Krisis Toleransi Di Negri Para Wali



BDG.NEWS, Bandung - Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan dengan berita adanya para pelajar muslim di Purwakata yang ikut mempersiapkan perayaan natal dengan membersihkan gereja-gereja di daerahnya. Hal ini dilatarbelakangi adanya “anjuran” dari bupati Purwakarta agar para guru memberikan tugas kepada murid-muridnya untuk membersihkan gereja. “Kegiatan tersebut sengaja digulirkan agar anak-anak sejak dini memiliki spirit harmoni bertoleransi,” ungkap Dedi Mulyadi. (detiknews.com, 22/12/16)

Memang setiap memasuki bulan Desember Kaum Muslimin di negeri ini pasti dihadapkan dengan dua isu, yakni isu toleransi dan isu terorisme. Isu ini terjadi berulang disetiap tahunnya dengan pola yang sama, maka wajar jika kemudian timbu anggapan isu ini bukan tanpa disengaja, tapi merupakan isu bentukan untuk menciptakan suatu persepsi di tengah masyarakat.

Pertama, menciptakan berita terorisme secara masif di setiap media. Berita perencanaan ataupun kejadian bom di gereja-gereja oleh pihak yang mereka sebut teroris terus diputar di media-media mainstream, bahkan isu terorisme yang terkesan dipaksakan pun digulirkan. Seperti kasus terorisme Purwakarta, dengan menjadikan alat timbangan sebagai alat bukti. (detik.com, 26/12/16). Isu terorisme ini kemudian digiring ke isu toleransi, seperti tidak boleh mengganggu ibadah orang lain, harus menghormati, mengucapkan selamat natal, bahkan mengikuti perayaan natal dengan istilah natal bersama. Tentu tujuan akhirnya bukan hanya berhenti pada momen perayaan natal saja, tetapi lebih jauh lagi adalah menciptakan kaum muslimin yang memiliki “toleransi” tinggi. Muslim yang mampu menerima, mendukung bahkan membaur dengan “syariat” orang lain, dan melupakan syariatnya sendiri. Pertanyaannya, apakah begitu rendah nilai toleransi kaum muslimin Indonesia sehingga harus dibentuk dan digiring sedemikian rupa? Toleransi apa yang dimaksud oleh para penggiring isu tersebut?

Konsep dan Makna Toleransi

Bila kita mau mengamati terbentuknya konsep toleransi antara Islam dan Barat, maka akan kita dapatkan bahwa motif terbentuknya konsep toleransi antar keduanya sangat berbeda. Konsep toleransi dalam Islam dibentuk oleh ajaran Islam itu sendiri, yakni dari sumber hukumnya baik berupa Al-Quran, Al-Hadits, Ijma atau pun Qias. Sedangkan Barat, dibentuk berdasarkan sejarah ataupun reaksi terhadap kondisi sosial dan politik mereka.

Dalam sejarahnya, peradaban Barat pernah mengalami masa yang pahit, yang dikenal dengan “zaman kegelapan” (the dark age). Zaman itu disebut zaman kegelapan karna pada masa itu Eropa benar-benar berada pada kondisi yang mengerikan. Dimulai ketika Imperium Romawi Barat runtuh pada 476 H dan mulai munculnya Gereja Kristen sebagai institusi dominan dalam masyarakat Kristen Barat.

Pada “zaman kegelapan” inilah terjadi banyak penyelewengan dan penindasan kepada rakyatnya dengan mengatasnamakan agama. Penindasan yang terkenal paling jahat pada waktu itu adalah, apa yang dilakukan oleh institusi Gereja dengan nama Inquisisi. Inquisisi adalah hukuman terhadap kaum heretic (kaum yang di cap menyimpang dari doktrin resmi gereja). Karen Armstrong, mantan biarawati dan penulis terkenal, menggambarkan inquisisi dalam sejarah sebagai berikut, “Sebagian besar kita tentunya setuju bahwa salah satu dari institusi Kristen paling jahat adalah Inquisisi, yang merupakan instrument terror dalam Gereja Katholik sampai dengan akhir abad ke-17. Metode inquisisi ini juga digunakan oleh Gereja Protestan untuk melakukan penindasan dan kontrol terhadap kaum Katolik di negara-negara mereka.”

Kharis Nugroho, Lc. Dalam artikelnya yang berjudul “Toleransi Islam vs Toleransi Barat” mengutip tulisan Robert Held dalam bukunya Inquisition dalam menggambarkan bentuk kejahatan inquisisi. Ada lebih dari 50 jenis dan model alat-alat siksaan yang sangat brutal yang digunakan oleh institusi gereja pada waktu itu, seperti pembakaran hidup-hidup, pencukilan mata, gergaji pembelah tubuh, pemotongan lidah, alat penghancur kepala, pengebor vagina, dan berbagai alat dan model siksaan lain yang sangat brutal. Ironisnya lagi, sekitar 85 persen korban penyiksaan dan pembunuhan adalah wanita. Antara tahun 1459-1800, diperkirakan antara dua-empat juta wanita dibakar hidup-hidup di dataran Katolik maupun Protestan Eropa.

Penyelewengan yang berujung penindasan atas nama agama ini tidak hanya muncul dari agama Kristen saja, tetapi terjadi pula dalam ajaran Yahudi. Dalam Kitab Perjanjian lama mereka, dinyatakan bahwa sikap mereka terhadap kelompok lain tidak hanya sebatas kebencian, pelaknatan dan pengingkaran. Namun mereka juga diperintah untuk membumihanguskan bangsa-bangsa lain, karena – menurut mereka – bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan (the Chosen People). Pemusnahan semua kelompok lain, menurut mereka adalah merupakan perintah Tuhan. Dalam kitab mereka, kitab Talmud disebutkan "hanya orang-orang bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia melainkan binatang." (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a). “Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a). "Orang-orang Non Yahudi boleh dibantai / dibunuh krn hukumnya Wajib." (Sanhedrin 58)

Peristiwa penyelewengan dan penindasan atas nama agama oleh kaum agamawan ini memunculkan perlawanan dari kaum ilmuan, hingga muncullah zaman renaissance sekitar abad ke-14. Renaissance artinya rebirth (lahir kembali), karena masyarakat Barat merasa bahwa ketika hidup di bawah cengkeraman kekuasaan Gereja, mereka seolah mengalami kematian. Pada zaman Renaissance ini, muncul polemik antara kaum ilmuan yang mengigninkan penghapusan agama –akibat trauma masalalu akan adanya penyelewengan agama- dengan kaum agamawan yang mempertahankan ajaran agama. Polemik ini pada akhirnya menghasilkan solusi tengah dengan munculnya ide sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Ajaran agama diperbolehkan tetap ada, dengan catatan hanya pada ranah privat, tidak boleh memasuki ranah kehidupan umum. Dari ide sekulerisme inilah muncul pemikiran toleransi di Barat. Adalah John Locke figur yang cukup terkenal dalam menelurkan ide toleransinya, yaitu dengan menjabarkan tiga pikiran mengenai pentingnya toleransi. Pertama, hukuman yang layak untuk individu yang keluar dari sekte tertentu bukanlah hukuman fisik melainkan cukup ekskomunikasi (pengasingan).Kedua, tidak boleh ada yang memonopoli kebenaran, sehingga satu sekte tidak boleh mengkafirkan sekte yang lain. Ketiga, pemerintah tidak boleh memihak salah satu sekte, sebab masalah keagamaan adalah masalah privat. Tiga doktrin inilah yang kemudian membentuk doktrin toleransi di dunia Barat (negara-negara demokrasi Barat).

Maka konsep toleransi yang muncul di dunia Barat adalah ide yang terlahir dari sekulerisme, ide yang menuntut terpisahnya urusan agama dan urusan kehidupan (dunia). Ide toleransi seperti ini tentu tidak sesuai dengan Islam, yang menuntut agama menjadi pedoman dalam setiap aktivitas kehidupan, bukan hanya dalam masalah ibadah ritual (privat) saja.

Toleransi dalam Islam

Istilah toleransi - sebagaimana disebutkan dalam buku Tren Pluralisme Agama karya Dr Anis Malik Toha -, pada dasarnya tidak terdapat dalam istilah Islam, akan tetapi termasuk istilah modern yang lahir dari Barat sebagai respon dari sejarah yang meliputi kondisi politis, sosial dan budayanya yang khas dengan berbagai penyelewengan dan penindasan. Oleh karena itu, sulit untuk mendapatkan padanan katanya secara tepat dalam bahasa Arab yang menunjukkan arti toleransi dalam bahasa Inggris. Hanya saja, beberapa kalangan Islam memandang perlu adanya pluralisme ini dan mereka membincangkan topik ini dengan menggunakan istilah “tasamuh”, yang kemudian menjadi istilah baku untuk topik ini. Dalam kamus Inggris-Arab, kata “tasamuh” ini diartikan dengan “tolerance”. Padahal jika kita merujuk kamus bahasa Inggris, akan kita dapatkan makna asli “tolerance” adalah “to endure without protest” (menahan perasaan tanpa protes).

Sedangkan kata “tasamuh” dalam al-Qamus al-Muhith, merupakan derivasi dari kata “samh” yang berarti “jud wa karam wa tasahul” (sikap pemurah, penderma, dan gampangan). Dalam kitab Mu’jam Maqayis al-Lughah karangan Ibnu Faris, kata samahah diartikan dengan suhulah (mempermudah). Pengertian ini juga diperkuat dengan perkataan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari yang mengartikan kata al-samhah dengan kata al-sahlah (mudah), dalam memaknai sebuah riwayat yang berbunyi, Ahabbu al-dien ilallahi al-hanafiyyah al-samhah. Perbedaan arti ini tentu mempengaruhi pemahaman penggunaan kata ini dalam kedua bahasa tersebut (Arab-Inggris).

Dengan demikian, dalam mengkaji konsep toleransi dalam Islam, sepatutnya kita sebagai muslim merujuk kepada makna asli kata samahah dalam bahasa Arab yang artinya mempermudah, memberi kemurahan dan keluasan, dan bukan merujuk dari arti kata tolerance dalam bahasa Inggris yang artinya menahan perasaan tanpa protes. Tentu, makna memudahkan dan memberi keluasan di sini bukan mutlak sebagaimana dipahami secara bebas, melainkan tetap menggunakan tolok ukur sumber hukum Islam.

Konsep toleransi dalam Islam dibentuk dari kaidah yang bersumber dari ayat Al-Qur’an yang berbunyi,
“Untukmu agamamu dan untukku agamaku” (Q.S. Al-kafirun : 6)
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah maha mendengar maha mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah : 256)

Pada ayat terakhir, meski pada kaidah ini tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam, tapi tidak menafikkan unsur dakwah dalam Islam yang bersifat mengajak, bukan memaksa. Dari kaidah ini pulalah maka ketika non-muslim (khususnya kaum dzimmi) berada di tengah-tengah umat Islam atau di negara Islam, maka mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam bahkan dijamin keamanannya karena membayar jizyah sebagai jaminannya.

Dalam muamalah, Islam menyuruh berbuat baik dalam bermasyarakat, baik itu kepada yang muslim atau non-muslim. Rasululullah memenuhi akad jual beli dan berbisnis dengan baik meski dengan orang Yahudi. Rasul pun pernah berdiri (sebagai tanda penghormatan) ketika lewat di hadapan beliau rombongan yang membawa mayat seorang Yahudi. Bahkan sampai wapatnya, Rasulullah tetap menunaikan kebiasaan beliau menyuapi dan menyayangi seorang pengemis Yahudi tua yang buta, padahal Yahudi tersebut senantiasa mencaci Rasulullah dengan kata-kata kasar. Sikap Rasulullah ini diikuti pula oleh para Sahabat Khulafaur Rasidin dan para khalifah setelahnya.

Sikap Rasulullah yang diikuti para sahabat dan para khalifah setelehnya ini tentu bukan tanpa landasan. Dalam hal ini Allah berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Mumtahanah: 8-9).

Imam al-Syaukani (1250 H) dalam Fath al-Qadir menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah Allah tidak melarang berbuat baik kepada kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan umat Islam dalam menghindari peperangan dan tidak membantu orang kafir lainnya dalam memerangi umat Islam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak melarang bersikap adil dalam bermuamalah dengan mereka. Ini merupakan dalil bahwa berbuat baik kepada non-Muslim merupakan kewajiban, selama orang-orang non-Muslim itu tidak memerangi dan mengusir umat Islam dari negeri mereka, serta tidak membantu orang lain untuk mengusir umat Islam dari negeri mereka. Bahkan Rasulullah SAW mengancam terhadap umatnya yang berbuat zalim kepada non-Muslim yang sudah terikat perjanjian dengan umat Islam dengan ancaman tidak masuk surga. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membunuh non-Muslim yang terikat perjanjian dengan umat Islam, maka ia tidak akan mencium keharuman surga. Sesungguhnya keharuman surga itu bisa dicium dari jarak empat puluh tahun perjalanan (di dunia)”. (H.R Bukhari).

Permasalahannya adalah, ketika muamalah dengan non-muslim ini masuk dalam ranah akidah dan peribadatan, maka banyak orang salah paham. Mereka mengira bahwa toleransi dalam masalah keikutsertaan acara-acara non-muslim diperbolehkan dengan tujuan untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Padahal toleransi seperti ini di dalam syariat terdapat dalil-dalil yang melarang. Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan tersebut” (HR. Abu Dawud)
Ketika muamalah dengan non-muslim ini masuk dalam ranah akidah dan peribadatan, maka hal ini bisa dikategorikan dalam hal tolong menolong dalam dosa yang sudah jelas diharamkan. Allah Swt. telah melarang perbuatan tersebut sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
“Tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”. (Q.S. Al-Ma’idah 2).

Dalam memahami ayat ini, Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Allah memerintahkan orang beriman untuk tolong menolong dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Allah juga melarang umat Islam saling tolong menolong dalam kebatilan, dosa, dan sesuatu yang haram. Ritual non-Muslim adalah suatu amalan batil yang diharamkan oleh Allah Swt. yang menjadikan pelakunya berdosa. Oleh karena itu, keikutsertaan seorang Muslim dalam ritual mereka termasuk tolong menolong dalam kebatilan, dosa, dan hal yang diharamkan. Selain itu, keikutsertaan ritual non-muslim dengan alasan toleransi juga tidak bisa dibenarkan secara syar’i karena seseorang tersebut tergolong telah mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil. Allah berfirman,
“Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahui(Q.S Al-Baqarah: 42).
Imam al-Thabari menukil penjelasan Imam Mujahid (murid Ibnu Abbas) mengenai maksud ayat “Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil” adalah mencampuradukkan ajaran Yahudi dan Kristen dengan Islam.

Kesimpulan

Krisis toleransi saat ini bisa kita saksikan bahkan kita rasakan begitu dahsyat menimpa kaum muslimin di negeri para wali ini. Kaum muslimin yang selama ini dituduh sebagai subjek intoleran, justru pada faktanya adalah objek dari sikap intoleran kaum minoritas yang didukung kekuasaan kaum liberal. Di satu sisi kaum muslimin dipaksa untuk terlibat dalam peribadatan orang kafir, tapi di sisi lain kaum muslimin justru dipersulit untuk menjalankan syariat-Nya (sebagaimana yang terjadi di Tolikara, Denpasar, perusahaan-perusahaan dan sekolah anti jilbab, dll).

Maka sebagai seorang muslim, kita harus mengembalikan hakikat toleransi dalam kacamata Islam. Toleransi yang saat ini didengung-dengungkan oleh orang kafir dan orang liberal, jelas terlahir dari ide sekulerisme Barat yang jauh dari makna toleransi dalam Islam, karena pada hakikatnya toleransi yang mereka teriakkan adalah “katakan tidak untuk Islam dan syariat Islam”.

Mereka akan terus berkolaborasi untuk menghadang kaum muslimin menjalankan syariat Islam secara kaffah, sebagaimana orang munafik terdahulu, Abdullah bin sabba, yang bekerjasama dengan orang-orang Yahudi dan Kaffir mekah untuk memerangi dan menghancurkan Rasulullah dan kaum Muslimin. Sungguh orang-orang kafir tidak akan pernah rela Islam bangkit berjaya. Allah ta’ala berfirman,
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (TQS. Al-Baqarah : 120)
Hasbunallah wani’mal wakil, nimal maulaa wani’mannasir
Wallahua’lam bissawab.




Imam Mawirdi-Pengajar Sekolah Swasta Di Bandung
Editor : Hadi Rasyidi

Refersensi:
Taqiyudin An-Nabhani. “Peraturan Hidup Dalam Islam”. HTI Press 2007
Detik.news.com dan m.detik.com
Al-Islam edisi 735, 26 Shafar 1436 H – 19 Desember 2014 M
Nugroho Kharis. “Toleransi Islam vs Toleransi Barat”. www.voa-islam.com, 04/10/2010
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget