Inilah Bendera-Bendera Sebelum Adanya Nabi SAW



Pada Aksi Super Damai Bela Islam III, yang dikenal dengan Aksi 212, kaum mukmin digembirakan dengan diaraknya bendera hitam raksasa yang bertuliskan syahadatain (la ilaha illallah muhammadun rasulullah). Dua bendera hitam raksasa karya mahasiswa UIN Jakarta ini memang sangat fenomenal, ide dan kreatifitasnya benar-benar brillian. Bendera Rasulullah Saw tersebut menjadi simbol bersatunya kaum mukmin atas dorongan keimanan. Bukan berkumpul karena lembaran rupiah, sebagaimana yang dituduhkan para antek penjajah.

Bendera dan panji dalam memiliki makna yang besar dalam perjuangan. Karena itulah Rasulullah Saw mengganti seluruh bendera dan panji jahiliyyah dengan bendera dan panjinya. Berikut beberapa ulasan tentang bendera-bendera dan panji-panji pada masa jahiliyyah.

Dalam al-‘alamu an-Nabawiyyu asy-Syarif (Bendera Nabi SAW, ed terj.), Dr. Abdullah menjelaskan bahwa masyarakat jahiliyyah terbagi menjadi dua kelompok, yaitu :
Pertama, penduduk pusat kota dan penduduk perkotaaan. Kota yang paling masyhur adalah kota Makkah, Yaman, Syam (Suriah, pen.), Irak dan Amman (Yordania, pen.). 
Kedua, penduduk desa. Mereka adalah orang Arab asli dan murni, Arab Badwi dan kabilah-kabilah Arab yang sangat banyak jumlahnya.

Kita mulai dari Makkah, sebuah kota yang sangat bersejarah dalam Islam. Awalnya, Makkah dikuasai oleh kabilah Khuza’ah, kemudia direbut kekuasaannya oleh suku Quraisy yang selanjutnya menjadi suku terkemuka di Makkah. Pemimpin Quraisy saat itu adalah Qushay bin Kilab. Sehingga, ialah yang menjadi pemimpin Makkah serta penguasa baitullah. Ibnu Ishaq mengisahkan bahwa Qushay bin Kilab menjadi pemimpin atas kaumnya. Ia menetapkan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh orang Arab. Ia juga yang berwenang memegang panji peperangan dan pengontrol stabilitas seluruh kota Makkah. 

Seorang lelaki dan wanita tak boleh menikah terkecuali di rumah Qushay bin Kilab. Semua perkara penting pun hanya boleh diputuskan di rumahnya. Kemudian, tak seorang pun berhak memegang panji peperangan terkecuali diputuskan di rumahnya. Rumah inilah yang dikenal dengan Darun Nadwah, tempat kaum Quraisy membahas dan memutuskan berbagai perkara.

Penggunaan panji oleh kaum Quraisy juga diceritakan pada peristwa perang Uhud. Al waqidi menuliskan bahwa waktu itu (menjelang perang Uhud, pen.) Abu Sufyan berteriak : “Wahai Bani Abdiddar, kami tahu bahwa kalian lebih berhak atas panji daripada kami. Dulu, kita pada perang Badar (diserang) dari panji. Dan suatu kaum akan didatangi dari panjinya. Maka tetaplah kalian memegang panji kalian. Jagalah panji itu dan biarkanlah antara kami dan panji tersebut. Sebab kita adalah kaum yang mencari kematian dengan menuntut balas dari sebuah dendam yang belum kering. Abu Sufyan berkata : “Jika panji tidak ada, kemudian apa gunanya orang-orang itu masih ada?” Bani Abdiddar menjadi marah, mereka mengatakan :”Apakah kami akan menyerahkan panji kami? Selamanya, tidak! Begitulah kaum kafir Makkah yang sangat menghargai panji mereka.

Sangat berharganya panji peperangan bagi kaum jahiliyyah Makkah saat itu, terlihat dari kesungguhannya para pemegang panji dalam mempertahankannya. Pada awalnya, panji dipegang oleh Thalhah bin Abi Thalhah, namanya adalah Abdullah bin Abdil Uzza bin Utsman bin Abdiddar bin Qushay. Thalhah dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib. Setelah Thalhah mati, panji kaum musyrik dipegang oleh Utsman bin Abi Thalhah atau Abu Syaibah, ia pun mati di tangan Hamzah bin Abdul Muthallib. Selanjutnya dipegang oleh Abu Sa’ad bin Abu Thalhah. Kedua tangannya ditebas habis oleh Sa’ad bin Abi Waqash saat mempertahankan panjinya. Kemudian Sa’ad memanah lehernya hingga ia mati mengenaskan dalam kondisi menjulurkan lidah seperti anjing. 

Perjuangan kaum musyrik dalam mempertahankan panjinya terus berlangsung, kali ini giliran Musafi’ bin Thalhah bin Abi Thalhah, ia mati dipanah oleh Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah. Sebelum Musafi’ menghembuskan nafas terakhirnya, ibunya Sulafah menanyainya tentang siapa yang membunuhnya. Musafi’ menjawab bahwa pembunuhnya adalah seorang laki-laki dari Bani Aqlah. Ibunya pun terperanjat karena pembunuh anaknya adalah dari keluarganya sendiri. Sejak hari itu ia bernadzar akan minum khamr dengan tengkorak Ashim bin Tsabit. Ia juga menyediakan hadiah 100 ekor unta bagi orang yang bisa membawa Ashim bin Tsabit.

Selanjutnya panji kaum musyrik dipegang oleh Kilab bin Thalhah bin Abi Thalhah dibunuh oleh Zubair bin al-Awwam. Lalu al-Julas bin Thalhah bin Abi Thalhah dibunuh oleh Thalhah bin Ubaidillah. Kemudian Arthah bin Syurahbil berhasil dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib. Serta Syuraih bin Qarizh yang tidak diketahui siapa pembunuhnya. Lalu selanjutnya oleh Shu’ab.

Shu’ab mengangkat panji itu dengan gagah berani. Ia mengangkat panji kaum musyrik itu dengan tangan kanannya. Quzman lalu menghampirinya dan berhasil menebas tangannya hingga putus. Shu’ab pun lalu memegang panji itu dengan tangan kirinya. Quzman pun terus menyerangnya hingga tangan kiri Shu’ab pun tertebas hingga putus. Kemudian Shu’ab mendekap panji itu dengan kedua lengannya yang masih tersisa seraya membungkukkan punggungnya. Quzman lalu menyerangnya dan berhasil membunuhnya. Perjuangan Shu’ab sebelum mati, sama seperti perjuangan Abu Sa’ad bin Abi Thalhah yang tewas di tangan Sa’ad bin Abi Waqash. 

Para pemegang bendera yang tewas dalam peperangan tersebut dinamakan dengan Ashhabul liwa’(para pemegang panji peperangan). Hassaan mengejek mereka dengan sya’irnya:
“Kalian telah menyombongkan diri dengan panji peperangan,
Sungguh, ini adalah kesombongan yang paling buruk,
Panji peperangan, ketika dipungut oleh Shu’ab,
Kalian teah menjadikan kesombongan kalian dalam bendera yang dipungut oleh budak itu,
Namun, bendera itu telah terhempas di atas tanah.”   

Dikisahkan bahwa orang-orang Quraisy pun memiliki bendera yang diberi nama Al ‘Uqab. Bendera ini biasa dipegang oleh Bani Abdiddar. Setelah futuh Makkah, nama bendera di tangan Bani Abdiddar ini diadopsi oleh Rasulullah Saw. Oleh karena itu, nama panji Rasulullah Saw juga bernama Al-‘Uqab juga. Sebagaimana yang disampaikan dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad, beliau menuliskan bahwa al-Hasan berkata : “Panji Rasulullah Saw berwarna hitam dan diberi nama al-‘Uqab.”

Semua kisah ini membuktikan bahwa bendera dan panji telah dikenal oleh masyarakat sedari jaman jahiliyyah. 

mengenai masyarakat jahiliyyah yang berada di pedesaan, yang merupakan kabilah-kabilah Arab nomaden. Dr. Abdullah mengutip manuskrip yang diungkap oleh Imam Ibnu Jama’ah dari ahli sejarah terkenal. Ibnu ‘Aid al-Quraisyi. 

Ibnu ‘Aid menjelaskan bahwa bendera setiap kabilah Arab memiliki bentuk dan warna-warni tersendiri. Semuanya kira-kira berjumlah 70 bendera. Bendera Bani Salim awalnya berwarna putih, hingga ketika Perang Hunain melawan negara Islam, bendera mereka terbasuh darah hingga memerah. Setelah itu, mereka menetapkan warna merah untuk benderanya.

Ibnu Jama’ah berkata bahwa bendera Bani Sukun berbentuk segi empat. Bendera ini memiliki dua sisi yang berwarna merah dan tiga buah rumbai berwarna putih, serta rumbai-rumbai yang berwarna merah hingga ke tengahnya. Adapun bendera bani Hudailah berwarna putih, dan ditengahnya. Sedangkan bendera kabilah Hawazin, yaitu kabilah modern yang mendiami Thaif, berwarna merah dan hitam.

Bendera bani Abbas berwarna merah, bergambar bulan putih dan memiliki tiga buah rumbai. Dua berwarna merah dan satu berwarna putih. Bendera kabilah Asad berwarna kuning berbentuk segi empat. Adapun bendera bani Qutaibah berwarna putih dan ditengahnya bergambar raja singa. Bendera ini memiliki sebuah rumbai berwarna putih. Dan bendera Bani Qurrah berwarna putih dan biru. Sedangkan Bendera suku Ghassaan berwarna merah pada kedua sisinya dan tengahnya berwarna putih. Suku Ghassaan adalah suku modern yang mendiami tanah Syam. Imam Al Waqidi pun menjelaskan tentang bendera suku Aus dan Khazraj sebelum Islam datang, ia berwarna merah dan hijau. 

Begitulah sedikit ulasan ringkas tentang bendera dan panji pada masa jahiliyyah. Adapun bendera hitam raksasa yang diusung pada aksi bela Islam III (aksi 212), ia adalah panji Rasulullah Saw. Banyak hadits yang meriwayatkannya, salah satunya dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata :
“Raayah (panji) Rasulullah Saw berwarna hitam, sedangkan Liwa’ (bendera) beliau berwarna putih.”(THR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, Baihaqi, al-Baghawi dan ath-Thabrani)

Mengenai apa yang tertulis padanya, Abu Hurairah r.a. berkata bahwa bendera Raaulullah Saw bertuliskan lafadz La Ilaha illa Allah Muhammadun Rasulullah. (THR. ath-Thabrani)

Sungguh sangat wajar jika kaum mukmin berbahagia menyaksikannya pada Aksi 212. Karena itulah panji Rasulullah Saw, panji umat Islam. Siapapun yang cinta dan rindu terhadap Rasulullah Saw, pasti bangga dan bahagia mengusung panji dan benderanya.

*) Ditulis oleh Ary H. – Islamic Writer & Blogger

Sumber bacaan :
  • Abdullah bin Muhammad bin Sa’d al-Hujailiy, Dr. al-‘alamu an-Nabawiyyu asy-Syarif(Bendera Nabi SAW, ed terj.). Diterjemahkan oleh Ust. Syamsuddin Ramadhan. 2003.
  • Al Waqidi. al-Maghazi (Al-Maghazi, Sejarah Lengkap Peperangan Rasulullah Saw Jilid 1. ed. Terj.). Diterjemahkan oleh KH. Hafidz Abdurrahman, MA. 2015.
  • Ary Herawan. Pengorbanan Vs Pengorbanan. www.aryherawan.blogspot.com. 2016.
  • M. Ali Dodiman. Kamus Pintar Daulah Islam. 2014.
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget