Pasca 212, Mari Fokus Pada Masalah Utama Umat




BDG.NEWS, Bandung - Kepemimpinan kafir adalah masalah besar, tapi ada masalah utama yang membuat orang kafir punya kesempatan menjadi calon pemimpin.

Kasus penistaan al-Qur'an adalah perkara besar, tapi dalam kehidupan sekarang ini orang yang menista agama makin menjadi-jadi. Tengoklah begitu banyak ujaran penistaan tersebut di berbagai media, khususnya media sosial. Pelakunya harus dihukum berat. Dalam hukum Islam pantas dihukum mati.

Masalah framing media massa juga masalah, tapi dalam sistem demokrasi seperti sekarang, hal tersebut adalah hal yang biasa, dimana media massa berpihak kpd kepentingan pemodal.

Soal Metro TV dan Sari Roti yang ramai di beberapa hari juga ekses saja. Begitulah media. Begitulah korporasi. Mereka berpihak, sebagaimana kita juga berpihak. Yang aneh adalah orang muslim yang mencela agamanya sendiri dan bersekutu dengan orang kafir. Itu aneh. Tapi lagi-lagi kita bisa mengerti karena ada kepentingan ekonomi, kekuasaan, dll di sana.

Selesai Ahok ada Janes si produser Metro TV yang melakukan ujaran penistaan. Ujaran pasca 212. Kalau yang 7 tahun lalu mah no comment lah.

Ahok meredup, tampil Hary Tanoe dengan bagi-bagi duit ke pesantren. Yayasan Peduli Pesantren akhirya didirikan. Sebagian pimpinan pondok pesantren masuk dalam jebakannya. Hary Tanoe itu bahwa misi politik. Kita harus bacanya dalam kerangka fiqh siyasah. Kiyai dan santri jangan sampai kehilangan harga diri dan kehormatan.

Kembali ke penistaan agama atau al-Qur'an. Menurut Imam Ibnu Katsir, penistaan Qur'an itu banyak ragamnya. Banyak sikap dan perilaku yang oleh para mufassir dikategori hajr al-Qur’an (mencampakkan [baca: menistakan] al-Qur'an). Di antaranya, menurut Ibn Katsir, adalah: menolak untuk mengimani dan membenarkan al-Qur'an; tidak men-tadaburi dan memahami al-Qur'an; tidak mengamalkan serta mematuhi perintah dan larangan al-Qur'an; berpaling dari al-Qur'an, kemudian berpaling pada selain al-Qur'an, di antaranya mengambil thariqah (jalan hidup) dari selain al-Qur'an (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, III/335).

Sekarang istiqamah saja untuk mendakwah penerapan seluruh isi al-Qur'an. Jangan menolah kanan kiri. Rasulullah pernah berpesan,

«قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ»
"Katakanlah: 'Tuhanku adalah Allah.' Kemudian kamu terus istiqamah."

Hudzaifah juga berpesan,

«يَا مَعْشَرَ القُرَّاءِ اسْتَقِيمُوا فَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا، لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلاَلًا بَعِيدًا»
"Wahai para Ahlul Qur'an, istiqamahlah kalian. Kalian pasti unggul jauh. Tapi jika kalian menoleh ke kanan dan ke kiri, kalian pasti tersesat jauh."

Jadi aksi bela al-Qur'an harus terus kita lanjutkan. Jangan jalan di tempat. Jangan malah apologi dengan isu kebhinekaan dan kesatuan bangsa. Bagaimana agar aksi bela Islam tidak jalan di tempat? Jawabnya adalah dengan bersama merapatkan barisan dan energi untuk mendakwahkan penerapan seluruh isi al-Qur'an. Ya al-Qur'an harus diterapkan agar terwujud Islam yang rahmatan lil alamin. Karena masalah mendasar kita adalah KETIADAAN KEHIDUPAN ISLAM. Untuk mengembalikannya berarti MENJADI PEMBELA ISLAM (da'i) yang berorientasi pada tegaknya kehidupan Islam. Sekali lagi, inilah masalah mendasar kita. [] 

Yuana Ryan Tresna -Pengasuh MKH Khadimus Sunnah Bandung
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget