HTI KOTA BANDUNG KENALKAN DUA KONSEP PEMBANGUNAN KOTA





Sebagai tindak lanjut dari kampanye #BandungBarokah, HTI Kota Bandung mengenalkan dua konsep pembangunan kota, yaitu mazj al-madah bi al-ruh (MMR) dan konsep maqashid al-syariah (MS). MMR adalah integrasi pembangunan material dengan spiritual. Adapun MS adalah indikator pencapaian penegakan hukum/aturan.

MMR berkaitan amal al-insan atau prisip dasar dalam aktivitas manusia termasuk dalam pengambilan kebijakan. Konsep itu dirinci terdiri dari input, proses, output  dan outcomes . Input (quwwah al-amal), kekuatan yang mendorong manusia beramal. Selain ada kekuatan materi dan maknawi, juga ada kekuatan spiritual. Kekuatan spiritual inilah yang paling penting bagi seorang muslim. Hal inilah yang harus diperhatikan dalam suatu kebijakan pembangunan. Proses (ihsan al-amal), syarat amal yang harus terpenuhi. Selain aspek kausalitas (sebab akibat), ada dua perkara yang sangat penting yaitu ikhlas dalam niat dan kesesuain dengan syariat. Pembangunan yang hanya berorientasi pada kausalitas dan meninggalkan syariat maka akan hampa dan tertolak di hadapan Allah SWT. Output (qimah al-amal), nilai amal perbuatan yang harus dicapai. Ada beberapa nilai yang manusia ingin capai seperti nilai materi, nilai akhlaq, nilai kemanusiaan, juga nilai spiritual. Pembangunan tidak boleh hanya menekankan pada capaian-capaian materi tapi melupakan nilai kemanusiaan, akhlak dan spiritual. Adapun outcomes (ghayah al-amal), adalah tujuan perbuatan manusia. Bagi seorang muslim, tujuan perbuatan adalah ridha Allah SWT. Demikian juga, setiap pengambilan kebijakan pembangunan Kota dan Kabupaten seharusnya berorientasi pada outcomes tercapainya ridha Allah SWT.

“Peradaban Islam itu dibangun dengan kekuatan spiritual, berbeda dengan peradaban komunis dan sekular-kapitalis”, tegasnya salah satu fungsionaris HTI Bandung. Hukum asal perbuatan manusia terikat dengan hukum syariat (perintah dan larangan Allah). Bukan didasarkan pada kemaslahatan, pandangan publik dan expert saja. Terkait dengan tujuan perbuatan manusia, kebijakan pembangunan itu harus bertujuan mendapatkan ridha Allah SWT, ampunan dan surga-Nya. Orientasi yang hanya untuk mencapai tujuan harta dan syahwat adalah orientasi yang dangkal. Dengan orientasi outcomes ketaqwaan dan ridha Allah SWT, maka materi juga akan didapatkannya.

Adapun konsep MS dalam dalam Ummah Development Index (Indeks Pembangunan Umat) merupakan indikator pencapaian penegakan hukum/aturan. Rician MS ini menjadi indikator keberhasilan dan kegagalan pembangunan. Pembangunan dari perspektif barat hanya tertumpu kepada konsep materi. Aqidah sekular menafikan peranan agama dalam konsep pembangunan. Agama dianggap penghambat sebuah pembangunan. Teori pembangunan Islam yang meletakkan manusia sebagai fokus. Manusia mempunyai tugas dan tanggungjawab terhadap Penciptanya. Oleh itu Pembangunan Islam mencakup pembangunan materi (madaniyah) dan peradaban (hadharah yang didasarkan aqidah tertentu).

Manusia tanpa aturan akan timbul kekacauan dan kemafsadatan. Seluruh peraturan yang diberlakukan dalam masyarakat harus bersumber dari wahyu. Seorang Muslim wajib hidup sejalan dengan syariah. Penegakkan hukum menjadi lebih mudah, karena setiap Muslim, baik penguasa maupun rakyat, dituntut oleh agamanya untuk memahami syariah sebagai wujud keimanan dan ketaatannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Syariah Islam adalah hukum terbaik,
 Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al-Maidah: 49-50).

Syariah Islam mewujudkan Islam rahmatan lil alamin, “Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS al-Anbiya’ [21]: 107). Dengan memperhatikan juga QS Al-’Ankabût (29) ayat 51 memperjelas bahwa tidaklah Allah mengutus Muhammad saw. kecuali sebagai rahmat bagi ciptaan-Nya dengan semua yang terkandung dalam al-Qur’an al-Karim ini, yakni kebaikan yang terkandung dalam ajaran-ajaran-Nya. (Muhammad al-Amin a-Syanqithi, Adhwâ’ al-Bayân, juz IV hlm. 869). Makna ar-rahmah dalam ayat tersebut berkaitan dengan penerapan syariah Islam kâffah dalam kehidupan sebagai tuntutan akidah Islam yang diemban oleh Rasulullah saw. Syeikh Nawawi mengatakan, “Tidaklah Kami mengutus engkau, wahai sebaik-baiknya makhluk, dengan membawa ajaran-ajaran syariah-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta, yakni agar menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya; bagi agama ini dan kehidupan dunia.” (Lihat:  Muhammad bin ‘Umar Nawawi, Marâh Labîd li Kasyf Ma’nâ al-Qur’ân al-Majîd, juz II hlm. 62). Bahkan menurut al-Razi dalam Mafâtîh al-Ghayb juz XXII hlm. 193, rahmah ini mencakup juga kehidupan dunia karena manusia terhindar dari banyak kehinaan dan ditolong dengan keberkahan din-Nya ini.
Penerapan syariah Islam secara kaffah akan mewujudkan kemaslahatan. Kaidah syar’iyyah menyebutkan, “Di mana pun tegak syariah maka akan ada kemaslahatan.” (Muhammad Isma’il, Al-Fikr al-Islâmiy, hlm. 48). Dengan demikian penegakan seluruh ajaran Islam menjadi satu-kesatuan sistem kehidupan merupakan kebaikan hakiki bagi seluruh sendi kehidupan.

Secara bahasa maqâshid syarî‟ah terdiri dari dua kata yaitu maqâshid dan Syarî‟ah. Maqâshid berarti kesengajaan atau tujuan, maqâshid merupakan bentuk jamak dari maqshud yang berasal dari suku kata qashada yang berarti menghendaki atau memaksudkan, maqâshid berarti hal-hal yang dikehendaki dan dimaksudkan. Sedangkan syarîah secara bahasa yang berarti jalan menuju sumber air, jalan menuju sumber air dapat juga diartikan berjalan menuju sumber kehidupan. Secara istilah maqashid syari’ah adalah makna-makna dan tujuan-tujuan yang dipelihara oleh syara' dalam seluruh hukumnya atau sebagian besar hukumnya, atau tujuan akhir dari syari'at dan rahasia-rahasia yang diletakkan oleh syara' pada setiap hukumnya. (Wahbah az-Zuhaili, Ushûl al-Fiqh al-Islâmi, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1986), h. 1017).

Inti dari maqashid syari'ah adalah untuk mencapai kemaslahatan umat yang sebesar-besarnya, karena tujuan (hikmah) penetapan hukum dalam Islam adalah untuk menciptakan kemaslahatan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syara'. Adapun tujuan syara' yang harus dipelihara itu adalah (1) menjaga agama, (2) menjaga jiwa, (3) menjaga akal, (4) menjaga keturunan dan (5) menjaga harta. Jadi, pada dasarnya penerapan hukum syari'at secara sempurna itu dibuat untuk mewujudkan kebahagiaan individu dan jama'ah, memelihara aturan serta menyemarakkan dunia dengan segenap sarana yang akan menyampaikannya kepada jenjang kesempurnaan, kebaikan, budaya, dan peradaban yang mulia. Inilah ensi rahmat. Dari pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa yang menjadi bahasan utama dalam maqâshid syarî‟ah adalah hikmah ditetapkan suatu hukum. Hikmah adalah sesuatu yang menjadi tujuan atau maksud disyariatkannya hukum dalam wujud kemaslahatan bagi manusia. Maslahat secara umum dapat dicapai melalui dua cara: (1) Mewujudkan manfaat dan kebaikan untuk manusia yang disebut dengan istilah jalb al-manafi'; (2) Menghindari atau mencegah kerusakan dan keburukan yang sering diistilahkan dengan dar  al-mafâsid.

Tingkatan maqâshid syarî’ah jika dilihat dari aspek pengaruhnya dalam kehidupan manusia (Az-Zuhaili, Ushûl al-Fiqh…, h. 1020-1023), maslahat dapat dibagi menjadi tiga tingkatan:
(1)      Dharûriyat, yaitu maslahat yang bersifat primer, di mana kehidupan manusia sangat tergantung padanya, baik aspek diniyah (agama) maupun aspek duniawi. Maka ini merupakan sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan dalam kehidupan manusia. Jika itu tidak ada, kehidupan manusia di dunia menjadi hancur dan kehidupan akhirat menjadi rusak (mendapat siksa). Ini merupakan tingkatan maslahat yang paling tinggi. Di dalam Islam, maslahat dharûriyat ini dijaga dari dua sisi: pertama, realisasi dan perwujudannya, dan kedua, memelihara kelestariannya.
(2)      Hâjiyat, yaitu maslahat yang bersifat sekunder, yang diperlukan oleh manusia untuk mempermudah dalam kehidupan dan menghilangkan kesulitan maupun kesempitan. Jika ia tidak ada, akan terjadi kesulitan dan kesempitan yang implikasinya tidak sampai merusak kehidupan.
(3)      Tahsinîyat, yaitu maslahat yang merupakan tuntutan muru'ah (moral), dan itu dimaksudkan untuk kebaikan dan kemuliaan. Jika ia tidak ada, maka tidak sampai merusak ataupun menyulitkan kehidupan manusia. Maslahat  tahsiniyat ini diperlukan sebagai kebutuhan tersier untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Beberapa catatan yang juga penting digarisbawahi adalah: (1) Maqashid syariah adalah kemaslahatan dimana keberadaannya adalah hikmah (akibat) penerapan syariat; (2) Maqâshid al-syar‘iah adalah tujuan dari syariat sebagai keseluruhan; (3) Hikmah penerapan syariat tidak selalu terwujud; (4) Hikmah penerapan syariat hanya bisa diketahui melalui dalil syariat. (Taqiyuddin al-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, Juz III, hlm. 359-366)

Filosofi indeks pembangunan umat tergambar dalam firman Allah SWT,
Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatan yang mereka lakukan (QS al-A’raf [7]: 96).

Islam memberikan jaminan terwujudnya kemaslahatan umum. Aturan Islam memberikan jaminan terwujudnya kemaslahatan manusia berupa kesejahteraan dan kebahagiaan. Kesejahteraan (rafahiyah, welfare-prosperity, karaharjaan) adalah tingkat terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu secara menyeluruh yang memungkinkannya untuk memenuhi kebutuhan pelengkapnya sesuai gaya hidup di setiap masyarakat atau bangsa. Indikatornya sangat jelas, yakni terpenuhinya kebutuhan pokok dan peluang untuk memenuhi kebutuhan pelengkap (sekunder dan tersier). Bahagia (sa’adah-sakinah, happiness, kabungah-bagja) dapat diartikan dengan kenyamanan dan kenikmatan spiritual dengan sempurna dan rasa kepuasan, serta tidak adanya cacat dalam pikiran sehingga merasa tenang serta damai. Kebahagiaan itu adanya di dalam hati (rasa) seseorang, berutama ketenangan jiwa. Kebahagiaan erat kaitanya dengan pandangan hidup tertentu, ideologi atau aqidah.

Berdasarkan teori MS, indikator berhasil dan gagalnya pembangunan adalah: (1) Apakah aturan yang ditegakkan bersumber dari keyakinan dan ketaatan pada Allah SWT?; dan (2) Apakah aturan yang ditegakan memberikan jaminan terwujudnya kemaslahatan manusia (maqashid syariah) yang akan berbuah kesejahteraan dan kebahagiaan?

Hal tersebut disampaikan dalam Dirasah Syar’iyyah ‘Ammah yang mengambil tema “Pentingnya Aspek Ruhiyah dalam PembangunanKota/Kabupaten” di Kantor HTI Jawa Barat  ,Sabtu (27/02/2016). Hadir sebagai pembicara, ustadz Eri Taufiq Abdulkariim, Pimpinan Majelis Inspiring Al Qur’an dan ustadz Yuana Ryan Tresna, DPD II HTI Kota Bandung. [bdg.news]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget