SISTEM PENDIDIKAN ISLAM WUJUDKAN INSAN KAMIL (BAGIAN 2)


Mekanisme Penyelenggaraan Pendidikan Islam
Mekanisme penyelenggaraan pendidikan Islam mencakup strategi kurikulum dan strategi penyelenggaran oleh negara. 
Strategi kurikulum merupakan penjabaran dan penerapan dari tujuan pendidikan.  Kurikulum pendidikan Islam dirancang untuk menancapkan aqidah dan tsaqofah Islam  serta membekali peserta didik dengan lifeskill yang dibutuhkan dalam melaksanakan fungsi kemanusiaannya sebagai khalifatu fiil ardh
Kurikulum dirancang untuk mampu mewujudkan output pendidikan yang memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Kepribadian Islam
Tujuan ini merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim, yaitu keteguhan dalam memegang identitas kemuslimannya dalam kehidupan sehari-hari. Identitas itu tampak pada dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (‘aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang berpijak pada akidah Islam. Paling tidak, terdapat tiga langkah untuk membentuk kepribadian Islam sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw., yaitu: Pertama, Menanamkan akidah Islam sebagai  sebagai ‘aqîdah ‘aqliyah—akidah yang muncul dari proses pemikiran yang mendalam—kepada setiap orang.  Kedua, Menanamkan sikap konsisten dan istiqamah kepada setiap orang agar cara berpikir dan kecenderungan insaninya tetap berada di atas pondasi akidah yang diyakininya.  Ketiga, Mengembangkan kepribadian  dengan senantiasa mengajak setiap orang bersungguh-sungguh dalam mengisi pemikirannya dengan tsaqâfah Islâmiyah dan mengamalkan perbuatan yang selalu berorientasi pada ketaatan kepada Allah SWT.
2. Menguasai tsaqâfah islamiyah dengan handal.
Islam mendorong setiap Muslim untuk menjadi manusia yang berilmu dengan cara mewajibkannya untuk menuntut ilmu. Berdasarkan takaran kewajibannya, menurut  al-Ghazali, ilmu dibagi ke dalam dua kategori, yaitu: (1) ilmu yang fardlu ‘ain, yaitu wajib dipelajari setiap Muslim seperti: ilmu-ilmutsaqâfah Islam yang terdiri konsepsi, ide, dan hukum-hukum Islam (fiqh), bahasa Arab, sirah Nabi, Ulumul Quran, tahfîdz al-Quran, Ulumul Hadits, ushul fikih, dll; (2) ilmu yang dikategorikan fardhu kifayah, biasanya ilmu-ilmu yang mencakup sains dan teknologi serta ilmu terapan-keterampilan seperti biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik, dll.
3. Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/PITEK).
Menguasai PITEK diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifatullah di muka bumi dengan baik. Islam menetapkan penguasaan sains sebagai fardhu kifayah, yaitu kewajiban yang harus dikerjakan oleh sebagian Muslim  apabila ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat seperti kedokteran, kimi, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll. 
4. Memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdayaguna.
Penguasaan keterampilan yang serba material ini merupakan tuntutan yang harus dilakukan umat Islam dalam rangka pelaksanaan amanah Allah SWT.  Hal ini diindikasikan dengan terdapatnya banyak nash yang mengisyaratkan setiap Muslim untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum dan keterampilan sehingga hal ini dihukumi sebagai fardhu kifayah.
Strategi kurikulum pendidikan Islam ini akan menghasilkan generasi muda Islam yang cendekiawan sekaligus ulama, faqih fiddiin sekaligus menguasai PITEK.  Sementara strategi kurikulum pendidikan kapitalis hanya menghasilkan pribadi-pribadi sekuler yang menguasai PITEK namun awam dalam agama, generasi yang hanya menjadi buruh-buruh kapitalis.
Dari sisi strategi penyelenggaraan pendidikan, Negara wajib menyediakan pendidikan yang berkualitas.  Fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang cukup dan memadai seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran, dan lain sebagainya harus diadakan.  Negara juga wajib menyediakan tenaga-tenaga pengajar yang ahli di bidangnya, sekaligus memberikan gaji yang cukup bagi guru dan pegawai yang bekerja di kantor pendidikan.   Para Sahabat telah sepakat mengenai kewajiban memberikan ujrah (gaji) kepada tenaga-tenaga pengajar yang bekerja di instansi pendidikan negara Khilafah di seluruh strata pendidikan.   Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah menggaji guru-guru yang mengajar anak-anak kecil di Madinah, sebanyak 15 dinar setiap bulan.  Gaji ini beliau ambil dari Baitul Mal.
Seluruh pembiayaan pendidikan di dalam negara diiambil dari Baitul Mal, yakni dari pos fai’ dan kharaj serta pos milkiyyah ‘amah, yakni kemilikan umum yang mencakup perairan, hutan, dan hasil-hasil tambang.  Seluruh pemasukan Negara Khilafah, baik yang dimasukkan di dalam pos fai’ dan kharaj, serta pos milkiyyah ‘amah, boleh diambil untuk membiayai sektor pendidikan. Jika pembiayaan dari dua pos tersebut mencukupi maka negara tidak akan menarik pungutan apapun dari rakyat.
Jika harta di Baitul Mal habis atau tidak cukup untuk menutupi pembiayaan pendidikan, maka Negara meminta sumbangan sukarela dari kaum Muslim.  Jika sumbangan kaum Muslim juga tidak mencukupi, maka kewajiban pembiayaan untuk pos-pendidikan beralih kepada seluruh kaum Muslim.  Sebab, Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslim untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran wajib—seperti  pendidikan, kesehatan, dan keamanan—ketika Baitul Mal tidak sanggup mencukupinya.   Selain itu, jika pos-pos tersebut tidak dibiayai, kaum Muslim akan ditimpa kemadaratan.   Dalam kondisi seperti ini, Allah SWT memberikan hak kepada negara untuk memungut pajak (dharibah) dari kaum Muslim.  Hanya saja, penarikan pajak dilakukan secara selektif.  Artinya, tidak semua orang dibebani untuk membayar pajak.  Hanya pihak-pihak yang dirasa mampu dan berkecukupan saja yang akan dikenain pajak.  Orang-orang yang tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup dibebaskan dari membayar pajak.
Dengan mekanisme ini, pendidikan berkualitas dijamin bisa didapatkan oleh seluruh warga negara, muslim maupun non muslim, kaya maupun miskin.  Berbeda dengan sistem pendidikan kapitalis yang menyediakan fasilitas sesuai dengan bayaran yang bisa diberikan para peserta didik.  Mereka yang miskin, cukup dengan sekolah negeri dengan fasilitas abal-abal.  Sedangkan yang kaya bisa mendapat fasilitas gedung megah, dilengkapi AC, perpustakaan dan laboratorium canggih, guru-guru dari luar negeri serta kesempatan kerja yang lebih baik.  Ketimpangan yang luar biasa!

Program Pendidikan Islam
Program pendidikan Islam dijalankan dalam program-program yang sudah baku sesuai dengan apa yang telah ditetapkan syara’. Program-program ini bukan lagi trial and error yang menjadikan peserta didik sebagai obyek percobaan.  Program-program tersebut antara lain  sebagai berikut :
·         Program inti : pembentukan kepribadian Islam dengan meletakkan dasar-dasar akidah Islam yang kuat pada jiwa anak.  Materi akidah tidak diberikan dalam bentuk teori, melainkan lebih ditekankan pada pembentukan kesadaran dan keterikatan kepada Sang Khaliq.  Selanjutnya kesadaran ini diarahkan pada ketundukan dan ketaatan kepada syari’at-Nya. 
·         Pemberian tsaqafah Islam untuk mewujudkan kepribadian Islam yang sempurna.  Waktu belajar untuk ilmu-ilmu Islam (tsaqofah Islamiyyah) diberikan setiap minggu dengan proporsi yang disesuaikan dengan waktu pelajaran ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keterampilan).
·         Pelajaran ilmu-ilmu kehidupan/terapan dan sejenisnya (iptek dan keterampilan) dibedakan dari pelajaran guna membentuk syakhsiyyah Islamiyah dan tsaqofah Islamiyyah. Khusus untuk materi  membentuk syakhsiyyah Islamiyah mulai diberikan di tingkat dasar sebagai materi pengenalan dan kemudian meningkat pada materi pembentukan dan peningkatan seiring dengan peningkatan kemampuan berpikir anak didik sampai sempurna saat ia menginjak usia baligh. Sementara materi tsaqofah Islamiyyah dan pelajaran ilmu-ilmu terapan dan sejenisnya diajarkan secara bertahap dari mulai tingkat dasar.
·         Meteri pelajaran yang bermuatan pemikiran, ide dan hukum yang bertentangan dengan islam, seperti ideologi sosialis/komunis atau liberal/kapitalis, aqidah ahli kitab dan lainnya, termasuk sejarah asing, bahasa maupun sastra asing dan lainya, hanya diberikan pada tingkat pendidikan tinggi yang tujuannya hanya untuk pengetahuan, bukan untuk diyakini dan diamalkan.
·         Pembentukan lifeskill sehingga generasi Islam menjadi generasi tangguh yang mampu untuk mencari solusi atas semua permasalahannya.  Lifeskill yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan anak didik berdasarkan usia, lingkungan tempat tinggalnya, jenis kelamin dan perkembangan teknologi.  Lifeskill untuk anak laki-laki diarahkan agar ia bisa bekerja saat usianya menginjak baligh, sedangkan anak perempuan mampu mengurus rumahtangga.  Misalnya anak laki-laki diajarkan berenang, bela diri, dasar-dasar pertukangan, dan sebagainya.  Sedangkan anak perempuan diajarkan memasak, menjahit dan sejenisnya. 
·         Anak didik diajarkan trampil berbicara di depan umum sebagai bekal dakwah.  Untuk anak laki-laki ditambahkan ketrampilan azan, dan latihan sebagai imam dan khatib.
·         Setelah menginjak usia baligh, anak laki-laki diajarkan pelatihan militer.
Inilah beberapa program yang harus ada dalam pendidikan Islam, sesuatu yang tidak kita jumpai dalam kurikulum kapitalis.  Pendidikan tsaqafah diabaikan dan kalaupun diajarkan lifeskill, hanya sebatas pada penguasaan ketrampilan yang dibutuhkan untuk bekerja dan memberikan keuntungan pada para pemilik perusahaan. 
Sistem pendidikan Islam yang demikian detil, terprogram  dan sempurna, hanya akan bisa dijalankan oleh satu institusi negara yang menerapkan hukum-hukm Islam.  Sistem ini tidak bisa dijadikan tambal sulam bagi kapitalisme atau sosialisme.  Hanya negara khilafah Islamiyyah, yang akan mampu mewujudkan sistem pendidikan paripurna ini dalam kehidupan. 

NEGARA MEWUJUDKAN LINGKUNGAN YANG SELARAS DENGAN INSAN KAMIL

Sejatinya, pendidikan adalah proses belajar sepanjang hayat.  Karenanya, ia harus dilakukan kapan pun dan di mana pun.  Rasulullah Saw pun pernah bersabda : “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat” (al Hadits).  Proses yang panjang ini tentu membutuhkan kondisi atau lingkungan kondusif agar berjalan optimal.
Secara faktual pendidikan melibatkan tiga unsur pelaksana, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.  Ketiga unsur tersebut saling terkait dan saling mempengaruhi.  Artinya, jika pendidikan di rumah buruk, maka akan menambah beban berat bagi pendidikan di sekolah dan akhirnya akan menambah ruwetnya persoalan di masyarakat.  Sebaliknya, jika kondisi di masyarakat atau keluarga baik, maka akan mendukung proses pendidikan di sekolah.  Tujuan pendidikan pun akan jauh lebih mudah dicapai.
Dengan demikian, untuk mewujudkan insan kamil dibutuhkan lingkungan yang kondusif agar ketiga unsur tersebut berjalan dengan baik dan saling mendukung. 

Lingkungan Masyarakat
Pendidikan di masyarakat merupakan pendidikan sepanjang hayat terutama jika dikaitkan dengan praktik kehidupan sehari-hari.  Bahkan lingkungan masyarakat sangat mempengaruhi sumber-sumber belajar seperti tetangga, teman pergaulan, lingkungan serta sistem nilai yang berlaku di masyarakat. 
Oleh karena itu, pendidikan membutuhkan lingkungan masyarakat yang baik.  Yaitu, masyarakat yang jauh dari nilai-nilai rusak dan merusak, jauh dari semua produk sistem sekulerime kapitalisme.  Pendidikan memerlukan lingkungan yang jauh dari pergaulan bebas, pornografi dan pornoaksi, masyarakat yang aman dari ancaman obat-obat terlarang, gangguan keamanan dan media merusak. 
Bisa dibayangkan, apalah artinya jika di sekolah diajarkan hukum yang melarang laki-laki dan perempuan untuk berpacaran.  Namun, masyarakat membiarkan aktivitas itu bertaburan di berbagai tempat.  Bahkan masyarakat sendiri yang menyelenggarakan berbagai tempat ajang maksiyat; bioskop, tempat kongkow muda mudi hingga fisilitas kamar menginap. 
Maka sebaliknya, pendidikan membutuhkan masyarakat yang menjunjung tinggi kebaikan, masyarakat yang memelihara media yang membangun, yang bisa menjaga keimanan dan merangsang kreativitas dalam memajukan peradaban.
Tentu saja, lingkungan masyarakat seperti itu tidak bisa tumbuh dengan sendirinya.  Namun memerlukan peran, dukungan bahkan topangan negara.  Sebab, negara memiliki kekuatan untuk menegakkan hukum dan peraturan agar lingkungan masyarakat benar-benar baik.  Bahkan negara memiliki kekuatan untuk mencabut sistem sekuler kapitalis tersebut dan menggantinya dengan sistem Islam yang menjaga kehormatan.
Dalam sejarah, ketika negara menerapkan Islam di masyarakat maka ketakwaan menjadi penjaga dari segenap hal negatif yang bisa melunturkan pendidikan yang sudah ditancapkan.  Negara mampu menerapkan hukum-hukum pergaulan Islam secara tegas dan membangun media yang Islami.  Negara pun menerapkan ekonomi yang mensejahterakan sehingga tidak ada lagi rumah remang-remang perusak akhlak juga anak-anak jalanan yang tak sempat menimba ilmu.  Sungguh, negara Khilafah mampu membangun atmosfir pendidikan kondusif di masyarakat. 

Lingkungan Keluarga
Pendidikan juga memerlukan lingkungan keluarga yang baik.  Orang tua menjadi salah satu bagian penting dalam proses pendidikan anak.  Rasulullah Saw. bersabda: Tiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunyalah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala)(HR. Bukhari)
Hadits tersebut menegaskan betapa sangat bergantungnya anak pada keadaan atau bimbingan orang tuanya.  Dengan demikian, lingkungan keluarga sangat mempengaruhi proses pendidikan anak.  
Realitasnya, keluarga yang mampu menjalankan fungsi edukasi dan religiusnya (memberikan pendidikan agama) dengan baik dan yang mampu menebarkan kasih sayang di antara anggota keluarga sangat mempengaruhi proses pendidikan anak.  Anak akan berada pada posisi mendapatkan landasan bersih dan siap dibentuk oleh proses pendidikan yang berjalan di sekolah dan masyarakat.
Sebaliknya, jika lingkungan keluarga tidak kondusif, misalnya anak kurang kasih sayang karena orang tua disibukkan oleh beban hidup yang berat, ibu bahkan ikut sibuk mencari nafkah, ayah tak cukup waktu untuk memberikan perhatian kepada anggota keluarga, maka yang terjadi adalah anak-anak yang tertekan secara psikologis.  Kondisi ini sangat tidak mendukung proses pendidikan.  Bahkan, pada banyak kasus menambah beban berat dan merusak lingkungan pendidikan yang sudah baik.
Berjalannya fungsi keluarga juga tidak bisa lepas dari peran negara.  Sebab, betapa banyak persoalan keluarga yang muaranya adalah kekacauan sistem bernegara.  Misalnya, ketika kemiskinan membelit keluarga maka yang menjadi korban anak-anak juga.  Hilangnya keharmonisan suami istri -yang berpengaruh bagi anak-anak- juga disumbang oleh lingkungan pergaulan yang tidak baik di masyarakat. Kehidupan hedonistik juga tak lepas dari abainya negara dalam mengontrol perilaku masyarakat, baik melalui media maupun aturan.
Dengan demikian, negara sangat berperan membentuk lingkungan keluarga yang kondusif bagi pendidikan anak.  Jika negara mampu memerankan diri sebagai penjamin kebutuhan ekonomi keluarga, tentu ayah maupun ibu tidak harus kehilangan banyak kesempatan untuk makin mendekatkan hubungan dengan anak-anak.  Kasih sayang pun akan tumbuh dengan baik karena tidak ada beban keluarga yang menekan kejiwaan semua angota keluarga.
Sungguh, hanya negara yang menerapkan sistem Islam (Khilafah) saja, yang mampu memberi kemudahan bagi keluarga sehingga optimal menjalankan fungsi edukasinya.
 
Lingkungan Pendidikan Formal dan non Formal
Di samping sekolah -sebagai lingkungan pendidikan formal-, pendidikan juga bisa diselenggarakan oleh kelompok anggota masyarakat.  Sebagai bentuk pendidikan non formal, keberadaannya sangat mendukung aspek pendidikan formal sehingga bisa membentuk lingkungan pendidikan sekolah yang kondusif.
Hanya saja, dalam masyarakat sekuler kapitalis seperti sekarang ini, mewujudkan lingkungan pendidikan, baik formal maupun non formal, amat sulit.  Sekulerisme kapitalis telah membentuk jiwa-jiwa malas dan pelit untuk memperhatikan masalah pendidikan dengan sebaik-baiknya.  Tak banyak pihak yang rela mendidik dan membantu memberikan fasilitas pendidikan melainkan jika menguntungkan.  Bahkan ada sebagian pihak yang menjadikan lembaga pendidikan justru sebagai lahan mengeruk keuntungan pribadi.  Berbagai pungli dan suap berseliweran di sekolah-sekolah, berkelindan antara tenaga dan staf kependidikan dengan masyarakat yang malas.  Sungguh memiriskan.
Tentu berbeda jika negara menerapkan sistem Islam.  Suasana takwa senantiasa menyelimuti proses pendidikan baik di lingkungan sekolah maupun lembaga pendidikan non formal.  Sikap berlomba-lomba melakukan kebaikan, beramar makruf nahi munkar menghilangkan jiwa-jiwa pelit dan rakus dalam mengejar materi dan kehidupan duniawi.  Maka yang terbentuk adalah semangat berkorban dan mendukung sepenuhnya proses terbentuknya insan kamil.
Dalam kondisi seperti ini, akan sangat mudah bagi negara untuk merangsang individu masyarakat menyediakan pendidikan non formal, misalnya mendirikan perpustakaan pribadi, menyelenggarakan kursus-kursus tambahan yang mengarah pada tujuan pendidikan Islam dan sebagainya.  Berbagai kemudahan tentu juga akan diberikan negara.  Betapa indahnya, jika semua komponen bisa berjalan saling mendukung mewujudkan tujuan pendidikan Islam.
 
Penutup
Insan kamil adalah hasil dari proses pendidikan yang melibatkan banyak komponen.  Sebaik apapun mekanisme pendidikan jika tidak ditopang oleh lingkungan yang baik maka akan sia-sia.  Maka mewujudkan lingkungan pendidikan yang baik bagi terbentuknya insan kamil adalah suatu keharusan.
Fakta menunjukkan bahwa sistem sekuler kapitalis telah menghasilkan lingkungan pendidikan yang kontra produktif dengan tujuan pendidikan Islam.  Oleh karena itu, sistem rusak ini harus diganti dengan sistem yang menjamin terwujudnya lingkungan pendidikan yang baik.  Sistem itu tidak lain adalah sistem yang menerapkan syariah Islam secara menyeluruh.  Itulah Khilafah Islamiyah yang pernah ditegakkan selama belasan abad silam.  Sistem itu pula yang telah terbukti menghasilkan lingkungan pendidikan yang sangat kondusif bagi terwujudnya insan kamil -tujuan pendidikan yang dikehendaki Allah SWT.[]


Diambil dari makalah Kongres Ibu Nusantara ke-4 DKI Jakarta, 24 Desember 2016 di Balai Sudirman Jakarta Selatan


Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget