Negara Paling Bertanggung Jawab Atas Meningkatnya Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak




Oleh: Irfan wahyudin (Mahasiswa FPEB UPI)
Setiap orang tua menginginkan putra/putrinya tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan tingkat usianya. Namun, apa jadinya jika harapan tersebut sirna karena pihak tak bertanggung jawab telah merenggut massa depan putra/putrinya? Seperti kita ketahui kasus kekerasan seksual terhadap anak makin mencuat akhir-akhir ini. Berbagai portal berita bahkan menyediakan topik khusus guna membahas berita ini. sebagai contoh Republika.co.id memberitakan bahwa kasus kekerasan terhadap anak di kota Surabaya hingga Oktober 2016 tercatat sebanyak 224 kasus. Angka ini hampir sama dengan jumlah kasus kekerasan anak selama 2015 sebanyak 227, NTB mencatat tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan sebanyak lebih dari 300 kasus bahkan berpotensi lebih tinggi karena masih banyak kasus yang belum terungkap, Merauke mencatat kasus kekerasan terhadap anak pada tiga tahun terakhir (selama 2013-2015) mengalami peningkatan ratusan kasus, bahkan Sleman yang telah direncanakan sebagai pilot preject kabupaten Ramah Anak tingkat nasional mencatat 157 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang tahun 2016. Selain republika.co.id, merdeka.com memberitakan bahwa pemerintah Kota Bekasi mencatat jumlah kekerasan terhadap anak meningkat sepanjang 2016 mencapai 127 kasus. Pikiran-rakyat.com memberitakan bahwa kasusu-kasus kekrasan terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah meningkat dua kali lipat, tahun 2016 dilaporkan 54 kasus, sebelumnya hanya 16 kasus.
Sungguh perasaan orang tua mana yang tak sedih jika kasus tersebut melanda putra/putrinya? Putra/putrinya akan merasakan trauma yang berkepanjangan, bukan hanya kasus tersebut telah selesai di meja hukum, namun akan teringat sampai sang anak beranjak dewasa. Jika kita cermati berkembangnya kasus kekerasan seksual terhadap anak tiap hari makin meningkat, ibarat fenomena gunung es, hanya segelintir kasus yang terlihat di permukaan, diperkirakan masih banyak kasus yang belum terungkap. Menurut Retnaningsih (2014), Ada beberapa pihak yang dianggap bertanggung jawab dalam maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak. Pertama keluarga. Keluarga dianggap lalai dalam menjalankan fungsi pendidikan terutama pendidikan seks terhadap anak sehinga memudahkan pelaku untuk melakukan perbuatan bejatnya. Kedua adalah lingkungan. Lingkungan masyarakat yang permisif, tak acuh, membuat pelaku kejahatan bebas melakukan aksinya. Ketiga adalah negara. Pembahasan peran negara bukan sebatas sebagai pemberi sanksi. Lebih dari itu berkaitan dengan sistem apa yang diterapkan oleh negara.
Jika kita menelaah secara mendalam, negaralah yang semestinya menempati posisi sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas terjadinya kasus seksual kekerasan terhadap anak. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia menganut sistem demokrasi kapitalisme yang dengan sengaja membiarkan virus liberalisme merjalela. Kebebasan yang kebablasan dari cara hidup liberal telah menghalalkan berbagai sarana pemuas nafsu, tanpa memandang lagi akibat yang ditimbulkan. Tak hanya itu, negara membiarkan masyarakat berhadapan dengan serbuan pornografi dan pornoaksi dari berbagai media massa, terutama internet.
Dengan demikian, kasus kekerasan seksual pada anak pada dasarnya penyebabnya penerapan sistem demokrasi kapitalisme. Sistem yang rusak melahirkan kerusakan di semua lini kehidupan. Maka, penyelesaian yang dilakukan oleh negara tidak efektif jika hanya dilakukan secara parsial dengan menggencarkan pendidikan seks pada anak semenjak dini atau dengan memperberat hukuman terhadap pelaku. Perlu solusi komprehensif untuk menyelesaikan kasus kekerasan tersebut. Satu-satunta solusi adalah dengan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah.
InsyaAllah penjelasan secara rinci mengenai tanggung jawab negara Khilafah dalam melindungi anak-anak dari kekerasan akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

Wallahu’alam       

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget