Bandung News | Media Lokal Rasa Global

Terbaru



 Oleh : Dr. Ummu Sumayyah Ammar

Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Malaysia

Globalisasi adalah lokomotif untuk mengubah dunia, yang telah pasti membawa berbagai budaya dan pemikiran dan dipelihara sikap materialistis. Sektor pendidikan tentu dipengaruhi oleh globalisasi. Isu yang dijunjung tinggi dalam pendidikan saat ini adalah untuk memastikan kompetensi untuk setiap individu yang terlibat dalam proses pendidikan serta keunggulan kompetitif yang harus dimiliki oleh lembaga pendidikan. Ini sangat penting untuk menghasilkan generasi unggul yang mampu memimpin dunia seperti generasi tertinggi sebelumnya yang dicetak oleh dunia Islam dimasa lampau. Dari penelitian yang dilakukan, dua komponen utama untuk menghasilkan pemikir unggul dan kepribadian kreatif adalah i) Kualitas Guru dan ii) Metode Pengajaran.

Kualitas Guru
Menjadi seorang guru adalah salah satu tugas yang sangat dihormati dalam Islam. Mereka yang membawa tugas berat ini telah dijanjikan pahala besar. Sebuah hadits dari Nabi Muhammad (saw) yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili, menyatakan,
«إن الله وملائكته وأهل السموات والأرض حتى النملة في حجرها وحتى الحوت ليصلون على معلمي الناس الخير»
"Allah dan para malaikat-Nya dan penduduk langit dan bumi, bahkan semut di bebatuan dan ikan, berdoa untuk berkah pada diri mereka yang mengajar orang-orang dengan baik." [HR Tirmidzi].

Ada juga hadits lain yang menjanjikan manfaat bagi guru yang menyatakan,
«إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية, أو علم ينتفع به, أو ولد صالح يدعو له»
"Ketika manusia meninggal, amalnya terhenti kecuali tiga: Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang berdoa untuknya" [HR Muslim].

Hebatnya untuk seorang guru Muslim, ketika ia mengajarkan pengetahuan berdasarkan apa yang Allah (swt) telah ungkapkan, ia jelas telah dipuji oleh Nabi (saw) karena beliau (saw) bersabda,
خيركم من تعلم القرآن وعلمه
 "Yang terbaik dari kamu adalah mereka yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." [HR Bukhari dan Muslim].

Namun, manfaat yang besar membutuhkan tanggung jawab besar yang akan dilakukan sebagaimana juga kualitas yang harus dicapai dan dimiliki oleh guru. Hal ini karena guru tidak hanya pemancar pengetahuan tetapi juga model peran untuk anak-anak dan pemuda. Sayangnya, realitas guru saat ini seringnya jauh dialihkan dari tugas utama mereka untuk memimpin siswa mereka untuk memiliki kepribadian yang baik dan mulia. Guru ditugaskan dan sering dipantau untuk mempromosikan ide-ide sekularisme. Agama disepelekan dan diberhentikan dari ilmu-ilmu lainnya. Yang lebih disayangkan adalah ketika guru menyebarkan ideologi Barat yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti cinta satu bangsa dan negara, mengejar kebahagiaan materi sebagai tujuan tertinggi, mempertahankan prinsip-prinsip non-Islam berupa kebebasan liberal, demokrasi dan banyak lagi. Ada juga beberapa guru yang terlibat dengan berbagai pelanggaran seperti pelanggaran martabat, perdagangan narkoba, penyalahgunaan kekuasaan dan lain-lain yang tentu saja tidak layak menjadi contoh untuk siswa mereka.

Selain itu, masalah kualitas pengajaran sering dipertanyakan dan perlu solusi yang tepat untuk diterapkan. Di Malaysia, nilai "A" dalam hasil ujian seseorang digunakan sebagai patokan untuk mengukur keberhasilan siswa, serta salah satu indikator kinerja untuk guru. Akibatnya, proses belajar menjadi kaku dan pasif. Siswa terus 'diberi makan' oleh guru yang terburu-buru dalam menyelesaikan silabus, harus menghadiri kelas-kelas tambahan dan melakukan latihan bertubi-tubi untuk mendapatkan "A". Situasi ini tidak membantu guru dalam upaya mereka untuk membangun kepercayaan diri dan keterampilan pada siswa mereka. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika siswa kami tidak menguasai pengetahuan yang mereka pelajari, tidak memiliki kemampuan untuk berpikir kreatif dan kritis, dan tidak siap untuk melanjutkan studi mereka ke tingkat yang lebih tinggi atau melanjutkan ke tahap berikutnya dalam kehidupan. Menjadi sibuk mengejar sukses dalam ujian juga membatasi waktu guru dimana harus mendekati dan membangun hubungan dekat dengan setiap siswa. Faktanya, hubungan antara guru dan siswa sangat penting dimana guru harus memberikan saran, bimbingan dan mencoba untuk memecahkan masalah yang saat ini mempengaruhi siswa mereka atau mungkin terjadi pada mereka.
Imam Ghazali menyatakan bahwa di antara karakteristik guru yang efektif adalah memiliki belas kasihan terhadap siswa mereka dan memperlakukan mereka seperti anak-anak mereka sendiri karena Rasulullah (saw) menyatakan, »إنما أنا لكم مثل الوالد لولده أعلمكم« "Sesungguhnya Aku seperti seorang ayah dari seorang anak untukmu, dan saya mengajarimu." Kita harus mengikuti perilaku dan Sunnah Nabi Muhammad (saw), tidak mengajarkan tingkat yang lebih tinggi sebelum siswa menguasai tingkat sebelumnya, menasihati siswa dengan lembut dan penuh kasih untuk tidak pernah mencoba berperilaku buruk daripada memarahi mereka atau mengejek mereka, menyesuaikan proses pembelajaran berdasarkan tingkat siswa dan tidak pernah memaksa mereka untuk mencapai sesuatu di luar kemampuan mereka serta menyediakan bahan belajar yang mudah dimengerti, jelas dan sesuai dengan tahap perkembangan pikiran mereka.

Guru perlu berpikir dan hidup yang sejalan dengan Islam dengan memahami makna hidup yang bertanggung jawab kepada Sang Pencipta alam semesta. Para guru harus sadar bahwa perilaku mereka harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah (swt). Seharusnya tidak bertentangan dengan hukum Islam, karena pada kenyataannya guru adalah perwakilan dari pendidikan dan pengajaran. Guru juga harus membangun hubungan dekat dengan siswa mereka dan empatik kepada mereka dengan bertanya dan membantu dalam memecahkan masalah dan dilema mereka. Oleh karena itu, guru harus sabar dan baik dan memahami tingkatan siswa mereka. Mereka harus dipercaya oleh murid-murid mereka, meyakinkan, mudah didekati, bijaksana dalam komunikasi dan sering memberikan saran. Saran yang mereka berikan harus berdasarkan Islam dan praktis sehingga siswa tahu bagaimana menerapkan saran mereka; mereka harus berpikir hati-hati tentang bagaimana untuk menghasilkan siswa yang akan menjadi hamba terbaik Allah (swt) dan sumber terbaik dari kebaikan untuk komunitas mereka, umat dan kemanusiaan. Dengan demikian, guru tentu perlu memastikan mereka menjadi kualitas sumber daya manusia berdasarkan ideologi Islam. Kualitas sumber daya manusia berdasarkan ideologi Islam harus memiliki karakteristik ini yaitu: i) kualitas Islam; ii) menguasai Tsaqafah (pemahaman syariat Islam); iii) menguasai pengetahuan tentang kehidupan (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, guru yang berkualitas ini akan menghasilkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kepribadian yang luar biasa - kepribadian yang bersinar dari integrasi aqliyah yang benar (berpikir) dan Nafsiyah (disposisi) yang akan selalu menghasilkan sikap saleh dan mulia. Kepribadian seperti ini akan menjadi kebanggaan umat dan juga dikagumi oleh musuh-musuhnya. Ini adalah generasi ini yang kita harapkan akan menjadi warisan masa yang akan memimpin umat menuju menjadi bangsa yang besar, kuat dan maju.

Metode pengajaran
Aspek berikut yang juga penting selain kualitas guru adalah metode pengajaran dalam mendidik siswa. Metode pengajaran yang tepat diperlukan untuk menghasilkan pemikir kreatif dan anak-anak muda yang haus pengetahuan dan selalu bersemangat untuk belajar dan berkontribusi untuk kemajuan masyarakat. Beberapa masalah atau kegagalan dari metode pengajaran yang digunakan saat ini di sekolah-sekolah termasuk - belajar dengan hafalan, hanya membaca buku, mengajar dengan contoh-contoh yang tidak relevan yang tidak menyentuh pada realitas siswa, mengajar dengan cara yang tidak meyakinkan pikiran atau menyentuh hati dan menjelaskan hal-hal dengan cara yang tidak dimengerti karena tingkat yang berbeda antara siswa. Akibatnya, siswa menjadi bosan, mereka tidak memiliki semangat untuk belajar, mereka tidak memiliki semangat untuk bersekolah dan akhirnya merasa sulit untuk menyerap pengetahuan. Apa yang lebih buruk adalah ketika silabus mengadopsi mentalitas sekuler yang memiliki efek buruk pada pembentukan 'Nafsiyah' dan 'Aqliyah' siswa. Dengan demikian, generasi yang jauh dari penanaman dengan pendidikan yang tepat akhirnya terbentuk, kaku dan stagnan, tidak mampu menjadi kreatif dan inovatif dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan dan pada akhirnya menjadi tidak lebih berkembang dibandingkan negara-negara lain. Ini adalah apa yang sedang terjadi di negara-negara Muslim di seluruh dunia. Kemunduran ini menampilkan citra buruk terhadap umat Islam khususnya di mata musuh, Barat, sedangkan dimasa lalu ketika umat Islam berada di bawah kepemimpinan Khilafah, mereka dihormati dan dipuja oleh musuh karena keberhasilan mereka. Di antara formula kemenangan dari peradaban Islam adalah bahwa mereka berhasil mencetak generasi dengan menggunakan metode pengajaran yang benar.

Metode pengajaran yang benar adalah cara rasional yang diemban oleh guru dan pembelajaran intelektual siswa. Berpikir atau pemikiran/rasional ('aql) adalah alat untuk mengajar dan belajar. Pemikiran terdiri dari empat (elemen): Otak (sesuai untuk berpikir), indra, fakta, dan informasi sebelumnya tentang/ dari realitas. Berpikir atau pemikiran memiliki arti yang sama yaitu: "Mentransfer sensasi realitas melalui indera ke otak dengan informasi sebelumnya yang ada untuk menerjemahkan realitas"; kemudian mengeluarkan penghakiman atas realitas. Jika seseorang ingin mengirimkan/ mengkomunikasikan pemikiran ini kepada orang lain, seperti dalam proses pendidikan, guru mentransmisikan pemikiran ini kepada siswa melalui satu atau lebih gaya pengungkapan, terutama bahasa. Jika siswa menghubungkan pemikiran ini dengan realitas yang dirasakan atau sebelumnya pernah dirasakan, atau salah satu yang mirip seperti mereka sebelumnya rasakan, pikiran ini akan ditularkan kepada mereka sama seperti jika mereka telah mencapai itu. Dengan demikian guru, ketika mentransmisi pemikiran untuk siswa, harus membawa maknanya dekat dengan otak siswa dengan mencoba untuk menghubungkannya dengan realitas yang mereka merasakan, atau realitas yang dekat dengan apa yang telah mereka rasakan, sehingga mereka tidak mengadopsinya sebagai pemikiran dan informasi semata. Dengan demikian guru harus tertarik untuk membuat siswa merasakan realitas; jika dia tidak bisa membawa ke depan realitas itu sendiri, ia harus menggambarkan gambaran dekat dengan realitas di otak siswa dengan menggunakan visual, audio, atau video yang berarti ketika memberikan pemikiran sehingga siswa menghubungkan informasi dengan realitas yang dirasakan atau memahami hasil realitas dalam pemikiran.

Realitas yang dirasakan adalah salah satu bahwa manusia bisa merasakan melalui salah satu dari lima indra, apakah realitas ini adalah benda atau hal abstrak (ma'anawiyy). Ini adalah elemen mendasar dalam proses berpikir. Hal-hal tersembunyi/ tak terlihat (mugheebaat) yang manusia tidak dapat merasakan dengan indranya misalnya surga, neraka, tahta dan lain-lainnya bukanlah topik berpikir melalui indera; melainkan mereka adalah topik pemikiran melalui informasi yang kredibilitasnya pasti  (qat'iyy) seperti Al-Quran dan Hadis mutawatir.

Alat utama sebagai cara rasional dan pembelajaran intelektual dalam mengajar atau belajar adalah bahasa dan kata-kata dan kalimat yang itu mengandung, makna seperti yang ditunjukkan, dan pemikiran yang dibawa oleh makna ini. Jika guru dan siswa memahami kata-kata, kalimat dan makna sehubungan dengan pemikiran yang mereka tunjukkan, alat ini akan efektif dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian, setiap guru dan kurikulum pewaris harus mengambil prestasi linguistik siswa ke dalam hitungan dan menggunakan kata-kata, kalimat dan komposisi yang mereka mengerti untuk memfasilitasi wacana intelektual antara kedua pihak. Metode ini cocok untuk mengirimkan atau menerima pemikiran apapun, apakah pemikiran ini secara langsung berkaitan dengan cara pandang tertentu tentang kehidupan seperti pengalaman ideologis, atau tidak begitu terkait seperti ilmu matematika. Mengajar teks intelektual yang terkait dengan sudut pandang tidak hanya berarti membatasi diri untuk makna linguistik tersebut; melainkan berarti memahami teks sehingga dapat menerapkannya pada realitas yang relevan agar siswa mengadopsi sikap yang diamanatkan Shar'a ke arah itu, apakah dengan bertindak atau abstain. Jadi dia mempelajari jenis pemikiran untuk mengontrol perilakunya sesuai dengan aturan syariah. Pendidikan bukan hanya untuk kepentingan hiburan intelektual, melainkan dimaksudkan untuk membangun kepribadian Islam, dalam kecerdasan dan disposisi, yang berusaha untuk mencapai kesenangan Allah dalam semua tindakan dan perkataannya. Sedangkan jika pemikiran adalah dari jenis kedua yaitu pengalaman tidak terkait langsung dengan sudut pandang tertentu seperti fisika, kimia, matematika dan lain-lainnya, mereka belajar untuk mempersiapkan siswa untuk berinteraksi dengan alam semesta yang Allah tundukkan untuk melayani manusia. Muslim, sebagai kepribadian Islam, mempelajari ilmu empiris dalam rangka untuk mendapatkan manfaat dan menggunakannya untuk melayani kepentingan umat Islam dan isu-isu penting. Pengetahuan tidak dicari untuk kepentingan diri sendiri; melainkan dicari agar manfaat manusia dari pikiran dan pengetahuan yang ia belajar dalam kehidupan ini sesuai dengan aturan Islam.
Allah Ta'ala berfirman:
ٱلدُّنۡيَا مِنَ نَصِيبَكَ تَنسَ وَلَا ٱلۡأَخِرَة ٱلدَّار ٱللَّهُ  ءَاتَٮٰكَ فِيمَا  ﴿وَٱبۡتَغِ
"Carilah rumah di akhirat dengan apa yang Allah telah berikan padamu, tapi jangan lupa bagianmu di dunia ini" [QS Al-Qashash: 77]

Dalam Islam, diskusi mengenai kualitas pendidikan telah diyatakan dengan jelas di Al-Quran yang suci. Allah (swt) berfirman:
﴿كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنڪَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ﴾
"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan [sebagai teladan] bagi umat manusia. Kamu menyuruh apa yang benar dan melarang apa yang salah dan beriman kepada Allah ... "[Ali Imran: 110]
Sepanjang sejarah, Islam telah terbukti membangun peradaban manusia yang khas, mampu mencerahkan hampir seluruh alam semesta dan dari zaman kegelapan dan kemenangan yang berlangsung selama lebih dari 13 abad. Faktor utama yang menentukan keunggulan dan kemuliaan peradaban Islam adalah iman (taqwa) dan pengetahuan. Tidak ada pemisahan atau dikotomi kedua faktor ini dalam kurikulum pendidikan yang diterapkan yang mengakibatkan generasi yang tidak diragukan lagi kehebatannya sampai sekarang. Ketika menyebutkan bidang medis, pikiran kita akan membayangkan tubuh seorang pria besar bernama Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal sebagai pendiri dunia doktor ilmiah. Dia adalah seorang dokter hebat, dan pada saat yang sama ia juga seorang ahli, faqih deen terutama dalam hal 'ushul fiqh'. Selain itu, di antara tokoh-tokoh yang dihasilkan dari ilmu pengetahuan dan teknologi dari Muslim yaitu Ibnu Khaldun (Bapak Ekonomi), Ibnu Khawarizmi (Bapak Matematika), Jabir bin Hayyan (Bapak Kimia), Ibnu Batutah (Bapa Geografi), Al Khazini dan Al Biruni (Bapak Fisika), Al Battani (Bapak Astronomi), Ibnu al Bair al Nabati (Bapak Biologi) dan tak terhitung tokoh-tokoh lainnya dari Muslimin dan Muslimat. Mereka tidak hanya dikenal sebagai ahli di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi keahlian mereka di bidang dinniyah (agama) juga diakui.

Kesimpulan
Dengan demikian, kurikulum yang diterapkan oleh Nabi (saw) tidak dapat disangkal kehebatannya dan telah melahirkan banyak tokoh-tokoh luar biasa yang menjadi referensi dunia sampai hari ini - angka yang tidak hanya bagus secara moral, tetapi kontribusi mereka dalam menyebarkan pesan Islam (dakwah) adalah juga rasa hormat. Jika dibandingkan dengan kurikulum saat ini, kita pasti bisa melihat kepedulian yang sangat tinggi di masyarakat jika anak-anak mereka tidak mampu untuk mendapatkan 'A' atau lulus dalam ujian penilaian tetapi tidak khawatir jika anak-anak mereka tidak mematuhi Syariah Islam. Masyarakat saat ini melihat bahwa hasil ujian adalah segalanya. Ini adalah konsekuensi dari cara berpikir yang telah diajarkan dalam kurikulum berbasis sekuler-yang berhasil ditanamkan di benak orang saat ini.

Selama masa Nabi Muhammad (saw), beliau memberikan pendidikan kepada masyarakat, termasuk selama pemerintahannya, karena kewajiban negara. Itu serupa di masa Khalifah Umar bin Al-Khattab (ra), yang selalu berharap untuk siswa berkualitas di negara yang bisa membantu dalam mengelola urusan ummat seperti Muaz bin Jabal. Muaz baik-dikenal sebagai individu yang mampu memahami halal dan haram sehingga ditugaskan sebagai Hakim Agung pada usia muda dari 18 tahun. Bagaimana dengan generasi saat ini, pada usia 18 tahun? Apa tingkat kemampuan mereka? Oleh karena itu, sudah saatnya kita sebagai umat Muhammad (saw) mengintensifkan kegiatan dakwah kita dalam membangun kekhalifahan Islam yang pasti akan menggantikan cara rusak seluruh hidup hari ini dengan pendidikan berbasis Islam, untuk menghasilkan generasi seperti Muaz bin Jabal: generasi berkualitas tinggi, mampu membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, kreatif dan kritis dan juga mampu mengembalikan kejayaan Islam dan Muslim di seluruh dunia.
Wallahu a'lam.


 *Disampaikan pada Konferensi Perempuan Internasional, 11 Maret 2017 di Balai Sudirman Jakarta


Oleh: Zehra Malik (Turki)
Anggota Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir

  
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, As salatu wassalamu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ‘alihi wa sahbihi ‘ajmain...
Media, para politisi, dan organisasi-organisasi sekuler, serta kaum feminis menuduh Islam bersifat misogynistic (benci terhadap perempuan); mereka mengklaim bahwa hukum Islam-lah yang menghalangi kaum perempuan dan anak-anak perempuan dari akses pendidikan yang berkualitas. Hukum-hukum ini, diklaim, diinterpretasikan dalam gaya ala "menguntungkan laki-laki" oleh "mentalitas dan para penguasa yang didominasi laki-laki" yang menyatakan mereka menerapkan aturan-aturan Islam. Secara khusus, feminis perempuan dari kalangan akademisi Muslim menuntut sebuah interpretasi baru atas Islam "melalui pandangan perempuan". Barat telah menemukan mereka sebagai alat yang efektif dalam mendistorsi penyebab sebenarnya dari penindasan atas perempuan Muslim. Juga, pernikahan anak-anak perempuan sebelum usia 18; memilih pendidikan untuk anak laki-laki dibandingkan untuk anak perempuan; pakaian dan aturan-aturan sosial Islam; juga kekejaman Boko Haram di Nigeria, tindakan yang diambil oleh Taliban dan kelompok-kelompok agamis lainnya di Afghanistan dan Pakistan seperti penembakan gadis remaja Malala Yousafzai pada tahun 2012, adalah topik-topik favorit media sekuler, para politisi dan kaum feminis dalam memaksakan persepsi mereka bahwa Islam adalah ancaman serta hambatan besar dalam pendidikan dan kemajuan perempuan.
Bagaimanapun, BUKANLAH Islam yang mencegah anak-anak perempuan dan perempuan Muslim dari akses yang bermartabat terhadap pendidikan dan berperan aktif di dalam masyarakat! Sebaliknya, adalah kekuatan kafir penjajah, dalam upaya melindungi keyakinan dan budaya mereka sendiri melawan budaya Islam, serta mempertahankan eksistensi mereka di negeri-negeri kita; merekalah yang menciptakan lingkungan dan kondisi yang menyulitkan pendidikan dan kehidupan secara umum bagi perempuan Muslim di seluruh dunia. Invasi dan perang kolonial mereka tidaklah cukup untuk mencapai tujuan ini; sehingga mereka berjuang lebih dalam penghancuran, melemahkan, serta mendiskreditkan budaya dan sejarah Islam. Mereka melakukannya melalui penguasa boneka dan sistem kufur yang mereka tancapkan di negeri-negeri kita, yang mempromosikan gaya hidup dan budaya liberal sekuler kolonial yang beracun, yang menyebabkan devaluasi perempuan; dan dengan demikian mengantarkan pada tingkat epidemi atas serangan seksual dan serangan di jalan-jalan, sekolah-sekolah, dan tempat kerja di seluruh negeri Muslim, yang juga menghambat anak-anak perempuan untuk menghadiri sekolah dan lembaga pendidikan lainnya. Mereka menerapkan ekonomi kapitalis yang rusak di negeri-negeri kita, yang menghasilkan kemiskinan massal, mahalnya pendidikan, komersialisasi pendidikan, dan tersebarnya suap menyuap. Inilah alasan mengapa keluarga dipaksa untuk memilih di antara anak-anak mereka dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan, dan (akhirnya) mereka lebih memilih pendidikan untuk anak laki-laki karena peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama untuk masa depan keluarga. Hal ini karena pemerintah yang egois (hanya mementingkan kepentingannya_red) tidak berinvestasi dalam jumlah dan kualitas yang cukup pada sekolah-sekolah sehingga anak-anak dipaksa untuk menempuh perjalanan jauh demi pendidikan, yang juga mencegah beberapa orang tua dalam mengirimkan anak-anak mereka untuk bersekolah karena khawatir atas keselamatan anak-anak mereka. Selanjutnya, dalam menghadapi bahaya yang muncul dari budaya sekuler, yang dipicu melalui pendidikan campuran; keluarga tidak mau mengirimkan anak-anak perempuan mereka pergi ke sekolah.
Pemerintahan Barat, yang hanya bertujuan melindungi budaya mereka sendiri, juga membiayai lembaga-lembaga pendidikan, membangun sekolah-sekolah, memberikan beasiswa untuk siswa berbakat dan siswa miskin, serta mendukung pembangunan sekolah-sekolah negeri di negeri-negeri kita melalui LSM-LSM mereka seperti USAID, UNICEF, UNESCO, dan lembaga-lembaga lainnya. Menurut mereka, konsep-konsep seperti "kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan anak perempuan, hak asasi manusia dan kebebasan" adalah "penting untuk membangun stabilitas, masyarakat demokratis" sebagaimana didefinisikan dalam undang-undang tertulis mereka. Melalui berbagai program tersebut, mereka dengan tipu daya mengklaim ingin meningkatkan pendidikan anak perempuan dan perempuan Muslim. Namun, jelas bahwa hal ini bukanlah tujuan mereka yang sebenarnya; mereka hanyalah ingin mengubah perempuan dan anak perempuan kita agar berkepribadian liberal sekuler, yang menganut gaya hidup dan cita-cita Barat, seperti kesetaraan gender, sebagai resep untuk kehidupan yang beradab, maju, dan sejahtera; sementara mereka membenci peran dan kepribadian Islam.

Saudariku,
Memang, setelah menerima wahyu pertama, Rasulullah (saw) menyampaikan berita ini kepada istrinya Khadijah ra dan ia (Khadijah) segera menyatakan keimanannya. Ketika Islam memerintahkan untuk memperoleh pengetahuan; Islam tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, serta tidak menganggap kaum perempuan sebagai kelas kedua, sebagaimana terbukti dalam perintah Rasulullah saw berikut ini :

«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
 Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim. (diriwayatkan oleh ibnu Majah). Selanjutnya, Rasulullah saw sama-sama mengajarkan kepada laki-laki dan perempuan di masjid-masjid dan majelis-majelis lainnya. Rasulullah bahkan memberikan satu hari khusus dalam seminggu untuk pendidikan kaum perempuan di masjid Al-Madinah, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri ra :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَتِ النِّسَاءُ لِلنَّبِيِّ r غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ، فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِ فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيهِ، فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ»
Beberapa perempuan datang kepada Nabi saw, "Ya Rasulullah, kaum pria lebih unggul dari kami (dalam memperoleh ilmu). Karena itu, sediakanlah satu hari khusus untuk kami.” Rasulullah saw menetapkan satu hari (khusus) untuk mereka. Beliau bertemu dengan mereka pada suatu hari tersebut, menasihati dan mendidik mereka tentang perintah-perintah Allah swt. (HR. Bukhari)
"Faqihat ul-Ummah", Ummul Mukminin Aisyah ra, disebut sebagai contoh yang paling berkilau yang menunjukkan pentingnya pendidikan kaum perempuan di dalam Islam. Ia adalah seorang ulama yang nasihatnya dicari bahkan oleh khalifah Umar bin Al-Khattab ra dan Utsman bin Affan ra, karena keunggulannya dalam hadits, fiqh, dan isu-isu lainnya. Ia meriwayatkan 2.200 hadits dan karenanya Aisyah menjadi salah satu di antara mereka yang paling banyak meriwayatkan hadits setelah Abu Hurairah ra, Ibnu Umar ra, dan Anas bin Malik ra. Ahli hukum dan Sahabat besar, Abu Musa Ashari ra mengatakan, "Kapanpun sesuatu hal menjadi sulit bagi kami -para sahabat Nabi saw- kami bertanya kepada Aisyah tentang hal tersebut. Kami mendapati Aisyah memiliki pengetahuan tentang itu." Selain itu, Aisyah ra juga berpengalaman dalam kedokteran, sastra, sejarah Arab, dan bidang ilmu lainnya. Urwah bin Az-Zubair ra berkata tentang Aisyah, "Saya belum pernah melihat (laki-laki atau perempuan) yang memiliki pengetahuan lebih banyak tentang yurisdiksi, kedokteran, atau sastra melebihi Aisyah."
Semua istri Rasulullah saw, putri-putri beliau, dan Sahabiyah yang tak terhitung jumlahnya, memiliki kepribadian yang terpercaya dan cendekia dalam pengetahuan Islam, dalam literatur/kepustakaan, obat-obatan/kedokteran, dan lain-lain. Mereka mengajarkan keahlian mereka kepada setiap perempuan dan anak perempuan yang membutuhkannya. Hal ini dimotivasi oleh Rasulullah (saw), yang -misalnya- meminta Shifa binti Abdullah untuk mengajari para istri beliau serta kaum perempuan lainnya tentang menulis dan pengetahuan medis. Sahabiyah terkemuka ini kemudian ditempatkan pada jabatan hakim dan pengawas di pasar-pasar oleh Khalifah Umar bin Al-Khattab ra. Selain itu, Rasulullah saw menjanjikan Jannah bagi siapa saja yang memberi perhatian dalam mendidik anak-anak perempuan mereka :

«مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ»
“Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dia dari siksa api neraka.” (HR. Muslim)

Saudariku,
Para penguasa Negara Khilafah, setelah Rasulullah saw, menganggap pendidikan sebagai tanggung jawab Islam mereka untuk memenuhi kebutuhan umat dalam memperoleh pengetahuan. Tidak terdapat bukti bahwa perempuan dianggap sebagai warga kelas dua, atau dirampas hak mereka atas pendidikan, atau untuk mengakui dan memanfaatkan keahlian mereka guna melayani masyarakat. Namun, terdapat ribuan bukti yang menunjukkan sebaliknya! Penerapan hukum-hukum Islam mendorong dan membuka jalan untuk memperoleh pengetahuan atau mengembangkan berbagai keahlian. Oleh karena itu, perempuan juga memberikan kontribusi untuk tujuan ini. Perempuan memiliki peran besar dalam memajukan ilmu pengetahuan, mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan, seperti masjid, madrasah, dan universitas. Masjid dan Universitas Qarawiyyin yang didirikan oleh Fatima al-Fihri pada tahun 859 M, contoh yang indah dalam hal ini, adalah institusi pertama di dunia yang "memberi gelar". Negara juga mendorong pembangunan madrasah-madrasah khusus anak perempuan, dan sejumlah besarnya didanai oleh perempuan. Separuh dari seluruh penyokong tetap lembaga-lembaga ini adalah juga perempuan. Jumlah dosen perempuan di lembaga-lembaga ini masih belum disamai oleh jumlah dosen perempuan di universitas-universitas Barat hari ini. Sementara itu, perempuan bepergian secara intensif dari satu ujung ke ujung dunia Islam lainnya untuk belajar dan mengajarkan pengetahuan. Tidak ada batasan yang menghalangi mereka dalam usaha ini, juga tidak ada lingkungan yang akan mengancam keselamatan atau martabat mereka.

Perempuan memainkan peran penting dalam penjagaan dan pengembangan metode pembelajaran Hadis dan Fiqh, mereka memberi ijazah, serta memiliki otoritas yang sama dalam ijtihad (yurisdiksi) sebagaimana laki-laki. Selain itu, meskipun terdapat madrasah-madrasah khusus untuk perempuan dan anak-anak perempuan saja; mereka bahkan mengajarkan ilmu ('ilm) kepada kaum laki-laki di masjid besar, universitas, dan tempat-tempat lainnya. Umm Darda as-Sughra al-Dimashkiyya, seorang ahli hukum dan ulama, mengajarkan fiqh dan hadis di bagian kaum laki-laki pada masjid besar di Syam dan Yerusalem. Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah salah satu muridnya. Salah satu guru Imam Malik adalah ahli hukum dan ulama Aisha binti Sa'ad bin Abi Waqqas. Putri Hasan ra, Nafisa binti Hassan, adalah salah satu guru Imam Syafi'i. Ibnu Hajar dan Ibnu Taimiyah memuji para guru perempuan mereka atas pengetahuan, kecerdasan, kesabaran, perilaku mulia, integritas, serta kesalihan para guru tersebut. Ulama Hadis terkemuka, Ibn Hajar al-Asqalani menerima ijazah dari 53 guru perempuan, dan As-Sahawi dari 68 guru perempuan. Fathimah binti Muhammad al-Samarkandi adalah seorang ahli hukum (mujtahid), dan ia bahkan memberi saran dalam hal yurisdiksi pada suaminya yang ahli hukum terkenal. Para sarjana perempuan menikmati otoritas publik yang cukup besar di dalam masyarakat, bukan sebagai pengecualian, tetapi sebagai norma. Semua ini -pasti dan "secara alami!"- diwujudkan tanpa mengkompromikan ketentuan-ketentuan sosial Islam- dimaknai, melalui pemisahan gender, kepatuhan terhadap pakaian Muslim, dan dalam lingkungan di mana laki-laki dan perempuan secara ketat mematuhi semua hukum sosial Islam.
Perempuan tidak hanya unggul dalam ilmu-ilmu Islam, tetapi juga dalam kaligrafi, sastra, dan bidang ilmu lainnya seperti matematika, astronomi, dan teknik; dengan demikian mereka berpartisipasi dalam membangun budaya dan peradaban Islam yang membuat iri negara-negara lain. Selama abad ke-10 misalnya, Lobana dari Cordoba, adalah seorang ahli matematika, penyair, penerjemah, direktur perpustakaan terbesar saat itu, serta sekretaris pribadi Khalifah Bani Umayyah al-Hakam II. Masih di abad ke-10, terdapat seorang perempuan yang memberi fitur canggih baru ke Astrolabe, sebuah perangkat astronomi. Namanya tercatat ke dalam sejarah sebagai Maryam al-Asturlabi. Berkat kontribusinya pada Astrolabe, ia dipekerjakan oleh penguasa Aleppo Sayf al-Dawla. Kita juga mengenal para ahli bedah perempuan dari Anatolia dan prosedur bedah mereka di abad ke-15 dari seorang ahli bedah Turki Sherafeddin Sabuncuoglu. Selain itu, salinan paling indah dari Al-Qur'an al-Kareem dibuat oleh para ahli kaligrafi perempuan dari Spanyol hingga Suriah, Irak hingga India. Selama satu periode, di Cordoba Timur saja terdapat 170 ahli kaligrafi perempuan yang mentranskrip Al Qur'an dalam naskah Kufi.
Meskipun kemerosotan ideologi dan gejolak politik meningkat dalam 100-150 tahun masa kekhilafahan, para khalifah terus melakukan investasi dan membuat peraturan untuk pendidikan yang terstruktur, serta memberi perhatian khusus pada pendidikan anak-anak perempuan. Secara khusus, upaya Khalifah Mahmud II dan Abdulhamid I tentang masalah ini adalah mengagumkan. Sebuah pendidikan terstruktur dan bersifat wajib bagi anak laki-laki maupun perempuan diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Khalifah Mahmud II pada tahun 1830. Investasi paling terakhir dari Negara Ottoman yang memberi peran dalam pendidikan adalah Tıbhane-i Amire Mektebi, sekolah kebidanan pada tahun 1842, yang diikuti oleh "Inas Rushtiyas" (pendidikan menengah untuk anak-anak perempuan), "Sanayi Mektepleri" (sekolah kejuruan untuk anak-anak perempuan), serta lembaga pendidikan yang mendidik guru-guru perempuan untuk sekolah-sekolah tersebut. Para lulusan studi-studi ini juga digunakan oleh negara dalam berbagai bidang untuk melayani masyarakat dengan keahlian mereka, termasuk bekerja sebagai penerjemah atas berbagai bahasa asing. Berbagai catatan juga menunjukkan bahwa perempuan bahkan menerima tunjangan selama masa studi mereka, termasuk perempuan dan anak-anak perempuan non-Muslim di antara lulusan mereka. Lulusan pertama sekolah kebidanan saja ada 10 orang perempuan Muslim dan 26 orang perempuan non-Muslim.
Oleh karena itu, jelas bahwa perempuan di bawah pemerintahan Islam dianggap berperan penting dalam pencerdasan masyarakat dan karena itu mereka dihargai dan ditempatkan pada posisi tertinggi. Ini adalah sistem yang menganggap bahwa mencari pengetahuan setara dengan ibadah; sehingga mampu mendorong kaum perempuan untuk berkontribusi secara cemerlang dalam pengetahuan dan ilmu.
Di Barat, bagaimanapun, terdapat fenomena yang disebut "Matilda Effect", menggambarkan fenomena sering diabaikannya kontribusi para ilmuwan perempuan terhadap penelitian, dan seringnya pengkaitan atas pekerjaan mereka kepada para kolega laki-laki mereka. Selain itu, meskipun banyak perempuan yang berhak mendapatkan Hadiah Nobel, penghargaan tersebut diberikan kepada kolega laki-laki atau suami mereka. Jadi, mereka yang sebenarnya dibayangi oleh "kebencian terhadap wanita (misogyny)"; dan yang terjebak di bawah "dominasi laki-laki", adalah perempuan di dalam masyarakat yang tercerabut dari Islam! "Karena Dia Seorang Wanita!" adalah sebuah ungkapan/frasa yang lahir dari ideologi kapitalis liberal non-Islam itu sendiri dan hanya berkaitan dengan ideologi tersebut.
Perempuan Muslim di sepanjang sejarah Islam tidak pernah memiliki slogan atau frase tersebut. Mereka telah berhasil sebagai ulama dan pengusaha, serta memenuhi peran Islami mereka sebagai istri dan ibu. Para perempuan ini menikmati kehidupan Islam untuk memenuhi, mengelola rumah tangga, membesarkan anak-anak mereka, mendapatkan beasiswa, memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan, berpartisipasi dalam urusan masyarakat, membela keadilan dengan memerintahkan yang Ma'ruf dan mencegah yang Munkar, serta mengoreksi penguasa. Ulama India, Mohammad Nadwi Akram, yang mengumpulkan biografi lebih dari 8.000 perawi hadis perempuan, mencermati hal berikut ini : Dia berkata, "Tidak satupun dari mereka dilaporkan telah dianggap sebagai domain dari kehidupan keluarga rendahan (kurang terdidik), atau mengabaikan tugas di dalamnya, atau dianggap menjadi seorang wanita yang tidak diinginkan atau lebih rendah daripada menjadi seorang laki-laki, atau menganggap bahwa, karena bakat dan kesempatan bawaan, perempuan tidak memiliki tugas untuk masyarakat luas, di luar domain kehidupan keluarga."

Saudariku,
Kembalinya Khilafah Rasyidah kedua yang berdasarkan metode kenabian akan menjamin hak-hak pendidikan serta aspirasi anak-anak perempuan dan perempuan di masa depan sebagaimana telah dilakukan oleh Khilafah di masa lalu. Khilafah akan menghapus setiap sikap tradisional atau hambatan budaya yang merendahkan pendidikan perempuan atau mencegah anak-anak perempuan dalam mengakses pendidikan. Khilafah akan mewujudkan lingkungan yang aman melalui penerapan hukum sosial Islam, yang akan memungkinkan mereka melakukan perjalanan dengan aman ke sekolah-sekolah dan universitas. Khilafah juga akan memisahkan pengajaran siswa laki-laki dan perempuan di sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta, yang akan memungkinkan anak-anak perempuan dan perempuan Muslim untuk mengejar cita-cita pendidikan mereka, dengan tetap mematuhi semua hukum Islam yang menjamin perlindungan martabat dan keselamatan mereka. Pasal 177 dalam Rancangan Undang-Undang Dasar Hizbut Tahrir untuk Khilafah menyatakan : "Pengajaran di sekolah-sekolah tidak boleh bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, baik di kalangan murid maupun guru ..."
Selain itu, Khilafah memandang bahwa pemenuhan pendidikan bagi setiap warga negara Khilafah, baik laki-laki atau perempuan, adalah hak dasar dan kewajiban negara. Pasal 182 dalam Rancangan Undang-Undang Dasar Hizbut Tahrir untuk Khilafah, misalnya, menyatakan : "Pengajaran hal-hal yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya merupakan kewajiban negara yang harus terpenuhi bagi setiap individu, laki-laki maupun perempuan." Oleh karena itu, Khilafah akan menjamin mimpi-mimpi pendidikan anak perempuan dan perempuan sebagai bagian dari tanggung jawab Islamnya. Selain itu, wajib bagi Khilafah untuk menyediakan pendidikan serta pelayanan medis terbaik yang dapat diakses warga negaranya. Karenanya, adalah penting untuk memiliki para dokter, perawat, dan guru perempuan dengan jumlah melimpah untuk memenuhi berbagai peran ini. Khilafah juga akan mendorong kaum perempuan untuk menguasai berbagai bidang lainnya, termasuk berbagai disiplin ilmu Islam, ilmu pengetahuan, bahasa dan teknik, serta memanfaatkan pemikiran dan keahlian mereka untuk memperbaiki dan membawa manfaat bagi seluruh masyarakat.
Saudariku, Khilafah akan menjadi pemimpin dunia dalam menyediakan pendidikan perempuan dan menjamin aspirasi pendidikan mereka. Khilafah tidak hanya akan membangun institusi-institusi untuk memfasilitasi hal ini, tetapi juga akan memastikan lingkungan yang aman dan penuh hormat di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, universitas, dan masyarakat secara keseluruhan. Khilafah akan menjadi negara di mana perempuan dan anak-anak perempuan mampu mengejar pendidikan kelas satu di lingkungan yang aman, bebas dari kekerasan dan pelecehan.  

Keberhasilan mereka yang didukung oleh lingkungan seperti itu akan menjadikan mereka sebagai kebanggaan seluruh umat. Dan seperti waktu yang telah lalu, negara-negara lain akan iri atas wibawa dan harga diri yang perempuan nikmati di bawah Khilafah Rasyidah yang berdasarkan metode kenabian. Allah swt berfirman,

﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
"Mereka ingn memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya." [QS. As Shaf :8]


*Disampaikan pada Konferensi Perempuan Internasional, 11 Maret 2017 di Balai Sudirman Jakarta


Oleh: Nida Saadah (Anggota Dewan Pimpinan Pusat Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia) 

Seribu tahun yang lalu, universitas-universitas terkemuka berada di Gundishapur, Baghdad, Kufah, Isfahan, Cordoba, Alexandria, Kairo, Damaskus, dan di beberapa kota besar lainnya di wilayah-wilayah Islam. Pendidikan tinggi di luar Negara Islam pada masa itu hanya ada di Konstantinopel, Kaifeng (China), dan Nalanda (India). Dan bahkan kemudian, Universitas Konstantinopel meniru universitas di Baghdad dan Cordoba. Di Eropa Barat, pada saat itu, bahkan tidak ada satu pun universitas. Universitas tertua di Italia adalah Universitas Bologna yang didirikan pada tahun 1088. Universitas Paris dan Universitas Oxford didirikan antara abad ke-11 dan ke-12 M, dan sampai abad ke-16 hanya memiliki buku-buku referensi yang diimpor dari Dunia Islam.
Adanya pilihan yang luas pada pendidikan tinggi di Khilafah Islam memberikan kontribusi dalam mengangkat peradaban Islam. Ribuan tahun sebelum era Wright bersaudara, Abbas ibn Firnas telah melakukan beberapa percobaan untuk merancang sebuah mesin terbang (flying machine). Pada tahun 852 M, ia melompat dari menara masjid besar Cordoba, dibungkus dengan jubah longgar kaku dengan topangan kayu. Ibnu Ismail Ibnu al Razzaz Al-Jazari adalah seorang ilmuwan dan insinyur yang berhasil mengembangkan robot pertama di dunia selama abad ke-12. Dia tinggal di Mesopotamia dan bekerja selama 25 tahun di istana Sultan Nasir Al-din Mahmoud. Terlepas dari keberhasilan dalam mengembangkan teknologi robot, ia juga mengembangkan alat-alat yang mempermudah aktivitas manusia, dengan mengembangkan alat-alat tersebut agar beroperasi secara otomatis dengan campur tangan manusia yang sangat terbatas. Selain itu, terdapat lebih banyak lagi penelitian dan penemuan di era Khilafah yang telah mengubah wajah dunia.
Hilangnya Negara Khilafah telah mengaburkan potret pendidikan di dunia saat ini. Pendidikan telah dimanipulasi sehingga pendidikan telah menjadi alat kekaisaran dan sebuah sarana bagi tujuan-tujuan politik luar negeri Barat, dibandingkan menjadi sarana untuk mewujudkan generasi dan peradaban emas. Hal ini difasilitasi oleh rezim-rezim di Dunia Islam.
Berikut ini adalah permasalahan-permasalahan terkini terkait pendidikan tinggi, bagaimana pengelolaan dan pendanaan pendidikan tinggi akan menjadi prioritas di Negara Khilafah, dan bagaimana Negara Khilafah akan menyelenggarakan secara praktis pendidikan tinggi dalam rangka memenuhi aspirasi pendidikan rakyatnya, menghidupkan kembali generasi besar intelektualitas dan kreativitas, serta memastikan pengembangan dan penelitian untuk menjaga dan melayani kepentingan dan kebutuhan masyarakat. 

A. Permasalahan-permasalahan Pendidikan Tinggi
Hari ini, pendidikan tinggi di negeri-negeri Muslim sedang dimanipulasi oleh agenda-agenda asing. Pendidikan tinggi di dunia Muslim telah menjadi pintu masuk bagi imperialisme akademik, hegemoni riset-riset, serta propaganda sekuler. Pendidikan tinggi, karenanya, telah menjadi alat penjajahan untuk mencapai tujuan-tujuan kebijakan luar negeri Barat. Pendidikan tinggi dengan tiadanya Khilafah tidak lagi bertujuan menciptakan generasi dan peradaban emas. Rezim-rezim Dunia Muslim memfasilitasi semua agenda kolonial sekuler ini.
Di Indonesia, dikatakan bahwa pada tahun 2017, pemerintah akan menghentikan izin pendirian lembaga-lembaga pendidikan tinggi akademik dan mendorong pengembangan pendidikan tinggi kejuruan (Kompas, 29 Desember 2016). Agar sejalan dengan kepentingan industri dan meniru penyelenggaraan pendidikan tinggi di negara-negara maju telah menjadi pertimbangan utama. Ini adalah bukti kuat dari desain pendidikan tinggi Indonesia yang tidak bermakna kecuali pragmatis, beriorientasi pada peradaban Barat, serta tidak memiliki visi yang cukup untuk menghasilkan sumber daya manusia yang akan membangun negara dan memimpin peradaban. Pendidikan tinggi bukannya menjadi pihak yang seharusnya menghasilkan sumberdaya manusia yang kapabel dalam melayani kebutuhan umat serta menghasilkan penemuan-penemuan dan kreasi di mana umat secara luas mendapatkan manfaat darinya- justru lebih jauh sedang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri dunia atau pasar. Ini juga menunjukkan desain pendidikan pragmatis yang hanya mampu memproduksi para pekerja untuk negara, ketika pada faktanya pendidikan seharusnya benar-benar mampu menghasilkan generasi unggul untuk mewujudkan peradaban yang luhur, tidak hanya (generasi yang) secara profesional ahli/terampil.
Pengembangan penelitian di perguruan tinggi didominasi oleh korporasi asing. Hal ini disebutkan dalam peraturan Kementerian Pendidikan dan Budaya No. 92 Tahun 2014 tentang persyaratan mendapatkan jabatan profesor. Salah satunya adalah adanya kewajiban untuk menulis di jurnal internasional bereputasi yang terindeks oleh Web of Science, Scopus, Microsoft Akademic Search, atau indeks-indeks lainnya sesuai dengan (arahan) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Kapitalisme ilmu pengetahuan telah menjadi sebuah kekuatan bisnis global yang mengendalikan tenaga kerja akademik di Indonesia, ketika telah menjadi hal yang biasa, ukuran kepentingan-kepentingan sains yang seharusnya untuk mengubah masyarakat lokal dan untuk mencapai kemajuan hidup yang lebih baik, menjadi sekedar untuk upload di jurnal elit yang bergengsi. Sementara itu, mayoritas masyarakat akademik tidak dapat mengakses jurnal-jurnal tersebut karena akses yang terbatas (limited access), masalah bahasa, pembahasan yang terlalu spesifik, atau menjadi sangat abstrak-teoritis. Logika kapitalisme tidak terhindarkan dalam situasi ini, terutama bila dilihat dari perspektif hak cipta yang mengharuskan penulis untuk mengalihkan hak mereka kepada penerbit. Ini nampak tidak adil, namun otoritas apa yang dimiliki penulis, ketika artikel tersebut tidak akan dipublikasikan kecuali mereka menandatangani perjanjian tersebut (Tirta, 2016).
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia M. Nasir, merencanakan pada awal tahun 2017 sebuah proposal untuk membawa para intelektual asing yang ternama (masuk) ke Indonesia. Mereka berasal dari Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Inggris, Australia, Jepang, dan Korea Selatan. Bahkan terdapat wacana mengenai impor rektor dari luar negeri. Kebijakan yang telah ditetapkan tersebut kemungkinan besar akan dipercepat untuk mencapai target guna mendorong pendidikan tinggi Indonesia masuk ke dalam kategori World Class University melalui peningkatan program doktoral serta publikasi dan penelitian kemitraan internasional dengan lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan universitas. Harus kita akui bahwa kebijakan ini secara terbuka merupakan bukti inferioritas Indonesia di hadapan lembaga pendidikan negara-negara lain. Di sisi lain, (kebijakan ini) menunjukkan dominasi dan kooptasi dunia oleh Negara Kapitalis sekuler Barat atas pendidikan tinggi di Dunia Muslim (Indira, 2016).
Tren World Class University (WCU) ini tentu tidaklah bergulir sendiri. Adalah UNESCO yang pertama kali menggagasnya melalui Deklarasi Dunia tentang Pendidikan Tinggi untuk Abad pertama ke-20 : Visi dan Program Aksi (World Declaration on Higher Education for the Twenty First Century : Vision and Action Program) di Paris pada tahun 1998. Argumentasi didasarkan pada urgensi menyediakan pendidikan tinggi yang berperan dalam mempersiapkan daya saing bangsa untuk memasuki era globalisasi. Di Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi meratifikasinya, dengan nama Strategi Jangka Panjang Pendidikan Tinggi (Higher Education Long Term Strategy, HELTS). Dr. Nikmah (peneliti, Universitas Airlangga) mengatakan salah satu indikator dari WCU adalah adanya mata kuliah yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Standar pemahaman bahasa Inggris dianggap wajib, dengan internasionalisasi sebagai alasan yang diberikan. Karenanya, setiap mayor studi memiliki sebuah mata kuliah berbahasa Inggris. Hal ini nampaknya menjadi faktor penentu pengembangan pendidikan tinggi. Di dalam WCU, lembaga pendidikan tinggi diharapkan dapat memberikan fasilitas yang tepat bagi mahasiswa asing, sedangkan menurut Dr. Nikmah, bahkan untuk mahasiswa lokal saja fasilitas yang disediakan tidaklah memadai. Para dosen didorong untuk mengejar tingkat yang lebih tinggi, dan para doktor dituntut untuk mengejar jabatan profesor; sementara itu, standar-standar administrasi untuk tenaga kerja akademis dikuasai/dikendalikan oleh kapitalis Barat. Oleh karena itu, hal ini hanyalah menghasilkan pemborosan waktu dan energi dengan hanya mengejar target promosi pada pangkat dan jabatan. Selain itu, saat ini terdapat sebuah perubahan perhatian universitas kepada "Tridarma" (tiga dedikasi) yang lebih fokus pada riset serta memacu inovasi, bukan lagi menuju pelayanan kepentingan masyarakat. Sementara itu, riset dasar dan pendanaannya kurang difasilitasi secara cukup jika dibandingkan dengan riset terhadap hak kekayaan intelektual.
Isu lain yang juga menarik perhatian terkait pendidikan tinggi di Dunia Muslim adalah minimnya pendanaan dan pengelolaannya dari dana kas negara, yang ditunjukkan dengan adanya pengurangan kesempatan pada spesialisasi studi lanjut dan riset. Hasilnya adalah brain-drain parah atas negeri-negeri kita sehingga negara-negara Barat memperoleh manfaat atas pemikiran dan keahlian unggul dari umat ini, daripada Dunia Muslim (yang merasakan manfaatnya). Rendahnya alokasi dari dana kas negara memiliki dampak terhadap tingginya biaya pendidikan tinggi. Sebagai contoh, untuk belajar kedokteran di salah satu universitas terkemuka di Indonesia, biayanya 100 juta rupiah per semester.
Brain drain atau larinya sumberdaya manusia (human capital flight) adalah kepergian para ahli, ulama, dan intelektual potensial ke negara-negara lain yang umumnya lebih maju dibandingkan negara asal. Hal ini disebabkan kurangnya kesempatan untuk melakukan kerja kreatif, sehingga mendorong mereka untuk berpindah ke negara-negara yang memberikan lebih banyak peluang untuk mengembangkan diri serta pengetahuan mereka. Sebuah laporan dari UNDP (Amich Alhamami, 2007) menyebutkan bahwa lebih mudah untuk mencari dokter spesialis yang berasal dari Ethiopia di AS daripada di Ethiopia itu sendiri.
Umumnya, fenomena brain drain ditandai dengan para pemuda berpotensi besar dengan kemampuan di atas rata-rata meninggalkan negara mereka. Beberapa di antaranya ada para akademisi, insinyur, ahli komputer, ahli IT, ahli kedirgantaraan dan astronomi, doktor, serta para ahli di bidang lain. Mereka melakukan berbagai penelitian yang didanai negara-negara asing, sehingga sebagai akibatnya hasil dan penemuan mereka dipatenkan di luar negeri. Dampaknya, Indonesia harus membayar royalti kepada negara-negara asing untuk dapat mengakses berbagai penemuan dari anak-anak bangsa mereka sendiri. Alokasi anggaran riset di Indonesia tidaklah lebih dari Rp 1.73 triliun rupiah (Okezone.com); bahkan pola penelitian yang ada tumpang tindih pada topik-topik studinya. Tidak ada arah atau perencanaan yang jelas dari negara, dan fokus riset hanyalah menuju publikasi jurnal internasional. Meskipun data empiris yang akurat tidak tersedia, diperkirakan 5% dari (fenomena) brain drain berasal dari Indonesia. Ini adalah angka yang cukup signifikan mengingat kegagalan sumberdaya manusia Indonesia adalah karena alokasi anggaran yang rendah dari negara untuk pendidikan. Masalah lain terkait fenomena brain drain adalah bahwa kaum intelektual ini menjadi terpesona oleh peradaban sekuler-kapitalis Barat dan kemudian kembali ke dunia Muslim untuk menjadi duta-duta budaya Barat di wilayah mereka, mengingat posisi tinggi yang mereka peroleh karena kualifikasi mereka. Oleh karena itu, pendidikan tinggi di dunia Islam saat ini tidak mengantarkan pada kemajuan dan manfaat bagi negeri-negeri Muslim, karena pendidikan tinggi tidak dikelola atau didanai untuk menyelesaikan isu-isu, kepentingan, serta kebutuhan vital di negeri-negeri kita beserta masyarakatnya. Mata pelajaran tidak diajarkan dengan cara yang bertujuan untuk membantu penyelesaian isu-isu, kepentingan, serta kebutuhan vital negeri-negeri kita beserta masyarakatnya dan pembangunan yang tulus atas daerah itu, melainkan (lebih diajarkan) secara individualistis dan terlepas dari tujuan-tujuan tersebut.
Sebaliknya, pengelolaan dan pendanaan pendidikan tinggi akan menjadi prioritas bagi Khilafah. Khilafah akan mengelola secara praktis pendidikan tinggi dalam rangka memenuhi aspirasi pendidikan masyarakat, menghidupkan kembali generasi besar intelektualitas dan kreativitas. Khilafah juga akan menjamin pembangunan dan penelitian yang tulus di negeri-negeri kaum Muslim, dan bahwa isu-isu, kepentingan, serta kebutuhan vital masyarakat diperhatikan dan dilayani melalui pemberdayaan intelektual. Pengaturan pendidikan tinggi di dalam Khilafah, tujuan, jenis, dan lembaga-lembaganya dapat ditemukan di dalam publikasi Hizbut Tahrir - Dasar-dasar Kurikulum Pendidikan di dalam Khilafah.

B. Pengelolaan Pendidikan Tinggi di bawah Khilafah
Di dalam Khilafah, terdapat 3 tujuan pendidikan tinggi : (i) Untuk fokus dan memperdalam kepribadian Islam para mahasiswa dan untuk menghasilkan ulama/intelektual Islam dengan spesialisasi di semua cabang kebudayaan Islam, (ii) menghasilkan gugus tugas yang mampu melayani kepentingan vital umat, serta gugus tugas yang dapat menggambarkan rencana (strategi) jangka pendek dan jangka panjang, (iii) mempersiapkan gugus tugas yang diperlukan untuk mengurus urusan umat, seperti menghasilkan dokter, guru, perawat, insinyur dan orang-orang dengan profesi penting lainnya dengan jumlah yang cukup untuk kebutuhan masyarakat dan negara.
Pendidikan tinggi di bawah Negara Khilafah memiliki dua tipe utama:
Pertama- Belajar melalui pengajaran (study by teaching, di mana mengajar lebih besar porsinya daripada riset): Pengajaran formal dikelola/ditawarkan oleh fakultas dan universitas melalui program-program/kursus-kursus (manaahij), kuliah, dan pendidikan terjadwal. Mahasiswa memperoleh sertifikat "Gelar Pertama" yang dikenal hari ini sebagai diploma jika pendidikan tersebut adalah teknik atau kejuruan/vokasi; atau sertifikat akademik kedua (ijaaza) yang dikenal hari ini sebagai "Lc (License)" atau "Bachelor" dalam subjek tertentu di salah satu fakultas dalam universitas.
Kedua- Belajar melalui riset (study by research) : Ini adalah sebuah pembelajaran yang menyertai 'belajar melalui pengajaran' di mana penelitian lebih besar porsinya daripada (metode) pengajaran. Mahasiswa belajar untuk berinovasi dalam penelitian ilmiah, dan menjadi spesialis dalam pilihan budaya atau keilmuan tertentu. Ia melakukan penelitian yang tepat dan khusus untuk menemukan ide baru atau penemuan baru (novelty) yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mahasiswa memperoleh "Gelar Internasional Pertama (Ijaza)" yang saat ini dikenal dengan gelar "Master". Setelah itu, ia memperoleh "Gelar Internasional Kedua", yang sekarang dikenal sebagai "Doktor", dalam bidang budaya atau penelitian ilmiah.

Institusi Pendidikan Tinggi
Negara Khilafah akan membangun institusi-institusi berikut ini untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tinggi :
I. Institut-institut Teknik
II. Institut-institut Layanan Sipil (tenaga kerja)
III. Universitas-universitas
IV. Pusat-pusat Penelitian dan Pengembangan
V. Institut/Akademi Militer

1) Institut Teknik
Fungsi institut ini adalah untuk mempersiapkan tenaga kerja teknis khusus dalam teknik-teknik modern seperti memperbaiki perangkat elektronik misalnya perangkat telekomunikasi dan komputer, juga kejuruan lainnya yang memerlukan pengetahuan dan ilmu mendalam dibandingkan yang ditawarkan oleh kejuruan biasa (simple vocation). Di antara institut ini terdapat institut pertanian yang berada di bawah Departemen Pertanian yang berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan. Mereka mengkhususkan diri dalam mata pelajaran pertanian yang tidak membutuhkan studi universitas. Institut-institut ini berfungsi mempersiapkan tenaga kerja berkualitas untuk secara praktis menangani pertanian, misalnya teknik-teknik irigasi serta mengelola pohon dan tanaman pertanian, diikuti dengan pemeliharaan melalui pemupukan, pemangkasan, vaksinasi (tat'eem) dll; juga (mengelola) hewan peliharaan seperti ternak dan unggas, pengolahan hasil pertanian, serta pengolahan daging dsb.

2)   Lembaga-lembaga Ketenagakerjaan
Fungsi lembaga-lembaga ini adalah untuk mempersiapkan tenaga kerja yang mampu menangani beberapa pekerjaan yang tidak mensyaratkan para siswa untuk menghadiri universitas. Untuk mendaftar di lembaga-lembaga ini, pelamar setidaknya harus lulus ujian umum untuk jenjang sekolah.
Beberapa lembaga ini menghasilkan para perawat dan asisten tenaga medis seperti teknisi X-ray, teknisi laboratorium, dan teknisi gigi. Ada juga lembaga untuk kejuruan keuangan dan administrasi yang sederhana, serta apapun yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan kecil dan akun yang terkait tanpa perlu menghadiri universitas; misalnya pembukuan, buku kas, dan penghitungan zakat.
Beberapa lembaga ini menghasilkan para guru yang mampu mengajar di berbagai tingkatan sekolah, juga mempersiapkan program-program khusus untuk lulusan universitas yang ingin bekerja di bidang pendidikan.
Lembaga-lembaga (pendidikan) tersebar dan beragam di seluruh wilayah negara sesuai dengan kebutuhan daerah. Wilayah pesisir, misalnya, memiliki institusi kejuruan seperti penangkapan ikan, perbaikan kapal, dan menjalankan pelabuhan; sedangkan daerah yang dikenal untuk pertanian memiliki lembaga pertanian, dan seterusnya.

3) Universitas
Siswa yang lolos "Ujian Umum untuk Jenjang Sekolah" berhak untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri. Penerimaan dalam spesialisasi tertentu tergantung pada hal-hal berikut :
  • Nilai rata-rata siswa dalam "Ujian Umum untuk Jenjang Sekolah."
  • Pilihan spesialisasi siswa pada jenjang sekolah ketiga (SMA? ^^,), apakah budaya, ilmu pengetahuan, atau perdagangan
  • Nilai siswa dalam mata pelajaran pada ujian umum untuk jenjang sekolah ketiga terkait dengan opsi satu dimaksudkan untuk mengkhususkan diri di dalamnya. Mahasiswa Fakultas Fiqh dan Ilmu Syariah, misalnya, harus memperoleh nilai tinggi dalam mata pelajaran budaya Islam dan bahasa Arab. Siswa yang memilih teknik (engineering) harus unggul dalam mata pelajaran matematika dan fisika, sedangkan siswa yang memilih ilmu kedokteran harus unggul dalam ilmu-ilmu kehidupan (biologi) dan kimia, dan sebagainya. Para ahli menentukan mata pelajaran yang relevan untuk setiap spesialisasi universitas dan nilai rata-rata yang dibutuhkan untuk masing-masingnya.

Universitas mencakup berbagai fakultas, seperti :
  •   Fakultas Kebudayaan Islam dan Ilmu-ilmu Islam : Tafsir, Fiqh, Ijtihad, Kehakiman, Ilmu Syariah.
  • Fakultas Bahasa Arab dan Ilmu Bahasa Arab.
  • Fakultas Ilmu Teknik (engineering) : Sipil, Mekanik, Listrik, Elektronik, Telekomunikasi, Penerbangan, Teknik Komputer, dan lain-lain.
  • Fakultas Ilmu Komputer : Pemrograman, Sistem Informasi, Teknik/rekayasa Program, dan sebagainya.
  •  Fakultas Ilmu : Matematika, Kimia, Fisika, Komputasi, Astronomi, Geografi, Geologi, dan lain-lain.
  •  Fakultas Ilmu Kedokteran: Kedokteran, Keperawatan, Analisis Medis, Kedokteran Gigi, Farmasi.
  • Fakultas Ilmu Pertanian: budidaya tanaman, ternak, sapi dan pemeliharaan unggas, pengawetan makanan, ilmu penyakit tanaman dan ternak.
  • Fakultas Keuangan dan Ilmu Administrasi : Akuntansi, Ilmu Ekonomi, Perdagangan.

Fakultas dapat diinovasi atau digabung sesuai dengan kebutuhan.

4)    Pusat-pusat Penelitian dan Pengembangan
Fungsi dari pusat-pusat ini adalah untuk menghasilkan penelitian yang tepat dan khusus di berbagai bidang budaya dan ilmiah. Di bidang budaya, mereka berpartisipasi untuk mencapai pemikiran yang mendalam dalam menggambarkan rencana (strategis) jangka panjang, gaya/style untuk membawa dakwah melalui kedutaan-kedutaan dan negosiasi-negosiasi, atau dalam fiqh, ijtihad, ilmu bahasa, dan lain-lain. Dalam bidang ilmiah, mereka bekerja untuk berinovasi mengenai cara-cara dan gaya baru dalam ranah implementasi, misalnya dalam industri, ilmu nuklir, ilmu luar angkasa, dan sebagainya, yang membutuhkan kedalaman dan keahlian dalam riset.
Beberapa dari pusat-pusat ini berada di bawah universitas, sementara lainnya independen dari universitas dan berada di bawah Departemen Pendidikan. Para ntelektual, dosen, dan beberapa mahasiswa unggul -yang studi akademiknya menunjukkan penelitian, inovasi, dan kemampuan pengembangan- bekerja di pusat-pusat ini.

5) Akademi dan Pusat Penelitian Militer
Institusi-institusi ini berfungsi untuk menghasilkan para pemimpin militer, dan mengembangkan cara-cara serta gaya militer yang dapat mewujudkan (tujuan) meneror/menakut-nakuti musuh-musuh Allah dan kaum muslimin. Pusat-pusat dan akademi-akademi ini berada di bawah Amir Jihad.
Dengan semua ini saudariku, Khilafah akan membangun sistem pendidikan tinggi kelas dunia Insya Allah, menghidupkan kembali generasi besar intelektualitas dan kreativitas, serta membuat langkah besar dalam pengembangan dan penelitian. Oleh karena itu, manipulasi yang dilakukan oleh peradaban Barat terhadap pendidikan tinggi di negeri-negeri Muslim harus dihentikan. Sudah saatnya membawa kembali Khilafah untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Hanya Khilafah sajalah negara yang akan menjadikan pengetahuan memenuhi tujuan sebenarnya bagi umat manusia, seperti hujan yang menguntungkan bumi ini dan segala sesuatu di dalamnya. Nabi saw bersabda,

«مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ»
"Perumpamaan apa yang Allah mengutusku dengannya, yakni petunjuk dan ilmu, adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Di antara tanah itu ada yang subur yang dapat menerima air, lalu menumbuhkan rumput dan tumbuh-tumbuhan yang banyak. Dan di antaranya ada pula tanah yang keras dan dapat menahan air (tetapi tidak dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan), maka dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia. Mereka bisa minum, memberi minum ternak, dan bertani. Dan air hujan itu mengenai pula tanah yang lain, yaitu tanah keras dan licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Demikian itulah perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan bermanfaat baginya apa yang dengannya Allah mengutusku, ia mengetahui dan mengajarkan (kepada orang lain), dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepalanya, dan perumpamaan orang yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya (ia seperti tanah yang tandus)". [HR Bukhari-Muslim, dari Abu Musa ra.]


*Disampaikan pada Konferensi Perempuan Internasional, 11 Maret 2017 di Balai Sudirman Jakarta


Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget