DiNegara Ini , Taxi Uber dan Grab Kalah dengan Taxi Konvensional. Dan Ternyata Ada Ancaman Selain Uber Taxi



Berdasarkan pantauan terhadap sejumlah saham taksi pada Selasa (22/3/2016), menarik dicermati bagaimana saham-saham perusahaan taksi dalam setahun ini ternyata mengalami penurunan signifikan. 

Saham PT Blue Bird Tbk pada penutupan perdagangan di Selasa stagnan di level 6.400. Padahal pergerakan saham taksi dengan lambang burung biru ini sempat berkisar antara level 6.275 hingga 6.450. 

Uniknya, emiten berkode saham BIRD ini, jika ditilik selama setahun belakangan, harga sahamnya ternyata sudah anjlok 34,68 persen. 

Perusahaan taksi lain, PT Express Transindo Utama Tbk, operator taksi Express, pada Selasa, harga sahamnya naik 0,86 persen atau naik 2 poin ke level 235. 

Sebelumnya, saham taksi Express dengan kode saham TAXI ini dibuka di level 237, dengan pergerakan saham di 235 hingga 248, dan mencatatkan volume penjualan 212,75 juta saham. 

Saham taksi Express memang terlihat naik pada Selasa, gara-gara ada demo angkutan darat yang berlangsung ricuh. Sementara yang banyak disorot media adalah taksi Blue Bird. 

Tapi jika dilihat dalam setahun, saham Express sudah terjun bebas hingga 74,03 persen. 

Bagaimana dengan saham perusahaan taksi atau perusahaan angkutan lain? 

Mari kita tengok saham PT Citra Maharlika Nusantara Tbk, perusahaan angkutan yang juga mengoperasikan taksi Cipaganti. 

Pada perdagangan saham Selasa, tidak ada pergerakan saham taksi dengan kode saham CPGT ini. Saham CPGT tetap di level 50. 

Menariknya, jika dilihat dalam setahun, saham taksi Cipaganti sudah turun hingga 52,83 persen. 

Lain lagi dengan saham taksi White Horse, milik PT Panorama Transportasi. Saham taksi dengan kode saham WEHA ini pada Selasa turun 1,54 persen atau turun 2 poin ke level 128. 

Pada pembukaan perdagangan, saham WEHA dibuka di angka 130 dengan pergerakan saham di level 128-130. 

Satu yang menarik, saham perusahaan operator taksi ini sudah turun 47,54 persen selama setahun terakhir. 

Apakah penurunan ini terkait dengan maraknya bisnis transportasi yang menggunakan aplikasi online? 

Bisnis Berisiko

Menurut ekonom dari Universitas Indonesia dan Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih, anjloknya saham Blue Bird disebabkan karena model bisnis Blue Bird dinilai lebih berisiko. 

Saat ini, Blue Bird adalah perusahaan taksi dengan harga saham paling tinggi diantara perusahaan taksi lain.  

Menurut Lana, jika dibandingkan dengan taksi Express, Blue Bird menggunakan sistem komisi. Sehingga, ada risiko armadanya akan ditinggalkan oleh supirnya. 

Sementara taksi Express memberikan fasilitas kepada para pengemudinya untuk memiliki mobil yang digunakannya selama ini.

Namun, hal yang membuat saham taksi terus tergerus adalah  belum terlihat ketegasan dari pemerintah untuk menangani perihal moda transportasi berbasis aplikasi.

Sehingga, pada akhirnya moda transportasi konvensional terkena dampaknya. "Bisa jadi sopir Blue Bird akan keluar dari armada. Mungkin itu yang dilihat oleh investor," kata Lana. 

Lana menyarankan manajemen Blue Bird untuk melakukan aksi cepat untuk menangani mogok massal ataupun pelayanan. Kalau tidak, maka tentu saja kinerjanya di bursa saham akan terpengaruh. 

Disruptif

Mengapa perusahaan transportasi berbasis online ini begitu mengganggu perusahaan taksi konvensional? Atau dalam istilah lain, teknologi disruptif? 

Pertama, dari sisi pendanaan. Uber disebut sebagai startup atau perusahaan rintisan teknologi yang fenomenal. Perusahaan ini mampu mengeruk pendanaan dari banyak pendana kaya. 

Contoh saja, di Januari lalu Uber disebut mencari pendanaan ke klien utama Morgan Stanley, dengan estimasi pendanaan yang bisa membuat valuasi nilai Uber menjadi 62,6 miliar dollar AS

Kedua, dari sisi model bisnis. Dengan sistem "ride sharing", Uber menciptakan model bisnis yang efisien dan efektif, memangkas semua regulasi dan perpajakan untuk bisnis taksi konvensional. 

Di sisi lain, pengguna dimanjakan dengan kemudahan menggunakan pembayaran berbasis kartu, serta kenyamanan layanan dibanding taksi biasa. 

Ketiga, dari sisi teknologi. Semua pihak sadar, kita semua tidak bisa menentang perkembangan internet yang luar biasa. Fenomena Uber, hanyalah salah satu dari bisnis-bisnis yang mengancam bisnis konvensional. 

Selain bisnis taksi, tengok saja bisnis media, dimana banyak perusahaan media cetak harus menutup lapaknya dan beralih menjadi media digital. 

Taksi di Asia

Uber dan layanan sejenis memang saat ini mengganggu bisnis konvensional taksi di Indonesia. Tapi di Singapura, era gangguan taksi Uber dan Grab sepertinya sudah berakhir. 

Seperti dikutip dari Bloomberg, ComfortDelGro Corp Ltd, perusahaan taksi terbesar di Singapura, kini kembali menuai profit dan tercatat sebagai perusahaan dengan bullish paling tinggi di indeks MSCI Asia Pacific Excluding Japan.

Pada penutupan perdagangan Selasa, harga saham ComfortDelGro dengan kode saham CDSP turun 0,67 persen ke level 2.980 (dollar singapura).  

Uniknya, selama setahun terakhir, saham ComfortDelGro sudah mengalami kenaikan 3,86 persen. 

Setahun lalu ketika bisnis Uber dan Grab masuk ke Singapura, saham ComfortDelGro jatuh ke level 2.877. Saat ini, saham perusahaan ini sudah berada di level 2.980. 

Berdasarkan data Nomura, insentif ke driver Uber dan Grab turun 43 persen dibanding kuartal III 2015. Dua layanan taksi online ini kini diestimasi hanya punya 7 persen pangsa pasar di Singapura. 

Dibanding menambah jumlah driver, Uber dan Grab di Singapura kini fokus untuk menaikkan profitabilitas. Yang artinya, meningkatkan jumlah taksi yang tersisa pada keuntungan dari kenaikan harga. 


Taksi Singapura menguat paska masuknya Uber dan Grab.

Apa yang dilakukan pemerintah Singapura untuk menyeimbangkan bisnis taksi? Pemerintah Singapura melegalkan bisnis taksi sistem ride sharing. Pemerintah memberikan sertifikat untuk mengoperasikan taksi online selama tiga tahun, berdasarkan aturan Penyedia Layanan Taksi Pihak Ketiga. 

Para driver dan penyedia aplikasi taksi harus tunduk pada regulasi transportasi dan mengantongi izin taksi, seperti halnya pengemudi taksi profesional. Para driver juga harus bekerja dengan koperasi yang memiliki anggota minimal 20 mobil. 

Dengan cara ini, operasional antara taksi dengan online booking dan taksi biasa jadi setara. Sama-sama harus memiliki aneka izin untuk mengoperasionalkan taksi. 

Tidak hanya terjadi di Singapura, pasar yang seimbang antara taksi konvensional dengan taksi berbasis aplikasi online juga terjadi di Asia. 

Di China, regulasi terbaru menyeimbangkan keuntungan antara taksi biasa dengan taksi sistem ride sharing, berdasarkan laporan South China Morning Post. 

Hal ini berarti, sebenarnya permasalahan antara taksi konvensional dengan taksi berbasis ride sharing masih bisa diatasi dengan regulasi yang baik yang memberikan kesempatan mencapai pendapatan yang fair antara para driver-nya. 

Namun mungkin, ke depan ancaman bagi bisnis taksi konvensional bukanlah taksi ride sharing. Tapi, mobil setir sendiri atau self-driving car. Siapa tahu, bukan? 
(Aprillia Ika, Kompas)

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget