Pentingnya Pendidikan Perempuan dan Anak Perempuan di bawah Pemerintahan Islam


Oleh: Zehra Malik (Turki)
Anggota Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir

  
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, As salatu wassalamu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ‘alihi wa sahbihi ‘ajmain...
Media, para politisi, dan organisasi-organisasi sekuler, serta kaum feminis menuduh Islam bersifat misogynistic (benci terhadap perempuan); mereka mengklaim bahwa hukum Islam-lah yang menghalangi kaum perempuan dan anak-anak perempuan dari akses pendidikan yang berkualitas. Hukum-hukum ini, diklaim, diinterpretasikan dalam gaya ala "menguntungkan laki-laki" oleh "mentalitas dan para penguasa yang didominasi laki-laki" yang menyatakan mereka menerapkan aturan-aturan Islam. Secara khusus, feminis perempuan dari kalangan akademisi Muslim menuntut sebuah interpretasi baru atas Islam "melalui pandangan perempuan". Barat telah menemukan mereka sebagai alat yang efektif dalam mendistorsi penyebab sebenarnya dari penindasan atas perempuan Muslim. Juga, pernikahan anak-anak perempuan sebelum usia 18; memilih pendidikan untuk anak laki-laki dibandingkan untuk anak perempuan; pakaian dan aturan-aturan sosial Islam; juga kekejaman Boko Haram di Nigeria, tindakan yang diambil oleh Taliban dan kelompok-kelompok agamis lainnya di Afghanistan dan Pakistan seperti penembakan gadis remaja Malala Yousafzai pada tahun 2012, adalah topik-topik favorit media sekuler, para politisi dan kaum feminis dalam memaksakan persepsi mereka bahwa Islam adalah ancaman serta hambatan besar dalam pendidikan dan kemajuan perempuan.
Bagaimanapun, BUKANLAH Islam yang mencegah anak-anak perempuan dan perempuan Muslim dari akses yang bermartabat terhadap pendidikan dan berperan aktif di dalam masyarakat! Sebaliknya, adalah kekuatan kafir penjajah, dalam upaya melindungi keyakinan dan budaya mereka sendiri melawan budaya Islam, serta mempertahankan eksistensi mereka di negeri-negeri kita; merekalah yang menciptakan lingkungan dan kondisi yang menyulitkan pendidikan dan kehidupan secara umum bagi perempuan Muslim di seluruh dunia. Invasi dan perang kolonial mereka tidaklah cukup untuk mencapai tujuan ini; sehingga mereka berjuang lebih dalam penghancuran, melemahkan, serta mendiskreditkan budaya dan sejarah Islam. Mereka melakukannya melalui penguasa boneka dan sistem kufur yang mereka tancapkan di negeri-negeri kita, yang mempromosikan gaya hidup dan budaya liberal sekuler kolonial yang beracun, yang menyebabkan devaluasi perempuan; dan dengan demikian mengantarkan pada tingkat epidemi atas serangan seksual dan serangan di jalan-jalan, sekolah-sekolah, dan tempat kerja di seluruh negeri Muslim, yang juga menghambat anak-anak perempuan untuk menghadiri sekolah dan lembaga pendidikan lainnya. Mereka menerapkan ekonomi kapitalis yang rusak di negeri-negeri kita, yang menghasilkan kemiskinan massal, mahalnya pendidikan, komersialisasi pendidikan, dan tersebarnya suap menyuap. Inilah alasan mengapa keluarga dipaksa untuk memilih di antara anak-anak mereka dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan, dan (akhirnya) mereka lebih memilih pendidikan untuk anak laki-laki karena peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama untuk masa depan keluarga. Hal ini karena pemerintah yang egois (hanya mementingkan kepentingannya_red) tidak berinvestasi dalam jumlah dan kualitas yang cukup pada sekolah-sekolah sehingga anak-anak dipaksa untuk menempuh perjalanan jauh demi pendidikan, yang juga mencegah beberapa orang tua dalam mengirimkan anak-anak mereka untuk bersekolah karena khawatir atas keselamatan anak-anak mereka. Selanjutnya, dalam menghadapi bahaya yang muncul dari budaya sekuler, yang dipicu melalui pendidikan campuran; keluarga tidak mau mengirimkan anak-anak perempuan mereka pergi ke sekolah.
Pemerintahan Barat, yang hanya bertujuan melindungi budaya mereka sendiri, juga membiayai lembaga-lembaga pendidikan, membangun sekolah-sekolah, memberikan beasiswa untuk siswa berbakat dan siswa miskin, serta mendukung pembangunan sekolah-sekolah negeri di negeri-negeri kita melalui LSM-LSM mereka seperti USAID, UNICEF, UNESCO, dan lembaga-lembaga lainnya. Menurut mereka, konsep-konsep seperti "kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan anak perempuan, hak asasi manusia dan kebebasan" adalah "penting untuk membangun stabilitas, masyarakat demokratis" sebagaimana didefinisikan dalam undang-undang tertulis mereka. Melalui berbagai program tersebut, mereka dengan tipu daya mengklaim ingin meningkatkan pendidikan anak perempuan dan perempuan Muslim. Namun, jelas bahwa hal ini bukanlah tujuan mereka yang sebenarnya; mereka hanyalah ingin mengubah perempuan dan anak perempuan kita agar berkepribadian liberal sekuler, yang menganut gaya hidup dan cita-cita Barat, seperti kesetaraan gender, sebagai resep untuk kehidupan yang beradab, maju, dan sejahtera; sementara mereka membenci peran dan kepribadian Islam.

Saudariku,
Memang, setelah menerima wahyu pertama, Rasulullah (saw) menyampaikan berita ini kepada istrinya Khadijah ra dan ia (Khadijah) segera menyatakan keimanannya. Ketika Islam memerintahkan untuk memperoleh pengetahuan; Islam tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, serta tidak menganggap kaum perempuan sebagai kelas kedua, sebagaimana terbukti dalam perintah Rasulullah saw berikut ini :

«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
 Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim. (diriwayatkan oleh ibnu Majah). Selanjutnya, Rasulullah saw sama-sama mengajarkan kepada laki-laki dan perempuan di masjid-masjid dan majelis-majelis lainnya. Rasulullah bahkan memberikan satu hari khusus dalam seminggu untuk pendidikan kaum perempuan di masjid Al-Madinah, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri ra :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَتِ النِّسَاءُ لِلنَّبِيِّ r غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ، فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِ فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيهِ، فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ»
Beberapa perempuan datang kepada Nabi saw, "Ya Rasulullah, kaum pria lebih unggul dari kami (dalam memperoleh ilmu). Karena itu, sediakanlah satu hari khusus untuk kami.” Rasulullah saw menetapkan satu hari (khusus) untuk mereka. Beliau bertemu dengan mereka pada suatu hari tersebut, menasihati dan mendidik mereka tentang perintah-perintah Allah swt. (HR. Bukhari)
"Faqihat ul-Ummah", Ummul Mukminin Aisyah ra, disebut sebagai contoh yang paling berkilau yang menunjukkan pentingnya pendidikan kaum perempuan di dalam Islam. Ia adalah seorang ulama yang nasihatnya dicari bahkan oleh khalifah Umar bin Al-Khattab ra dan Utsman bin Affan ra, karena keunggulannya dalam hadits, fiqh, dan isu-isu lainnya. Ia meriwayatkan 2.200 hadits dan karenanya Aisyah menjadi salah satu di antara mereka yang paling banyak meriwayatkan hadits setelah Abu Hurairah ra, Ibnu Umar ra, dan Anas bin Malik ra. Ahli hukum dan Sahabat besar, Abu Musa Ashari ra mengatakan, "Kapanpun sesuatu hal menjadi sulit bagi kami -para sahabat Nabi saw- kami bertanya kepada Aisyah tentang hal tersebut. Kami mendapati Aisyah memiliki pengetahuan tentang itu." Selain itu, Aisyah ra juga berpengalaman dalam kedokteran, sastra, sejarah Arab, dan bidang ilmu lainnya. Urwah bin Az-Zubair ra berkata tentang Aisyah, "Saya belum pernah melihat (laki-laki atau perempuan) yang memiliki pengetahuan lebih banyak tentang yurisdiksi, kedokteran, atau sastra melebihi Aisyah."
Semua istri Rasulullah saw, putri-putri beliau, dan Sahabiyah yang tak terhitung jumlahnya, memiliki kepribadian yang terpercaya dan cendekia dalam pengetahuan Islam, dalam literatur/kepustakaan, obat-obatan/kedokteran, dan lain-lain. Mereka mengajarkan keahlian mereka kepada setiap perempuan dan anak perempuan yang membutuhkannya. Hal ini dimotivasi oleh Rasulullah (saw), yang -misalnya- meminta Shifa binti Abdullah untuk mengajari para istri beliau serta kaum perempuan lainnya tentang menulis dan pengetahuan medis. Sahabiyah terkemuka ini kemudian ditempatkan pada jabatan hakim dan pengawas di pasar-pasar oleh Khalifah Umar bin Al-Khattab ra. Selain itu, Rasulullah saw menjanjikan Jannah bagi siapa saja yang memberi perhatian dalam mendidik anak-anak perempuan mereka :

«مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ»
“Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dia dari siksa api neraka.” (HR. Muslim)

Saudariku,
Para penguasa Negara Khilafah, setelah Rasulullah saw, menganggap pendidikan sebagai tanggung jawab Islam mereka untuk memenuhi kebutuhan umat dalam memperoleh pengetahuan. Tidak terdapat bukti bahwa perempuan dianggap sebagai warga kelas dua, atau dirampas hak mereka atas pendidikan, atau untuk mengakui dan memanfaatkan keahlian mereka guna melayani masyarakat. Namun, terdapat ribuan bukti yang menunjukkan sebaliknya! Penerapan hukum-hukum Islam mendorong dan membuka jalan untuk memperoleh pengetahuan atau mengembangkan berbagai keahlian. Oleh karena itu, perempuan juga memberikan kontribusi untuk tujuan ini. Perempuan memiliki peran besar dalam memajukan ilmu pengetahuan, mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan, seperti masjid, madrasah, dan universitas. Masjid dan Universitas Qarawiyyin yang didirikan oleh Fatima al-Fihri pada tahun 859 M, contoh yang indah dalam hal ini, adalah institusi pertama di dunia yang "memberi gelar". Negara juga mendorong pembangunan madrasah-madrasah khusus anak perempuan, dan sejumlah besarnya didanai oleh perempuan. Separuh dari seluruh penyokong tetap lembaga-lembaga ini adalah juga perempuan. Jumlah dosen perempuan di lembaga-lembaga ini masih belum disamai oleh jumlah dosen perempuan di universitas-universitas Barat hari ini. Sementara itu, perempuan bepergian secara intensif dari satu ujung ke ujung dunia Islam lainnya untuk belajar dan mengajarkan pengetahuan. Tidak ada batasan yang menghalangi mereka dalam usaha ini, juga tidak ada lingkungan yang akan mengancam keselamatan atau martabat mereka.

Perempuan memainkan peran penting dalam penjagaan dan pengembangan metode pembelajaran Hadis dan Fiqh, mereka memberi ijazah, serta memiliki otoritas yang sama dalam ijtihad (yurisdiksi) sebagaimana laki-laki. Selain itu, meskipun terdapat madrasah-madrasah khusus untuk perempuan dan anak-anak perempuan saja; mereka bahkan mengajarkan ilmu ('ilm) kepada kaum laki-laki di masjid besar, universitas, dan tempat-tempat lainnya. Umm Darda as-Sughra al-Dimashkiyya, seorang ahli hukum dan ulama, mengajarkan fiqh dan hadis di bagian kaum laki-laki pada masjid besar di Syam dan Yerusalem. Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah salah satu muridnya. Salah satu guru Imam Malik adalah ahli hukum dan ulama Aisha binti Sa'ad bin Abi Waqqas. Putri Hasan ra, Nafisa binti Hassan, adalah salah satu guru Imam Syafi'i. Ibnu Hajar dan Ibnu Taimiyah memuji para guru perempuan mereka atas pengetahuan, kecerdasan, kesabaran, perilaku mulia, integritas, serta kesalihan para guru tersebut. Ulama Hadis terkemuka, Ibn Hajar al-Asqalani menerima ijazah dari 53 guru perempuan, dan As-Sahawi dari 68 guru perempuan. Fathimah binti Muhammad al-Samarkandi adalah seorang ahli hukum (mujtahid), dan ia bahkan memberi saran dalam hal yurisdiksi pada suaminya yang ahli hukum terkenal. Para sarjana perempuan menikmati otoritas publik yang cukup besar di dalam masyarakat, bukan sebagai pengecualian, tetapi sebagai norma. Semua ini -pasti dan "secara alami!"- diwujudkan tanpa mengkompromikan ketentuan-ketentuan sosial Islam- dimaknai, melalui pemisahan gender, kepatuhan terhadap pakaian Muslim, dan dalam lingkungan di mana laki-laki dan perempuan secara ketat mematuhi semua hukum sosial Islam.
Perempuan tidak hanya unggul dalam ilmu-ilmu Islam, tetapi juga dalam kaligrafi, sastra, dan bidang ilmu lainnya seperti matematika, astronomi, dan teknik; dengan demikian mereka berpartisipasi dalam membangun budaya dan peradaban Islam yang membuat iri negara-negara lain. Selama abad ke-10 misalnya, Lobana dari Cordoba, adalah seorang ahli matematika, penyair, penerjemah, direktur perpustakaan terbesar saat itu, serta sekretaris pribadi Khalifah Bani Umayyah al-Hakam II. Masih di abad ke-10, terdapat seorang perempuan yang memberi fitur canggih baru ke Astrolabe, sebuah perangkat astronomi. Namanya tercatat ke dalam sejarah sebagai Maryam al-Asturlabi. Berkat kontribusinya pada Astrolabe, ia dipekerjakan oleh penguasa Aleppo Sayf al-Dawla. Kita juga mengenal para ahli bedah perempuan dari Anatolia dan prosedur bedah mereka di abad ke-15 dari seorang ahli bedah Turki Sherafeddin Sabuncuoglu. Selain itu, salinan paling indah dari Al-Qur'an al-Kareem dibuat oleh para ahli kaligrafi perempuan dari Spanyol hingga Suriah, Irak hingga India. Selama satu periode, di Cordoba Timur saja terdapat 170 ahli kaligrafi perempuan yang mentranskrip Al Qur'an dalam naskah Kufi.
Meskipun kemerosotan ideologi dan gejolak politik meningkat dalam 100-150 tahun masa kekhilafahan, para khalifah terus melakukan investasi dan membuat peraturan untuk pendidikan yang terstruktur, serta memberi perhatian khusus pada pendidikan anak-anak perempuan. Secara khusus, upaya Khalifah Mahmud II dan Abdulhamid I tentang masalah ini adalah mengagumkan. Sebuah pendidikan terstruktur dan bersifat wajib bagi anak laki-laki maupun perempuan diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Khalifah Mahmud II pada tahun 1830. Investasi paling terakhir dari Negara Ottoman yang memberi peran dalam pendidikan adalah Tıbhane-i Amire Mektebi, sekolah kebidanan pada tahun 1842, yang diikuti oleh "Inas Rushtiyas" (pendidikan menengah untuk anak-anak perempuan), "Sanayi Mektepleri" (sekolah kejuruan untuk anak-anak perempuan), serta lembaga pendidikan yang mendidik guru-guru perempuan untuk sekolah-sekolah tersebut. Para lulusan studi-studi ini juga digunakan oleh negara dalam berbagai bidang untuk melayani masyarakat dengan keahlian mereka, termasuk bekerja sebagai penerjemah atas berbagai bahasa asing. Berbagai catatan juga menunjukkan bahwa perempuan bahkan menerima tunjangan selama masa studi mereka, termasuk perempuan dan anak-anak perempuan non-Muslim di antara lulusan mereka. Lulusan pertama sekolah kebidanan saja ada 10 orang perempuan Muslim dan 26 orang perempuan non-Muslim.
Oleh karena itu, jelas bahwa perempuan di bawah pemerintahan Islam dianggap berperan penting dalam pencerdasan masyarakat dan karena itu mereka dihargai dan ditempatkan pada posisi tertinggi. Ini adalah sistem yang menganggap bahwa mencari pengetahuan setara dengan ibadah; sehingga mampu mendorong kaum perempuan untuk berkontribusi secara cemerlang dalam pengetahuan dan ilmu.
Di Barat, bagaimanapun, terdapat fenomena yang disebut "Matilda Effect", menggambarkan fenomena sering diabaikannya kontribusi para ilmuwan perempuan terhadap penelitian, dan seringnya pengkaitan atas pekerjaan mereka kepada para kolega laki-laki mereka. Selain itu, meskipun banyak perempuan yang berhak mendapatkan Hadiah Nobel, penghargaan tersebut diberikan kepada kolega laki-laki atau suami mereka. Jadi, mereka yang sebenarnya dibayangi oleh "kebencian terhadap wanita (misogyny)"; dan yang terjebak di bawah "dominasi laki-laki", adalah perempuan di dalam masyarakat yang tercerabut dari Islam! "Karena Dia Seorang Wanita!" adalah sebuah ungkapan/frasa yang lahir dari ideologi kapitalis liberal non-Islam itu sendiri dan hanya berkaitan dengan ideologi tersebut.
Perempuan Muslim di sepanjang sejarah Islam tidak pernah memiliki slogan atau frase tersebut. Mereka telah berhasil sebagai ulama dan pengusaha, serta memenuhi peran Islami mereka sebagai istri dan ibu. Para perempuan ini menikmati kehidupan Islam untuk memenuhi, mengelola rumah tangga, membesarkan anak-anak mereka, mendapatkan beasiswa, memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan, berpartisipasi dalam urusan masyarakat, membela keadilan dengan memerintahkan yang Ma'ruf dan mencegah yang Munkar, serta mengoreksi penguasa. Ulama India, Mohammad Nadwi Akram, yang mengumpulkan biografi lebih dari 8.000 perawi hadis perempuan, mencermati hal berikut ini : Dia berkata, "Tidak satupun dari mereka dilaporkan telah dianggap sebagai domain dari kehidupan keluarga rendahan (kurang terdidik), atau mengabaikan tugas di dalamnya, atau dianggap menjadi seorang wanita yang tidak diinginkan atau lebih rendah daripada menjadi seorang laki-laki, atau menganggap bahwa, karena bakat dan kesempatan bawaan, perempuan tidak memiliki tugas untuk masyarakat luas, di luar domain kehidupan keluarga."

Saudariku,
Kembalinya Khilafah Rasyidah kedua yang berdasarkan metode kenabian akan menjamin hak-hak pendidikan serta aspirasi anak-anak perempuan dan perempuan di masa depan sebagaimana telah dilakukan oleh Khilafah di masa lalu. Khilafah akan menghapus setiap sikap tradisional atau hambatan budaya yang merendahkan pendidikan perempuan atau mencegah anak-anak perempuan dalam mengakses pendidikan. Khilafah akan mewujudkan lingkungan yang aman melalui penerapan hukum sosial Islam, yang akan memungkinkan mereka melakukan perjalanan dengan aman ke sekolah-sekolah dan universitas. Khilafah juga akan memisahkan pengajaran siswa laki-laki dan perempuan di sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta, yang akan memungkinkan anak-anak perempuan dan perempuan Muslim untuk mengejar cita-cita pendidikan mereka, dengan tetap mematuhi semua hukum Islam yang menjamin perlindungan martabat dan keselamatan mereka. Pasal 177 dalam Rancangan Undang-Undang Dasar Hizbut Tahrir untuk Khilafah menyatakan : "Pengajaran di sekolah-sekolah tidak boleh bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, baik di kalangan murid maupun guru ..."
Selain itu, Khilafah memandang bahwa pemenuhan pendidikan bagi setiap warga negara Khilafah, baik laki-laki atau perempuan, adalah hak dasar dan kewajiban negara. Pasal 182 dalam Rancangan Undang-Undang Dasar Hizbut Tahrir untuk Khilafah, misalnya, menyatakan : "Pengajaran hal-hal yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya merupakan kewajiban negara yang harus terpenuhi bagi setiap individu, laki-laki maupun perempuan." Oleh karena itu, Khilafah akan menjamin mimpi-mimpi pendidikan anak perempuan dan perempuan sebagai bagian dari tanggung jawab Islamnya. Selain itu, wajib bagi Khilafah untuk menyediakan pendidikan serta pelayanan medis terbaik yang dapat diakses warga negaranya. Karenanya, adalah penting untuk memiliki para dokter, perawat, dan guru perempuan dengan jumlah melimpah untuk memenuhi berbagai peran ini. Khilafah juga akan mendorong kaum perempuan untuk menguasai berbagai bidang lainnya, termasuk berbagai disiplin ilmu Islam, ilmu pengetahuan, bahasa dan teknik, serta memanfaatkan pemikiran dan keahlian mereka untuk memperbaiki dan membawa manfaat bagi seluruh masyarakat.
Saudariku, Khilafah akan menjadi pemimpin dunia dalam menyediakan pendidikan perempuan dan menjamin aspirasi pendidikan mereka. Khilafah tidak hanya akan membangun institusi-institusi untuk memfasilitasi hal ini, tetapi juga akan memastikan lingkungan yang aman dan penuh hormat di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, universitas, dan masyarakat secara keseluruhan. Khilafah akan menjadi negara di mana perempuan dan anak-anak perempuan mampu mengejar pendidikan kelas satu di lingkungan yang aman, bebas dari kekerasan dan pelecehan.  

Keberhasilan mereka yang didukung oleh lingkungan seperti itu akan menjadikan mereka sebagai kebanggaan seluruh umat. Dan seperti waktu yang telah lalu, negara-negara lain akan iri atas wibawa dan harga diri yang perempuan nikmati di bawah Khilafah Rasyidah yang berdasarkan metode kenabian. Allah swt berfirman,

﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
"Mereka ingn memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya." [QS. As Shaf :8]


*Disampaikan pada Konferensi Perempuan Internasional, 11 Maret 2017 di Balai Sudirman Jakarta

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget