HTI KOTA BANDUNG: PENTINGNYA ASPEK RUHIYAH DALAM PEMBANGUNAN KOTA




Bandung – Sabtu (27/02), HTI Kota Bandung menyelenggarakan acara kajian kesyariatan untuk publik yang disebut Dirasah Syar’iyyah ‘Ammah yang mengambil tema “Pentingnya Aspek Ruhiyah dalam Pembangunan Kota/Kabupaten” di Kantor HTI Jawa Barat. Hadir sebagai pembicara, ustadz Eri Taufiq Abdulkariim, Pimpinan Majelis Insoiring Al Qur’an dan ustadz Yuana Ryan Tresna, DPD II HTI Kota Bandung.

Eri Taufiq sebagai pembicara pertama menyampaikan tentang amal al-insan atau prisip dasar dalam aktivitas manusia termasuk dalam pengambilan kebijakan. Konsep itu dirinci terdiri dari input, proses, output  dan outcomes . Input (quwwah al-amal), kekuatan yang mendorong manusia beramal. Selain ada kekuatan materi dan maknawi, juga ada kekuatan spiritual. Kekuatan spiritual inilah yang paling penting bagi seorang muslim. Hal inilah yang harus diperhatikan dalam suatu kebijakan pembangunan. Proses (ihsan al-amal), syarat amal yang harus terpenuhi. Selain aspek kausalitas, ada dua perkara yang sangat penting yaitu ikhlas dalam niat dan kesesuain dengan syariat. Pembangunan yang hanya berorientasi pada kausalitas dan meninggalkan syariat maka amalnya tertolak. Output (qimah al-amal), nilai amal perbuatan yang harus dicapai. Ada beberapa nilai yang manusia ingin capai seperti nilai materi, nilai akhlaq, nilai kemanusiaan, juga nilai spiritual. Pembangunan tidak boleh hanya menekankan pada capaian-capaian materi tapi melupakan nilai kemanusiaan, akhlak dan spiritual. Adapun outcomes (ghayah al-amal), adalah tujuan perbuatan manusia. Bagi seorang muslim, tujuan perbuatan adalah ridha Allah SWT. Demikian juga, setiap pengambilan kebijakan pembangunan Kota dan Kabupaten seharusnya berorientasi pada outcome tercapainya ridha Allah SWT.

“Peradaban Islam itu dibangun dengan kekuatan spiritual, berbeda dengan peradaban komunis dan sekular-kapitalis”, tegasnya. Eri Taufiq juga menambahkan, “Hukum asal perbuatan manusia terikat dengan hukum syariat (perintah dan larangan Allah). Bukan didasarkan pada kemaslahatan, pandangan publik dan expert saja.” Terkait dengan tujuan perbuatan manusia, kebijakan pembangunan itu harus bertujuan mendapatkan ridha Allah SWT, ampunan dan surga-Nya. “orientasi hanya untuk mencapai tujuan harta dan syahwat adalah tujuan aktivitas orang jahiliyah sebagaimana yang digambarkan dalam al-Qur’an”, pungkasnya.

Pembicara kedua menjelaskan tentang konsep maqashid al-syari’ah dalam dalam Ummah Development Index (Indeks Pembangunan Umat) sebagai indikator keberhasilan dan kegagalan pembangunan. Pembangunan dari perspektif barat hanya tertumpu kepada konsep materi. Aqidah sekular menafikan peranan agama dalam konsep pembangunan. Agama dianggap penghambat sebuah pembangunan. “Teori pembangunan Islam yang meletakkan manusia sebagai fokus. Manusia mempunyai tugas dan tanggungjawab terhadap Penciptanya. Oleh itu Pembangunan Islam mencakup pembangunan materi (madaniyah) dan peradaban (hadharah yang didasarkan aqidah tertentu)”, jelasnya. Yuana juga menyinggung pembangunan Kota Bandung yang hanya membangun materi, bukan membangun peradaban.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta (QS al-Anbiya’ [21]: 107). Menurut Yuana, makna ar-rahmah dalam ayat tersebut berkaitan dengan penerapan syariah Islam kâffah dalam kehidupan sebagai tuntutan akidah Islam yang diemban oleh Rasulullah saw. Syariah Islam secara kaffah akan mewujudkan kemaslahatan. Kaidah syar’iyyah menyebutkan, “Di mana pun tegak syariah maka akan ada kemaslahatan”. Yuana juga mendeskripsikan indikator kemaslahatan dalam kerangka Maqashid al-Syariah. Dengan indikator penjagaan terhadap agama, diri, akal, harta dan keturunan/kehormatan, Yuana menilai bahwa Islam memberikan jaminan akan terwujudnya tujuan tersebut. Jaminan tersebut tercermin dalam aturan atau syariat Islam. “Maqashid syariah adalah kemaslahatan dimana keberadaannya adalah hikmah (akibat) penerapan syariat. Maqâshid al-syar‘iah adalah tujuan dari syariat sebagai keseluruhan”, terangnya lagi.

Para pembicara sama-sama mengutip firman Allah SWT yang artinya,

Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatan yang mereka lakukan (QS al-A’raf [7]: 96).”
Sebagai kesimpulan, diketahui bahwa indikator berhasil dan gagalnya pembangunan adalah: (1) Apakah aturan yang ditegakkan bersumber dari keyakinan dan ketaatan pada Allah SWT?; dan (2) Apakah aturan yang ditegakan memberikan jaminan terwujudnya kemaslahatan manusia (maqashid syariah) yang akan berbuah kesejahteraan dan kebahagiaan?

Para peserta begitu antusias. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya peserta yang melontarkan tanggapan dan pertanyaan kepada para pembicara. Salah satu peserta memberikan apresiasi  dalam acara ini. “Harus ada diagnosis baru dan itu disampaikan kepada Pemerintah Kota. Tentu saja lab sayi’ah akan berbeda dengan kalau pakai lab hasanah. Standarnya harus aqidah”, tegasnya. Acara pun diakhiri dengan doa oleh pemandu acara. [bdg.news]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget