Mendag Yakin Hubungan RI-AS Tetap Mesra di Bawah Rezim Trump









BDG.NEWS, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berharap hubungan kerjasama antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia bisa meningkat pasca kemenangan Donald Trump merebut takhta Gedung Putih.

“Kami meyakini hubungan dagang itu antara satu negara dengan negara lain tetap akan berlanjut,” tutur Enggar dalam acara diskusi dengan awak media di kantornya, Jumat (11/11).

Menurut Enggar, latar belakang Trump sebagai pengusaha akan mempengaruhi keputusannya dalam mengambil kebijakan ke depan, terutama yang berkaitan dengan ekonomi.

Selain itu, Enggar juga menanti susunan kabinet pemerintahan yang akan diusung Trump untuk memperjelas warna pemerintahannya.

“Kami akan melihat bagaimana perkembangan berikutnya,” jelasnya.
Terkait kecenderungan Trump untuk bersikap proteksionis dalam hal perdagangan, Enggar memahami alasan di balik itu.

Sebelumnya, kecenderungan Trump bakal bersikap proteksionis tercermin dari keinginannya untuk merenegosiasi sejumlah perjanjian dagang AS dengan negara lain. Selain itu, Trump juga ingin menaikkan tarif impor barang dari China sebesar 45 persen dan Meksiko sebesar 35 persen.

Enggar mengungkapkan, kondisi perekonomian global yang melambat memaksa negara-negara di dunia cenderung proteksionis di bidang perdagangan. Hal ini dilakukan untuk memacu perekonomian domestik masing-masing negara.

“Bukan hanya berlaku di Amerika Serikat, negara manapun, dan itu sangat-sangat wajar sekali, dan hal ini yang akan kita hadapi dalam perjalanan ke depan,” jelasnya.



“Kalau kita lihat China saja, dengan pertumbuhan ekonominya yang turun, maka diapun sudah melakukan berbagai langkah yang bisa terkesan itu langkah-langkah yang proteksionis,” tambahnya.

Bahkan, Enggar mengaku mendapat pertanyaan dari perwakilan negara lain, menanyakan kebijakan dagang Indonesia yang juga terkesan proteksionis.

Ke depan, lanjut Enggar, pemerintah akan melakukan dua langkah untuk mengamankan kinerja perdagangan Indonesia. Pertama, pemerintah akan mencari pasar baru sembari mempertahankan pasar tradisional seperti AS, China, dan Jepang.

“Afrika, India, Pakitan, dan Iran itu bisa menjadi pasar baru untuk Indonesia,” ujarnya.

Kedua, pemerintah juga mendorong adanya diversifikasi produk ekspor, di luar produk unggulan. Misalnya, produk furniture, kakao, dan kopi. (cnnindonesia)

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget