Negara, Pilar Utama Ketahanan Keluarga




Bdg.news,Bandung- Lebih dari 700 muslimah berbondong-bondong menghadiri acara Kongres Ibu Nusantara ke-4 yang diselenggarakan oleh Muslimah DPD I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Barat, Ahad (18/12) bertempat di Wisma Resko Nugraha. Acara yang bertemakan “NEGARA  SOKO GURU KETAHANAN  KELUARGA, Membangun Peradaban Khilafah Demi Terwujudnya Ketahanan Keluarga” diselenggarakan di 83 kota seluruh Indonesia dalam rentang waktu 15-25 Desember 2016. Acara ini merupakan salah satu dari sekian banyak kegiatan Muslimah HTI untuk memahamkan dan membina umat tentang pentingnya penerapan Syariah Isam. Acara ini digelar agar terwujud sinergisasi antara aktivis Muslimah HTI dan umat untuk menerapkan Islam dengan penegakan Khilafah. Di hadapan ratusan peserta, dengan penuh semangat Ustadzah Hj. Siti Nafidah Anshory, S.P., M.Ag sebagai Ketua Muslimah DPD I HTI Jawa Barat,  menyampaikan lebih dari setengah penduduk Indonesia mengalami kemiskinan yang merupakan dampak dari abainya negara dan hal ini berbeda dengan peran egara dalam Islam. “Islam telah menempatkan negara sebagai ra’in yaitu pengurus rakyat, tapi saat ini negara tidak lagi menjalankan perannya, justru menjadi pedagang.” Negara membisniskan kebutuhan komunal dan menjual fasilitas layanan umum, inilah gambaran negara Kapitalisme-Sekulerisme. Sementara negara Khilafah dalam Islam berkewajiban menjamin lapangan pekerjaan bagi penanggung jawab nafkah keluarga, menyediakan fasilitas layanan umum dan memenuhi langsung kebutuhan komunal. Solusi yang sekarang digagas yaitu pemberdayaan perempuan, jelas bukan solusi karena berdampak munculnya berbagai masalah lainnya lainnya seperti eksploitasi, pelecehan seksual, depresi sosial.

Dalam acara Kongres Ibu Nusantara ini, dibahas juga tentang permasalahan pendidikan, ekonomi serta peradilan yang menimpa negeri. Saat ini, Sekulerisme tengah mencengkram kita di berbagai bidang. Banyaknya anak jalanan, kebodohan disebabkan karena mahalnya biaya pendidikan saat ini. Kaum ibu yang dipaksa menjadi mesin ekonomi karena kebutuhan hidup yang kian mencekik. Belum lagi media massa berperan dalam menanam saham keguncangan keluarga dengan tayangan yang merusak. Permasalahan demikian pelik saat menyaksikan penerapan hukum di negeri ini yang bisa dibeli, terbukti dengan ketidakadilan penyikapan hukum antara pencuri kakao dengan penista agama. Belum lagi hukum di negeri ini pun tidak berdimensi akhirat, sehingga jauh dari keberkahan. Berbagai permasalahan yang menimpa perempuan, keluarga dan generasi semakin menunjukkan bahwa negara saat ini telah abai jalankan fungsinya.  Sejatinya, menjadi kewajiban Negara  menerapkan sistem pendidikan berbasis aqidah Islam sehingga mampu mewujudkan generasi yang berkepribadian Islam. Negara pula yang akan menjamin kesejahteraan bagi para pendidik dan menyediakan sarana prasarana yang memadai. Termasuk menerapkan sistem ekonomi Islam yang menyejahterakan. Didukung dengan sistem peradilan mampu mencegah (zawajir) berbagai kegiatan maksiyat dan mampu menebus dosa (jawabir) para pelakunya, hukum yang berdimensi dunia dan akhirat, jika dilaksanakan akan mendatangkan pahala. Hanya sistem Islam dalam negara Khilafah yang mampu menghentikan kemaksiyatan.  Oleh karena itu, Muslimah HTI mengajak kaum muslimah untuk bersama menegakkan Khilafah sebagai konsekuensi keimanan  kepada Allah.

Kontributor: Tresna Dewi Kharisma


Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget