Indonesia Pakai Kartu Ahok



BDG.NEWS, Jakarta - Jokowi-Ahok adalah rezim bentukan Obama Demokrat via James Riyadi. Kampanye Ahok-Jarot mengadopsi model Hillary: sok pluralis, liberal, Pro LGBT, didukung mainstream media, menggunakan artis dan sebagainya. Semuanya serupa. Tapi gagal. Artis tidak punya pengaruh sedot massa. Cuma gaya-gayaan dan hura-hura. Yang punya umat adalah ulama dan ketua partai.

Pasca Hillary kalah, James bermanuver temui ulama NU. Banyak yang bilang dia cari perlindungan. Harry Tanoe diam-diam terus bermanuver: kasi gerobak Perindo kepada pedagang bakmi dan rokok di sekitar Jatinegara.

Target utama Trump adalah mematahkan expansi China. Putin sudah dirangkul. China sulit menang di Indonesia. Ahok berada di persimpangan jalan. Either way, pasti tumbang.

Para taipan berkolaborasi dengan otoritas politik memunculkan Ahok sebagi simbol pendekatan primordial dengan China. Tujuannya, menjilat Beijing. Agar Penguasa RRT membuka pasarnya bagi mereka. Namun alas, citra Beijing dan etnik Tionghoa di mata rakyat Indonesia malah runtuh akibat ulah pribadi Ahok.

Trump bisa memainkan kartu lama sentimen rasial Anti Tionghoa untuk menggebuk Beijing seperti aksi rasialis 10 Mei 1963 di Bandung. Ahok alat sempurna untuk itu. Pemerintah pusat bisa dengan mudah diobok-obok dengan menggunakan kartu Ahok 

Sumber : politik.rmol.co
Editor : Hadi Rasyidi

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget