HIV/AIDS Makin Meningkat, Fungsi Ro'in dan Junnah Negara Dipertanyakan



 Kasus HIV/AIDS di Jawa Barat semakin memperihatinkan. Dinas Kesehatan mencatat kasus HIV sejak 1989-2016 sudah ada 24.639 orang  dan kasus AIDS 7.432 orang. Dan kasus HIV/AIDS paling tinggi di Jawa Barat ada di Bandung. Dari data tersebut, diketahui 44% pasien adalah umur produktif di angka 20-29 tahun. Kemudian kasus paling banyak adalah disebabkan oleh penularan melalui jarum suntik. Prihatin, miris, itulah yang dirasakan oleh kita saat melihat kenyataan bahwa penyakit seksual menular dan mematikan itu setiap hari bukannya berkurang, namun sebaliknya justru semakin bertambah dan bertambah. 

Upaya pemerintah dalam mengatasi hal ini bukan tidak ada. Bahkan, program penanggulangan HIV/AIDS semakin gencar dilakukan. Bahkan, dibuat penyusunan kesepakatan rencana kegiatan penanganan HIV/AIDS bersama beberapa elemen. Diantaranya adalah Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Badan Narkotika Nasional, dan Lembaga Swadaya Masyarakat dari berbagai Kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Namun, yang perlu diperhatikan adalah  bahwa HIV/AIDS berawal dari permasalahan pergaulan bebas dan kebebasan perilaku yang sampai hari ini masih menjadi 'pekerjaan rumah' bagi pemerintah. Lihat saja, pacaran masih diperbolehkan, LGBT masih ditolelir, perzinahan tidak dilarang, bahkan pemberantasan narkoba hanya menyentuh target pengguna dan pengedar, sementara produsen kelas kakap masih bebas berkeliaran. Sepanjang pergaulan bebas dan kebebasan perilaku belum terselesaikan, maka permasalahan HIV/Aids tidak akan terselesaikan pula.

Cara Islam Menyelesaikan masalah HIV/AIDS
Negara adalah pihak yang paling memiliki tanggung jawab. Kerusakan di tengah masyarakat boleh jadi pada awalnya disebabkan oleh perilaku individu, namun saat negara menjalankan fungsinya sebagai ro'in (pengurus umat) dan junnah (penjaga umat), maka perilaku individu yang buruk akan segera dapat diselesaikan, bahkan dicegah.

Islam sejak awal mengharamkan pergaulan bebas, perzinahan, pelacuran juga narkoba. Inilah pintu awal HIV/AIDS merebak di tengah masyarakat. Negara dalam Islam akan melakukan beberapa hal berikut untuk menyelesaikan masalah HIV/AIDS. Pertama, negara mencegah pergaulan bebas, perzinahan, pelacuran dan narkoba secara individual dengan penanaman keimanan dan keterikatan dengan syariat Islam pada semua warga negara melalui para orang tua dalam keluarga, para ulama, guru-guru di sekolah dan para tokoh di tengah masyarakat. Keluarga-keluarga pengkaji Islam akan marak terbentuk jika negara memberikan keleluasaan pada masyarakat untuk menggiatkan kajian-kajian Islam di sekolah-sekolah, mesjid-mesjid, instansi-instansi, perusahaan-perusahaan, dan di semua tempat. Berbagai sarana-prasarana kota, seperti taman, gedung pertemuan, bahkan tempat wisata sekalipun, dibolehkan bahkan dipersilahkan untuk dijadikan tempat kajian Islam. Kedua, negara menerapkan peraturan dan sanksi  yang terkait pergaulan bebas dan kebebasan perilaku. Misalnya : kewajiban menutup aurat baik laki-laki dan perempuan, larangan berdua-duaan (khalwat), larangan ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram), larangan berzina, larangan narkoba, sekaligus menerapkan sanksi bagi setiap pelanggaran hal-hal tersebut.

Dua hal diatas jika dilakukan oleh negara, maka akan menyelesaikan masalah merebaknya HIV/AIDS. Tinggal menunggu kemauan pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk melaksanakan tugas mereka sebagai ro'in (pengurus umat) dan junnah (penjaga umat dari kerusakan dan kehancuran).[]


Nurul Hidayani N (Mubalighoh dan Pemerhati masalah generasi)



Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget