SISTEM PENDIDIKAN ISLAM WUJUDKAN INSAN KAMIL (BAGIAN 1)


Membaca potret generasi muda saat ini seperti kita membuka lembaran-lembaran buram masa depan.  Berbagai persoalan membelit generasi ini.  Narkoba, miras, tawuran, kekerasan seksual, pergaulan bebas, prostitusi, aborsi, tindak kriminal dan sebagainya, menempatkan para pemuda sebagai pelaku terbanyak.
Banyak di antara kita yang mampu melihat permasalahan ini, namun tak mampu menangkap apa penyebab mendasarnya.  Kita selalu berkutat dengan analisa penyebab yang bersifat parsial sehingga tidak menghasilkan solusi yang tuntas.  Sebagian pihak menuding kerusakan keluarga sebagai pangkal masalah.  Sebagian lagi menuding kesalahan sekolah, sehingga muncul ide fullday school, penyisipan pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter  dan sebagainya.
Kita bisa lihat, solusi demi solusi dirumuskan, dilempar ke kalangan akademisi dan pakar untuk didiskusikan dan diterapkan di tengah masyarakat.  Hasilnya?  Dari tahun ke tahun angka-angka kriminalitas remaja makin meningkat dan  moral makin rusak.  Lihatlah bagaimana sekarang berkembang tren di kalangan remaja, melakukan kekerasan seksual bersama-sama, biasanya dibumbui dengan pesta miras dan narkoba, lantas setelah itu korban dihabisi dengan cara yang sadis.  Kasus Yuyun di Bengkulu, buruh pabrik yang dicangkul di Tangerang, adalah dua di antaranya. 
Semua permasalahan yang membelit generasi muda membutuhkan solusi yang tuntas.  Masa depan bangsa dan umat seperti dipertaruhkan.  Kita tak bisa terus mengandalkan solusi-solusi parsial.  Cara berpikir ini harus dibongkar dengan menyingkap akar permasalahan yang hakiki dan mencari kunci pemecahan masalah yang tepat. 
Pendidikan adalah salah satu jawaban bagi pembentukan dan perbaikan generasi.   Namun tetap perlu kita perhatikan bahwa pendidikan tidak mungkin berdiri sendiri sebagai solusi.  Ada tiga pilar yang saling mendukung dalam dunia pendidikan, yaitu pendidikan di dalam keluarga, pendidikan di masyarakat (edukasi publik) dan pendidikan dalam institusi pendidikan.  Salah satu pilar ini rapuh, akan berakibat pada kerapuhan secara keseluruhan dalam sistem pendidikan. 
Sayangnya, inilah fakta yang kita hadapi.  Tiga pilar yang rapuh, yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan sekedar tambal sulam, melainkan harus membongkarnya  dan membangun ulang dari dasarnya.

KERUSAKAN GENERASI KARENA PERSOALAN SISTEMIK
Kerusakan generasi muda kita hakekatnya disebabkan beberapa faktor yang berjalin berkelindan, tak bisa dipisahkan.  Bukan sekedar masalah keluarga atau pendidikan saja, melainkan juga melibatkan faktor-faktor lain seperti sosial, ekonomi, budaya dan politik yang menjadi lingkungan bagi keluarga dan institusi pendidikan. 
Dengan demikian kita bisa katakan bahwa persoalan generasi ini adalah persoalan sistemik, yang bila kita cermati dari tiga pilar pendidikan nampak bahwa ada benang merah yang menghubungkan ketiganya sebagai sebuah sistem.  Ketiga pilar tersebut adalah sbb:
1.  Keluarga.  Sistem hidup masyarakat saat ini yang didominasi paham kapitalis telah menempatkan materi sebagai standar kebahagiaan keluarga.  Akibatnya keluarga miskin visi pendidikan.  Hidup mereka didominasi upaya untuk sekedar mengumpulkan harta dan bagaimana menghabiskannya untuk kesenangan sesaat.  Suami dan istri sama-sama disibukkan oleh kerja dan karier.  Sebagian menjadikannya sebagai tujuan hidup, dan sebagian lagi terdorong oleh kebutuhan dan keterpaksaan. 
Dari sini, mulailah keluarga menjadi pincang.  Peran dan kewajiban suami istri sebagaimana telah diatur oleh hukum-hukum syara’ diabaikan.  Anak-anak kehilangan pegangan, kehilangan panutan dan sedikit demi sedikit lepas kontrol.  Mereka mulai mencari perhatian, kasih sayang dan pengakuan di luar rumah. 
Kondisi ini ditambah dengan kondisi sosial kultural yang juga rusak, didominasi oleh warna liberalisme.  Bebas bersikap, bertingkah laku, berpendapat dan sebagainya.  Anak bebas membantah orangtuanya.  Anak bebas berkeyakinan sekalipun berbeda dengan orang tua.  Istri bebas bekerja, berhias dan pergi ke manapun ia suka dengan alasan kepentingan kerja.  Suami bebas bergaul dan bepergian dengan teman wanitanya, dan seterusnya.  Konflik bermunculan di tengah keluarga.   Pergaulan bebas, perselingkuhan, dan kadang berujung dengan perceraian. 
Di sisi lain, nilai-nilai agama semakin menjauh dari keluarga terkikis oleh paham sekuler.  Agama hanya dihayati sebatas ritual belaka dan kehilangan ruhnya sebagai pedoman dan peraturan hidup.  Bagaimana tidak.  Agama hanya dipelajari di bangku sekolah 3-4 jam per minggu.  Lulus sekolah, belajar  agama pun berhenti.  Maka tak heran bila keluarga kehilangan orientasi hidup yang seharusnya.   Nasehat dan amar ma’ruf nahi munkar semakin langka.  Anak tak mau mendengar nasehat orangtua, dan sebaliknya orangtua semakin segan menasehati anaknya karena merasa tak bisa atau tak faham.  Pendidikan di tengah keluarga menjadi macet.
Dengan kondisi  seperti ini, ketahanan keluarga menjadi rapuh.  Sewaktu-waktu, institusi keluarga bisa hancur.  Yang potensial menjadi korban lagi-lagi adalah anak.  Bagaimana bisa lahir generasi berkualitas, generasi cemerlang dari pendidikan keluarga semacam ini?
2.  Edukasi publik.  Edukasi publik dijalankan di tengah masyarakat melalui media massa dan sosial media.  Seharusnya edukasi publik mampu untuk mengcover materi-materi pendidikan yang tak tersampaikan di dalam keluarga dan institusi pendidikan atau memperkuat fakta-fakta kehidupan riil.  Media massa semestinya menguatkan suasana keimanan dan ketaatan masyarakat terhadap Islam dan hukum-hukumnya. Namun dalam sistem kapitalis saat ini, edukasi publik justru menjadi sarana menjajakan gaya hidup materialis dan hedonis.  Gaya hidup yang mengedepankan kesenangan dan kenikmatan materi ini adalah sarana bagi kaum kapitalis untuk memastikan barang-barang produksi mereka laris manis di pasaran. 
Lihatlah bagaimana liciknya kaum kapitalis merekayasa keinginan menjadi kebutuhan melalui edukasi publik.  Gadget, fashion, aksesoris sampai kuliner, menjadi kebutuhan umum terutama para pemuda setelah diiklankan oleh artis-artis idolanya.   Apapun yang dipakai sang idola diburu tanpa pertimbangan kebutuhan lagi. 
Maka diciptakan terus idola-idola baru.  Kontes-kontes pencarian bakat menjamur.  Remaja dan pemuda terobsesi menjadi artis : kaya dan tenar.  Tak peduli meski untuk meraih ambisi ini mereka harus membuka aurat, bergaul bebas dengan lawan jenis dan lain-lain yang menabrak aturan agama. 
Di sini, di media massa dan sosial media yang menyasar pemuda, kebebasan adalah dewa.  Fenomena dua selebgram, Awkarin dan Anya Geraldine, dua gadis muda yang rajin mengunggah foto dan video-video gaya hidupnya, termasuk gaya berpacaran dan bertingkah laku yang bebas bablas, bisa menjadi ilustrasi edukasi publik seperti apa yang saat ini berlangsung.
Masalahnya, konsumen edukasi publik ini mayoritas adalah pemuda.  Mereka melahap berbagai informasi tanpa penyaringan.  Tak ayal, terjadilah perusakan secara massif terhadap kepribadian mereka.  Untuk bisa memenuhi biaya tinggi dalam mengikuti gaya hidup idola mereka, sebagian remaja putri tak segan melacurkan diri, sementara yang laki-laki terjun dalam dunia kriminal.
3.  Institusi Pendidikan.  Sistem pendidikan yang diterapkan dalam institusi pendidikan adalah sistem pendidikan sekuler.  Kurikulum yang diterapkan merupakan kurikulum sekuler.  Artinya, materi dan metode pengajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam didesain untuk menjadikan Islam sebagai pengetahuan belaka, ini di satu sisi.  Di sisi lain, jam mata pelajaran pendidikan agama dirancang sangat minimalis, tiga hingga empat jam sepekan.
Akibatnya, Allah SWT dipahami sebatas gagasan kebaikan sebagaimana pandangan Barat terhadap konsep ketuhanan.  Para pelajar  tidak akan sampai pada pemahaman konsep keridhoan Allah SWT sebagai standar kebahagiaan tertinggi yang harus diraih.  Aspek kemashlahatan tetap menduduki posisi lebih tinggi daripada konsep halal haram dalam menstandarisasi aktivitas.  Di samping itu, Islam hanya dipahami sebagai agama yang mengatur urusan akhirat, bukan sebagai sistem kehidupan yang mengatur dan memberikan solusi atas setiap persoalan kehidupan manusia. 
Kurikulum pendidikan juga menjadi sarana untuk memasukkan paham-paham sesat arahan Barat seperti pluralisme dan liberalisme.  Pada para pelajar ditanamkan pemikiran toleransi yang mengarah pada pengakuan kebenaran semua agama.  Ditanamkan paham kebebasan dalam berpikir, berpendapat, kebebasan kepemilikan, berkeyakinan dan bertingkah laku.
Bila pemikiran semacam ini sudah ter-install dalam benak para pemuda, akan mudah bagi Barat untuk menancapkan hegemoni ideologinya di negeri muslim terbesar ini.  Bagaimana tidak, para pemuda yang kelak akan mewarisi negeri sudah menjadikan Barat sebagai kiblat.  Mereka berpikir dengan cara berpikir Barat, bertingkah laku dengan perilaku Barat, dan melangkah dengan arahan Barat.  Islam hanya sekedar baju luar saja, isi dalamnya adalah pemikiran Barat.
Dari pembahasan di atas tampak betapa tiga pilar pendidikan menjadi rapuh karena masuknya ideologi kapitalis beserta anak-anaknya: liberalisme dan sekulerisme.  Selama sistem kapitalis yang mendominasi warna negara ini tidak di-delete, selama itu pula semua persoalan kerusakan generasi yang terjadi tidak akan bisa terselesaikan secara tuntas. 
Sudah waktunya kita berpaling dari sistem kapitalis-sekuler, kembali pada Islam yang telah Allah jadikan sebagai solusi bagi setiap permasalahan kaum muslimin.  Hal ini ditegaskan dalam ayat berikut:
وَنَزَّلنا عَلَيكَ الكِتٰبَ تِبيٰنًا لِكُلِّ شَيءٍ وَهُدًى وَرَحمَةً وَبُشرىٰ لِلمُسلِمينَ
Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Quran sebagai penjelas segala sesuatu; juga sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim (QS an-Nahl [16]: 89).
Menurut Al-Jazairi (II/84), frasa tibyan[an] li kulli syay[in] bermakna: menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umat (Al-Jazairi, II/84). Ayat di atas juga menegaskan bahwa al-Quran merupakan petunjuk (hud[an]), rahmat (rahmat[an]) dan sumber kegembiraan (busyra) bagi umat.

SISTEM PENDIDIKAN BERVISI INSAN KAMIL
Islam memiliki konsep pendidikan yang berbeda secara diametral dengan konsep pendidikan Barat.  Perbedaan terbesarnya terletak pada ideologi yang melandasinya.  Sistem pendidikan Islam didasarkan pada aqidah Islam, yang mengharuskan tujuan, kurikulum, materi dan metode yang digunakan semua merujuk pada pemikiran dan konsep yang terpancar dari aqidah Islam. 

Visi Pendidikan Islam
Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.  Tujuan pendidikan yang telah digariskan syari’at Islam adalah   membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) secara utuh, yakni pola pikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah Islam.
Dengan tujuan pendidikan seperti ini, output yang akan dihasilkan dari pendidikan Islam adalah generasi yang bertaqwa, tunduk dan taat pada hukum-hukum Allah, bukan generasi yang miskin moralitas, lemah dan tidak memiliki ghirah agama.
Nash-nash syariah juga telah menetapkan pendidikan sebagai hajah asasiyyah (kebutuhan dasar) yang harus  dijamin ketersediaannya di tengah-tengah masyarakat oleh negara, seperti halnya keamanan dan kesehatan.  Di antara nash-nash syariah yang menetapkan pendidikan sebagai hajah asasiyyah adalah sabda Nabi saw.:
إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأَ فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ بِماَ بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
Permisalan hidayah dan ilmu yang Allah SWT sampaikan kepada diriku bagaikan air hujan yang menimpa sebidang tanah. Di antara tanah itu ada tanah baik yang mampu menyerap air dan menumbuhkan rerumputan serta  pepohonan yang sangat banyak. Di antara tanah itu ada pula tanah liat yang mampu menahan air sehingga Allah SWT memberikan manfaat kepada manusia dengan tanah tersebut; manusia bisa meminum air darinya, mengairi kebun-kebunnya dan memberi minum hewan-hewan ternaknya.  Air hujan itu juga menimpa tanah jenis lain, yaitu tanah datar lagi keras yang tidak bisa menahan air dan menumbuhkan rerumputan.  Demikian-lah, ini adalah perumpamaan orang yang faqih terhadap agama Allah, dan orang yang bisa mengambil manfaat dari apa-apa yang telah Allah sampaikan kepada diriku sehingga ia bisa belajar dan mengajarkan (ilmu tersebut kepada orang lain). Ini juga perumpamaan orang yang menolak hidayah dan ilmu dan tidak mau menerima hidayah Allah SWT yang dengan itulah aku diutus (HR al-Bukhari dan Muslim).
Di dalam hadis ini dituturkan bahwa penerimaan dan penolakan manusia terhadap hidayah dan ilmu diidentikkan dengan sebidang tanah dan air hujan.  Air hujan  termasuk hajah asasiyyah bagi manusia, yang kalau tidak dipenuhi akan menyebabkan kebinasaan bagi manusia. Pengidentikan ilmu dan hidayah dengan air hujan menunjukkan, bahwa ilmu dan hidayah merupakan hajah asasiyyah sebagaimana air hujan.  Riwayat di atas juga diperkuat hadis-hadis lain, seperti hadis-hadis berikut ini:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ
Sesungguhnya di antara tanda-tanda datangnya Hari Kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tersebarnya kebodohan (HR al-Bukhari dan Muslim).
Riwayat - riwayat di atas menunjukkan bahwa lenyap dan berkurangnya ilmu merupakan mudlorat (ancaman/bahaya) bagi kehidupan manusia. Mudlorat ini hanya bisa dihilangkan dengan cara menyelenggarakan pendidikan berkesinambungan di tengah-tengah masyarakat.  Sebab, ilmu dan hidayah hanya bisa dipelihara dan dijaga ketika keduanya dipelajari dan diajarkan secara terus-menerus di tengah-tengah masyarakat.  Dengan demikian, hadis-hadis ini semakin meneguhkan bahwasanya pendidikan merupakan hajah asasiyyah (kebutuhan dasar) yang harus dijamin ketersediaannya di tengah-tengah masyarakat oleh Negara.
Di dalam Kitab al-Iqtishadiyyah al-Mutsla disebutkan bahwa jaminan atas pemenuhan kebutuhan dasar (hajah asasiyyah) bagi seluruh rakyat seperti pendidikan, keamanan dan kesehatan, berada di tangan negara.   Ketentuan ini didasarkan pada sabda Nabi saw.:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR al-Bukhari).
Atas dasar itu, dalam Islam, negara wajib menjamin setiap warga negara dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dengan mudah.  Dalam konteks pendidikan, jaminan terhadap pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi seluruh warga negara  diwujudkan dengan cara menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi rakyat.  Imam Ibnu Hazm, dalam kitabnya, Al-Ihkâm, menjelaskan bahwa kepala negara (khalifah) berkewajiban untuk memenuhi sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat.
Kewajiban ini didasarkan pada kebijakan Rasulullah saw ketika beliau menetapkan para tawanan Perang Badar dapat bebas jika mereka mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah.  Hal ini merupakan tebusan. Dalam pandangan Islam, barang tebusan itu merupakan hak Baitul Mal (Kas Negara).  Artinya, Rasulullah saw. telah menjadikan biaya pendidikan itu setara nilainya dengan barang tebusan yang seharusnya milik Baitul Mal. Dengan kata lain, beliau memberikan upah kepada para pengajar (yang tawanan perang itu) dengan harta benda yang seharusnya menjadi milik Baitul Mal. Kebijakan beliau ini dapat dimaknai, bahwa kepala negara bertanggung jawab penuh atas setiap kebutuhan rakyatnya, termasuk pendidikan.

Paradigma pendidikan sebagai salah satu kebutuhan mendasar bagi rakyat sehingga negara wajib mengadakannya, jelas bertolak belakang dengan paradigma kapitalis dalam pendidikan.  Dalam paradigma kapitalis, pendidikan adalah komoditi yang bisa diperdagangkan.  Maka tak heran jika pendidikan diprivatisasi dan dibisniskan.  Orientasinya bukan lagi mencetak generasi unggul namun bagaimana mendapatkan untung.


Diambil dari makalah Kongres Ibu Nusantara ke-4 DKI Jakarta, 24 Desember 2016 di Balai Sudirman Jakarta Selatan
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget