RUSH MONEY, Efektifkah Menekan Pemerintah?




Pengertian rush money secara singkat adalah suatu gerakan menarik uang secara bersama-sama dari tabungan masing masing, dan dalam jumlah besar, bahkan tak jarang uang yang berada di tabungan atau BANK dihabiskan tak tersisa lagi.

Isu rush money akhir-akhir ini mencuat di sosmed sebagai aksi yang dihubungkan untuk menekan pemerintah yang dinilai tidak serius menangani kasus penistaan agama yang melibatkan gubernur DKI Jakarta Non Aktif, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Dengan rush money diharapkan pemerintah segera menangani kasus Ahok dan memberi keadilan kepada kaum Muslim. Pertanyaannya, dapatkah rush money secara efektif menekan pemerintah?

Entah dari mana dan siapa yang mulai menggulirkan isu ini di medsos, yang pasti saya menilai terlalu serampangan untuk menggulirkannya. Analisa singkatnya adalah sebagai berikut.

Bank atau perbankan adalah jantung dari sistem kapitalisme. Setiap sektor ekonomi bergantung pada perbankan. Jadi, bisa dibayangkan ketika terjadi rush, bank akan kehilangan liquiditas (ketersediaan uang di bank). Bank akan mencari liquiditas melalui berbagai sumber. Salah satunya dengan meningkatkan suku bunga agar uang masuk kandang. Masalahnya, jumlah uang beredar di masyarakat sudah terlanjur meningkat tajam. Artinya, ini akan menimbulkan inflasi (naiknya harga-harga barang). Jika ini terjadi, maka prediksi dan kekhawatiran Sri Mulyani bahwa rush money berpotensi mengganggu kepentingan masyarakat umum akan terjadi (http://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20161121144324-78-174132/sri-mulyani-minta-penyebar-rushmoney2511-ditangkap/). Dan efeknya, rakyat kecillah yang akan semakin sulit kondisinya.

Di sisi lain, ketika perbankan menjadi tidak liquid, maka pemerintah akan turun tangan. Ada beberapa opsi yang bisa diambil, diantaranya adalah dengan cetak uang atau bail out (menyelamatkan perbankan dengan menyuntikan dana segar) dengan cara berhutang. Cetak uang tidak serta-merta jadi solusi juga karena ini akan memicu inflasi lebih dalam lagi mengingat jumlah uang yang beredar menjadi semakin besar. Dan ini tidak sebanding dengan jumlah barang yang ada di masyarakat. Bagaimana dengan bail out? Ini lebih mungkin dan terkesan lebih realistis. Pemerintah sudah "langganan" berutang dan negara kapitalis sangat menyambut. Karena dengan utang, cengkraman negara penjajah semakin kuat.

Beberapa kalangan menganggap rush money dapat menjadi momentum teralihkan fiat money (uang kertas) menjadi standar emas dan perak. Hanya saja ada hal yang terlupakan. Untuk mengubah standar moneter dibutuhkan political will (keinginan politis) yang bersumber dari kekuatan pemikiran yang beredar di masyarakatnya. Pertanyaannya : sudah adakah political will yang diharapkan?

Untuk itu, sebenarnya isu rush money tidak akan menguntungkan siapa pun, terutama rakyat kecil. Bank akan senantiasa mencari solusi sebagaimana kasus Century. Apalagi pemerintah akan mendukung 100 persen. Yang pasti jika sudah kadung inflasi, maka siap-siap masyarakat akan terkena imbasnya. Bagaimana dengan pengalihan standar moneter? Dibutuhkan perubahan struktur masyarakat. Dan ini berarti butuh dakwah pemikiran untuk mencerdaskan masyarakat tentang keunggulan sistem emas dan perak. Dan untuk menerapkannya dibutuhkan sistem pemerintahan berlandaskan Islam, yaitu Khilafah Islamiyyah yang memang mewajibkan standar emas dan perak. Demokrasi sangat kecil mengadopsinya, selama negara kapitalis subyek seperti AS mendapatkan keuntungan dengan sistem fiat money.

Jadi kesimpulannya, rush money tidak akan dapat menekan pemerintah karena pemerintah akan selalu dapat solusinya. Tapi yang jelas, rush money akan menyebabkan inflasi. Dan kita harus siap menghadapi tingginya harga barang.

Untuk itu, kita harus fokus dalam penyampaian dakwah memahamkan umat dengan menerangkan persoalan yang terjadi dan tetap fokus berdakwah untuk menerapkan Syariat Islam dalam naungan Khilafah. Karena hanya dengan penerapan Islam, Khalifah akan secara tegas menindak penista agama sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.

Allahumma fasyhad.


Vetiana Halim, S.E.
(Kordinator Tim Media Muslimah HTI Jawa Barat)
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget