Perempuan WNI Muslim di Amerika Khawatir akan Keselamatannya






BDG.NEWS, AS - Perempuan Muslim WNI di Amerika Serikat (AS) mengaku khawatir akan keselamatan diri dan keluarganya setelah Donald Trump terpilih menjadi Presiden AS.
Melansir BBC, Jumat (11/11/12), Putri Budiman, perempuan muslim asal Indonesia yang menetap di Kota Washington DC AS, merasa cemas dengan keselamatannya. Menurut Putri, sejak Donald Trump melancarkan kampanye, pebisnis itu kerap melontarkan pernyataan kebencian yang berpotensi memicu kedengkian sejumlah warga AS terhadap umat muslim.
"Saya sangat khawatir karena Trump membawa pola pikir bahwa 'tak masalah membenci' orang-orang yang beda dengan dia, beda dengan orang kulit putih. Di media sosial orang-orang yang menyampaikan pernyataan rasisme dan seksisme mulai keluar. Mereka lebih berani mengutarakan nada diskriminasi," kata Putri.
Hal tersebut diamini Shofi Awanis, mahasiswa asal Indonesia yang tengah melanjutkan pendidikannya di Universitas Columbia, Kota New York AS.
Saat Donald Trump resmi menjadi presiden AS, Shofi Awanis merasa takut dengan orang-orang yang merasa punya legitimasi untuk melakukan diskriminasi. Sumber BBC
Saat Donald Trump resmi menjadi presiden AS, Shofi Awanis merasa takut dengan orang-orang yang merasa punya legitimasi untuk melakukan diskriminasi. Sumber : BBC
"Kalau ditanya kondisi, saya baik-baik saja. Tapi sekarang saya agak takut dengan orang-orang yang punya kecenderungan ingin mendiskriminasi tapi selama ini diam, jadi merasa punya legitimasi untuk melakukan diskriminasi terhadap kami," kata Shofi.
Senada dengan Shofi, Lily, seorang single parent yang tinggal di Boston Negara Bagian Massachusetts AS, mengungkapkan kekhawatirannya akan keselamatan diri dan kedua anaknya manakala Donald Trump memimpin beberapa bulan kedepan.
Para perempuan muslim di AS kini merasa khawatir dengan keselamatan diri mereka. Sumber : BBC
Para perempuan muslim di AS kini merasa khawatir dengan keselamatan diri mereka. Sumber : BBC
Lily juga menceritakan pelecehan terhadap dirinya sejak Donald Trump mulai berkampanye beberapa waktu lalu.
"Saat saya sedang menyetir mobil di jalan tol, ada dua pengendara motor besar yang mengapit kendaraan kami. Mereka melihat saya berhijab, lalu mereka melaju ke depan mobil seperti menghalang-halangi, lalu mengacungkan jari tengah," kata Lily.
Pelecehan tersebut membuat Lily dan sesama perempuan muslim di daerah tempat tinggalnya sepakat untuk saling menguatkan.
"Saya agak khawatir. Makanya tadi pagi di masjid dekat rumah saya, ada ibu-ibu berkumpul untuk mendukung satu sama lain. Imam di masjid juga mengimbau kepada kami untuk tidak 'mencari gara-gara'. Lalu kalau ada perdebatan yang memanas, tinggalkan saja. Kemudian upayakan untuk tidak terlalu kelihatan," tambahnya.
Lily telah mempertimbangkan untuk pindah ke daerah lain jika situasi di tempat dia tinggal dianggap mengancam keselamatan keluarganya.
Donald Trump dalam kampanyenya kerap melontarkan beragam pernyataan mengenai umat muslim, termasuk pemantauan terhadap masjid-masjid di AS, pengawasan kepada umat Islam, dan upaya terpadu agar kaum muslim tidak memasuki Amerika Serikat.(fokusjabar)

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget