Bendera Hitam Raksasa Seperti di Monas Dipajang di Depan Gedung Sate Saat Aksi Solidaritas Muslim Aleppo

Bendera Hitam Raksasa Seperti di Monas Dipajang di Depan Gedung Sate Saat Aksi Solidaritas Muslim Aleppo

Kutuk Serangan Aleppo, Bendera Hitam Raksasa Dipajang di Depan Gedung Sate Bandung
Bendera raksasa dibentangkan di sepan Gedung Sate/Lapangan Gasibu Bandung

Ratusan massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar aksi solidaritas di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, Jumat (16/12/2016).

Unjuk rasa yang diikuti berbagai kalangan usia tersebut merupakan bentuk kepedulian sesama muslim terhadap duka yang menyelimuti Aleppo, Suriah, akhir-akhir ini.

Berdasarkan pengamatan Bdg.News, para peserta aksi membawa poster-poster yang mengecam  pembantaian di Aleppo, kami juga melihat sebuah bendera Raksasa hitam bertuliskan Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah di arak dari depan masjid Pusdai dan dibentangkan di depan Gedung Sate di sebelah selatan lapangan Gasibu.

Bendera Hitam ini serupa dengan bendera yang pernah diarak di saat Aksi 212 di Monas Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Baca: Bendera Raksasa Hitam di Bela Islam III Diarak Keliling Monas Dengan Tertib

Kutuk Serangan Aleppo, Bendera Hitam Raksasa Dipajang di Depan Gedung Sate Bandung
Massa HTI Berjajar di depan Gedung Sate sambil membawa Poster dan Sepanduk dengan tertib

Sementara Humas HTI Jabar Lutfi Afandi mengatakan bahwa "Puluhan ribu laki-laki, perempuan, dan anak-anak muslim terancam kematian. Pengamat HAM untuk Suriah mengatakan lebih dari 50.000 orang dari sekitar seperempat juta penduduk kota itu telah mengungsi akibat serangan terhadap Aleppo Timur yang awalnya dilindungi dan dijaga para pejuang Suriah. Akan tetapi, warga yang tak berdaya itu saat ini dihujani bom dan diserang oleh berbagai senjata berat dan canggih,"

Menurutnya saat ini warga Aleppo timur melaporkan penggunaan amunisi bom cluster, yakni bom yang berisi ratusan bom-bom kecil yang meledak dan terbakar di wilayah yang luas, sehingga membakar seluruh lingkungan yang dibom.

"Kelompok bantuan memperkirakan, hanya terdapat 35 dokter yang tersisa di Aleppo Timur, artinya satu dokter untuk setiap 7.143 orang, dengan perhitungan penduduk sekitar 250.000 orang. Duta Besar Prancis untuk PBB, Francois Delattre, bahkan mengatakan, bila tidak ada tindakan cepat, maka Aleppo akan menjadi salah satu pembantaian terbesar terhadap penduduk sipil sejak Perang Dunia II," ujar Luthfikepada wartawan.

Berkenaan dengan hal itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan sikap yakni pertama mengutuk keras rezim Bashar Assad dan sekutunya yakni Rezim Putin yang melakukan pembantaian di Aleppo. Kedua, mengecam sikap para penguasa negeri-negeri muslim yang tidak segera bertindak terhadap realitas tersebut. Padahal, beberapa negara seperti Yordania, Arab Saudi, dan Turki bertetangga dengan Suriah.

"Terakhir, kami menyeru kepada umat Islam Indonesia untuk memberikan daya apa saja yang dimiliki untuk menolong warga muslim di Aleppo, Suriah. Apa yang terjadi di Aleppo, bukti bahwa Umat Islam di seluruh dunia memang membutuhkan Khilafah. Sebab, Khilafah akan menyatukan Umat Islam, menyatukan kekuatan Umat Islam, dan membebaskan negeri-negeri muslim dan melindungi warganya," tutur Luthfi.

Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget