Keretakan Keluarga Dipicu oleh Media



Dalam negara sekuler seperti Indonesia saat ini, keberadaan media adalah perwujudan dari hak asasi, manifestasi dari kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Karenanya, konten media massa tidak dibatasi dengan tegas. Demikian pula penggunaan individu terhadap media sosial (medsos) bisa untuk apa saja. Tidak ada yang memberi batasan dan pengarahan penggunaan.

Akibatnya, media lebih banyak menyebarkan informasi sampah dan membangun persepsi dan pemahaman yang justru merusak. Bahkan, saat ini media massa menjadi salah satu faktor pengancam generasi. Konten-konten porno bertebaran dan menjadi komoditas menguntungkan segelintir pihak. Dalam masyarakat kapitalis- sekuler, seks dianggap hal yang harus selalu dihadirkan di tengah kehidupan. Wajar masyarakatnya dipenuhi perselingkuhan, zina, kekerasan seksual, dan kebejatan moral. Keluarga hancur dan masa depan generasi terancam.

Individu juga memanfaatkan media sosial untuk tujuan serupa; kesenangan syahwat, mengejar popularitas bermodal mengumbar kecantikan fisik. Lihatlah, apa yang bisa kita harapkan dari generasi ala Awkarin. Terkait langsung dengan ketahanan keluarga, lembaga konsultan perkawinan AS menyebut 80% perkawinan di AS berakhir dengan perceraian karena pemicu media sosial.
Di Indonesia, trennya menuju ke arah sama. Sejak 2013, di Probolinggo Jatim sudah mulai ada kasus perceraian disebabkan penggunaan facebook.

Setidaknya beberapa hal berikut menjadikan media sosial juga bisa merusak ketahanan keluarga:

– Lebih banyak menghabiskan waktu bermedia sosial dibanding bersama keluarga.
– Membangun kemesraan di media sosial.
– Mengumbar masalah rumah tangga di media sosial.
– Menjadi sarana menuju selingkuh/zina.
– Lebih asyik berkomunikasi dengan media sosial dibanding dengan suami/istri.

Melihat data di atas, memang dibutuhkan kampanye penggunaan sosial media yang sehat. Yakni penggunaan media sosial untuk kepentingan kebaikan, syiar, dan dakwah. Perlu terus diopinikan agar mewaspadai penggunaan medsos yang berpotensi merusak ketahanan keluarga.

Tak kalah penting, harus disadari bahwa kita membutuhkan hadirnya negara secara nyata untuk mengarahkan masyarakat agar benar dalam memanfaatkan media. Negara juga harus hadir untuk menghapus semua media yang menyajikan pemahaman, contoh perilaku dan gaya hidup yang merusak masyarakat, juga mengancam ketahanan keluarga.

Namun, bisakah kita harapkan peran tersebut bisa dihadirkan oleh negara sekuler sebagaimana saat ini? Nampaknya tidak. Kita butuh negara berdasarkan syariat yang berkomitmen utuh untuk melindungi seluruh sisi kehidupan rakyat dari segala bentuk kerusakan.[]

Iffah Ainur Rochmah
Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget