rahasia bisnis nabi muhamad

RAHASIA BISNIS RASULULLAH

Rahasia Bisnis Rasulullah merupakan buku karangan Prof. Laode Kamaluddin, Ph.D yang menjelaskan tentang Baginda Rasulullah MUHAMMAD SAW dalam membangun megabisnis yang selalu untung sepanjang sejarah. Prof. Laode melihat "MUHAMMAD" sebagai sosok manusia biasa yang memimpin secara sukses, sangat dihormati, sangat disegani oleh kalangan manapun. Buku ini tidak melihat ke ranah ke-RASUL-annya, tetapi lebih kepada bagaimana Muhammad melakukan bisnis.
Muhammad kecil dan muda telah mendobrak mental block tentang pemikiran banyak orang bahwa kekayaan, kejayaan dan kesuksesan hanyalah milik orang kaya ataupun milik orang terpandang dan dari keluarga raja-raja saja. Dalam ranah ini, Prof. Laode menunjukkan bahwa Muhammad adalah prototype anak muda yang tidak mau terpenjara mentalnya (pandangan umum orang terhadap suatu keadaan) :
* Bahwa orang yang lahir dalam kondisi miskin dan yatim piatu seperti dirinya juga berhak dan bisa sukses-kaya-terpandang;
* Bahwa orang yang lahir dengan tidak memiliki modal managerial seperti dirinya juga bisa menjadi orang terkaya asal mau berusaha dengan tekun dan cerdas;
* Bahwa ketidakmampuan dalam baca-tulis bukanlah halangan untuk sukses;
* Bahwa untuk sukses modalnya cukup satu : kepercayaan (trusty); dan seterusnya.
Muhammad tidaklah kongkouw-kongkouw alias duduk-duduk santai saja dan berpangku tangan. Untuk sukses dan berjaya, Muhammad harus berleleran keringat, airmata dan darah kalau perlu.
Bisnis menggembala kambing adalah hal pertama yang dilakukan. Menggembala kambing bukanlah pekerjaan remeh, tetapi tersirat hal yang sarat dengan masalah kepemimpinan (leadership : jika tidak bisa mengatur kambing yang tidak berakal, bagaimana bisa memimpin manusia yang berakal dan penuh tipu daya) sebagai syarat utama manajemen bisnis modern. Selain itu juga, dalam menggembala kambing terdapat pelajaran etika-moral (agar tidak mengganggu tanaman orang lain), emosional-spiritual, dan ketahanan fisik.
Tahap selanjutnya, Muhammad yang telah berumur 12 tahun ikut berdagang dalam rombongan pamannya Abu Thalib ke negeri Syam yang kemudian berkembang ke Irak, Yordania, Bahrain, Ethiopia, Suriah dan Yaman. Muhammad dalam hal ini telah berubah menjadi eksportir muda dalam usia belasan tahun yang menjual barang keluar negeri/daerah.
Ketika Muhammad meminang konglomerat terkaya saat itu, Khadijah binti Khuwailid, Muhammad mampu membayar mahar (mas kawin) yang sangat besar sekali berupa unta dan lain-lain. Jika dikonversikan dengan nilai sekarang, menurut Prof. Laode setara dengan 6 (enam) miliar rupiah. Fantastis........... Serasa belum ada anak muda jaman sekarang yang bisa membayar mahar sebesar itu atas usaha sendiri.
Dalam istilah modern, Muhammad bisa sukses dalam membangun kerajaan bisnisnya, dimulai dari kegigihannya dalam membangun personal reputation dan personal branding yang sangat terpercaya tanpa cacat sedikit pun sejak kecil, sehingga beliau disebut Al Amin atau Mr. Clean, orang yang sangat bisa dipercayai karena bersih dari segala kejahatan.
Dalam personal reputationnya, menempatkan Muhammad sebagai money maker dan money magnet yang selalu dicari oleh pemodal untuk menitipkan modal ataupun barang dagangannya untuk diperjual-belikan oleh Muhammad dengan sistem profit sharing alias bagi hasil. Bahkan orang Yahudi lebih mempercayai Muhammad untuk berdagang dan bekerjasama dalam berdagang.
Dengan tingkat kepercayaan seperti itu, Muhammad telah menerapkan etika bisnis modern yang biasa disebut societal marketing, good corporate governance, corporate social responsibility, corporate mystic, corporate sufi, dan lain sebagainya. Istilah yang tak pernah terdengar ketika jaman itu.
Etika bisnis yang diterapkan Muhammad secara ketat, menjadikan Muhammad sebagai spiritual marketer yang bukan hanya berdagang barang (tangible assets)tetapi juga berdagang ide (intangible assets). Muhammad juga menerapkan prinsip negosiasi dengan proses dialog yang cerdas sebagaimana tercermin ketika proses negosiasi antara Muhammad dan Khadijah binti Khuwailid tentang fee untuk Muhammad.
Prinsip bisnis modern, seperti tujuan dan kepuasan pelanggan (consumer satisfaction), pelayanan yang unggul (service exellence), kompetensi, efisiensi, transparansi, persaingan yang sehat dan kompetitif, semuanya telah menjadi gambaran pribadi dan etika bisnis Muhammad ketika ia masih muda sampai akhir hayat. Sangatlah tepat dan tidak berlebihan jika Muhammad disebut sebagi peletak dasar atau embrio atas prinsip bisnis modern. Muhammad juga memperkenalkan asas "Facta Sur Servanda" yaitu asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian; bahwa di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi yang dibangun atas dasar saling setuju.
do thing right
do the right thing
12 rahasia besar kepemimpinan Rasulullah dalam membangun megabisnis yang selalu untung sepanjang sejarah :
1. Menjadikan bekerja sebagai ladang menjemput surga
2. Dalam dunia bisnis, kejujuran dan kepercayaan tak boleh ditawar sama sekali
3. Tak cuma bisa mimpi, tapi harus pandai mewujudkan mimpi itu
4. Berpikir visioner, kreatif dan siap menghadapi perubahan
5. Rasulullah memiliki planning dan goal setting yang jelas
6. Pintar mempromosikan diri
7. Menggaji karyawan sebelum kering keringatnya
8. Mengetahui rumus "bekerja dengan cerdas"
9. Mengutamakan sinergisme
10. Berbisnis dengan cinta
11. Pandai bersyukur dan berucap "terima kasih"
12. Be the best! menjadi manusia paling bermanfaat

From zero to hero

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menyinggung masalah keteladanan Rasulullah yang tidak hanya mencakup aspek spiritual saja, namun juga aspek bisnis juga. Jika belum membacanya silahkan baca “Meneladani Gaya Bisnis Rasulullah Muhammad SAW”.
Kali ini, seperti yang telah dijanjikan dulu, saya akan membagikan kepada Anda 12 Rahasia Bisnis Rasulullah dalam beberapa seri. Sehingga Anda bisa mencoba memahaminya satu persatu dan mempraktekkannya. Percuma kan kalau saya beri rahasianya tapi tidak diteladani dan dipraktekkan, hehehe…
3 rahasia pertama yang akan saya bahas pertama disini diantaranya :
#1 Menjadikan Pekerjaan Sebagai Ladang Menjemput Surga
#2 Kejujuran dan Kepercayaan Yang Tidak Bisa Ditawar
#3 Tidak Cuma Bisa Mimpi, Tapi Ahli Mewujudkannya
space
BEKERJA = IBADAH
Ada satu kesalahan pemahaman yang sering kali dilakukan oleh umat manusia di dunia ini, terkait masalah ibadah. Ketika disinggung soal ibadah, maka yang sering kita pikirkan adalah masalah shalat, puasa, haji, dll (bagi yang muslim), pergi kebaktian ke gereja (bagi yang nasrani), sembahyang ke Pura (bagi yang Hindu), dll.
Padahal makna ibadah bisa lebih luas dari pada itu semua. Ibadah tidak hanya mencakup masalah spiritual saja. Ketika satu perbuatan dilakukan dengan niatan yang baik, dimulai dengan menyebut nama Allah, maka itu sudah masuk dalam ranah ibadah.
Begitu pula dengan bisnis yang kita lakukan. Niatkan saja bisnis Anda sebagai ibadah sejak awal. Maka sepanjang usaha yang Anda lakukan untuk memajukan bisnis Anda akan menjadi suatu ladang amal yang mengalirkan pahala. Pantaslah lahir ungkapan, “hidup kaya raya, mati masuk surga”. Apalagi kalau suksesnya di usia muda.
Dan ketika kita meniatkan setiap pekerjaan kita sebagai satu bentuk ibadah, maka efeknya akan lain sekali dan cenderung positif :
* Anda akan bekerja lebih baik karena ini adalah ibadah. Ngga mungkin kan kita ibadah kepada Sang Khalik serampangan.
* Anda lebih ikhlas dalam menjalani prosesnya karena ini bagian dari perjalanan ibadah kita.
* Anda akan jujur dan amanah karena ingin mendapatkan balasan yang terbaik dariNya. Dll.
Kalau sudah begini, peluang bisnis kita untuk maju dan berkembang pesat terbuka lebar. Tentunya berujung pada kesuksesan dan peningkatan level spiritual kita yang berjalan beriringan. Bekerja = Ibadah, hidup sukses mati masuk surga.
space
KEJUJURAN & KEPERCAYAAN
Hal ini rasanya sudah banyak diketahui oleh banyak pebisnis, namun tidak banyak yang benar-benar memegang dan melaksanakannya. Hampir ratusan bahkan ribuan pebisnis lahir setiap harinya, namun tidak banyak yang mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama. Mungkin dua hal ini yang tidak disadari oleh kita kebanyakan.
Ada satu ungkapan menarik yang saya temukan di sebuah buku, “Etika bisnis memegang peranan penting dalam membentuk pola dan sistem transaksi bisnis. Pada akhirnya menentukan warna dan nasib bisnis yang dijalankan seseorang.” Coba direnungi sejenak ungkapan tersebut.
Di tengah ketatnya persaingan bisnis yang saat ini tengah terjadi, tentu sebagai pebisnis yang ikut terjun di dalamnya kita memerlukan beberapa nilai tambah yang menjadikan bisnis kita lebih unggul dibandingkan dengan pebisnis lainnya.
Namun apa yang sering terjadi, alih-alih mencari nilai tambah dan mengembangkan bisnis, kita malah cenderung suka menyikut pesaing bisnis dengan segala macam cara. Melupakan etika yang seharusnya bisa kita jadikan satu pegangan dan menjadi batu pijakan untuk melesatkan bisnis kita ke atas.
Bicara soal nilai tambah ini, KEJUJURAN dan KEPERCAYAAN sudah menjadi nilai tambah yang sangat luar biasa. Kenapa? Sudah bukan rahasia lagi kalau mayoritas customer kita membeli produk ataupun menjalin kerjasama dengan kita karena mereka PERCAYA bahwa kita JUJUR dan bisa DIPERCAYA.
Apalagi saat ini marak dengan penipuan-penipuan ngga jelas. Bahkan metode penipuannya pun sudah semakin profesional. Membutakan mata, mengusik emosi sesaat dan menyebabkan kita kehilangan banyak hal dalam waktu yang singkat.
Jadi coba mulai dari sekarang, kita ubah sikap kita dalam berbisnis. Cobalah untuk jujur dan tidak berbohong, sekecil apapun. Cobalah untuk membangun kepercayaan dengan sikap yang tepat. Bisa juga dengan membangun personal branding agar orang lebih mengenal siapa dan bagaimana kita sebenarnya. Dan ingat, pebisnis yang tidak jujur sudah mendapatkan 1 tiket VIP di neraka, itu ada di Al-Qur’an.
Lihatlah bagaimana Rasullah yang mendapatkan gelar Al-Amin karena kejujurannya sejak awal dia memulai karirnya. Walaupun startnya dari seorang penggembala kambing, namun berkat kejujurannya lah dia mampu menggenjot karirnya hingga berakhir dengan kesuksesannya sebagai seorang pebisnis besar.
space
NGGA CUMA MIMPI, TAPI ACTION
“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia…” (Nidji – Laskar Pelangi). Bait lagu tersebut akan menjadi benar apabila kita ACTION untuk mewujudkan mimpi kita tersebut. Sudah terlalu banyak orang memimpikan untuk memiliki bisnis yang besar dan sukses, namun fakta berbicara bahwa yang sukses dan kaya hanya segelintir saja.
Cobalah Anda sesekali berdiskusi dengan rekan-rekan yang saat ini hidupnya pas-pasan. Anda bisa bertanya kepada mereka apa sih mimpi sukses mereka di dunia ini. Saya yakin disini mereka akan bercerita dengan antusias apa mimpinya. Lalu coba berikan pertanyaan kedua, “Apa yang sudah mereka lakukan untuk sampai pada tujuan tersebut?” (pertanyaan ini juga buat Anda lho).
Kalau pertanyaan pertama sifatnya enteng (cuma mimpi doang), maka pertanyaan kedua bobotnya berat sekali. Karena dalam hal ini menuntut satu hal, yakni TINDAKAN NYATA. Dan saya yakin sejuta alasan akan keluar dari kata-kata mereka, yang intinya tidak pernah punya keberanian untuk mencoba mewujudkan impian mereka alias tidak berani bertindak nyata.
Kita seringkali terlalu takut untuk memulau bertindak karena yang sering dibayangkan adalah KEGAGALANNYA. Kata gagal merasuk begitu dalam hingga berkuasa dalam pikiran kita mengalahkan arti penting kesuksesan itu sendiri. Padahal kalau kita mau belajar pada mereka yang sukses, justru mereka sukses adalah karena fokus pada keberhasilan yang ada di akhir perjalanan. Gagal di tengah jalan tidak masalah, karena perjalanan belum berakhir dan garis finishnya adalah kesuksesan.
Lihatlah bagaimana Rasulullah yang sejak kecil selalu bermimpi menjadi orang yang sukses. Beliau tidak mempedulikan latar belakangnya yang notabene berasal dari keluarga miskin dan yatim piatu. Dengan berbekal sebuah prinsip, “Hari esok harus lebih baik dari hari ini”, Beliau melangkah dengan pasti.
Beliau juga tidak takut ketika harus bersusah payah merintis bisnisnya dari nol. Masih ingat pendidikan bisnis pertama kali Rasulullah? Ya, saat beliau memulainya dengan menjadi penggembala kambing. Kemudian berlanjut dengan membantu pamannya berdagang. Lanjut lagi dengan menjadi agen bagi para pengusaha dan investor kaya. Yang berujung dengan menjadi saudagar kaya dan sukses.
Rekan-rekan, tiga point di atas sebenarnya bukan hal yang baru lagi dalam dunia keseharian kita. Tapi yaitu, belum banyak yang melaksanakannya. Entah karena ketidaktahuan atau karena memang ketidakberanian untuk bertindak. Saya kira cukup dulu untuk sesi pertama Rahasia Bisnis Rasulullah. Nantikan kelanjutannya. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat dan memotivasi Anda semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Strategi Bisnis Pada Masa Rasulullah

Kejayaan ekonomi Islam mulai dibangun yaitu pada masa Rasulullah s.a.w, sampai-sampai pada waktu itu dua pertiga dunia selama 800 tahun dikuasai oleh kaum muslimin, sehingga timbul pertanyaan pada diri kita, apa sebenarnya rahasia suksesnya perekonomian pada saat Rasulullah s.a.w.
dan para sahabat? Kalau kita bedah, sebenarnya rahasia suksesnya bisnis Rasulullah s.a.w. paling tidak terdiri dari tiga tahapan :
1. Jujur.
Kalau kita menginginkan sukses dalam berbisnis maka yang pertama yang harus kita miliki adalah kejujuran, karena kalau tidak memiliki kejujuran orang tidak akan mau berbisnis dengan kita.
2. Cerdas.
Jujur dalam berbisnis jika tidak dibarengi dengan kecerdasan maka akan menemukan kerepotan, karena akan mudah ditipu oleh orang lain dan sebaliknya orang yang cerdas tetapi tidak jujur maka orang tidak ada yang mau berbisnis dengannya.
3. Menginfakan sebagian hartanya kepada orang lain.
Inilah tiga rahasia strategi bisnis rasulullah s.a.w. Marilah kita bahas satu persatu dari ketiganya.
1. Jujur.
Jujur dalam konteks Islam memiliki dua makna yaitu jujur kepada Allah yang dalam bahasa sehari-hari disebut ’siddiq’. Siddiq artinya ’sami’na waatha’na’ yaitu ’mendengar dan mentaati’.
Ketika nabi Musa a.s. dikejar-kejar oleh Fir’aun, maka nabi Musa mengajak kepada kaumnya, ”Wahai kaumku, mari kita pergi ke pinggir laut.” Umat nabi Musa bertanya, ”Wahai musa, mengapa kita harus pergi ke pinggir laut, sementara Fir’aun dan pasukan kudanya mengejar kita dari belakang, sedangkan kondisi pinggir laut datar maka akan mudah mengejar kita, kenapa kita tidak pergi ke gunung saja yang jalannya tinggi dan susah bagi Fir’aun dan pasukannya untuk mengejar kita?”, Musa menjawab, Tidak, kita harus pergi ke laut.”
Setibanya ketepi laut merah, lagi-lagi kaumnya nabi Musa bertanya, ”Wahai nabi Musa, apa yang harus kita lakukan, dibelakang kita ada pasukan Fir’aun sementara didepan ada laut?” Musa menjawab, ”Wahai kaumku, aku bukanlah seorang yang ahli strategi perang yang ulung, aku bukanlah seorang jenderal yang ahli strategi perang, yang aku tahu hanya satu, sami’na waatha’na, ketika Tuhanmu menyuruh aku untuk membawa kalian ketepi laut, maka aku akan mendengar dan mentaatinya, sekarang ketika Tuhanku menyuruh aku untuk memukulkan tongkatku ke laut merah, maka akan aku pukulkan.”
Singkat kata, laut merah itu terbelah dan nabiullah Musa beserta kaumnya lewat sementara Fir’aun tergulung oleh laut merah.
Dalam kaitan ekonomi, bagaimana makna sami’na wa’atha’na? Dalam kaitan ekonomi makna ’sami’na waatha’na’ yaitu jika ada larangan haram maka harus sedia untuk meninggalkannya tanpa harus berdalih apapun dan tidak boleh ada alasan apapun, pendek kata kita tidak boleh bermain-main dengan yang haram, dan harus segera meninggalkanya. Dalam kondisi kehidupan sekarang ini, sering ada ungkapan mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal. Ungkapan ini harus ditinggalkan jauh-jauh, karena rizki adalah rahasia Allah, jika kita mencarinya dengan cara yang haram maka tidak akan menjadi menambah rizki yang kita miliki.
Dalam kitab ’La Tahzan’ diceritakan, ketika itu Sayyidina Ali menumpangi keledai sampai ke masjid, lalu dia melihat ada seorang pemuda yang sedang duduk-duduk di Masjid. Maka Sayyidina Ali dalam hatinya berkata, jika aku nanti setelah selesai shalat, maka akan aku sedekahkan satu dinar kepada pemuda ini. Lalu Ali turun dari keledainya dan berkata kepada pemuda tersebut , wahai Pulan, tolong jagakan keledaiku, aku mau shalat dulu. Ketika Sayyidina Ali selesai shalatnya dan keluar dari masjid, setibanya diluar ternyata pemuda itu sudah tidak ada sementara keledainya masih ada tapi sudah tidak memakai cangkang keledai. Timbul prasangka Ali jangan-jangan pemuda yang tadi aku titipkan adalah pencuri sehingga mencuri cangkang keledaiku. Maka disuruhlah salah seorang sahabat untuk membawa satu dinar uang kepasar karena dia menduga pemuda tadi yang mencuri cangkang keledainya, kalau benar, maka engkau beli cangkang keledai itu. Setibanya di pasar, benar ada pemuda tadi yang sedang menawar-nawarkan cangkang keledai tersebut dengan harga satu dinar, maka dibelilah cangkang keledai itu dan kembalilah sahabat itu kepada Ali. Sayyidina Ali berkata, Subhanallah, pemuda ini memilih satu dinar yang haram dibandingkan dengan satu dinar yang halal, kalau saja dia sabar sedikit maka dia akan dapat satu dinar juga tetapi mendapatkan yang halal.
Sekali lagi perlu ditekankan bahwa dengan mencari rizki yang haram pada hakikatnya tidak akan menambah rizki yang kita miliki tetapi sebaliknya hanya akan menambah dosa yang kita miliki. Hanya ada dua cara dalam mencari rizki. pertama, banyaklah bersilaturahmi. Rasulullah mengatakan, silaturahim akan memperbanyak saudara dan memperbanyak rizki. Kedua, perbanyaklah sadaqah. Dalam sebuah hadis qudsi Allah mengatakan, dan tidak akan berkurang uang yang disedekahkan dijalan Allah. Jika kita bersedekah dengan ikhlas, maka Allah akan menambahnya dengan tujuh kali lipat dan jika lebih ikhlas lagi maka Allah ganti dengan tujuh ratus kali lipat.
Jadi, jangan pernah punya fikiran terlintas dalam hati ataupun dalam otak kita untuk menambah rizki itu dengan cara yang haram, rizki takarannya sudah ada dari Allah, kalau kita mencari dengan cara yang halal maka akan segitu dapatnya, dan jika mencari dengan cara yang haram maka akan segitu juga dapatnya.
Dalam sebuah kisah diceritakan, dalam antrian panjang ketika akan menghadapi peperangan Badar, orang-orang yang memiliki tombak menyumbangnya dengan tombak, orang-orang yang memiliki pedang menyumbangnya dengan pedang, yang punya panah maka menyumbangnya dengan panah, orang yang punya harta menyumbangnya dengan harta. Dalam antrian panjang itu ada seorang nenek tua yang ikut antri sementara dia sendiri tidak membawa apa-apa sehingga petugas antrian tersebut betanya, “Nek...Apakah nenek tidak salah antri, ini adalah antrian perang badar.” Sang nenek menjawab, “Wahai anak muda, aku memang tidak punya harta benda yang dapat aku berikan untuk persiapan perang badar dan badanku juga sudah tua renta, aku hanya punya seutas tali yang panjangnya kira-kira 40 centimeter, tolong terimalah taliku ini dan bawalah ke medan perang. Dalam peperangan badar tersebut terdiri 300 pasukan muslim dan 1000 pasukan kafir, dalam peperangan tersebut banyak sekali para petinggi quraisy yang terbunuh dan salah satu diantara petinggi tersebut tertawan sementara kaum muslimin tidak menemukan tali untuk mengikat tawanan itu kecuali tali yang dari si nenek tua itu. Dimata manusia pemberian si nenek tua itu tidak ada apa-apanya, tapi karena si nenek tersebut memberikannya dengan ikhlas dan memberikan yang terbaik yang dia miliki maka Allah angkat perbuatan nenek tua itu begitu tingginya sehingga dengan talinya itu dia diberikan kesempatan untuk mengikat tawanan kaum quraisy tersebut yang sampai hari ini kisahnya dapat dibaca pada kitab-kitab sejarah.
Dari kutipan sejarah tersebut diatas, cobalah kita tanya diri kita sendiri sudah berapa banyak yang kita sadaqahkan dari sesuatu yang kita miliki? Kalau kita sudah bersadaqah, sudah ikhlaskah kita ketika memberikannya?
Didalam urusan ekonomi, masuk dalam bab muamalat tentu berbeda fiqih muamalat dengan fiqih ibadah. Dalam fiqih ibadah, rumusnya semua itu tidak boleh kecuali yang ada ketentuannya, maka berlakulah asal hukum fiqih ibadah bahwa dalam ibadah kita tidak dituntut untuk kreatif dan inovatif atau menciptakan sesuatu yang baru, cukup dengan melakukan sesuatu yang telah ada contohnya karena kalau menciptakan sesuatu akan masuk dalam kategori bid’ah sementara bid’ah itu sesat dan masuk dalam neraka. Itulah dalam masalah ibadah. Tapi untuk asal hukum fiqih muamalat semuanya boleh kecuali sesuatu yang dilarang, mau minum apa saja boleh asal jangan yang dilarang, mau makan apa saja boleh kecuali yang dilarang. Oleh karena itu, dalam mempelajari fiqih muamalat yang sebaiknya yang kita pelajari yang haram sehingga kita tidak melakukannya.
Sesuatu yang haram dalam fiqih muamalat terdiri dari dua. Pertama, haram dzatnya (haram fii dzatihi). Dalam al quran haram dzatnya ada empat macam yaitu babi, darah, bangkai, khamer. Jika kita sudah mengetahuinya maka kita harus berusaha untuk meninggalkannya jangan lagi berfikir kenapa babi haram dan sebagainya. Kedua, haram karena bukan dzatnya. Haram bukan karena bukan dzatnya ada tujuh macam, yaitu
1. Tajlis (menipu ). Dalam fiqih, menipu ada empat macam, yaitu menipu dalam hal kuantitas (mengurangi timbangan), menipu dalam kualitas (menyembunyikan cacatnya barang), dalam Islam dibolehkan menjual barang cacat tetapi tidak boleh menyembunyikan cacatnya barang, menipu dalam hal waktu penerimaan barang;
2. Gharar (ada ketidakpastian didalam jual belinya). Gharar ada empat macam. Yaitu, gharar dalam hal kuantitas, gharar dalam kualitas, gharar dalam hal harga, gharar dalam hal waktu.
Sebelum menjadi nabi, Muhammad adalah seorang pedagang sukses yang
dijuluki Al Amin. Lebih dari 20 tahun beliau berkiprah di bidang
perdagangan, sehingga mampu membangun jaringan bisnis hingga ke
Yaman, Syria, Irak, Yordania dan kota-kota lainnya di Jazirah Arab.
Karirnya meningkat setelah dipercaya sebagai mudharib (fund manager)
seorang saudagar besar bernama Khadijah. Dalam Sirah Halabiyah
dijelaskan bahwa Muhammad sempat melakukan empat lawatan
dagang untuk Khadijah.
Selain perjalanan bisnis, dia juga terlibat dalam urusan dagang
yang besar, selama musim-musim haji di festival dagang Ukaz dan
Dzul Majaz. Sementara di luar musim haji, Muhammad sibuk mengurus
perdagangan grosir pasar-pasar kota Mekkah. Dalam menjalankan
bisnisnya, dia menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang
jitu dan andal sehingga bisnisnya tetap untung dan tidak pernah
buntung.
Prinsip-prinsipnya, antara lain jujur, setia dan profesional.
Dengan prinsip-prinsip etika bisnis tersebut, dia berhasil meraih
kepercayaan konglomerat-konglomerat Arab. Inilah dasar
kepribadian dan etika bisnis yang dipraktekkan Muhammad sehingga
bisa menjadi semacam money magnet bagi taipan-taipan Arab
kala itu, di samping juga menjadi medan magnet yang mempengaruhi
orang-orang yang ada di sekitarnya, dan masyarakat Arab pada umumnya.
(hal 31-32)
Buku karya La Ode Kamaluddin ini merupakan lanjutan dari buku 14 Langkah Bagaimana Rasulullah SAW Membangun Kerajaan Bisnis.
Di dalam buku ini Kaimuddin memaparkan 12 rahasia bisnis Rasullah.
Antara lain, menjadikan bekerja sebagai ladang menjemput surga;
berpikir visioner, kreatif dan siap menghadapi perubahan; pintar
mempromosikan diri; menggaji karyawan sebelum kering keringatnya;
mengutamakan sinergisme; berbisnis dengan cinta; serta pandai
bersyukur dan berucap terima kasih.
Selain memaparkan 12 rahasia bisnis Rasulullah, Kamaluddin juga
memberi penekanan khusus pada pentingnya menjaga amanah. Sebab
kesuksesan Rasulullah tak bisa lepas dari keberhasilannya menjaga
kepercayaan (amanah). Itulah modal terbesar yang tak bisa
ditawar-tawar jika kita ingin sukses dalam berbisnis seperti
Rasulullah.
Dari berbagai hadis dan sejarah hidup rasulullah (sirah nabawiyah),
Kamaluddin menemukan beberapa inspirasi yang dapat menjadi teladan
bagi para pebisnis. Pertama, penjual tidak boleh mempraktekkan
kebohongan dan penipuan menyangkut barang yang dijual kepada
pembeli.
Kedua, penjual harus menjauhkan sumpah yang berlebihan dalam
menjual suatu barang. Dalam mengiklankan produk atau jasa, tidak
dibenarkan melakukan pembodohan dengan cara berdusta.
Ketiga, hanya dengan sebuah kesepakatan bersama, atau dengan
suatu usulan dan penerimaan, suatu penjualan akan sempurna.
Keempat, Rasulullah melarang dengan tegas adanya monopoli dagang.
 
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget