Adery Ardhan Saputro (Peneliti MaPPI FH UI) : Pelaku Kejahatan Seksual pada Anak Masih Divonis Ringan





BDG.NEWS, Depok - Vonis hakim terhadap pelaku kejahatan seksual anak yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan korban terbilang rendah. Korban pun semakin tersisih karena kasus tersebut.
Hal tersebut terungkap dalam hasil penelitian yang dilakukan Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia Fakultas Hukum Universitas Indonesia (MaPPI UI) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK dalam kurun waktu 2015-2016. Penelitian tersebut dilakukan dengan mengumpulkan 297 sampel putusan hakim se-Indonesia terkait kasus kejahatan seksual anak. Pelaku hanya divonis antara 3-6 tahun penjara.
Peneliti MaPPI FH UI Adery Ardhan Saputro menilai, ada beberapa penyebab munculnya kejahatan seksual anak oleh anggota keluarga. Seperti latar belakang keluarga pelaku yang bermasalah hingga dorongan seksual dari pelaku sendiri. Terkait rendahnya vonis, dia menduga hakim memperhitungkan beberapa faktor seperti kondisi ekonomi kelurga korban. Bila pelaku adalah anggota keluarga yang menanggung nafkah, tentu membuat hakim mempertimbangkannya jika memvonis hukuman berat.
Meski demikian, Adery menegaskan, proses hukum harus tetap dilakukan tanpa melihat relasi keluarga.
Sementara itu, kejahatan seksual terhadap anak justru dilakukan di lingkungan terdekatanya.‎ "‎Hampir sebagian (besar) kejahatan seksual dari data kita dilakukann oleh relasi domestik, Ada hubungan darah (keluarga) ataui kedekatan intim seperti pacar," ucap Adery di Gedung FH UI, Depok, Rabu 26 Oktober 2016.

Dalam penelitian tersebut, data putusan diambil dari Direktori Putusan Mahkamah Agung. Adery menuturkan, penelitian dilakukan pada dua kategori tindak pidana kejahatan seksual anak yakni repetisi dan tanpa repetisi. Bila repetisi, kejahatan tersebut telah dialami korban lebih dari satu kali. Sedangkan tanpa repetisi jika korban baru pertama kali mengalami. Dari 297 sampel, sebanyak 176 tindak pidana masuk kategori tanpa repetisi dan 121 repetisi.
"Mayoritas sample penelitian untuk tindak pidana kekerasan persetubuhan dengan repetisi adalah tindak pidana persetubuhan/hubungan seksual dengan tipu/bujuk/godaan terhadap anak," ujar Adery. Persentasenya mencapai 51 persen. Sedangkan relasi pelaku dan korban adalah hubungan domestik yakni keluarga atau pacar. Hal serupa terjadi dalam kategori tanpa repetisi. "Mayoritas pelaku memiliki relasi domestik (50 persen) dengan korban," kata Adery. Relasi lain yang berada di bawahnya adalah relasi horizontal dan kekerabatan (17 persen).‎(PR)

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget