Puluhan Ribu Massa Tolak Pemimpin Kafir, Antek Liberal Ini Meradang




BDG.News, Jakarta - Puluhan ribu massa yang yang terhimpun dalam Partai Politik Hizbut Tahrir Indonesia, Menggelar Aksi damai bertemakan "Tolak Pemimpin Kafir, Tolak Ahok" disekitar area Patung Kuda, Monas Jl. Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat, Minggu (4/9).

Dalam Aksi ini para orator menyampaikan berbagai aspirasinya atas ketidaksepakatan masyarakat kepada gubernur DKI Jakarta saat ini yaitu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kerana mayoritas masyarakat yang kebanyakan adalah Muslim tidak setuju dipimpin oleh non muslim.

Dalam pernyataannya, Ustadz Muhammad Ismail Yusanto selaku Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia mengatakan bahwa kepemimpinan dalam Islam yang menjadi syarat utama pemimpin haruslah seorang muslim. Bila bukan muslim, bagaimana ia bisa diharapkan menerapkan syariah dan menegakkan amar makruf, sedangkan ia tidak beriman pada syariah dan tidak memahami kewajiban amar makruf nahi mungkar.

Beliau kemudian mengutip Qs. An-Nisa ayat 141 yang artinya "dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengusai orang-orang beriman".

"Meski dalam redaksi berita, ayat ini mengandung celaan. Maka maknanya ada larangan, yakni larangan untuk memberikan jalan kepada kepada orang kafir untuk mengusai kaum mukminin" lanjut beliau dalam pernyataannya di panggung orasi.

Selain itu, hadir juga dalam aksi tersebut hadir masyarakat luar batang, Muhammadiyah, Majelis Ulama dan Intelektual Mauda Indonesia (MIUMI),  Front Pembela Islam (FPI), Lingkar Anti Korupsi Indonesia 45 (LAKI45), Forum RT/RW dan beberapa tokoh lainnya yang ikut menyampaikan orasinya seperti sekjen MIUMI Ust. Bachtiar Nasir, Dai Mantan Rocker Hari Moekti, Ust. Felix Siauw dan tokoh lainnya.

Merespon aksi besar tersebut, Guntur Romli, tokoh liberal yang juga tim sukses Ahok tersebut meradang, dengan memfitnah Hizbut Tahrir secara  serampangan. Dalam laman Facebook-nya, Guntur Romli bertanya dengan nada tuduhan. "Saya heran, mengapa Hizbut Tahrir mengurusi Pilkada DKI, dapat proyek berapa mereka? Siapa yang memberi mereka proyek? Berapa dananya? Karena mobilisasi massa dengan bus-bus dan kendaraan-kendaraan lainnya membutuhkan duit bukan doa", katanya heran. Dengan gegabah bahkan Guntur Romli menyebut Hizbut Tahrir menerima order bayaran. "Saya sebut Hizbur Tahrir sedang menerima order bayaran, karena mereka masih menyoal 'muslim' dan 'kafir' bagi pemimpin DKI. Padahal bagi mereka, Pilkada DKI dan segala hal-ihwal yang terkait dengan produk demokrasi: haram dan kafir, tudingnya.

Menjawab tuduhan tersebut, aktivis Hizbut Tahrir, Indonesia, Luthfi Afandi menjawab santai. "Wajar kalau Guntur Romli menuduh Hizbut Tahrir seperti itu, ini karena Ahok yang selama ini dia agung-agungkan mulai menuai penolakan dari berbagai kalangan. Mestinya Guntur Romli menjawab aksi menolak pemimpin kafir dengan argumentasi juga donk, itupun kalau ada dalil yang membenarkan bolehnya pemimpin kafir", ujarnya. "Saya yakin, karena dia nggak temukan dalilnya, akhirnya cara dia membela Ahok, dengan memfitnah Hizbut Tahrir dapat bayaran.

Lebih lanjut Ust. Luthfi menjelaskan, bahwa fitnah Guntur Romli itu, khas sekali dengan cara berpikir antek liberal, yang dalam logikanya, menggerakkan orang itu harus dengan uang. "Keliru besar kalau menyamakan Hizbut Tahrir dengan mereka yang orientasinya selalu uang, melalukan sesuatu karena uang. Perlu dicatat, bahwa aktivis Hizbut Tahrir bergerak karena dorongan akidah Islam. Mereka bergerak bukan karena dibayar, bahkan merekalah yang banyak berkorban demi memperjuangkan tegaknya hukum Allah swt, pungkasnya.

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget