Gema Pembebasan Jabar: Indonesia Dalam Persekongkolan Jahat Kapitalisme Asing dan Aseng, Bebaskan Dengan Ideologi Islam

Orasi yang disampaikan oleh Firmansyah, selaku Ketua Gema Pembebasan Jawa Barat

Bdg.News. Bandung, - Dua tahun kepemimpinan Presiden Jokowidodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) Indonesia makin terjajah, Gema Pembebasan Jawa Barat mengadakan Aksi Damai di bandung, Jumat, 30/12/16.

Aksi bertajuk "Refleksi Akhir Tahun 2016: Indonesia Dalam Persekongkolan Jahat Kapitalisme Asing dan Aseng, Bebaskan Dengan Ideologi Islam" ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di kota Bandung dan Cimahi.

Sebelum berorasi depan Gedung Sate, peserta melakukan long March, dari Jalan Gelap Nyawang Bandung (dekat mesjid Salman ITB) melewati kampus Unikom, Unpad Dipati Ukur Bandung hingga depan Gedung Sate.

Ketua Gema Pembebasan Jawa Barat, Firmansyah mengatakan dalam dua tahun kepemimpinan Jokowi - JK Indonesia bukanya makin membaik akan tetapi makin rumit dan tercengkram oleh kapitalisme Asing dan Aseng.
"Dua tahun kepemimpinan Jokowi-JK, Indonesia bukan makin baik, tapi makin terjajah oleh para kapitalis Asing dan Aseng," kata Firmansyah.
"Genap dua tahun telah berselang Rezim Jokowi-JK semakin memperumit keadaan masyarakat dalam berbagai segmen kehidupan. Alih-alih mengadakan perubahan dengan semangat blusukan dan citarasa merakyat, justru Rezim ini lebih buas dengan mengencangkan hegemoni kapitalisme untuk tertancap diatas tanah Indonesia. Betapa tidak, corak ini sangat jelas tatkala 13 kebijakan ekonomi yang digaungkan oleh Jokowi menghimpun aturan main kapitalis dan menabrak konstitusi dan tidak berpihak kepada rakyat, seperti UU Migas, UU Mineba, UU PMA, UU BUMN dll. Belum lagi persekongkolan jahat antara penguasa dan pengusaha besar melahirkan payung Tax Amnesty yang menjamin penggelembungan harta dikalangan mereka tanpa takut harus membangkang terhadap kewajiban membayar pajak," lanjut Firmansyah dalam orasinya.

"Problem itu tidak berhenti, Anggaran sebesar 20% dari APBN rupanya tidak mampu membenahi problem yang ada, Pendidikan terkooptasi dan keluar dari batas negara sehingga menjadi bagian integral dari kerangka global kapitalisme, hal itu ditunjukan dengan persetujuan WTO melalui GATS untuk mengakui aspek potensial dalam hal jasa untuk diliberalisasikan, itulah sektor pendidikan. Tidak terkecuali WB (Bank Dunia) yang menjadi salah satu kaki tangan AS mengendalikan sektor ini dengan beberapa formula: (1) Differensiasi pendidikan tinggi, (2) Differensiasi pendanaan, (3) Pendefinisian ulang peran pemerintah dan (4) Pembuatan kebijakan berkonsentrasi pada kualitas, performa dan persamaan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, kebijakan kontra produktif dalam mengetaskan problem migas yakni dengan penghapusan subsidi BBM sehingga harga diserahkan kepada mekanisme pasar" tambah Firmansyah.

Dari segi hukum Firmansyah menilai, kepemimpinan Jokowi - JK sangat lemah, bukannya membasmi koruptor malah pelemahan KPK semakin terlihat.
"Kebuntuan dalam bidang hukum tak bisa dielakan lagi, Rezim Jokowi-JK tidak ada sikap tegas dalam menuntaskan berbagai konflik yang ada, bahkan dalam tataran kekuasaan sekalipun sebagaimana konflik KPK-Polri. Justru alih-alih menegakan hukum, meminimalisir koruptor tapi upaya pelumpuhan terhadap KPK terus dilakukan. Belum lagi beberapa kasus besar yang dibiarkan begitu saja semisal kasus sumber waras, reklamasi Jakarta dan centuri bahkan BLBI yang tidak tersentuh sama sekali. Dari rentetan problem ini tampak jelas, bahwa Rezim Jokowi-JK tengah dalam pusaran dan persekongkolan Kapitalisme Barat AS melalui berbagai serabut kakinya dalam mencekik rakyat Indonesia," Tegasnya.

Menurut Firmansyah, seharusnya Rezim Jokowi - JK menyadari bahwa negara Cina kini bertranformasi menjadi negara kapitalis yang senang memberangus kekayaan yang ada di Indonesia layaknya Amerika terhadap Indonesia.
"Semestinya Rezim Jokowi-JK menyadari bahwa sesungguhnya Cina kini telah bertransformasi menjadi negara kapitalis yang dengan tamak memberangus kekayaan yang ada di Indonesia, sebagaimana AS dan negara sekutunya. Dalih kedekatan secara historis tidaklah pantas untuk menjadi alat pembenaran kerjasama antara Cina dan Indonesia, karena Cina baik dalam keadaan komunis maupun kapitalis sama-sama membahayakan negeri ini dan akan menjadikan negeri ini sebagai negeri yang miskin," Paparnya.

Menyikapi beberapa persoalan tersebut Firmansyah, selaku  Ketua Gema Pembebasan Jawa Barat memberikan Pernyataan Sikap sebagai berikut:
1.Menentang segala bentuk intervensi Asing dan Aseng, sehingga menyebabkan kekisruhan politik dan carut-marutnya kebijakan ekonomi, ditambah mentalitas terjajah dari ketundukan pemerintah kepada korporasi asing yang datang berhamburan dalam wujud utang dan investasi,

2.Menggugat kepemimpinan Jokowi-JK yang tidak mampu mengetaskan berbagai problem bidang kehidupan, justru malah memperburuk keadaan dengan memberikan “karpet merah” bagi kapitalisme Aseng (Cina) untuk berkolaborasi dengan kapitalisme Asing (AS), 

3.Menggugat sistem demokrasi yang dengannya menghancurkan tatanan kehidupan berbasis pada empat pilar kebebasan sehingga memicu pengendalian politik, hukum, sosial, budaya, pendidikan dilakukan oleh para kapitalis dan memperalatnya demi mengakumulasikan kekayaan dan kepentingan dirinya sendiri, 

4 Dengan memahami bahwa demokrasi adalah jalan bagi para penjajah untuk melakukan penguasaan terhadap negara-negara berkembang seperti Indonesia dengan SDA melimpah, maka harus membuang sistem ini karena pada hakikatnya telah menentang kedaulatan di tangan Allah SWT dan merampas kekuasaan di tangan Umat, 

5.Menyadari bahwa berbagai solusi penyelesaian tidak akan pernah bisa terealisasi tanpa adanya institusi pelaksana, maka tiada lain jalan satu-satunya, mutlak adanya upaya untuk menerapkan syariah dan menegakkan Khilafah di negeri ini untuk menerapkan solusi komprehensif dari Ideologi Islam secara total dalam berbagai aspek kehidupan.

Editor: Irfan


Peserta Aksi membentangkan spanduk bertuliskan "Refleksi Akhir Tahun 2016: Indonesia Dalam Persekongkolan Jahat Kapitalisme Asing dan Aseng, Bebaskan Dengan Ideologi Islam"


Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget