat III. Insya Allah. Dan prestasinya akan didukung oleh lingkungan Islam Khilafah di mana media, masjid-masjid, dan semua lembaga lainnya hanya akan mempromosikan konsep-konsep Islam yang murni.

  •  Mengajarkan Keterampilan dan Pengetahuan Praktis untuk Kehidupan

Tujuan kedua pendidikan sekolah adalah untuk mengajarkan kepada para murid keterampilan dan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk berinteraksi dengan lingkungan mereka, guna mempersiapkan mereka untuk terlibat dalam ranah kehidupan praktis, seperti matematika, sains umum, serta pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan berbagai alat dan penemuan, misalnya peralatan listrik dan elektronik, komputer, peralatan rumah tangga, alat-alat pertanian dan industri, dan sebagainya. Mereka juga akan diajarkan olahraga yang bermanfaat seperti berenang dan memanah, dan setelah baligh mereka akan dilatih dalam keterampilan militer di bawah pengawasan tentara.

  • Mempersiapkan Murid untuk Memasuki Universitas:

Dan tujuan ketiga dari pendidikan sekolah adalah mempersiapkan murid untuk memasuki universitas dengan mengajarkan ilmu-ilmu utama yang menjadi prasyarat - apakah ilmu budaya (tsaqafah) seperti Fiqh, Arab, atau Tafsir Alquran, ataupun ilmu empiris - seperti matematika, kimia, biologi, atau fisika. Tujuannya adalah untuk menciptakan kepribadian-kepribadian yang terhormat, para ulama, ilmuwan, dan pakar dalam setiap bidang kehidupan untuk menegakkan Khilafah sebagai negara adidaya dunia yang terdepan dan berpengaruh. Untuk mencapai hal ini, metode dan gaya pengajaran yang digunakan adalah yang menginspirasi dan menstimulus pemikiran yang mendalam. Sebagai contoh, ilmu-ilmu empiris akan diajarkan dengan cara membangun kemampuan analisis. Selain itu, topik-topik diterapkan untuk memecahkan masalah kehidupan nyata dan dipelajari untuk mendapatkan manfaat guna melayani kepentingan dan isu-isu penting umat. Selanjutnya, eksperimen, teknologi digital, peralatan pembelajaran elektronik (E-learning) - bahkan mungkin melibatkan simulasi-simulasi realitas virtual (virtual reality) dan banyak teknik lainnya, akan digunakan untuk membantu para murid untuk memvisualisasikan dan memahami dengan lebih jelas konsep-konsep ilmiah yang diajarkan.

Saudariku yang terhormat, dengan demikian, tiga tujuan pendidikan sekolah tersebut akan berjalan melalui setiap tahapan sekolah, dengan setiap tahap berlanjut pada tingkat-tingkat yang dicapai sebelumnya, menjamin kelangsungan pendidikan dari pendidikan dasar sampai menengah. Dan akan ada pelacakan yang lekat terhadap kemajuan setiap murid di seluruh 3 tahap pendidikan oleh pihak sekolah, yang akan diawasi oleh Departemen Pendidikan Khilafah yang akan memantau kualitas pengajaran, untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan tersebut terpenuhi.

Pada 6 termin terakhir dalam tingkat sekolah III, selain subjek-subjek Islam sains dasar, para murid akan mendapatkan cabang-cabang opsional dari bidang-bidang yang mereka kehendaki untuk dikuasai secara khusus pada pendidikan tinggi, misalnya pilihan Kebudayaan Islam, atau pilihan Sains, Industri, Pertanian, Komersial dan Domestik, yang terakhir bagi murid-murid perempuan dan terdiri atas subjek urusan rumah tangga dan tentang anak.
Kurikulum pengajaran integral yang holistik ini akan menciptakan kepribadian Islam holistik yang mulia, baik dalam pemahaman Dien mereka maupun sifat-sifat dunia ini, serta siap dengan pondasi yang diperlukan untuk memasuki studi yang lebih tinggi.

Tujuan dan Pengaturan Pendidikan Tinggi:
Dan akhirnya Saudariku, ketika kita melihat visi Khilafah untuk Pendidikan Tinggi, tujuan dan pengaturannya, kita bisa melihat lagi perkawinan yang kuat antara sistem pendidikan negara dan pemenuhan kebutuhan masyarakat, serta bagaimana Khilafah akan secara praktis menciptakan generasi dan peradaban emas.

Sebagai contoh, salah satu tujuannya adalah untuk memperkuat dan memperdalam kepribadian Islam para mahasiswa (murid pendidikan tinggi) untuk menjadikan mereka para pemimpin yang menjaga dan melayani masalah-masalah penting umat, seperti memastikan pelaksanaan Islam yang benar, mengoreksi kepemimpinan, mengemban dakwah, dan menghadapi ancaman-ancaman terhadap persatuan umat, Dien, atau Khilafah. Ini berarti bahwa tsaqafah Islam terus diajarkan kepada para mahasiswa, terlepas dari spesialisasi yang mereka pilih. Hasilnya adalah terciptanya kelas orang-orang yang berpendidikan lebih tinggi dari umat ini, yang akan menjadi barisan terdepan dalam melindungi dan menyebarkan Islam, bukan mereka yang hanya terus mencari aspirasi pendidikan dan ekonomi pribadi mereka sendiri. Selain itu, Khilafah akan mendorong dan menyediakan sarana bagi mahasiswa untuk mengkhususkan diri dalam semua bidang tsaqafah Islam guna menghasilkan para ulama, pemimpin, hakim dan fuqaha masa depan sehingga umat terus berkembang dalam pelaksanaan, pelestarian, dan penyebaran Dien mereka.

Pendidikan tinggi juga berusaha untuk menghasilkan berbagai gugus tugas yang mampu mengurus kepentingan-kepentingan vital umat ini seperti menjamin makanan, air, perumahan, keamanan, dan kesehatan yang cukup dan berkualitas bagi masyarakat, serta untuk menghasilkan cukup dokter, insinyur, guru, perawat, penerjemah, dan profesi-profesi lainnya untuk mengurus urusan umat. Ini juga akan mencakup menghasilkan para pakar yang akan menyusun rencana jangka pendek dan jangka panjang serta berinovasi sarana-sarana dan gaya yang canggih untuk pengembangan pertanian, industry, dan keamanan guna memungkinkan negara mandiri dalam mengelola urusannya. Juga akan ada koordinasi yang erat antara lembaga-lembaga pendidikan tinggi tertentu dengan negara, seperti antara fakultas pertanian universitas dan Departemen Pertanian Khilafah, untuk memastikan bahwa pendidikan tinggi memenuhi kebutuhan masyarakat, seperti meningkatkan irigasi lahan atau memelihara ternak.

Oleh karena itu, Khilafah memandang investasi besar dalam spesialisasi, juga penelitian dan pengembangan, sebagai bagian integral bagi  vitalitas dan kesehatan negara dan Khilafah akan menyediakan banyak lembaga kejuruan, industry, dan teknik, serta universitas dan pusat-pusat penelitian di seluruh provinsi untuk mencapai tujuan ini. Jadi Saudariku, dengan semua ini, Anda akan menyaksikan Khilafah masa depan yang memimpin dunia dalam perkembangan penelitian sel induk (stem cell), terapi gen, teknologi telekomunikasi, dan eksplorasi ruang angkasa; membuat terobosan-terobosan dalam pengobatan kanker, produksi energi bersih, teknik-teknik irigasi, dan metode pengendalian banjir; dan menemukan teori-teori baru dalam fisika kuantum, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan pemberantasan malaria serta infeksi-infeksi resisten antibiotik. Insya Allah.

Simpulan:
Saudariku yang tercinta, inilah visi pendidikan untuk Khilafah, dan seperti yang Anda lihat, visi ini adalah visi yang unik, hebat, dan tak tertandingi dalam sifatnya. Sungguh, sistem Islam ini yang melahirkan para pemimpin yang luar biasa seperti Umar bin Khattab (ra), Umar bin Abdul Aziz, dan Harun ar-Rasyid; dan para ulama yang luar biasa seperti Asy-Syafi’i, Ibnu Taimiyah, dan Nafissah binti Hassan (rm); dan para ilmuwan terkemuka seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Mariam 'Al-Astrolabiya' Al-Ijliya -, dan sistem ini akan sekali lagi melahirkan para pemimpin, mujtahidin, dan inovator ilmiah yang luar biasa untuk umat ini, - sehingga menghasilkan generasi dan peradaban emas. Oleh karena itu Khilafah akan sekali lagi mengambil posisinya yang hakiki sebagai pusat pembelajaran di dunia - sebuah negara tujuan bagi negara-negara lain yang mengirim anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan terbaik dalam kehidupan karena sistem pendidikan teladannya, yang akan berdiri sebagai model yang akan berusaha untuk ditiru oleh negeri-negeri lain. Insya Allah.

Kami menyeru Anda, Saudari-saudariku, untuk menjadi bagian dari dakwah yang mulia ini untuk menegakkan negara yang mulia ini, untuk meraih kemenangan itu pada tangan Anda, dan menjadi bagian dari revolusi bersejarah yang sejati bagi dunia ini.

﴿مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” [Al-Fatir: 10]


*Disampaikan pada Konferensi Perempuan Internasional, 11 Maret 2017 di Balai Sudirman Jakarta

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget