Emil Akui Nasehat Ceu Popong Cocok dengan Kondisi Saat Ini




BDG.NEWS, Bandung - Petuah yang disampaikan Popong Otje Djundjunan menjadi bekal bagi Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil dalam menjalani tugasnya memimpin Kota Bandung. Setidaknya ada tiga nasehat yang diberikan Ceu Popong.
Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil menuturkan, nasehat dari Ceu Popong sangat berkaitan dengan kondisi yang terjadi saat ini dimana banyak pemimpin yang terpeleset. Baik terpeleset oleh kasus hukum, emosi hingga hal lainnya.
“Setidaknya ada tiga nasehat yang diberikan Ceu Popong. Pertama dimulai dengan niat mencintai umat yang kita pimpin karena umat ini ada yang taat dan ada yang tidak taat. Tapi semuanya adalah umat, warga dan rakyat kota bandung yang harus dicintai,” ujar wali kota yang akrab disapa Emil usai bertemu dengan Ceu Popong di Pendopo, Jalan Dalem Kaum Kota Bandung, Selasa (6/12/2016).
Nasehat yang kedua, lanjutnya, yakni terkait keteladanan dari seorang pemimpin. Tindak tanduk dari seorang pemimpin itu menjadi cerminan bagi rakyatnya sehingga ucapannya dan perilakunya pun harus terjaga.
“Jadi pelajaran dengan kejadian saat ini juga sama, saya harus pandai-pandai mengatur kalimat. Mana yang penting diucapkan dan mana yang tidak perlu diucapkan. Bercermin pada kasus Pak Ahok juga sama dan jadi hikmah buat saya. Tidak bisa semua diucapkan walaupun niat atau tidak niat, pasti ada tafsir dalam ucapan dan tindakan pemimpin. Jadi betul-betul harus arif bijaksana apalagi di Indonesia yang multi kultural dimana perbedaan agama menjadi hal yang sangat sensitif,” terangnya.
Sementara nasehat ketiga dari Ceu Popong yakni dengan memperkuat niat saat maju menjadi wali kota Bandung. Emil menuturkan, sejak awal, niat dirinya menjadi wali kota yakni untuk membereskan Kota Bandung. Karena niat tersebut, Emil pun menyebut jika dirinya tidak maju dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 karena niat untuk membereskan Kota Bandung belum tuntas dia kerjakan.
Niat tersebut, lanjut Emil, terus diperkuat setiap hari sehingga terus berupaya mengambil keputusan yang paling baik untuk rakyat dan Kota Bandung. Selain itu, ditambah dengan niat tidak mencuri dan atau melanggar aturan meski kesempatan tersebut tetap ada.
“Dan ini ada kaitannya dengan situasi saat ini antara KPK dan Kota Cimahi, itu pun jadi hikmah buat saya. Kesempatan untuk memperkaya diri itu banyak sekali, dan banyak pengusaha yang mencoba datang serta menawarkan ini itu. Tapi semua kembali kepada niat kita. Jadi wali kota itu niat beunghar (kaya) atau niat melayani warga. Kalau secara ekonomi, terus terang saya merugi jadi wali kota teh karena lebih kaya jadi arsitek. Tapi sekali lagi, kembali lagi ke niat yakni untuk bereskan kota dan melayani warga. Jadi setiap ada kesempatan yang menggoda selalu ditolak mulai dari pikiran,” tegasnya.
Untuk itu, dirinya pun terus beripaya untuk menghindari nafsu-nafsu negatif. Pasalnya, kalau nafsu-nafsu negatif seperti memperkaya diri selalu diikuti nafsu2 akan menjadi bahaya.
“Karena itulah pentingnya keluarga. Jadi kalau jadi pemimpin itu ya lebih baik yang sudah berkeluarga, karena keluarga itu jadi benteng. Mereka mengingatkan, memarahi, mengkritisi dengan cara cinta dan baik,” pungkasnya.(fokusjabar)

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget