Royatul Islam Hidup Selamanya

Oleh : Abu Nusaibah Royatul Islam

Di mana ada kematian, di situ ada kehidupan. Di mana ada kegelapan, di situ ada cahaya. Di mana ada cerita horor, di situ ada legenda.

Semoga Allah Memberikan Rahmat dan Berkah Pada Utsman Badar, Syabab Hizbut Tahrir Australia Yang Telah Menceritakan Heroisme Brigade Royatul Islam di Aleppo. Semoga Allah Menyempurnakan Pahala Syahid Pada Seluruh Anggota Brigade Royatul Islam. Aaamiinnn.

Sabtu (21/01/2017) dini hari, sebanyak 36 syabab berkumpul untuk yang pertama dan terakhir kali menjelang pendakian Gunung Tertinggi Jawa Barat, Ciremai 3.078 mdpl. Sebelumnya, mereka hanya berkoordinasi melalui media sosial dan mempersiapkan diri dari daerah masing-masing. Mereka berasal dari Bandung, Cirebon, Kuningan, Jakarta, dan Bekasi.

Salah satu penginapan di Jln. Kanggraksan, Cirebon, menjadi saksi bisu misi gabungan yang dilakukan oleh para syabab pemberani tersebut.

Mereka bukanlah pendaki profesional, mereka bukanlah pasukan terlatih, mereka juga bukan pemuda kuat berdada bidang dan berotot tebal. Mereka adalah pengemban dakwah, orang-orang yang yakin terhadap Mabda Islam, yang merindukan Syariah dan Khilafah tegak di muka bumi. Beberapa di antara mereka adalah Dedi Saptaiji (56 tahun), Muhammad Indra Themmy (54 tahun), Dadan Hendarsah (50 tahun), dan Ilham Zairi (15 tahun).

Mereka semua, dihadapkan pada salah satu gunung paling terkemuka di Indonesia. Gunung yang menyimpan banyak cerita, baik mengenai keindahannya maupun tentang para pendaki yang mesti kehilangan nyawanya.

Sebelum 36 syabab tersebut mendaki Gunung Ciremai, mereka berkumpul untuk mendapatkan penjelasan teknis terkait pendakian dari Ketua Misi Royatul Islam, Aconk Haryadi, Wakil Ketua Misi, Tachta Rizqi Yuandri, dan Ketua Divisi Peserta, Rahmat Supriatna (Brand). Mereka bertiga menyampaikan sejumlah pesan penting untuk diperhatikan, terutama terkait skenario pendakian.

Pekik takbir menggema di tengah kegembiraan menyambut kemenangan yang hampir tiba. Doa dan dzikir dilantunkan pada detik detik sepertiga malam terakhir. Berharap Allah dan malaikatNya menjadi penjaga mereka, pembawa Kalimat Tauhid, pengusung Al Liwa dan Ar Rayah.

Setelah melakukan rapat teknis dan mendirikan sholat tahajud, seluruh anggota misi pun berangkat sesuai regu masing-masing.

Misi Royatul Islam adalah misi mengibarkan Al Liwa (Bendera Islam) Raksasa 5x7 meter dan Ar Rayah (Panji Islam) Raksasa yang juga berukuran sama. Pendakian tersebut bukanlah pendakian biasa, karena dilakukan melalui tiga jalur pendakian secara sekaligus.

Jalur Palutungan didaki oleh Regu Al Islam (14 anggota) yang bertugas membawa peralatan dokumentasi. Jalur Apuy didaki oleh Regu Al Liwa (11 anggota) yang bertugas membawa Al Liwa Raksasa. Sementara Jalur Linggarjati didaki oleh Regu Ar Rayah (11 anggota) yang bertugas membawa Ar Rayah Raksasa.

Pendakian melalui tiga jalur terinspirasi oleh Perang Badar dan Fathu Makkah. Pada Perang Badar, Umat Islam dihadapkan pada dua pilihan, dibinasakan Kaum Musyrikin atau mendapatkan Pertolongan Allah. Sementara ketika Umat Islam telah mendapatkan Pertolongan Allah, mereka terus berjaya hingga akhirnya bisa membebaskan Kota Mekah dan memasukinya dari tiga penjuru.

Pasukan Islam datang dari 3 penjuru dengan masing-masing pasukan dipimpin oleh Khalid bin Walid, Zubair bin Awwam, dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah.

Bercermin dari hal di atas, maka keberhasilan Misi Royatul Islam, selain ditunjang oleh persiapan yang matang dan maksimal, juga ditentukan oleh turunnya Pertolongan Allah. Oleh karena itu, para pendaki adalah mereka yang meyakini Islam sebagai mabda dan meyakini Allah sebagai sumber kekuatan, satu-satunya pemberi pertolongan.

Apakah kamu mengira akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
(QS. Al Baqarah 214)

Ternyata, memang pertolongan Allah tidak gratis. Selama pendakian, Dia terus membeli upaya terbaik setiap individu untuk imbalan diberikannya pahala terbaik dan pertolongan-Nya. Sebelum Misi Royatul Islam diberikan Pertolongan Allah dan dimenangkan oleh-Nya, berbagai ujian menimpa setiap regu. Cedera kaki, dehidrasi, kekurangan makanan, hipotermia, tersesat, hingga hampir melayangnya nyawa salah seorang anggota misi.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ustadz Felix Siauw terhadap seluruh anggota misi sebelum melakukan pendakian, berbagai ujian ukhuwah dan godaan putus asa juga kerap menghinggapi selama perjalanan misi.

Namun demikian, semua itu berhasil dilewati, seluruh anggota Misi Royatul Islam berhasil mencapai Atap Jawa Barat. Al Liwa Raksasa dan Ar Rayah Raksasa pun berhasil dikibarkan. Seluruh peristiwa yang dialami oleh 36 Anggota Misi Royatul Islam, akan menjadi kisah yang tidak terlupakan. Perjuangan selama sekitar 48 jam di Gunung Tertinggi Jabar, menjadi kenangan manis. Kemenangan Bendera Islam dan Panji Islam di Atap Jawa Barat, akan hidup selamanya bersama kenangan Brigade Royatul Islam di Aleppo.

Wahai kaum mukmin, sekali-kali kalian jangan beranggapan bahwa para mujahid yang terbunuh ketika membela Islam itu mati. Mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka, dan selalu memperoleh rahmat. Para syuhada selalu gembira dengan rahmat yang Allah berikan kepada mereka. Para syuhada selalu diberi kabar gembira tentang saudara-saudaranya yang akan menyusul sesudah mereka. Para syuhada tidak mempunyai rasa takut menghadapi musuh, dan tidak mempunyai rasa sedih kehilangan jiwa dan harta mereka. Para syuhada selalu digembirakan dengan nikmat Allah dan karunia-Nya. Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang mukmin.
(QS. Ali Imran 169-171)

Keberhasilan misi ini, menjadi bukti. Dengan berbagai keterbatasan sekalipun, ketika persiapan dilakukan dengan serius dan matang, ketika doa-doa telah dipanjatkan, ketika fisik dan mental telah dikerahkan hingga batas maksimal, ketika tiada lagi daya dan upaya yang dapat dilakukan manusia, maka segalanya mudah bagi Allah.

Saudaraku, Syabab dan Syabah di manapun kalian berada. Demi Allah, berjuanglah, bertahanlah, hingga kita dimenangkan oleh Allah, atau binasa dalam perjalanan menuju kemenangan. Kisah mengenai 36 pendaki mungkin hanya main-main dibandingkan perjuangan kalian, terlebih jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh para syuhada. Akan tetapi, inilah yang sementara dapat mereka lakukan, hingga Allah memberikan mereka kesempatan untuk mengikuti langkah para syuhada, memurnikan jiwa dan darah mereka dengan politik luar negeri yang hakiki, dakwah dan jihad.

Inilah kisah mereka

Bersambung...
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget