Sistem Pendidikan Islam Menjadikan Guru Mulia dengan Karya




Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Peringatan HGN tahun 2016 ini mengangkat tema “Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya”. Dari tema tersebut tersirat adanya keinginan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan kualitas guru. Dengan mengaitkan kemuliaan seorang guru dan tenaga kependidikan (GTK) dengan karya, menunjukkan adanya harapan terhadap guru agar terdorong untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai pendidik sehingga dengan itu kemuliaan seorang guru dapat diperoleh. Namun, permasalahannya apakah kondisi dalam tatanan hidup kapitalisme- sekulerisme saat ini mampu mendorong guru untuk bisa berkarya?

Sistem Pendidikan Khilafah Meniscayakan Guru Mulia dengan Karya

Saat Islam diterapkan dalam sebuah tatanan sistem Khilafah, seorang guru mampu berkarya secara optimal dalam mencetak generasi unggul pembangun peradaban, menguasai ilmu dunia dan ilmu akhirat, berkepribadian Islam dimana pola pikir dan pola sikap dibangun berdasarkan Islam, dan menjadikan generasi didikannya memiliki jiwa kepemimpinan. Sebut saja Muhammad al-Fatih hasil karya didikan Syekh Aaq Syamsudin. Dalam usia yang masih relatif muda, Muhammad al-Fatih sudah hafal al-Quran 30 juz, menguasai ilmu hadits, memahami ilmu fikih, matematika, ilmu falak, strategi perang, dan menguasai enam bahasa. Beliau juga adalah sosok yang pemberani namun tetap tawadhu’. 

Pada awalnya Muhammad al-Fatih sulit untuk diandalkan oleh ayahnya yang saat itu sebagai khalifah ke-6. Kebiasaan hidup mewah di istana menjadikan Muhammad al-Fatih manja. Dia selalu berlindung di balik kebesaran sang ayah sehingga menyulitkan para ulama yang didatangkan ke istana untuk mendidiknya. Hingga akhirnya kelembutan dan ketegasan dua ulama besar berhasil menundukkan Muhammad kecil, yaitu Syeikh Aaq Samsuddin dan Muhammad Ismail al-Qurani. Tentang kedua gurunya ini Muhammad al-Fatih berkata,
“Penghormatanku kepada Syeikh mulia ini tanpa aku sadari. Aku bisa menjadi emosional di hadapannya. Aku bergetar di hadapannya. Adapun para syeikh yang lain ketika mereka datang menghadapku, justru mereka yang bergetar di hadapanku.”

Syeikh Aaq Syamsuddin selalu mendidik Muhammad al-Fatih dengan penuh keoptimalan dan kesungguhan. Senantiasa mendoakan kebaikan, mengajar dengan penuh keikhlasan dan jiwa yang bersih, berwibawa dan terus memberikan motivasi bahkan pendampingan. Kemuliaannya tampak saat mendidik Muhammad al-Fatih. Tentu saja hal tersebut bisa dilakukan karena kondisinya sangat mendukung guru untuk bisa berkualitas, baik dari tatanan sistem pendidikan yang diterapkan berbasis keimanan, maupun dalam sistem kehidupan, yaitu sistem Khilafah yang meniscayakan guru mulia karena karya dapat terpenuhi.

Sistem Pendidikan Kapitalisme-Sekulerisme Memandulkan Karya Guru

Saat ini pendidikan Indonesia mengalami keterpurukan. Tentang siapa yang menjadi penyebab kualitas pendidikan dan kualitas peserta didik rendah, seolah-olah kesan yang ditangkap selama ini terlimpah ruah hanya di pundak mereka yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik. Profesionalitas mereka hingga kini selalu saja dipertanyakan. Kebijakan pemerintah seakan-akan juga mengamini asumsi tersebut. Maka, muncullah program-program guna peningkatan profesionalitas guru, seperti program sertifikasi guru. Tema HGN tahun ini pun menunjukkan asumsi tersebut, bahwa guru dan tenaga pendidik akan mulia karena karya. 

Realitas saat ini memang memperlihatkan bahwa kualitas guru Indonesia masih rendah. Berdasarkan laporan UNESCO, Indonesia menempati urutan ke 14 dari 14 negara berkembang untuk kualitas guru yang jadi komponen utama pendidikan. Berbicara tentang kualitas guru memang tidak bisa dilepaskan dari profesionalisme guru itu sendiri, dimana profesional guru akan dilihat dari sejauh mana kemampuannya dalam menguasai kurikulum, materi pembelajaran, teknik dan metode pembelajaran, kemampuan mengelolakelas, sikap komitmen pada tugas, dan menjaga kode etik profesi. Profesi guru sebagai pendidik harus bisa menjadi teladan bagi siswanya. Selain itu, guru harus memiliki kepribadian yang baik, selain profesional menjadi suatu keharusan yang tidak bisa dibantah. 

Namun, di tengah sistem hidup kapitalisme-sekulerisme saat ini, idealisme seorang guru sedikit demi sedikit mulai tergerus yang sedikit banyak mempengaruhi profesionalitasnya. Ketika deraan hidup semakin sulit tidak sedikit guru akhirnya berpikir cabang untuk bisa tetap menghidupi anak istrinya dengan mencari pekerjaan sampingan yang pada akhirnya tidak fokus dalam mengajar. Bisa jadi juga idealismenya dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas berbenturan dengan kurikulum yang berorientasi materi dimana menilai kinerja guru dilihat dari output yang diindikasikan dengan hasil nilai UNAS di atas nilai rata-rata regional dan nasional, sehingga dalam kondisi tersebut input dan proses akan diarahkan ke arah pengejaran nilai. Pada akhirnya, hal ini berbenturan dengan idealisme pendidikan untuk menghasilkan siswa- siswi yang unggul pembangun peradaban, berkualitas dalam ilmu agama dan dunia, berkepribadian Islam dan berjiwa pemimpin.

Oleh karena itu, kualitas pendidikan bukan hanya bergantung pada kualitas guru, namun juga bergantung pada sistem pendidikan yang sedang diterapkan. Seperti kita ketahui bahwa sebuah sistem untuk publik sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik dan sistem ekonomi yang diterapkan di suatu negara. Sudah bukan rahasia lagi Indonesia menerapkan sistem politik demokrasi-kapitalisme dan sistem ekonomi yang liberal. Keduanya sangat mempengaruhi kebijakan publik, termasuk sistem pendidikan. Pendidikan kapitalisme-sekulerisme yang menjauhkan peran agama dalam kehidupan akan menghalangi output berupa peserta didik yang berkepribadian Islam, berahlak mulia dan memiliki pondasi keimanan yang kuat. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena pendidikan agama hanya mendapat porsi pembelajaran yang minimalis rata-rata 3 jam dalam seminggu. Maka dari itu, pendidikan berbasis aqidah Islam sangat sulit diterapkan dalam sistem pendidikan sekulerisme saat ini. Begitupun sistem pendidikan kapitalisme-sekulerisme telah menjadikan output pendidikan hanya sebagai penopang roda ekonomi akan ketersediaan SDM untuk jadi pekerja dan robot-robot mesin kapitalis. Pendidikan dijauhkan dari upaya menghasilkan siswa-siswi yang menguasai iptek, kreatif inovatif dalam mencipta, dan menguasai berbagai disiplin ilmu (polymath).

Pada akhirnya, di tengah sistem hidup kapitalisme-sekulerisme, "Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya" nampaknya hanya akan sekadar menjadi slogan karena akan sulit untuk diwujudkan, karena pada kenyataannya justru sistem kapitalisme-sekulerisme telah memandulkan karya guru dan merendahkan martabat guru.[]



Erna Wulandari, S.P.
(Koordinator Lajnah Khusus Sekolah Muslimah DPD I Hizbut Tahrir Indonesia Jawa Barat)

Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget