Revisi UU Terorisme, Upaya Membungkam Dakwah Islam





Banjar. “Jika revisi UU Terorisme ini disahkan maka akan melahirkan rezim lebih represif, kopkamtib gaya baru dan munculkan ‘Guantanamo’ Indonesia” tegas Ustadz Dimas Prasetia SH,  aktivis HTI DPD I Jawa Barat pada agenda rutin Halqoh Islam dan Peradaban (HIP) pada ahad (04/09/2016) di Gedung Dakwah Kota banjar. Tema yang diambil adalah ‘RUU Terorisme, Membidik Siapa ?’.

Ia menjelaskan bahwa isu terorisme selama ini diarahkan kepada umat Islam. Dengan berbagai konspirasinya selama ini terlihat jelas bahwa kaum muslimin-lah yang disasar, termasuk dengan RUU Terorisme ini yang memang dibuat untuk membungkam dakwah Islam yang saat ini semakin meluas. Walaupun begitu Hizbut Tahrir sendiri tidak setuju dengan tindakan terorisme.

Hizbut Tahrir Indonesia telah menyampaikan masukan sekaligus kritik kepada Ketua Pansus Revisi UU Terorisme ; Pertama, bahwa kerangka berfikir tentang teroris dalam RUU Terorisme ini tidak jelas, karena hanya umat Islam yang dijadikan target, sementara pelaku aksi teroris pro disintegrasi tidak disebut teroris. Kedua, tentang definisi terorisme juga tidak jelas sehingga bisa ditarik-tarik sesuai selera. Ketiga, perlu dibedakan antara the real terrorism (teroris sesungguhnya) dan fabricated terrorism (teroris yang sengaja dibuat). Keempat, perlu pengawasan dan evaluasi terhadap berbagai tindakan aparat dalam penanganan kasus terorisme.

Lebih lanjut ia menjelaskan cakupan revisi RUU Terorisme yakni perluasan cakupan ancaman kekerasan, pemberatan hukuman, perpanjangan masa penahanan, hingga pencabutan paspor. RUU ini bisa menimbulkan ketakutan kepada masyakarakat untuk mengkaji Islam dan mendakwahkannya.

Apa yang disampaikan oleh Ustadz Dimas Prasetia ini, turut diamini oleh Wawan Gunawan, SP, M.Si, Kepala Kantor Kasbangpol Kota Banjar yang hadir dan turut menyampaikan pemaparan materi.

Ia juga menyampaikan penilaiannya terhadap UU Terorisme, “analisis saya terhadap RUU Teroris agar masyarakat dan pemerintah tidak dengan mudah memvonis seseorang atau kelompok sebagai teroris sehingga tidak salah tangkap,” ungkapnya.

Di akhir Ustadz Dimas memberi tiga rekomendasi yakni harus mengetahui peristiwa politik terbaru seperti RUU Terorisme, mempererat ukhuwaah islamiyyah, dan melaksanakan dakwah yang merupakan kewajiban seluruh kaum muslimin. “Jangan takut, jangan khawatir Allah bersama kita, sampaikanlah dakwah Islam dengan apa adanya karena makar Allah itu lebih dahsyat dari makar orang kafir dan antek-anteknya yang ingin memadamkan cahaya agama Islam".
Ia juga menyampaikan penilaiannya terhadap UU Terorisme, “analisis saya terhadap RUU Teroris agar masyarakat dan pemerintah tidak dengan mudah menyalahkan seseorang atau kelompok sebagai teroris sehingga tidak salah tangkap,” ungkapnya.

Di akhir Ustadz Dimas memberi tiga rekomendasi yakni harus mengetahui peristiwa politik terbaru seperti RUU terorisme, mempererat silah ukhuwah, dan melaksanakan dakwah yang merupakan kewajiban seluruh kaum muslimin. “Jangan takut jangan khawatir Allah bersama kita, sampaikanlah dakwah Islam dengan apa adanya karena makar Allah itu leboh dahsyat dari makar orang kafir dan antek-anteknya yang ingin memadamkan agama Islam.






Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget