Royatul Islam Hidup Selamanya (2): Terus Bergerak atau Mati



Royatul Islam Hidup Selamanya (2)

TERUS BERGERAK ATAU MATI

Oleh : Abu Nusaibah Royatul Islam

Instagram : hanny_tachta

Dari Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit, keduanya menceritakan,

Telah syahid pada perang Yarmuk al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr. Mereka ketika itu akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis, namun semuanya saling menolak. Ketika salah satu dari mereka akan diberi minum dia berkata, “Berikan dahulu kepada si fulan”, demikian seterusnya sehingga semuanya meninggal dan mereka belum sempat meminum air itu.

Dalam versi lain perawi menceritakan,

Ikrimah meminta air minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah berkata, “Berikan air itu kepadanya.” Dan ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihatnya, maka ia pun berkata, “Berikan air itu kepadanya (al Harits)”. Namun belum sampai air itu kepada al Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut (sedikitpun).
 HR Ibnu Sa’ad dalam ath Thabaqat dan Ibnu Abdil Barr dalam at Tamhid, namun Ibnu Sa’ad menyebutkan Iyas bin Abi Rabi’ah sebagai ganti Suhail bin Amr

- Regu Ar Rayah (Jalur Linggarjati) -
Udara semakin dingin, hutan semakin gelap, dan hujan semakin deras. Sebanyak 11 orang pendaki tengah diuji, pada rute terberat Atap Jawa Barat, Jalur Linggarjati.

Aconk Haryadi, Dodi Adikusumah, dan Aditya Rizki Purnama menyusuri gelapnya hutan sambil terus berteriak memanggil salah satu anggota Regu Ar Rayah yang hilang, Dadan Hamdan. Pria yang akrab disapa Dadan tersebut diketahui hilang sekitar 17.15 WIB. Pada saat mengetahui Dadan hilang, Regu Ar Rayah tengah dalam perjalanan dari Pos Bapa Tere menuju pos berikutnya. Seketika itu juga, regu dipecah menjadi 2 tim.

Tim Pencarian terdiri dari Aconk, Dodi, dan Adit. Sementara itu, Tim Pemulihan terdiri dari Rahmat Supriatna (Brand), Asep Bagja, Tofan, Agus Suprayitno, Darmawan, Khusnan Riyadin, dan Tachta Rizqi Yuandri. Pada Tim Pemulihan, Brand, Khusnan, Asep, dan Tofan bertugas mendirikan tenda. Adapun Darmawan dan Agus tengah dalam kondisi cedera kaki dan sakit.

Sementara Tachta, berkali-kali mengirim SMS dan terus mencoba menelepon Dadan, berharap mendapatkan info darinya. Dia terpaksa tidak ikut pencarian karena khawatir handphone (hp) rusak oleh air hujan dan justru sinyal hilang ketika melakukan pergerakan.

Perasaan gelisah, perut yang lapar, dan kondisi fisik yang lelah mengawali ujian luar biasa terhadap Regu Ar Rayah pada Sabtu 21 Januari 2017 di ketinggian 2.025 mdpl.


Inilah kisahnya,

SMS Dari Allah

Pada Tim Pemulihan, hp yang masih memiliki sinyal adalah hp milik Tachta. Pada saat itu, dirinya sangat berharap ada informasi dari Dadan. Sebab, info sekecil apapun dapat menyelamatkan nyawa Dadan.


"Kang Dadan adalah sahabat saya sejak saya masih bujangan, sejak saya masih kuliah, sejak 7 tahun lalu. Kami pernah mengalami susah dan senang bersama. Tertawa bersama dan sedih bersama. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya ketika mengetahui Kang Dadan hilang di jalur pendakian paling berat di Gunung Ciremai, Jalur Linggarjati. Namun, saat itu, saya sangat yakin, bila saya ada di posisi Kang Dadan, saya akan mencoba memberi kabar melalui hp," ujar Tachta.


Tachta : Kang dmana. Kondisi gmana. Beberapa orang lagi nyari. Jangan panik.

18.14 WIB

Dadan : Dadan @seruni buka tenda aman salamet td hilangjejak

18.27 WIB


Mengapa bagian ini diberi sub judul SMS Dari Allah?Sebab, SMS dari Tachta kepada Dadan sebetulnya tidak pernah sampai. Pada saat itu, Tachta berpikir Dadan membalas SMS dirinya, padahal SMS itu adalah pesan yang dikirim Dadan atas inisiatif Dadan sendiri. SMS dari Tachta pada 18.14 WIB tidak sampai karena sulitnya sinyal di lokasi tersebut. Akan tetapi, dengan pertolongan Allah, SMS yang dikirim oleh Dadan justru bisa diterima oleh Tachta.


Adanya SMS dari Dadan disambut takbir oleh Tachta dan pendaki lain pada Tim Pemulihan. Pada kondisi seperti itu, SMS yang memiliki informasi lokasi sangat bernilai tinggi, karena bisa menentukan hidup dan matinya seseorang.

Mendapat kabar demikian, Tachta langsung berusaha menghubungi Aconk, Dodi, dan Adit. Sebab, mereka bertiga mencari Dadan dalam kondisi tidak mengetahui lokasi Dadan. Tachta mengirim SMS kepada seluruh anggota Tim Pencarian, tapi tidak ada respon. Ketiganya pun terus menerus ditelepon oleh Tachta, tapi tidak ada yang aktif satupun. Memang di Gunung Ciremai, koordinasi melalui jaringan telekomunikasi merupakan hal yang sangat sulit.

"Saya sudah sangat ingin menghampiri Pos Seruni, tempat Kang Dadan membuat tenda darurat atau populer dengan sebutan bivouac (bivak). Sebab, saya tidak tahu kondisinya, persediaan makanannya, dan lain-lain. Ditelepon sulit masuk, dan SMS saya yang menanyakan terkait perlengkapan dan konsumsi pun tidak dibalas. Saya sangat khawatir dia kedinginan atau kelaparan, sebab malam itu hujan cukup deras," kata Tachta.

Sekitar 20.00 WIB, Tim Pencarian kembali ke tenda di Pos Bapa Tere. Tachta langsung menanyakan apakah Tim Pencarian menemukan Dadan. Jawabannya ternyata negatif. Tim Pencarian tidak mencari sampai Pos Seruni, karena jaraknya memang sangat jauh dari Pos Bapa Tere. Apalagi, Tim Pencarian juga mesti memperhitungkan kemampuan peralatan yang mereka gunakan.

Jarak Pos Bapa Tere ke Pos Seruni yakni sekitar 800 meter. Jarak 800 meter di Jalur Linggarjati sangat berbeda dengan 800 meter di jalan raya. Bila berjalan di trotoar, 800 meter bisa di tempuh sekitar 5 sampai 10 menit. Di Ciremai, 800 meter bisa memakan waktu hingga sekitar 1 jam 15 menit bila turun dan sekitar 3 jam bila naik.


"Saya terkejut ketika Tachta menyampaikan Kang Dadan ada di Pos Seruni. Sebab, sebetulnya pencarian kami mungkin sudah hampir sampai pos tersebut. Akan tetapi, kami juga mesti memperhitungkan daya tahan senter yang kami gunakan. Seluruh senter yang kami gunakan hampir habis baterainya. Akhirnya, terpaksa kami hentikan pencarian dan kembali ke tenda," kata salah satu anggota Tim Pencarian, Dodi.

Ketiga anggota Tim Pencarian sudah terlalu lelah untuk kembali ke bawah menuju Pos Seruni. Sementara Tachta yang ingin segera mengevakuasi Dadan, tidak memiliki kemampuan membaca jalur dan tidak hafal jalur yang sudah dilewati.

"Saya sangat takut tersesat, tapi saya juga sangat khawatir pada Kang Dadan. Saat itu saya dikuatkan dan diyakinkan oleh Ustadz Aconk. Dia yakin saya tidak akan tersesat," ujar Tachta.

Saat itu, Aconk meyakinkan Tachta, selama terus mengikuti jalur pendakian, insya Allah aman. Namun ia berpesan hati-hati, lihat kondisi sekitar ketika menemukan jalan bercabang. Sebab, biasanya pada setiap jalan bercabang, pasti akan ada papan petunjuk arah.

Setelah diyakinkan, akhirnya Tachta siap bergerak melakukan evakuasi. Saat itu, pendaki lain yakni Khusnan juga menyatakan siap untuk turut melakukan evakuasi.

Khusnan sejak awal ingin bergabung dalam Tim Pencarian. Namun, Komandan Regu (Danru), Aconk memerintahkan Khusnan untuk berada di Tim Pemulihan. Oleh karena itu, ketika memiliki kesempatan, Khusnan langsung mengajukan diri untuk melakukan pencarian.


Tachta : "Antum sudah makan?"

Khusnan : "Sudah, Kang. Saya sudah lumayan makan tadi. Insya Allah saya siap turun."

Tachta : "Baik, saya makan dulu. Supaya ada tenaga dan tidak kedinginan."


Tachta memakan sekitar 3 atau 4 suap kornet kaleng. Setelah itu menutup kembali kornet kaleng tersebut dan memasukannya ke saku celana. Tachta berpikir, bila Dadan lapar, setidaknya kornet tersebut bisa untuk mengganjal dan sebagai sumber tenaga ketika mendaki.

Akhirnya, Tachta dan Khusnan bergerak cepat turun dari Pos Bapa Tere menuju ke Pos Seruni. Perkiraan Aconk, dengan bergerak cepat dan sudah mengetahui tujuan, Tachta dan Khusnan bisa mencapai Pos Seruni dalam waktu sekitar 30 menit.

"Perkiraan ternyata meleset. Kami yang sudah bergerak secepat mungkin menembus gelapnya hutan dan hujan yang lumayan deras, ternyata sampai di Pos Seruni dalam waktu 1 jam 15 menit. Hampir 3 kali lebih lama dari perkiraan," ujar Khusnan.

"Saya terkejut ketika Khusnan menyampaikan bahwa kami sudah berjalan sekitar 1 jam 15 menit. Tidak saya sangka ternyata cukup lama. Saya menjadi sedikit was-was, karena ketika kembali ke atas nanti, ke Pos Bapa Tere, pasti akan memakan waktu lebih lama, sekitar 2,5 hingga 3 jam. Sebab, mendaki biasanya lebih lama dari turun," kata Tachta.

Ketika Tachta dan Khusnan tiba di Pos Seruni sekitar 21.45 WIB, Dadan tengah dalam kondisi tidur dan memprihatinkan. Ia menyelimuti dirinya dengan sleeping bag dan trash bag. Matras yang ia gunakan langsung bersentuhan dengan tanah dan mulai rembes oleh genangan air hujan.

1 lapis. Ia juga dalam kondisi kedinginan sebab tenda darurat hanya melindungi bagian atas, sementara bagian samping tidak tertutup. Akibatnya, badannya tidak terlindungi dan angin langsung menerpa badannya. Terlambat 2 atau 3 jam, bisa jadi nyawa Dadan tidak terselamatkan.

"Ketika Kang Dadan bangun, ia tampak sangat terkejut melihat kami berdua. Bila saya jadi dirinya, mungkin saya pun akan sempat ragu, apakah yang datang betul-betul manusia atau bukan," ujar Tachta.

Bahkan, Dadan yang sebelumnya mendengar Khusnan berteriak memanggil nama dirinya sempat menganggap itu mimpi atau halusinasi.

"Saya sempat mendengar nama saya dipanggil. Akan tetapi, saya pikir itu mimpi atau halusinasi. Sebab, selama saya sendirian di tenda darurat, saya beberapa kali diganggu oleh makhluk gaib. Sebelum sholat maghrib, makhluk gaib entah apa mengitari tenda saya beberapa kali dan itu sangat nyata. Dia berputar berkeliling tenda dengan cukup cepat. Saya hanya terus berdzikir dan membaca tulisan di bendera yang saya bawa di carrier (ransel besar untuk membawa barang) saya. Laa ilaa ha illallaah muhammadurrasulullaah. Itu saya ulang-ulang terus," kata Dadan.

Selain diganggu makhluk gaib, tenda darurat Dadan juga sempat dimasuki oleh ular. Belum lagi perilaku unik seseorang yang sempat melintas melewati Dadan ketika ia tengah membangun tenda darurat. Dadan sempat minta tolong pada orang tersebut, tapi orang tersebut justru melangkah makin cepat dan tidak terkejar oleh Dadan.

"Banyak hal yang saya alami ketika sendirian sampai Tachta dan Khusnan tiba," ujarnya.

Akhirnya, sambil menunggu Dadan melakukan reorientasi (peninjauan kembali wawasan untuk menentukan sikap) karena sempat shock, Tachta dan Khusnan juga ikut beristirahat dalam tenda darurat itu.

"Kang Dadan, sekarang Kang Dadan makan dulu, ini kami bawa kornet. Supaya ada tenaga buat naik nanti. Sekalian juga Kang Dadan reorientasi dan kumpulkan kembali logika. Saya punten pamit mau istirahat dulu sebentar. Maksimal 30 menit lagi, kita mesti paksakan bergerak, kalau tidak kita semua bisa kena hipotermia," ujar Tachta.


Hanya berselang sekitar 20 menit dari ucapan Tachta tersebut, dirinya secara perlahan menjadi pucat dan menggigil kedinginan.

"Kang badannya digerak-gerakin, Kang. Saya bilang seperti itu ke Kang Tachta sambil menggoncang-goncangkan tubuh Kang Tachta. Sementara Kang Tachta hanya menggigil dalam posisi tidur dan menekukan badan," ujar Khusnan.

Melihat kondisi Tachta yang demikian, Dadan menjadi sangat khawatir. Sambil mempercepat berkemas, ia terus bertawasul kepada Allah dengan kebaikan Tachta dan Khusnan yang mau menjemput dirinya.

Usai berkemas, Dadan dan Khusnan bersiap untuk kembali bergerak. Tachta yang kedinginan memaksakan dirinya untuk berdiri dan terus bergerak agar tidak kedinginan.

"Saya memang mestinya menggerakan badan supaya mengurangi kedinginan. Akan tetapi, saya sangat ngantuk dan kelelahan untuk bergerak. Akhirnya saya berbaring dan mencoba tidur. Ternyata baru sekitar 20 menit berbaring, saya sudah sangat kedinginan dan kesadaran saya menurun drastis," kata Tachta.

Kekuatan Dari Allah

Setelah melakukan perjalanan melelahkan, menembus gelapnya hutan, dan hujan yang cukup deras, Khusnan masih harus mengangkut carrier milik Dadan yang beratnya tidak kurang dari 10 kg. Bukan cuma sekedar mendaki, tapi mendaki bagian terberat di Jalur Linggarjati. Bagian antara Pos Seruni dan Pos Bapa Tere adalah yang terberat selama pendakian karena terdapat tanjakan yang kemiringannya hampir 90 derajat.

Seringkali mereka bertiga mesti berpegangan pada akar pohon atau sejumlah tali yang sudah terikat dan disediakan oleh Petugas Taman Nasional Gunung Ciremai pada tanjakan tersebut. Tachta beberapa kali berhenti karena sangat lelah dan kehausan.

"Khusnan luar biasa. Saya saja yang hanya membawa air di jeriken sudah kepayahan dan beberapa kali berhenti karena tidak kuat berjalan. Minum, istirahat sekitar 5 menit, lalu lanjut mendaki lagi. Sementara Khusnan tidak mengeluh sedikitpun. Dia hanya istirahat ketika saya beristirahat," ujar Tachta.

Kekuatan Khusnan menular ke Dadan. Setelah sebelumnya makan dan telah berjalan cukup lama, Dadan memutuskan untuk mengurangi beban carrieryang dibawa Khusnan dan membawanya sendiri.

"Tachta dan Khusnan sangat kelelahan, saya bisa melihatnya dari wajah mereka. Kami bertiga sempat beristirahat di tengah-tengah pendakian. Mereka berdua sampai tertidur saking lelahnya. Ketika mereka tidur, gangguan makhluk gaib kembali menghampiri saya. Suara-suara menakutkan menganggu saya. Saya membaca Al Fatihah dan bertawasul dengan kebaikan salah satu ulama ternama, Taqiyyuddin An Nabhani," ujar Dadan.

Setelah Dadan berdoa, Tachta dan Khusnan terbangun dan mereka kembali meneruskan pendakian. Namun, tak disangka, Allah memberikan kekuatan pada Dadan. Tepat ketika Khusnan sangat kelelahan, Dadan memutuskan membawa carrier sendiri. Adapun Tachta dan Khusnan membantu membawa sebagian kecil barang lain yang sebelumnya sudah dikeluarkan daricarrier lebih dahulu.

"Ketika Khusnan membawa carrier milik saya, sebelum mereka berdua tertidur, saya sempat minta maaf pada Khusnan karena sudah merepotkan. Saya tidak tahu bagaimana mesti membalasnya. Belum tuntas saya meminta maaf, Khusnan langsung memotong perkataan saya dan berkata kita dah ngaji kang, orientasinya dah lain sama dulu. Mendengar perkataan tersebut, saya tidak dapat menahan tangis syukur karena berada di tengah-tengah syabab (sebutan aktivis Hizbut Tahrir laki-laki)," tutur Dadan.

Setelah sekitar 2,5 jam mendaki, akhirnya mereka bertiga tiba di Pos Bapa Tere sekitar 00.45 WIB. Mereka langsung disambut oleh rekan-rekan lain dan dibuatkan makanan dan minuman hangat.

"Saya sangat ngantuk dan lapar. Sampai tenda, saya ngobrol sebentar dengan Ustadz Aconk, lalu langsung makan dan tidur. Pengalaman luar biasa dan banyak hikmah yang saya dapatkan. Kembalinya Kang Dadan ke regu kami, adalah harta paling berharga selama Misi Royatul Islam. Mungkin malam itu bisa dikatakan tidur paling nyenyak dan nikmat selama hidup saya," kata Tachta.

Kejadian luar biasa yang menimpa Regu Ar Rayah memberikan banyak hikmah pada regu tersebut. Setelahnya, regu menjadi lebih solid dan kompak. Setelah semua hal yang mereka alami, Regu Ar Rayah memutuskan untuk terus maju.

Sejak awal, Misi Royatul Islam memang bukan misi sembarangan. Mereka sudah berkali-kali diberikan ujian dalam misi tersebut. Namun, Alhamdulillaah, mereka juga selalu mendapatkan pertolongan Allah. Semakin mendekati kemenangan, mereka yakin ujian akan semakin banyak. Mereka meyakini bahwa mereka adalah pengibar bendera hitam dari Timur, mereka adalah orang-orang yang berjual beli dengan Allah, harta dan jiwa mereka.

Keesokan harinya, Ahad 08.00 WIB, Regu Ar Rayah melanjutkan amanah mereka membawa Ar Rayah Raksasa menuju Atap Jawa Barat. Dari Pos Bapa Tere, mereka mesti menempuh sisa 1.053 mdpl menuju Puncak Linggarjati. Adapun jarak perjalanannya sekitar 3,4 km. Dari Puncak Linggarjati, bibir kawah sekitar 2 km telah menanti untuk dilewati menuju Puncak Palutungan. Dari Puncak Palutungan, mereka mesti turun 128 mdpl atau sekitar 300 m untuk menemui Regu Al Islam dan Regu Al Liwa di Goa Walet. Lalu, mereka naik lagi dari Goa Walet menuju Puncak Palutungan untuk bersama mengibarkan Al Liwa Raksasa dan Ar Rayah Raksasa di Atap Jawa Barat.


Total jarak perjalanan yang menanti mereka terbentang sepanjang 6 km. Menuju puncak, jalan makin terjal, oksigen semakin tipis, angin makin kencang, kaki makin lelah, pundak makin sakit, dan nafas semakin berat. Namun, kasih sayang Allah dan pertolongan-Nya juga terbentang sepanjang 6 km di hadapan mereka. Fisik mereka makin lelah, tapi kerinduan mereka semakin kuat, rindu akan turunnya Pertolongan Allah.

Panji Rasulullaah 5x7 m yang terlipat rapi dalam ransel, embun pagi yang belum kering, kicauan burung, dan beberapa tetes air mata menemani untain doa:

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Ampuni Dosaku ya Allah, Ampuni Dosaku ya Allah, Ampuni Dosaku ya Allah. Jadikan Alam Sahabat Kami, Jadikan Alam Sahabat Kami, Jadikan Alam Sahabat Kami. Yaa ayyuhalladziina aamanuu ingtangshurullaaha yang shurkum, wa yustabbit aqdamakum


Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, bahwa Rasulullaah saw bersabda,

Dua mata yang tidak akan disentuh oleh neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.

HR. At-Tirmidzi


Bersambung


Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget