Bagaimana Sebenarnya Tujuan Pendidikan Hakiki?


Oleh: Fika Komara (Anggota Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir)

Peradaban Barat sekuler berupaya untuk memusnahkan wahyu sebagai otoritas ilmu tertinggi dalam dunia pendidikan untuk kepentingan kolonial mereka. Sekulerisasi ilmu pengetahuan sudah menjelma menjadi musuh dalam selimut umat Islam yang menggerogoti keimanan dan identitas umat. Peradaban Islam yang berdasarkan wahyu telah pudar dan digantikan oleh peradaban materialis ala Barat.

Padahal sistem pendidikan yang sehat tidak akan bisa dibangun TANPA kejelasan pemahaman awal, apa yang seharusnya menjadi tujuan pendidikan dan bagaimana hasil pendidikan ini bermanfaat bagi masyarakat dan peradaban. Jika pemahaman awal ini – sebagai masalah hulu – sudah terjawab dengan jelas, maka masalah hilir seperti kebijakan, mata pelajaran, metode pengajaran, dan sebagainya, akan bisa dibentuk kemudian berdasarkan tujuan ini. Inilah pendekatan yang benar, bukan yang sebaliknya diadopsi oleh kebanyakan negeri Muslim yang justru berfokus pada masalah hilir dan teknis tanpa kejelasan visi tentang tujuan pendidikan. 

Di dalam buku Strategi Pendidikan Negara Khilafah yang ditulis oleh Hizb ut Tahrir, dinyatakan bahwa pendidikan seharusnya menjadi metode menjaga ideologi dan tsaqafah (kebudayaan) umat di dalam hati anak-anak Muslim, karena tsaqafah sejatinya merupakan tulang punggung keberadaan dan keberlangsungan umat tersebut. Tsaqafah itulah yang memrbangun peradaban umat dan menentukan target dan tujuannya, sehingga membuat corak kehidupannya berbeda dari umat lain. Apabila tsaqafah Islam ini terhapus, tamatlah identitas umat Islam, corak kehidupannya memudar, loyalitasnya berubah, dan riwayatnya tenggelam di belakang umat-umat yang lainnya.

Oleh karena itu tulisan ini tidak membahas problematika dunia pendidikan secara umum dan dampaknya seperti perdebatan arah kurikulum, kualitas anak didik, atau minimnya fasilitas pendidikan. Berbagai hal itu adalah aspek akibat yang sudah terlalu sering dibahas di dalam ratusan seminar dan konferensi. Namun tulisan ini akan fokus pada kerusakan yang lebih mendasar, yakni “kerusakan akibat mengadopsi tujuan pendidikan yang salah” yang menjadi penyebab utama dari krisis luar biasa dunia pendidikan di negeri-negeri Muslim dan bahkan dunia secara umum.

Sekulerisme menginfeksi tujuan pendidikan di dunia Islam
Sekulerisasi ilmu dalam sistem pendidikan hari ini telah menimbulkan dampak yang luar biasa pada umat. Di dunia Arab – jantungnya dunia Islam, para kolonial Barat secara sengaja mengikatkan istilah sekulerisme dengan akar kata 'Ilm' (pengetahuan) menjadi 'Ilmaaniyah' (dalam bahasa Arab) untuk mempromosikan aqidah sekuler yang benar-benar bertentangan dengan Islam. Hal ini dilakukan untuk membuat istilah Arab untuk sekulerisme menggambarkan ilmu pengetahuan modern yang perlu dikembangkan dan diadopsi. Ini adalah penipuan besar karena kata asli 'sekularisme' dalam bahasa mereka (bahasa Inggris) sama sekali tidak terhubung ke kata 'pengetahuan’ (knowledge). Sebaliknya, itu mewakili ide sesat yang komprehensif tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan yang diadopsi oleh Barat. 

Dampak penipuan ini luar biasa. Sistem pendidikan di negeri-negeri Muslim terinfeksi nilai-nilai kebebasan dan sekulerisme. Konsekuensi lanjutnya, kaum terpelajar menjadi terpisah dari umat karena sulit memahami persoalan umat karena hilangnya pemikiran politik Islam, justru mengadopsi cara berpikir ilmiah sekuler dan metode ilmiah ala Barat. 

Proses sekulerisasi ini terus berestafet dengan ideologi Kapitalisme yang menjadi driver utama di dalam dunia pendidikan modern hari ini, sehingga menyebabkan berkembangnya pragmatisme dalam pendidikan, yang tercermin dari tujuan pendidikan yang terlampau materialistik. Tujuan ini jauh dari tujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas kepribadian. 
Walhasil lahirlah sebuah era, yang walaupun disebut sebagai The Age of Abundance Knowledge (yaitu zaman keberlimpahan ilmu pengetahuan dan teknologi) oleh Profesor James Duderstadt, namun tidak mampu menjawab krisis kemanusiaan, krisis ekonomi, krisis moral, krisis politik dan krisis generasi. Produksi ilmu pengetahuan dan teknologi hari ini terjadi  dengan luar biasa cepat, namun tidak mampu menciptakan dunia menjadi lebih baik. Manusia terus-menerus memproduksi ilmu pengetahuan namun terus menerus pula memproduksi krisis.

Inilah bentuk kerusakan tujuan pendidikan, yang menjadikan dirinya sebagai kanker di dalam sistem pendidikan di negeri-negeri Islam. Kanker ini, yakni sekulerisme, telah merasuk dan menjadi gerbang bagi menyusupnya tujuan-tujuan rusak lainnya di dunia pendidikan. 

Setidaknya ada tiga bentuk kerusakan tujuan yang melanda negeri-negeri Muslim sebagai berikut:

1. Menyusupnya tujuan pendidikan asing sebagai agenda penjajahan
Di bawah dalih kontra – radikalisme dan terorisme hari ini, Dunia Barat jelas sekali memiliki kepentingan serius untuk meredam pergolakan kebangkitan Islam. Mereka bergerak mengubah kurikulum bukan semata karena masalah internal Negara-negara Muslim, melainkan karena kepentingan mereka untuk mempertahankan hegemoninya di negeri-negeri Islam. Banyak cara mereka lakukan untuk menekan negra-negara Muslim, termasuk dengan konferensi-konferensi dialog antaragama yang secara berkala merekomendasikan perubahan kurikulum di negeri-negeri Islam untuk memberikan ruang bagi hubungan yang lebih erat antara agama-agama. Atau, dalam bentuk syarat untuk menerima bantuan dari badan-badan keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Bisa juga berbentuk konferensi-konferensi tingkat tinggi PBB atau lembaga-lembaga internasional seperti UNESCO, UNICEF dan sebagainya. 

Agenda untuk semakin mensekulerkan sistem pendidikan didunia Muslim telah semakin intensif pada bulan-bulan dan tahaun-tahun terakhir. Memang, siapa pun yang mengkaji fenomena gelombang perubahan kurikulum ini akan melihatnya seperti analogi penyair, Al-Akhtal, yang menggambarkannya “seperti penyakit ruam - tersembunyi tapi terus menyebar serentak”. Di dunia Arab terutama, sebagai pusat peradaban Islam — arus perubahan kurikulum menyapu banyak Negara Muslim di bawah dalih palsu kontra terorisme/radikalisme. Misalnya, pemerintah Arab Saudi benar-benar menghapus bab Al-Walaa' dan Al-Baraa' (loyalitas dan pengingkaran) dari subjek Tauhid, menyusul peristiwa 11 September 2001. Di Maroko, menyusul ledakan bom di sana, menghasilkan seruan untuk menghapus kata Jihad dari setiap buku sekolah. Hal yang sama berlaku di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Yaman di mana Presiden mereka menyeru kepada jajaran menterinya: "Kita harus menerapkan perubahan kurikulum pendidikan sebelum seorang penerjemah datang dari Amerika, ini karena kita adalah orang-orang Muslim dan tidak ada ruginya mengurangi sedikit dosis agama kita!"
Perubahan konten kurikulum juga terasa signifikan di  negeri-negeri Arab lainnya, seperti Yordania misalnya, perubahan yang dilakukan sampai pada titik menghapus gambaran profil laki-laki berjenggot dan perempuan berkerudung dan berjilbab dari buku-buku bacaan sekolah; menghapus habis pelajaran tentang surat Al-Lail lalu menggantinya dengan pelajaran berenang. Di Aljazair, pada tahun 2016, Menteri Pendidikan mengusulnya untuk mengganti bahasa Arab Fushah (klasik), yakni bahasa Arab Alquran, di pendidikan sekolah dasar, dengan bahasa jalanan Aljazair sehari-hari. Dan di Tunisia, Menteri Pendidikan menyatakan bahwa untuk meningkatkan kebahagiaan murid, subjek Matematika dan Fisika harus dikurangi dan digantikan dengan Tari dan Musik di sekolah campuran laki-laki dan perempuan.

Tidak berbeda juga dengan belahan dunia Islam lainnya seperti Indonesia, Turki, Bangladesh, dan Afghanistan. Misalnya di Turki, kurikulum untuk subjek Agama dan Etika mengajarkan kepada murid-murid kelas 7 bahwa, “Sekulerisme, adalah jaminan bagi kebebasan berpikir dan beragama”, sementara pelajaran sejarah menyajikan fitnah terhadap Islam dan para pemimpin Muslim masa lalu sebagai fakta yang benar, sehingga memutuskan hubungan para pemuda dari sejarah dan budaya Islam mereka. 

Momentum narasi palsu kontra terorisme/radikalisme hari ini menjadi pemicu penting akan sekulerisasi pendidikan terbaru yang semakin intensif di dunia Muslim. Bangladesh sebagai contoh, pada tahun 2010 rezim Awami merevisi kebijakan pendidikan atas nama "modernisasi" dan membentuk sebuah komite pendidikan baru untuk lebih mensekulerkan seluruh sistem pendidikan di negeri itu. Pemerintah dengan seenaknya menunjuk sejumlah besar individu sekuler, atheis, danHindu untuk menempati posisi-posisi kunci di Kementerian Pendidikan, Komite Nasional Pendidikan, dan Komite Koordinator Kurikulum Nasional, sementara individu dari sekte Qadiyani telah diberikan tanggung jawab untuk menulis dan mengedit buku-buku teks Islam. Di Pakistan, pada tahun 2006, pemerintah mengumumkan serangkaian reformasi pendidikan dan sebuah Gugus Tugas Pendidikan Pakistan disusun untuk memutar balik tingkat Islamisasi sistem pendidikan. Di samping itu, pelatihan guru di negara ini seringkali dilakukan oleh organisasi-organisasiasing dan lokal yang didana Barat. Di Afghanistan, sejak AS menduduki wilayah itu pada Oktober 2001, USAID telah menghabiskan setidaknya $868 juta untuk program pendidikan di Afghanistan demi menyetir pemikiran generasi muda agar sesuai dengan preferensi penjajah. Subjek-subjek yang mengandung substansi Islam seperti nama-nama Allah, Jihad, dan sebagainya telah dihapus dari buku-buku teks sekolah. 

Di sini, di Indonesia, sebuah versi baru sekulerisasi pendidikan dijalankan dengan mempromosikan Islam Moderat. Mulai tahun 2016, diterapkan kurikulum pendidikan Islam yang baru, yang menekankan pada pemahaman Islam yang damai, toleran, dan moderat. Kenyataannya, hal ini adalah bentuk Islam yang menolak Jihad dan pemikiran politik Islam seperti dukungan terhadap hukum Syariah atau Khilafah, di sisi lain justru menerima kepercayaan-kepercayaan non-Islam yang berasal dari liberalisme dan keimanan lain di bawah kedok “keragaman budaya”. Menteri Agama RI menyatakan bahwa kurikulum baru ini adalah respon pemerintah untuk mempromosikan perdamaian di tengah meningkatnya penyebaran ‘doktrin radikal’ di lembaga-lembaga akademis. Kementerian Agama juga bahkan  bergerak di level regional dengan memfasilitasi sebuah forum sinergi Halaqah Ulama ASEAN 2016 yang terdiri dari Ulama dan Pesantren Asia Tenggara demi mempromosikan Islam Moderat dan nilai moderatisme Islam yang dianut oleh organisasi ASEAN.

Demikianlah agenda kolonial telah menyusup ke dalam sistem pendidikan di  negeri-negeri Islam, dari dunia Arab hingga ke Asia Timur Jauh. Wabah sekulerisasi telah muncul dengan banyak cara dan bentuk untuk merasuki negeri-negeri Islam, di samping ketundukan para penguasa Muslim dan miskinnya visi pendidikan mereka.

2. Kapitalisasi dan komersialisasi pendidikan 
Negeri-negeri Muslim ramai-ramai melakukan privatisasi pendidikan demi tujuan komersil. Inilah kerusakan tujuan pendidikan sebagai konsekuensi diterapkannya sistem ekonomi liberal Kapitalis berbasis riba yang merusak tujuan pendidikan di dunia Islam. Memang, globalisasi kapitalisme mengharuskan: Pertama, semua negara harus mengadopsi sistem ekonomi liberal, dengan slogan perdagangan bebasnya. Kedua, privatisasi terhadap semua sektor publik. Ketiga, menempatkan negara sebagai penjamin bagi kelangsungan sistem ekonomi pasar. Tiga kondisi ini memberi implikasi nyata dalam dunia pendidikan yakni privatisasi dan otonomi pendidikan yang meniscayakan biaya pendidikan yang tinggi dan pendidikan bukan lagi milik publik/rakyat melainkan milik lapisan sosial kaya tertentu di dalam masyarakat. 

Linear dengan arus globalisasi yang membawa gelombang komodifikasi pendidikan, dimana pendidikan dipandang sebagai industri tersier. Arus ini dipelopori oleh WTO – organisasi perdagangan dunia --  dengan menetapkan pendidikan sebagai salah satu industri sektor tersier melalui General Agreement on Trade in Services (GATS), yang mengatur liberalisasi perdagangan 12 sektor jasa, antara lain layanan kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, jasa akuntansi, pendidikan tinggi dan pendidikan selama hayat, serta jasa-jasa lainnya. 
Sungguh Kapitalisme telah merendahkan ilmu pengetahuan layaknya barang dagangan. Hubungan maupun ruang lingkup ilmu pengetahuan terus-menerus dinilai berdasar nilai ekonomi. Kegagalan maupun keberhasilan masing-masing bidang ilmu akan selalu diukur dengan kategori ekonomi. Jika lulusan banyak yang menjadi pengangguran maka pertanyaannya bukan pada metodologi atau pengajarnya melainkan apakah ilmu ini memiliki efek material atau tidak.

Kapitalisme juga telah menjatuhkan para pemilik ilmu pengetahuan (ulama dan ilmuwan) pada derajat budak-budak mereka. Ilmu dan profesionalitas mereka dibajak untuk melegitimasi sepak terjang para kapitalis dalam merampok kekayaan alam dunia Islam. Sebagai contoh di Indonesia, Undang-undang (UU) Penanaman Modal, UU Migas, UU Ketenagalistrikan, UU Sumber Daya Air, semua itu adalah hasil karya para intelektual pesanan para kapitalis yang sangat menyengsarakan rakyat. Kalangan intelektual dalam sistem kapitalistik juga ditelikung untuk menjadi pemadam kebakaran dari masalah yang terus menerus diproduksi para kapitalis. Mereka diminta untuk mereklamasi lahan bekas tambang, menemukan tanaman yang tahan terhadap pencemaran, menemukan teknik bioenergi terbaik dan berbagai teknologi yang semua itu dalam rangka menghapus dosa-dosa para kapitalis dari berbagai kerusakan yang mereka perbuat. 

Profesionalisme, Keahlian Individu, dan Kepuasan Intelektual
Ini juga di antara tujuan pendidikan yang keliru yang masih berhubungan erat dengan nilai Kapitalisme yakni individualisme. Pendidikan hanya dipandang sebagai alat untuk meraih kesuksesan individu, mengejar mimpi dan manfaat jangka pendek hanya untuk kepentingan dan kesuksesan personal dan keluarga semata. Karena makna kesuksesan -di dalam Kapitalisme-- secara sempit dipahami hanya sebatas mendapat pekerjaan dan profesi tertentu agar meraih kemapanan finansial. Nilai-nilai sekuler kapitalis membuat memperoleh “profesi” dianggap sebagai capaian puncak kesuksesan individu. Kapitalisme global secara evolutif telah menggeser nilai-nilai sakral dalam ajaran agama dan tradisi, sehingga menjadi instrumen bagi pembentukan gaya hidup  yang berorientasi pada kesenangan dan kepuasan semata.

Dalam skala lebih luas, ada kalangan pengusaha atau pemimpin korporasi bisnis menyalahartikan bahwa fungsi pendidikan itu adalah untuk mencetak sebanyak mungkin professional dan tenaga ahli. Pandangan ini perlu dikoreksi dan disempurnakan, karena pendidikan bukan sekedar metode mentransfer pengetahuan dan teknologi lalu memproduksi kaum professional yang siap menjadi angkatan kerja, atau memproduksi talent-talent jenius yang bisa diberdayakan oleh korporasi global dalam industri mereka.
Perspektif ini jelas lahir dari elit kapitalis itu sendiri, yang terlihat dari survei yang dilakukan McKinsey & Co. tahun 2016 yang melibatkan 77 perusahaan dengan 6.000-an responden. Hasil survey mengkonfirmasi bahwa di dunia elit korporasi kapitalis terjadi pertarungan sengit dalam memperebutkan talent-talent jenius yang jumlahnya terbatas. Ini justru merendahkan arti pendidikan, yang hanya digunakan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan persaingan bisnis dan penguasaan teknologi untuk kepentingan segelintir pemilik modal bukan rakyat apalagi Negara. Bukan hanya merendahkan pendidikan, cara pandang ini juga berpotensi membahayakan kemashlahatan masyarakat dan kedaulatan Negara, karena menyerahkan loyalitas keahlian dan ilmu pengetahuan pada kesuksesan materi dan korporasi bukan pada cita-cita luhur kemuliaan peradaban.

Tiga bentuk kerusakan tujuan ini membawa konsekuensi berbahaya bagi masyarakat Muslim. Jelas, pendidikan yang telah dijauhkan dari agama, dan dibisniskan jelas tidak akan pernah mampu membangun, memajukan dan meningkatkan martabat kehidupan rakyat, namun justru yang terjadi sistem pendidikan malah menjadi pelayan agenda penjajah asing, memproduksi keuntungan bagi bisnis, dan kesuksesan individu/profesionalisme, dan sebagainya. Selain itu, sistem pendidikan yang berfokus hanya pada tujuan individualistis hanya mendidik individu agar punya kemampuan mencari pekerjaan untuk kesuksesan pribadi, namun miskin akan moral dan integritas akhlak - membuat banyak generasi muda Muslim rentan terjebak pada penyakit sosial seperti narkoba, pergaulan bebas, tawuran dan banyak persoalan lainnya. Kondisi ini jelas sangat jauh dari kemajuan masyarakat yang bermartabat, dan jauh dari kualifikasi Negara yang maju dan berdaulat.

Tujuan Hakiki Pendidikan
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, dalam bukunya, Islam and Secularism, merumuskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan orang yang baik (to produce a good man). Kata al-Attas, “The aim of education in Islam is therefore to produce a goodman… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab.”). Siapakah manusia yang baik atau manusia beradab itu? Dalam pandangan Islam, manusia seperti ini adalah manusia yang kenal akan Tuhannya, tahu akan dirinya, menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai uswah hasanah, mengikuti jalan pewaris Nabi (ulama), dan berbagai kriteria manusia yang baik lainnya. Manusia yang baik juga harus memahami potensi dirinya dan bisa mengembangkan potensinya, sebab potensi itu adalah amanah dari Allah SWT.

Selain itu di dalam Islam posisi ilmu pengetahuan sangatlah mulia. Menjadikan pendidikan atau ilmu pengetahuan sebagai komoditas, sama saja menghinakan ilmu pengetahuan itu sendiri. Imam al-Ghazali sudah mengingatkan dengan bahasa yang lugas dalam mukaddimah kitab “Bidayatul Hidayah”.  Kata beliau, jika seseorang mencari ilmu dengan maksud untuk sekedar hebat-hebatan, mencari pujian, atau untuk mengumpulkan harta benda, maka dia telah berjalan untuk menghancurkan agamanya, merusak dirinya sendiri, dan telah menjual akhirat dengan dunia. (Fa-anta saa’in ilaa hadmi diinika wa ihlaaki nafsika, wa bay’i aakhiratika bi dunyaaka).
Oleh karena itu, tujuan mencari ilmu haruslah ditujukan untuk ibadah dan mencari hidayah Allah. Maka pendidikan harus kembali didekatkan pada wahyu Allah, bukan malah dijauhkan. Siapapun yang mencari ilmu dengan niat beribadah dan melaksanakan firman Allah, maka para Malaikat akan melindungi pencari ilmu itu dengan membentangkan sayapnya; dan ikan-ikan di laut mendoakan si pencari ilmu tersebut. Rasul bersabda:

«مَنْ سَلَكَ طَرِيقاً يَطْلُبُ فِيهِ عِلْماً سَلَكَ بِهِ طَرِيقاً إلَى الجَنَّةِ. وَإنَّ المَلائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ العِلْمِ رَضاً بِهِ. وَإنَّهُ يَسْتَغْفِرُ لِطَالِبِ العِلْمِ مَنْ فِي السَّماءِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتّى الحُوتِ فِي البَحْرِ. وَفَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ عَلَى سَائِرِ النُّجُومِ لَيْلَةَ البَدْرِ. وَإنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ. إنَّ الأَنْبِيَاءَ لِمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلا دِرْهَماً، وَلَكِنْ وَرِثُوا العِلْمَ. فَمَنْ أَخَذَ مِنْهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan untuknya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat menaungi dengan sayapnya karena ridla kepada orang yang menuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang menuntut ilmu dimohonkan ampun baginya oleh penghuni langit dan bumi hingga ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan orang 'alim atas orang yang beribadah (tetapi tidak 'alim) adalah seperti bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, hanyasanya mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya, berarti ia telah mengambil bagian yang banyak sekali.” [HR. Ibnu Majah]

Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.  Tujuan pendidikan yang telah digariskan syari’at Islam adalah   :
(1) membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) secara utuh, yakni pola pikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah Islam.
(2) menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahli dalam jumlah berlimpah di setiap bidang kehidupan yang merupakan sumber manfaat bagi umat, melayani masyarakat dan peradaban - serta akan membuat negara Islam menjadi negara terdepan, kuat dan berdaulat sehingga menjadikan Islam sebagai ideology yang mendominasi di dunia

Dengan tujuan pendidikan seperti ini, output yang akan dihasilkan dari pendidikan Islam adalah generasi yang bertaqwa, tunduk dan taat pada hukum-hukum Allah, bukan generasi yang miskin moralitas, lemah dan tidak memiliki ghirah agama. Tujuan hakiki inilah yang akan menghantarkan kemajuan masyarakat, pembangunan yang produktif dan luhurnya peradaban. Dengan tujuan pendidikan yang benar, maka ilmu pengetahuan akan mendatangkan keberkahan, seperti berkahnya air hujan yang menyirami tanah yang subur, dimana kemudian manfaatnya terus mengalir menjadi manfaat yang banyak bagi kehidupan bahkan dalam dimensi hidup bermasyarakat dan bernegara.  Sebagaimana sabda Nabi saw:

«إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأَ فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ بِماَ بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ»
“Permisalan hidayah dan ilmu yang Allah SWT sampaikan kepada diriku bagaikan air hujan yang menimpa sebidang tanah. Di antara tanah itu ada tanah baik yang mampu menyerap air dan menumbuhkan rerumputan serta  pepohonan yang sangat banyak. Di antara tanah itu ada pula tanah liat yang mampu menahan air sehingga Allah SWT memberikan manfaat kepada manusia dengan tanah tersebut; manusia bisa meminum air darinya, mengairi kebun-kebunnya dan memberi minum hewan-hewan ternaknya.  Air hujan itu juga menimpa tanah jenis lain, yaitu tanah datar lagi keras yang tidak bisa menahan air dan menumbuhkan rerumputan. Demikian-lah, ini adalah perumpamaan orang yang faqih terhadap agama Allah, dan orang yang bisa mengambil manfaat dari apa-apa yang telah Allah sampaikan kepada diriku sehingga ia bisa belajar dan mengajarkan (ilmu tersebut kepada orang lain). Ini juga perumpamaan orang yang menolak hidayah dan ilmu dan tidak mau menerima hidayah Allah SWT yang dengan itulah aku diutus.” [HR al-Bukhari dan Muslim].  
Wallahu a’lam bish showab


*Disampaikan pada Konferensi Perempuan Internasional, 11 Maret 2017 di Balai Sudirman Jakarta

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget