Harga Cabai yang Sangat Pedas

Jelang tahun 2017, harga cabai merangkak naik hingga membuat resah rakyat Indonesia. Pasalnya, makanan Indonesia sangat akrab dengan cabai. Ada beberapa indikasi yang mendorong merangkaknya harga cabai :

1. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyelidiki dugaan permainan usaha atau kartel untuk komoditas cabai merah di Sumatra Barat, sehingga harga komoditas tersebut di daerah itu melambung dalam beberapa bulan terakhir (Bisnis.com). Kepala KPPU Perwakilan Daerah Medan Abdul Hakim Pasaribu menyebutkan, ada empat distributor besar yang menguasai perdagangan komoditas cabai merah di daerah itu.

2. Rantai distribusi yang panjang. Sekretaris Jenderal Asosiasi Agrobisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengatakan, pos distribusi itu meliputi pedagang pengepul kecil sampai pemasok besar.

"(Distribusi) bisa sampai 7 kali. Dari petani, pedagang pengepul kecil, pedagang pengepul besar, baru ke Jakarta. Jakarta masuk sini, baru masuk pasar," katanya kepada Liputan6.com, Jakarta, Minggu (6/11/2016).

3. Adanya spekulasi pasar yang mendorong pemasaran cabe ke luar daerah karena dianggap lebih menguntungkan daripada menjual di daerahnya sendiri. Fluktuasi harga cabai ini yang sering dimanfaatkan oleh para spekulan (Bisnis.com).

4. Pasokan cabai yang berkurang karena gagal panen dan tingginya curah hujan menyebabkan tidak terpenuhinya permintaan (liputan6.com).

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menyebut rata-rata harga cabai secara nasional sudah menembus kisaran Rp. 100 ribu per kilogram (kg). Bahkan, beberapa daerah di Kalimantan menyentuh angka Rp 150 ribu per kg. Harga ini dianggap berstatus waspada dan merupakan kegagalan pemerintah dalam mengendalikan harga pangan.

Solusi Pemerintah

Kenaikan harga cabai terjadi seiring dengan jomplangnya keseimbangan antara supply dan demand.  Sayangnya, pemerintah tidak melakukan tindakan serius untuk menstabilkan harga. Lucunya, di awal tahun pemerintah malah menaikan harga BBM non subsidi yang justru akan mendorong kenaikan harga barang-barang secara umum. Alih-alih menyelesaikan masalah, menteri pedagangan malah menyuruh rakyatnya untuk menanam cabai sendiri atau mengkonsumsi cabai kering. Tentu solusi ini tidak seharusnya keluar dari lisan seorang yang diberi jabatan menteri. Sudah seharusnya pemerintah mengidentifikasi dengan jeli akar permasalahannya.


Solusi Strategis Menurut Islam

Cabai adalah komoditi yang dibutuhkan rakyat secara harian dalam jumlah yang banyak. Seharusnya yang terjadi adalah pasar persaingan sempurna dan tidak terciptanya kartel dan menindak para spekulan yang mempermainkan harga cabai di pasaran. Selain itu, dukungan pemerintah terhadap cabai dilakukan dengan menciptakan rantai distribusi yang tidak panjang. Sehingga, harga cabai tetap terjangkau oleh  konsumen. Pemerintah harus mampu bertindak sebagai ra'in sebagaimana hadits yang disampaikan Abdullah bin Umar ra.

, الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam itu adalah laksana penggembala, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya)” (HR. Imam Al Bukhari dan Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Umar ra.)

Dalam pengaturan ekonomi, pemerintah harus mampu menjamin kestabilan harga pasar, terutama untuk komoditas yang dibutuhkan harian dalam jumlah banyak.

Dalam proses transportasi, pemerintah harusnya memberikan layanan publik berupa pemberian BBM gratis atau setidaknya dengan harga murah karena BBM termasuk barang milik publik. Kebijakan ini tentu akan menekan biaya kirim yang dibebankan kepada konsumen. Rasulullah saw. bersabda,

اَلنَّاسُ شُرَكَاءٌ فِي ثَلاَثٍ: اَلْمَاءِ وَ الْكَلأِ وَ النَّارِ

"Manusia berserikat (punya andil) dalam tiga hal : air, padang rumput dan api" (HR. Abu Dawud)

Artinya, BBM termasuk ke dalam katagori api (energi) yang merupakan harta milik umum dan haram diswastanisasi. Peruntukannya pun harus diberikan kepada rakyat sebagai jaminan tercapainya kemaslahatan dan kemakmurannya.

Terakhir, saat kondisi cuaca tidak mendukung, maka pemerintah harus berinisiatif untuk mendatangkan cabai dari daerah surplus cabai ke daerah yang kekurangan, sehingga tetap terjadi keseimbangan antara supply dan demand.

Sayang, solusi pemerintah tidak ke arah solusi yang strategis. Dibutuhkan keberanian pemerintah untuk menindak para spekulan dan para pemilik modal besar yang menguasai supply cabai. Dan ini berarti dibutuhkan niat baik dan komitmen kuat untuk mengurus urusan rakyat dan bukan urusan para kapitalis. Dalam sistem kapitalisme demokrasi, ini sangat mustahil dilakukan karena para kapitalislah yang menjadi support pemerintah hingga menduduki jabatannya. Untuk itu, kaum Muslim harus berani mengambil keputusan untuk bangkit, yaitu mengubah sistem yang ada dengan sistem yang dijamin oleh Allah SWT dengan sebutan rahmatan lil 'alamin dengan cara menerapkan sistem ekonomi Islam di bawah naungan Khilafah.
Wallaahu 'alam bi ash-shawab.[]

Vetiana Halim, S.E.
(Koordinator Tim Media Muslimah DPD I HTI Jawa Barat
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget