KRIMINALISASI ULAMA, BERBAHAYA!


Oleh :
Ustadzah Rina Komara
(Koordinator Lajnah Khusus Ulama dan Mubalighah Muslimah DPD I HTI Jawa Barat)

Belakangan ini, kita dikagetkan dengan pernyataan Kapolri yang menyebut fatwa MUI menjadi ancaman keberagaman dan kebhinekaan. Bagaimana tidak, fatwa yang dimaksud merupakan hasil pengkajian para ulama terhadap sebuah perkara berdasarkan pemahaman mereka terhadap al-Qur’an, as-Sunnah, ijma shahabat ataupun qiyas. Secara telanjang pengkajian para ulama tersebut dipandang Kapolri sebagai sebuah kesalahan.

Kejadian tidak mengenakkan pun terjadi di Kalimantan, saat segerombolan orang yang mengatasnamakan Dewan Adat Dayak (DAD) menolak kedatangan Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnain, saat mendarat di Bandara Susilo, Kab. Sintang (Kalimantan Barat) pada 12 Januari lalu. Padahal, Tengku Zulkarnain datang ke Kalimantan dalam rangka memenuhi undangan Bupati Sintang untuk berceramah dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Beberapa hari yang lalu, Ahok melaporkan Irene Handono setelah beliau menjadi saksi dari pihak pelapor dalam sidang penodaan agama di Jakarta pada 3 Januari lalu. Begitu juga dengan Habib Rizieq Shihab yang dilaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke polisi atas tuduhan menghina Pancasila.

Apa yang terjadi terhadap para ulama tersebut menunjukkan – dengan keulamaannya - ada upaya kriminalisasi terhadap mereka. Ulama yang sejatinya dalam posisi yang mulia, justru diposisikan sebagai pelaku kriminal yang layak dijadikan pesakitan. Mari kita perhatikan bagaimana Islam memposisikan para ulama.

Pertama, ulama menjadi lambang keimanan, menjadi tumpuan dan harapan umat karena selalu memberi petunjuk yang bersumber dari Islam. Keberadaannya laksana penerang dalam kehidupan. Mereka adalah pewaris para nabi (waratsatul anbiya). Kedudukan mereka dijelaskan oleh Nabi saw. di dalam haditsnya,

إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الهُدَاةُ

”Sesungguhnya perumpamaan ulama di muka bumi laksana bintang-bintang yang ada di langit yang menerangi gelapnya daratan dan lautan. Apabila padam cahaya bintang-bintang, maka jalan akan kabur” (HR. Ahmad)

Di dalam hadits yang lain Rasulullah saw. bersabda :

وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya kedudukan seorang alim dibandingkan ahli ibadah seperti kedudukan bulan di antara bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Menurut Imam Nawawi al Bantani, ulama adalah hamba Allah yang beriman, menguasai ilmu syariat secara mendalam dan memiliki pengabdian yang tinggi semata mata karena mencari keridhaan Allah SWT, bukan keridhaan manusia. Dengan ilmunya, mereka mengembangkan dan menyebarkan agama yang haq, baik dalam masalah ibadat maupun muamalah.

Kedua, ulama adalah orang-orang yang sangat takut kepada Allah SWT, baik di dalam hati, ucapan maupun perbuatannya, dan berpegang teguh kepada aturan Allah SWT. Firman Allah SWT :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya di antara hamba-hambaNya yang takut kepada Allah hanyalah ulama” (TQS. al-Fathir [35] : 28)

Ketiga, mereka tidak pernah mendiamkan, menyetujui dan mendukung kezhaliman dan siapapun yang berbuat dzalim. Allah SWT  berfirman :

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang berbuat zhalim, yang menyebabkan kalian disentuh api neraka dan tidak ada bagi kalian pendukung selain Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong” (TQS. Huud [11] : 113)

Dengan posisi mulia para ulama tersebut, sangat memungkinkan jika kriminalisasi ulama memiliki beberapa tujuan, diantaranya :

Pertama, untuk semakin menjauhkan ulama dari umat Islam. Dengan kriminalisasi terhadap para ulama, kepercayaan umat terhadap mereka akan luntur. Jika sudah terjadi demikian, umat tidak akan mau dekat-dekat dengan para ulama . Lebih jauh lagi, umat akan menjauh dari ajarannya. Ulama yang sejatinya menjadi petunjuk bagi umat dalam mengarungi kehidupan, menjelaskan mana yang halal dan mana yang haram, justru dicerabut kepercayaannya dari umat. Ujung-ujungnya, umat semakin terbodohkan dan mudah dibodohi, tidak bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Ini sangat jelas saat MUI belum mengeluarkan fatwa haramnya menggunakan atribut agama tertentu. Umat Islam yang tidak paham keharamannya, dengan lugu ikut-ikutan melakukannya dengan alasan toleransi, sedangkan yang sudah paham dengan terpaksa melakukannya gara-gara takut diberi sanksi oleh atasannya. Lain halnya ketika MUI mengeluarkan fatwa yang menjadi tuntunan bagi mereka, yang tidak paham menjadi paham, dan yang sudah paham semakin kuat untuk menentukan sikapnya. Jika para ulama dijauhkan kesempatannya dalam membina umat Islam, bagaimana nasib mereka dalam  kehidupan beragama mereka? Lebih dari itu, upaya penegakkan syariah Islam yang gaungnnya sudah semakin besar, bukan tidak mungkin akan mendapatkan penentangan dari umat Islam sendiri akibat ketidakpahaman mereka terhadap kewajiban penerapan ajaran Islam secara kaffah.

Kedua, untuk mengebiri kekritisan ulama terhadap kedzaliman dan kesewenangan penguasa. Ketika penguasa semakin represif terhadap para ulama, sangat mungkin terjadi ulama hanya diam terhadap kedzaliman dan kesewenangan yang dilakukan penguasa terhadap rakyatnya. Penerapan hukum-hukum Allah yang sejatinya dilakukan oleh negarapun hanya tinggal impian, karena tidak ada pihak yang mengoreksi dan menjaga penguasa untuk melaksanakan kewajiban ini. Padahal Allah SWT telah memerintahkan mereka untuk menghukumi rakyatnya dengan hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT kepada mereka. Firman Allah SWT :

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُون

"Dan (hendaklah) engkau memutuskan perkara di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (TQS al-Maidah [5] : 49)

Imam al-Ghazali menyatakan, ”Dulu tradisi para ulama mengoreksi dan menjaga para penguasa untuk menerapkan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat. Pernyataannya pun membekas di hati. Namun, sekarang terdapat penguasa yang zhalim tetapi para ulama hanya diam. Andaikan mereka bicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa akibat kerusakan ulama. Adapun kerusakan ulama akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapapun yang digenggam cinta dunia niscaya tidak akan mampu menguasai kerikilnya, apalagi untuk mengingatkan para penguasa dan para pembesar (Ihya ’Ulumuddin, juz 7, hal 92)

Tentu apa yang dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali terkait diamnya para ulama jangan sampai terjadi. Karena diamnya ulama hanya akan berdampak pada kerusakan rakyatnya, baik akibat kedzaliman dan kesewenangan penguasa, ataupun karena tidak diterapkannya syariah Islam oleh penguasa. Cukuplah kiranya peringatan Allah SWT akan dampak dari hal ini,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan  sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (TQS. ar-Ruum [30] : 41)

Para mufassir menafsirkan kata "bimaa kasabat aidinnaas" dengan "bima’aasyinnaas" (karena maksiyat manusia), yaitu dengan ditinggalkannya perintah Allah, sedangkan larangan-Nya justru dilaksanakan.

Oleh karena itu, kriminalisasi terhadap para ulama sangat berbahaya bagi umat, baik bagi kehidupan dunianya ataupun kehidupan akhiratnya. Namun patut disadari, bahwa kriminalisasi terhadap para ulama hanya akan terjadi dalam sistem kapitalisme-sekuler yang sangat menjunjung tinggi kebebasan. Upaya mengenyahkan sistem busuk inilah yang akan menjauhkan kriminalisasi terhadap para ulama. Sebaliknya, posisi para ulama yang mulia akan tetap terjaga dalam sistem yang mulia. Sistem tersebut tidak lain adalah sistem Islam yang diturunkan oleh Dzat Yang Maha Mulia, Dialah Allah SWT. Wallahu a’lam. []

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget