Penyebab Krisis Pendidikan di Dunia Islam


Oleh: Ummu Suhaib (Palestina), Anggota Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir

Segala puji bagi Allah Swt yang mewajibkan kita untuk mencari ilmu dan yang menjadikan status orang-orang berilmu mengikuti para nabi, dan shalawat serta salam untuk Rasul terbaik yang bersabda:
«يوزَن يوم القيامة مدادُ العلماء بدم الشّهداء»
 “Pada hari kiamat akan ditimbang tinta para ulama dan darah para syuhada.”
Islam telah menggambarkan betapa pentingnya ilmu dan pendidikan; ia adalah salah satu kebutuhan hidup dan manifestasi kebangkitan dan tanda ketinggian bangsa. Tujuan pendidikan adalah pembentukan kepribadian Islam dan memberikan kepada masyarakat apapun yang dibutuhkannya dari sains dan ilmu untuk mencapai kecukupan dan kemuliaan, sehingga kita menjadi independen dari negara-negara lain. Selain itu, inilah cara untuk melestarikan budaya bangsa dan perkembangannya, yang merupakan tanda peradabannya dan dasar dari standar dan system kehidupannya yang berusaha untuk diterapkan di dalam negeri dan disebarkan ke luar negeri.
Merupakan hal yang pasti bahwa pendidikan di dunia Muslim mengalami krisis yang membuat mata dan hati kita ber-air mata darah; krisis ini mempengaruhi generasi-generasi putra dan putri kita. Masalah-masalah yang timbul akibat sistem pendidikan sekuler di negara-negara Muslim adalah sama, meskipun masing-masing terkait dengan isu-isu domestik di negaranya, seperti revolusi, perang, dan konflik.
Masalah yang pertama dan paling menonjol yang dihadapi pendidikan utama saat ini adalah bahwa masalah ini diwariskan dan dipaksakan kepada kita sejak zaman kolonial. Sebagian besar sistem pendidikan di negara-negara Muslim diimpor dari Barat. Tujuan mereka adalah untuk menghafal berbagai informasi sekedar untuk lulus ujian dan mendapatkan sertifikat, bukannya memberikan murid ruang yang cukup untuk mencerna pelajaran atau untuk berpikir, menyelidiki, dan menganalisa untuk membuat koneksi dan aplikasi... murid bukanlah tujuannya, melainkan informasi; bukan ilmu yang bermanfaat, melainkan sekedar sertifikat. Hal ini dilakukan secara sistematis, dan tidak kebetulan; inilah bentuk kolonialisme dan invasi intelektual dan budaya. Pendidikan yang diberikan kepada anak-anak kita di sekolah dan universitas tidak ditujukan membangun peraturan Islam dasar yang merupakan keyakinan Islam. Pendidikan mengubah mereka menjadi orang-orang sekuler yang menganjurkan demokrasi dan kebebasan, bahkan malah membela mereka, dan pendidikan menanamkan ikatan patriotik dan nasionalisme untuk menggantikan Islam. Sungguh masalah yang gawat!
Perubahan kurikulum berulang di Yordania, Palestina, Arab Saudi, Tunisia, Turki, dll, adalah contoh yang jelas dari rencana-rencana berbahaya untuk menjauhkan murid dari agama mereka dan masalah-masalah umat mereka. Hal ini di samping kekakuan kurikulum, yang sengaja tidak disesuaikan dengan kebutuhan murid dan harapan masyarakat.
Salah satu hal yang merupakan krisis dalam kualitas pendidikan adalah lembaga-lembaga pendidikan. Tidak ada visi yang layak, buruknya pengaturan, dan memberikan hasil yang jelas-jelas buruk. Tidak ada korelasi antara berbagai tahapan pendidikan. Prinsip dasarnya adalah bahwa negara bertanggung jawab untuk pendidikan dan penciptaan semua persyaratan proses pendidikan termasuk lembaga-lembaga dan sarana pendidikan, sekolah dan universitas, perpustakaan, laboratorium, dan yang lebih penting, guru dan ulama yang berkualitas, dan lain-lain. Ketika menyoroti sekolah-sekolah di sebagian besar negara Muslim, kami menemukan bahwa ada kekurangan dalam penyediaan sekolah di setiap daerah, terutama di desa-desa dan daerah terpencil dan kalaupun tersedia, sayangnya sekolah-sekolah ini akan kesulitan mencari kondisi lingkungan yang tepat dalam hal kesiapan dengan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh proses pendidikan akan bangunan yang layak, listrik, air bersih, ventilasi, dan pemanas, sarana, dan alat-alat ... Kelas-kelas yang ada tidak cocok dalam hal tata ruang atau pencahayaan, dan kursi-kursi tidak nyaman atau cocok digunakan murid untuk duduk dalam jangka waktu yang lama. Dan ada banyak ruang kelas yang penuh sesak, tidak hanya di tempat-tempat seperti Gaza, di mana kegiatan belajar-mengajar mengalami tiga periode waktu ... Atau di Mesir, di mana kadang-kadang jumlah murid per kelas mencapai 120 orang. Atau di Yaman, di mana satu kelas menampung 90-120 murid. Atau di Pakistan, di mana menurut data yang diterbitkan oleh UNESCO, sekolah memiliki ruang kelas paling padat di Asia Selatan dan rasio murid per guru adalah sekitar 500 murid untuk tiga guru. Atau di Afghanistan, di mana jumlah sekolah tidak memadai dan ruang kelas yang penuh sesak, dan bahkan ada dua periode mengajar, yang berarti bahwa kegiatan belajar-mengajar terjadi hanya beberapa jam. Atau di Sudan, Maroko, Yordania, Mauritania, dan Somalia, di mana ada ribuan sekolah yang beroperasi di tenda-tenda... Tetapi juga di Turki (yang lebih maju) di mana sistem pendidikan pada umumnya mengalami kekurangan sumber daya, anggaran, dan memiliki sejumlah besar murid per sekolah. Misalnya, ada ruang kelas di wilayah timur yang berisi lima puluh murid ... Ada juga kekurangan dalam hal ketersediaan perpustakaan dan laboratorium, dan kalaupun ditemukan, kemungkinan tidak cukup memadai – ketika membandingkannya dengan jumlah murid – untuk mendorong murid untuk membaca dan mempraktikkan penelitian ilmiah dan mengembangkan pemikiran dan kreativitas mereka ... Dan kita tidak boleh lupa bahwa bahasa Arab dijauhkan dan dilemahkan, yang mengarahkan pada penurunan kreativitas dan kapasitas untuk visi independen pendidikan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak murid menghindar dari pembelajaran dan kreativitas.
Adapun masalah buta huruf, sungguh luar biasa ... Kasus buta huruf hampir tidak ada di negara Islam, di mana mempelajari Alquran dalam menulis dan membaca adalah wajib. Buku-buku dan perpustakaan dapat diakses untuk membaca dan meminjam, sementara persentase buta huruf di Eropa pada waktu itu lebih dari 95%. Namun saat ini situasinya terbalik, kita umat Islam sekarang yang menderita buta huruf! Ini adalah kesimpulan yang diambil terlebih dahulu untuk kebijakan pendidikan yang diadopsi oleh sistem-sistem di dunia Islam, yang awalnya dikembangkan dan didikte oleh penjajah kafir, dan yang menyapu bersih motivasi para murid dan guru, belum lagi memperkenalkan biaya tinggi yang dikeluarkan oleh orang tua, dan tidak lupa akan ketiadaan keamanan dan ketidakstabilan akibat perang.
Menurut Laporan Arab Knowledge tahun 2014, jumlah penyandang buta huruf di kawasan Arab pada tahun 2012 mencapai sekitar 51.8 juta jiwa dari usia 15 tahun ke atas,  dimana porsi terbesar adalah perempuan, sebanyak 66 persen ... Pada tahun 2015, UNICEF melaporkan bahwa lebih dari 12 juta anak-anak di Timur Tengah dan Afrika Utara putus sekolah atau rentan putus sekolah, dan 40 persen anak-anak di Afghanistan tidak bersekolah, dan 90 persen dari perempuan Afghanistan di daerah pedesaan menderita buta huruf. Juga sebuah laporan pemerintah menunjukkan bahwa 24 juta anak-anak di Pakistan tanpa pendidikan ... dan jumlah murid sekolah dasar yang tidak bisa membaca dan menulis sekitar setengah dari jumlah ini! Dan kualitas pendidikan di Bangladesh sekedar biasa-biasa saja karena penipuan dan bocornya soal ujian di semua tingkatan dan tahapan.
Hal ini juga berlaku untuk perguruan tinggi. Jika kita melihat biaya pendidikan di bawah ideologi kapitalis yang kita hidup di dalamnya – di mana yang bertanggung jawab untuk pendidikan anggota keluarga adalah keluarga itu sendiri, bukan negara –, kita menemukan bahwa pendidikan universitas itu mahal dan membebani anggaran keluarga. Hal ini membuat sebagian orang menyerah pada ambisi mereka untuk kuliah ke Universitas meskipun memiliki prestasi akademik yang tinggi karena ketidakmampuan untuk menanggung biaya. Kadang-kadang orang tua dipaksa untuk menjual tanah dan properti mereka, atau meminjam uang, atau mengambil lebih dari satu pekerjaan, atau murid itu sendiri yang bekerja untuk dapat membayar biaya kuliah yang selangit seperti untuk buku, transportasi, dan kebutuhan lainnya.
Kita bertanya-tanya: bukankah pendidikan adalah salah satu kebutuhan yang Islam percayakan kepada Negara untuk menyediakan bagi warganya!!? Berapa banyak biaya yang dianggarkan oleh negara ini (Semoga Allah menghapus para penguasanya) untuk sektor pendidikan?!! Kita tahu bahwa negara-negara di dunia Muslim kaya dengan kekayaan manusia dan material, tetapi sumber daya mereka tidak berada di tangan mereka sendiri, melainkan di tangan para penjajah melalui para penguasa perusak yang merupakan pelayan majikan mereka;

﴿إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُواْ مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُواْ
“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya [QS. Al-Baqarah: 166]
Penurunan pengeluaran dana untuk  sektor pendidikan merupakan penghalang bagi perkembangannya. Sebanyak 41 negara di dunia Muslim menghabiskan hanya 6% dari anggaran mereka untuk pendidikan pada tahun 2011, dan 25 negara menghabiskan kurang dari 3% dari GNP pada tahun 2011. Turki menempati tempat kedua terakhir diantara negara-negara OECD dalam alokasi sumber daya dari pendapatan nasionalnya untuk pendidikan. Proporsi dari total pengeluaran untuk pembangunan pendidikan di Pakistan pada 2015-2016 hanya 2,3% dari PDB! Sementara entitas Yahudi  menghabiskan 10% dari PDB untuk pendidikan dan mendukung sebagian besar universitas dan menghabiskan rata-rata $1100 untuk setiap murid per tahun. Sedangkan statistik yang dilaporkan di Al-Jazeera Net menunjukkan bahwa negara-negara Arab, terutama di Asia, adalah negara-negara yang menghabiskan dana paling rendah pada penelitian ilmiah, yakni tidak melebihi 0,1%, dan negara-negara Arab di Afrika bahkan tidak melebihi 0,5%. Menurut peringkat akademis dari Shanghai Jia Tong, dari universitas-universitas di dunia, empat universitas dari Zionis musuh kita termasuk dalam daftar 150 universitas terbaik di dunia.
Namun, tak satu pun dari universitas Arab disebutkan dalam daftar ini! Di antara hasil klasifikasi 500 universitas terbaik, hanya satu Universitas Arab masuk rating, yakni Universitas Raja Saud (King Saud University, KSA) dan itupun berada di peringkat 428!! Menurut QS World Ranking pada tahun 2014/2015 untuk 100 universitas, tak satu pun dari universitas di dunia Islam menempati peringkat tinggi di dalamnya, dan di antara 400, hanya ada 11 universitas di antara mereka. Selain itu, hasil terbaru dari 2016 dari peringkat Times Higher Education, menunjukkan bahwa hanya ada 10 universitas di dunia Islam di antara 400 universitas terbaik!
Bahkan sebagian besar beasiswa dan dermasiswa diberikan kepada orang yang salah, dan di samping itu, yang disebut "perguruan tinggi terbaik" ternyata tidak dapat diakses dengan adil, dan tampaknya terbatas untuk orang-orang tertentu! Hal ini menekan kreativitas dan membatasi jumlah pekerja untuk pengembangan sains, penelitian, dan kemajuan sains, serta penulisan buku, padahal seharusnya terbuka untuk semua orang, sebagaimana pendidikan adalah hak. Selain itu, kami menemukan bahwa sebagian keluarga miskin lebih suka menyekolahkan anak laki-laki dibanding perempuan karena mereka tidak memiliki sarana untuk menanggung biaya atas semua anggota keluarga. Ini karena laki-laki bertanggung jawab atas keluarga dan belanja rumah tangga, dan dengan demikian mereka percaya bahwa pendidikan lebih berguna untuk laki-laki daripada perempuan ... dan bahkan kemudian, orang-orang yang berhasil menyelesaikan pendidikan di universitas memiliki sedikit kesempatan kerja dan upah yang rendah, sementara persyaratan hidup mahal, dan mereka merasakan ketidakamanan dan ketidakadilan di negeri sendiri, karena universitas dan lembaga-lembaga penelitian dan pekerjaan didominasi oleh kronisme, sentralisme, dan tirani.
Seperti yang disebutkan di atas, mengenai pengeluaran buruk untuk penelitian ilmiah, diperparah dengan semua dilema lainnya, para murid merasa frustrasi dan kadang-kadang putus asa, yang mengarah pada salah satu masalah yang paling penting yang mencerminkan realitas umat di berbagai masyarakat Islam, dan menghambat kelangsungan masa depan yang lebih baik untuk mereka. Masalah ini adalah "brain drain" yang mengekspor benak-benak, pengalaman, dan keterampilan terbaik, menuju negara-negara Barat, dan pada gilirannya melemahkan umat Islam secara intelektual, budaya, pendidikan, dan ilmiah. Ada ratusan ribu mahasiswa dari negara-negara Islam yang terus belajar di Barat, terutama para sarjana untuk memperoleh gelar doktor, yang tidak kembali ke negara mereka. Beberapa studi yang dilakukan oleh Liga Arab, UNESCO, dan Bank Dunia telah menunjukkan bahwa dunia Arab berkontribusi sepertiga dari brain drain dari negara-negara berkembang. Sementara Turki (yang diambil sebagai contoh di bidang pendidikan oleh sejumlah negara Muslim) menempati posisi 11 di antara negara-negara dengan jumlah terbesar murid yang ke luar negeri. Universitas-universitas asing berburu murid dengan benak-benak cemerlang dari Pakistan melalui kerja sama dengan sekolah-sekolah swasta – untuk mengeksploitasi mereka demi kepentingan negara-negara Barat dan bukan untuk kepentingan rakyat Pakistan, atau dunia Muslim.
Setelah semua ini, kita bertanya-tanya: Mengapa mereka maju dan kita mundur?! Mereka menarik para ilmuwan kita dan menyambut mereka pada saat yang sama pemerintah di dunia Muslim, dengan para penguasa dan media mereka, menyambut para artis dan penari, serta tidak menunjukkan minat atau perhatian yang dibutuhkan kepada para ilmuwan dan inovator! Dan kompetensi kaum Muslim dicuri dan justru menjadi kekuatan bagi negara-negara kafir dan menjadi kelemahan bagi kita.
Mengingat semua ini, apa yang kita pikirkan mengenai kondisi guru, akan menjadi seperti apa di negara-negara tersebut dalam hal status dan melestarikan martabat, juga gaji serta kondisi kerja mereka? Jika pendidikan adalah salah satu pondasi yang paling penting dari kebangkitan, maka guru merupakan salah satu pilar yang paling penting. Memang Islam mengangkat status guru, dan karena jerih upaya dan kemurahan hati mereka, untuk itu Rasulullah SAW bersabda:
«إنَّ الله وملائكته وأهل السَّموات والأرض حتَّى النَّملة في جحرها وحتَّى الحوت ليصلُّون على مُعلِّم النَّاس الخير»
“Sesungguhnya Allah,para malaikat Nya,penduduk langit dan bumi sampai pun semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”
Akan tetapi, ketidakadilan dan tirani para penguasa ini tidak menghargai satupun dari anak-anak umat yang mulia ini, bahkan pada guru yang digambarkan oleh Nabi yang mulia sebagai pewaris para nabi! Sementara negara-negara kapitalis – negara-negara yang bertindak dengan kriteria manfaat dan keuntungan, seperti Amerika, Jepang dan Jerman – menghargai ilmuwan dan guru. Mereka dihormati dengan diberikan upah yang lebih tinggi dan hak istimewa dan mereka merasa terhormat sebagaimana hak mereka, bukan sebaliknya. Kami menemukan bahwa dunia Islam, termasuk negara-negara Arab, membayar upah guru yang lebih rendah dan gaji lebih rendah, yang memaksa mayoritas untuk mendapatkan pekerjaan tambahan yang tidak sesuai profesi mereka guna memenuhi biaya hidup yang tinggi. Hal ini di samping kondisi kerja yang tidak baik dan layak untuk sifat pekerjaan dan prestisenya, yang mempengaruhi pandangan negatif murid-murid mereka dan masyarakat terhadap mereka. Dan kita tidak boleh lupa adanya kebijakan pengangkatan guru yang tidak memiliki kompetensi mengajar, terutama di kelas-kelas sekolah dasar di mana murid belajar keterampilan dasar membaca, menulis, dan matematika. Atau mereka dipaksa untuk mengajar subjek yang bukan spesialisasi mereka, yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Dalam laporan tahunannya tentang pendidikan untuk tahun 2014, UNESCO mengatakan bahwa 43% dari anak-anak di negara-negara Arab tidak memiliki akses kepada prinsip-prinsip dasar pendidikan karena kualitas guru yang memburuk dan kurangnya pelatihan yang layak untuk melakukan pekerjaan mereka, di samping penurunan status guru yang mempengaruhi kinerja, produktivitas, dan peyampaian materi pelajaran. Hal ini juga mungkin terjadi dimana guru mengalami penghinaan dan sanksi jika dia menuntut hak-hak dasar seperti apa yang terjadi di Tunisia, Palestina, Mesir dan Yordania.
Dan kita tidak boleh lupa juga metode pengajaran dan metode-metode gagal yang mengalami kekurangan fleksibilitas, kreativitas, keragaman, dan vitalitas yang menyebabkan kebosanan dan kurangnya kemampuan berpikir dan kreativitas, karena didasarkan pada instruksi dan teori-teori pengajaran, dan berfokus pada menghafal informasi abstrak yang tidak dirasakan dalam pikiran mereka, bukannya menghubungkannya pada realitas atau analisis dan pemahaman, yang mengakibatkan hilangnya hasrat untuk belajar dan karenanya menyebabkan putus sekolah. UNICEF memperingatkan bahwa 12 juta anak-anak di Timur Tengah putus sekolah sebagai akibat dari kemiskinan, diskriminasi dan kekerasan seksual; belum lagi statistik mengenai anak-anak yang terpaksa meninggalkan sekolah karena perang di Irak dan Suriah, yang berjumlah lebih dari tiga juta.
Semua ini adalah hasil alamiah dari kebijakan rezim dari negara-negara ini, tidak di negara-negara tertentu, tetapi di semua negara di dunia Islam. Mereka adalah pelayan kafir penjajah, sejak penjajah berhasil menghancurkan Khilafah Utsmani dan menggambar rencana-rencana  untuk menjajah negara-negara ini agar tetap berafiliasi dengan mereka, melaksanakan kebijakan mereka, menjaga kepentingan mereka, dan memberi mereka akses kepada kekayaan umat. Para penguasa agen adalah alat yang diciptakan oleh tangan para penjajah dan di bawah pengawasan mereka menjadi budak setia, dan memang demikianlah para penguasa agen ini. Jadi mereka melakukan perintah kafir penjajah dan mengadopsi semua kebijakan mereka yang berhubungan dengan pemerintahan dan ekonomi, pendidikan, ... dan lainnya. Dan agar para penguasa agen tidak bisa keluar dari batas kendali mereka, kafir penjajah menciptakan apa yang disebut Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia untuk mengikat mereka kepada negara-negara kolonial, terutama Amerika, dengan memaksa mereka untuk menggunakan pinjaman dari Bank Dunia. Di satu sisi mereka mengidentifikasi proyek-proyek dan investasi di mana pinjaman tersebut dihabiskan, yang tentu saja tidak diperlukan untuk proyek-proyek penting negara dan juga tidak memberikan kontribusi untuk kemajuan. Di sisi lain, pinjaman ini adalah pinjaman dari negara-negara kapitalis, yang berarti bahwa bunga (riba) berlipat dan tidak dapat dilunasi oleh negara sehingga mereka tidak dapat melepaskan diri dari negara-negara kapitalis tersebut dan tetap menjadi sandera dan pelayan negara-negara kolonial!!
Apa yang menjadi perhatian kita pada sektor ini adalah bahwa pendidikan bukanlah prioritas bagi para penguasa dan majikan mereka, hanya sekedar apa yang melayani kepentingan mereka dan mengimplementasikan rencana mereka pada umat ini, yang memiliki warisan ideologis sendiri. Mereka mengadopsi agenda sekuler dan sudut pandang kapitalisme Barat dalam pendidikan, khususnya dalam pengembangan kurikulum, demi sekularisasi dan westernisasi generasi demi generasi – seperti yang telah disebutkan sebelumnya dan mereka mengimpor model-model pendidikan yang dilaksanakan di Barat, atau mengadopsi solusi-solusi pendidikan dari organisasi-organisasi Barat yang hanya bertujuan untuk meningkatkan sekularisasi pendidikan dan mengimplementasikannya di negara-negara kita dengan dalih mempromosikan pendidikan! Seperti model Finlandia yang diadopsi di UAE, model Singapura dan model Jepang di Mesir, dan model Amerika di lebih dari satu negara Arab dan Islam. Dan tentu saja semua ini menjadi percobaan-percobaan yang gagal, karena kebijakan pendidikan di dalam model-model tersebut berasal dari ideologi yang diemban negara-negara itu. Ideologi mereka bertentangan dengan keyakinan Islam kaum Muslim, begitu pula sarana-sarana, komponen-komponen, metode pengajaran, sistem pendidikan beserta kurikulum dan infrastrukturnya, yang berbeda dari apa yang kita miliki, dan akibatnya tidak terhubung dengan kenyataan dan tidak memenuhi kebutuhan murid dan masyarakat.
Semua masalah dan isu ini tidak akan terselesaikan, dan pendidikan, ilmu, dan prestise, ketinggian dan kekuatan guru tidak akan kembali, kecuali dengan adanya negara yang mendukungnya, yang peduli akan kualitas pendidikan dan menganggapnya sebagai salah satu kepentingannya dan fasilitas dasar bagi warganya. Negara ini memberikan sebanyak apapun yang diperlukan untuk terlibat dengan kehidupan, dan tidak mengharapkan imbalan apa pun dari warga untuk mendidik mereka, karena pendidikan adalah tugas negara itu sendiri. Pendidikan harus gratis untuk semua orang, baik laki-laki atau perempuan, dan akan menjadikan keyakinan Islam sebagai dasarnya, dan memastikan ketinggian guru yang mengajar... Inilah negara yang mampu merangkul para ilmuwan dan memberikan kehidupan yang layak bagi mereka sehingga mereka kembali berkontribusi untuk kemajuan teknologi dan ilmiah, Insya Allah, yakni Negara Khilafah yang berdasarkan metode kenabian, yang akan segera terwujud dengan pertolongan Allah Swt...
Ya Allah, mampukanlah kami untuk menerapkan Dien-Mu yang Engkau pilihkan bagi kami, dengan tegaknya Khilafah Islam, dan jadikanlah kami sebagai saksi dan para pejuangnya.

*Disampaikan pada Konferensi Perempuan Internasional, 11 Maret 2017 di Balai Sudirman Jakarta



Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget