Bandung News | Media Lokal Rasa Global

Terbaru


Penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina merupakan tindakan dzalim. Haram Umat Islam ridho terhadap apa yang dilakukan oleh penjajah Israel terhadap Palestina.
Akhir-akhir ini konflik Israel–Palestina semakin mencuat di tengah-tengah umat. Mencuatnya konflik Israel–Palestina diawali oleh pidato presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump dalam pidatonya memberikan pengakuan resmi bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. Ia juga menjelaskan bahwa pemindahan Kedutaan Besar AS akan segera berproses (news.detik.com, 2017).
Pernyataan Trump berujung penolakan di berbagai negara, termasuk di negaranya sendiri dan di negeri kita tercinta ini.
Bila melihat solusi yang ditawarkan oleh PBB (Persatuan Bangsa-bangsa), tentu Palestina yang dirugikan. PBB memberikan solusi dua negara (Two States Solution) untuk mengatasi konflik Israel-Palestina. Solusi dua negara merupakan salah satu opsi solusi konflik Israel–Palestina menyerukan untuk dibuatnya "Dua negara untuk dua warga." Dengan solusi dua negara, Negara Palestina berdampingan dengan Israel, di sebelah barat Sungai Yordan. Sejarah dari kerangka solusi telah tertulis dalam resolusi PBB mengenai "Penyelesaian damai tentang masalah Palestina" yang ada sejak tahun 1974 (id.wikipedia.org, 2017).
Dalam pandangan Islam solusi dua negara adalah kebhatilan yang harus ditolak karena tanah palestina adalah tanah kharajiyah, tanah milik kaum muslimin selamanya. Tanah kharaj adalah tanah suatu negeri yang dibebaskan melalui peperangan atau perdamaian (nusr.net, 2017). Ustadz Ismail Yusanto (Juru Bicara Hizbut Tahrir) melalui Twitternya mengatakan, “Palestina adalah tanah kharajiyah. Milik kaum muslimin. Tak seorangpun yg berhak menyerahkannya pd org lain. Karena itu, ‘two states solution’ hrs ditolak. Ini bukan solusi tp justru akan memberi jalan penjajahan menjadi abadi”.
Bila melihat sejarah Islam, ketika Kekhilafah Islam berdiri, Khalifah Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak memberikan tanah Palestina walau se-inchi pun kepada Yahudi. “Aku tidak akan memberikan satu inchi tanah dari Palestina kepada Yahudi sebab Palestina bukanlah milikku namun ia adalah milik umat dan umat telah menumpahkan darah mereka untuk mempertahankan tanah ini”. Sultan Abdul Hamid II, kepada Theodore Herzl, 1896.
Bagi umat Islam Palestina adalah tanah miliki kaum muslimin, haram baginya dimiliki oleh kaum kafirin walaupun se-inchi saja. Solusi dua negara adalah solusi bathil dan dzalim. Umat Islam haram ridho atasnya. Jauh-jauh hari Khalifah Sultan Abdul Hamid II menegaskan, “Jika kekhilafahan Islam ini hancur pada suatu hari, mereka dapat mengambil Palestina tanpa biaya. Tetapi selagi Aku masih hidup, aku lebih rela sebilah pedang merobek tubuhku daripada melihat bumi Palestina dikhianati dan dipisahkan dari kekhilafahan Islam. Perpisahan tanah Palestina adalah suatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kamimasih hidup”
Maka dari itu, solusi total untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina dengan menyatukan kekuatan Umat Islam seluruh dunia dalam satu kepemimpinan, berjihad dan menegakkan Syariah Islam secara sempurna dalam institusi Khilafah. Mengakhiri penderitaan Umat Islam dan mengembalikan kembali kejayaan Umat Islam sebagaimana yang alami pada masa kekhilafahan Khalifah Sultan Abdul Hamid II. Wallahu’alam
[Irfan wahyudin, Mahasiswa FPEB UPI Bandung]


Bdg.news. Bandung. Aksi #1112 yang diselenggarakan oleh Solidaritas Umat Islam Jawa Barat untuk Palestina, Senin (11/12) dihadiri alim ulama Jawa Barat. Ustadz Asep Soedrajat, Tokoh Ulama Jawa Barat dalam orasinya mengatakan, Kami tidak ridho atas apa yang dilakukan oleh penjajahan Israel. Palestina tanah negeri muslimin, haram dikuasai oleh kaum kafirin. Maka haram pula bagi kita ridho atas kondisi Palestina hari ini!

Ulama lainnya, Ustadz Jeni Anwar, Tokoh Ulama Sumedang menegaskan, Kami kaum muslimin tidak pernah gentar untuk berjihad membebaskan palestina, tapi kita tidak pernah melihat upaya pemimpin negeri muslimin mengirimkan pasukannya berjihad membebaskan palestina.

Lebih lanjut mengatakan, berkumpulnya kami hari ini mendukung pemimpin negeri muslimin untuk mengirimkan tentara membebaskan palestina. "Wahai pemimpin negeri muslimin, Anda punya tentara, kirimkanlah tentara muslimin untuk menghancurkan Israel!" ungkapnya.

Aksi yang digelar di depan Gedung Sate, Jawa Barat ini diikuti ribuan Umat Islam dari berbagi ormas Islam dengan berbagai tingkatan usia dan ragam pekerjaan.

Agus Suryana, Dosen sekaligus Pemerhati Pendidikan mengatakan dalam orasinya, Kami yang berkumpul di tempat ini bukanlah pengangguran, diantara kami ada yang berprofesi Dosen, pengusaha, pengajar dan mahasiswa, tapi kami hentikan sementara aktivitas kami hanya untuk membela kaum muslimin di tanah palestina, Allahu Akbar!, ucap ia menyemangati peserta aksi #1112.

Aksi diakhiri dengan pernyataan sikap mengutuk keras pernyataan Trump dan menyeru pemimpin negeri muslimin membebaskan tanah palestina dengan jihad dan menerapkan syariat islam secara sempurna dalam institusi khilafah. [Irfan]


Bdg.news. Bandung. Ribuan umat Islam Jawa Barat (Jabar) menggelar aksi 1112 di depan Gedung Sate, Senin (11/12). Aksi yang diselenggarakan oleh Solidaritas Umat Islam Jawa Barat untuk Palestina ini mengutuk keras pernyataan Trum, Presiden Amerika Serikat yang mengatakan "Sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel".

Sebagaimana pantauan Bdg.News, aksi dimulai pukul 08:30, dengan long march dari depan Mesjid Pusdai Jabar menuju depan Gedung Sate Jabar. Ribuan peserta mengusung panji-panji Rasulullah dan membentangkan spanduk kecaman terhadap Amerika dan Israel.
Selain itu mereka membawa berbagai poster menyeru para pemimpin negri islam mengirimkan pasukannnya menghancurkan Israel. [Irfan]



Pameran Pendidikan Islam yang digelar oleh UKM KALAM UPI dari tahun 2015 ini akan menjanjikan lebih professional dan meriah di tahun ketiganya ini. Dengan tema “Islamic Education For The Great Future”, panitia acara mengatakan bahwa untuk PPI 2017 ini telah dilakukan persiapan lebih dari 2 bulan lamanya. Untuk itu panitia merasa optimis bahwa untuk penyelenggaraannya di tahun ini baik pameran, seminar dan peluncuran buku akan berjalan lebih professional dan meriah.

Untuk acara seminarnya saja panitia telah mengundang Dr. Fahmy Lukman, M. Hum. sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Mesir dan Filipina periode 2013-2017.

Ditambah dengan penyampaian makalah dari para ahli pendidikan yg lain seperti Dr. Aam Abdussalam, M. Pd. yg saat ini menjadi Ketua Asosiasi Dosen Pendidikan Islam Seluruh Indonesia (ADPISI) dan Ketua Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI.

Adapun pemakalah kedua akan disampaikan oleh Dr. Eka Cahya Prima, M. T. Selaku dosen Prodi International Program on Science Education UPI dan Sekolah Pascasarjana UPI.



Sementara untuk buku yang akan diluncurkan pada tahun ini adalah buku Pendidikan Islam Jilid II sebagai kelanjutan dari buku jilid pertamanya yg diterbitkan tahun lalu.

Sebagaimana yg disampaikan oleh ketua panitia PPI17 Wawang Nurfalah bahwa buku ini sebagai bentuk manifestasi dan kontribusi dari UKM KALAM UPI untuk Universitas dan untuk dunia intelektual pada umumnya. Pada peluncurannya buku ini juga akan langsung dibedah oleh Guru Besar UPI yg baru saja diangkat yakni Prof. Dr. Nunuy Nurjanah, M. Pd.

Sebagai icon acara sendiri yakni acara pameran pendidikan Islam untuk tahun ini akan dipamerkan tiga komponen pendidikan yakni tujuan pendidikan, guru & murid dan metode pendidikan yg akan dipamerkan dalam 6 stand yg berbeda.

“Akan profesional karena untuk PPI17 ini kami bekerjasama langsung dengan vendor – vendor profesional untuk dapat membantu persiapan acara. Dan tentu akan meriah karena dari rangkaian acara sendiri kami pastikan akan sangat menarik untuk diikuti, dan tempat acara kami juga memilih di PKM, dan tentunya kami akan melakukan publikasi dan promosi acara yg lebih mantap jiwa” Ujar Wawang Nurfalah selaku ketua panitia.

Melalui acara yang akan digelar pada tanggal 16 Desember 2017 mendatang ini panitia mengharapkan bahwa pendidikan Islam dapat diterima dan diyakini sebagai sebuah konsep pendidikan yg layak untuk dijadikan pilihan lain selain pendidikan sekuler. Karena melalui pendidikan Islam ini disampaikan oleh panitia yg dapat menjadikan seorang manusia kembali kejalur hidupnya sebagai Abdullah dan Khalifatullah.

Bandung, 15 November 2017
Panitia Acara PPI17

www.kalam.ukm.upi.edu
@kalamupi
@kalamupidivan


HADITS BARU ADA 200 TAHUN SETELAH RASULULLAH WAFAT?
(Sebuah Refleksi Atas Perdebatan Para Ulama dengan Orientalis Sejak Abad ke-19 yang Menginspirasi Gagasan Ingkar Sunnah)

Oleh: Yuana Ryan Tresna*

Saya "terpaksa" menulis catatan singkat ini setelah ada beberapa orang yang katanya menunggu-nunggu ulasan tema ini setelah ramainya media sosial dengan pernyataan seorang yang tidak bertanggung jawab. Saya sejak awal sangat tidak tertarik menulis hal ini karena saya tidak mau menanggapi sebuah pernyataan yang tidak memiliki bobot intelektual. Tulisan ini semata karena permintaan beberapa orang tersebut. Anggap saja ini adalah bahan ajar terkait realitas hadits pada masa qabla dan inda tadwin (pembukuan hadits). Bukan merespon siapa-siapa. Atau anggap saja ini monolog saya ketika merefleksi sejarah perdebatan di era ingkar sunnah modern.

Penyataan "hadits BARU ADA setelah 200 tahun Rasulullah wafat" berbeda dengan pernyataan "hadits BARU DIBUKUKAN setelah 200 tahun Rasulullah wafat". Pernyataan pertama sangat berbahaya, sedangkan pernyataan kedua adalah benar jika yang dimaksud adalah gelombang besar proses tadwin hadits oleh para ulama. Hadits sebenarnya sudah ditulis oleh para ulama sejak pertengahan abad pertama hijriyah, tetapi belum menjadi gelombang besar dan kesadaran para ulama untuk melakukan seleksi hadits.

Pernyataan pertama sebenarnya serius jika penuturnya memang mengerti apa yang ia katakan dan siap mempertahankan pendapatnya. Tetapi jika penuturnya sendiri kebingungan dan minta maaf karena tidak mengerti ilmu hadits, lantas saya harus respon apa? Apalagi setelahnya disusul dengan pernyataan membingungkan bahwa banyak hadits dha’if dan palsu, serta tidak bisa digunakan sebagai landasan hukum. Makin rancu. Jadi yang dibidik itu terkait keotentikan hadits atau hanya kevalidannya saja (shahih-dha’if). Kalau hanya begini sih, sebenarnya cukup direspon oleh santri yang baru belajar ilmu hadits saja.

Uji Otentisitas, Validitas atau Reliabilitas?
Jika dikatakan hadits baru ada 200 tahun setelah Rasul wafat, maka ini merupakan gugatan terhadap otentisitas hadits. Kalau dikatakan hadits baru dibukukan 200 tahun setelah Rasul wafat kemudian meragukan penerimaan sebuah hadits sebagai hujjah, maka ini merupakan gugatan terhadap validitas hadits. Adapun kalau dikatakan suatu hadits tidak relevan dalam penerapannnya, maka termasuk gugatan terhadap reliabilitas hadits. Jadi mau duel di ranah mana? Harus jelas dulu. Mau kelas berat atau kelas ringan. Tapi ya sudah lah kan ini adalah tulisan monolog, tidak ditujukan kepada siapa-siapa. Hanya terinspirasi oleh “kelucuan sosial” yang begitu atraktif dalam beberapa hari ini.

Gugatan terhadap Otentisitas Hadits dan Jawabannya
Pada bagian ini saya akan menampilkan penelitian Dr. Syamsuddin Arif dalam “Gugatan Orientalis terhadap Hadits dan Gaungnya di Dunia Islam”. Gugatan orientalis terhadap hadits bermula pada pertengahan abad ke-19 M. Adalah Alois Sprenger yang pertama kali mempersoalkan status hadits dalam Islam. Dia adalah seorang misionaris asal Jerman yang pernah tinggal lama di India ini mengklaim bahwa hadits merupakan anekdot atau kumpulan berita bohong. (Lihat Alois Sprenger, Das Leben und die Lehre des Mohammad, 3: 1xxxiii).

Klaim ini diamini oleh William Muir, seorang orientalis asal Inggris. Dia juga beranggapan Nama Muhammad sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan. (Lihat William Muir, The Life of Mahomet and The History of Islam, 1: x1ii).

Adapun yang lebih berbobot adalah kritik Ignaz Goldziher. Yahudi kelahiran kelahiran Hungaria ini sempat belajar di Al Azhar Kairo meski hanya satu tahun. Menurut Goldziher sebagian besar (kalau tidak dikatakan semua) hadits harus ditolak karena palsu. Dia menuduh hadits adalah buatan masyarakat Islam beberapa abad setelah Rasulullah wafat, artinya bukan asli dari beliau. (Lihat Ignaz Goldziher, Muhammedanische Studien, 2:5).

Pendapat Goldziher sudah dibantah oleh sejumlah ulama seperti Syaikh Musthafa al-Siba’i (al-Sunnah wa Makanatuh fi al-Tasyri’ al-Islam), Syaikh Muhammad Abu Shuhbah (Difa’ ‘an al-Sunnah) dan Syaikh Abd al-Ghani Abd al-Khaliq (Hujjiyyat al-Sunnah).

Pengikut Goldziher yang panatik adalah David Samuel Margoliouth. Dia menuduh hadits tidak otentik karena tidak ada bukti hadits dicatat sejak zaman Nabi dan lemahnya hafalan rawi. (Lihat Margoliouth, The Early Development of Mohammedanism, 121). Demikian juga dengan orientalis lain seperti Henri Lammens (Belgia), Leone Caetani (Italia), Josef Horovitz, dan Gregor Schoeler, Alfred Guillaume, dll.

Masalah ini juga sudah dijawab oleh Syaikh Muhammad ‘Ajaj al-Khathib dalam kitabnya, al-Sunnah Qabla Tadwin.

Demikian juga para pakar seperti Prof. Muhammad Hamidullah (Aqdam Ta’lif fi al-Hadits al-Nabawi), Fuat Sezgin (Geschichte des Arabischen Schrifttums), Nabila Abbot (Studies in Arabic Literaly Papyri II), dan Prof. Musthafa al-Azami (Studies in Early Hadith Literature) dalam karyanya masing-masing telah berhasil mengemukakan bahwa terdapat bukti-bukti otentik yang menunjukkan pencatatan dan penulisan hadits sudah dimulai sejak kurun pertama hijriyah, yaitu sejak Nabi masih hidup.

Spekulasi Goldziher dan sekutunya tersebut dilanjutkan dan didaur ulang oleh Joseph Schacht, seorang orientalis asal Jerman keturunan Yahudi. Dalam bukunya yang sangat kontroversial mengatakan bahwa tidak ada hadits yang benar-benar asli dari Nabi Muhammad, dan kalupun ada jumlahnya sangat sedikit. Senada dengan Goldziher, ia mengklaim hadits baru muncul pada abad kedua hijriyah dan baru beredar luas setelah zaman Imam Syafi’I (w. 204 H), yakni abad ketiga hijriyah. Katanya, sanad merupakan alat justifikasi dan otorisasi yang baru mulai dipraktikan pada abad kedua hijriyah. (Lihat Joseph Schacht, The Origins of Muhammadan Jurisprudence, 149).

Gagasan Schacht telah dibantah oleh Prof. Muhammad Abu Zahrah (An Analytical Study of Dr. Schacht’s Illusions), Prof. Zafar Ishaq Ansari (The Authenticity of Tradition) dan Prof. Mustafa al-Azami (On Schact’s Origins of Muhammadan Jurisprudence). Maka gagasannya sudah terkubur hidup-hidup. Apalagi di kalangan orientalis sendiri gagasan Schacht ini menuai kontroversi.

Meski demikian, gagasan Schacht ini masih saja ada pengikutnya, seperti Gauthier Juynboll. Seorang orientalis berkebangsaan Belanda. Juga, dengan sedikit revisi, ada John Burton (orientalis Inggris) dan Harald Motzki (Belanda). Motzki mengusulkan mengubah tesis dari via negativa menjadi via positiva. Via negativa bermakna semua hadits tidak otentik hingga ditemukan sebaliknya. Adapun via positiva bermakna semua hadits dianggap otentik kecuali yang terbukti tidak.

Gerakan Anti-Hadits atau Ingkar Sunnah
Orientalisme telah melahirkan gerakan ingkar sunnah. Muncul pertama kali di India, Pakistan, Mesir dan Asia Tenggara. Intinya, cukup al-Qur’an saja, tak perlu al-Hadits. Wabah anti Hadits sempat berkembang di Timur Tengah, setelah naiknya artikel Muhammad Taufiq Shidqi yang dimuat dalam majalah al-Manar, Kairo, Mesir. Setelah disanggah, akhirnya Shidqi sadar.

Pelopor gerakan anti-Hadits lainnya adalah Ahmad Amin, Muhammad Husain Haikal, dan Thaha Husain. Adapun yang paling memberikan pengaruh adalah terbitnya karya-karya Mahmud Abu Rayah. Dia menggugat otentisitas hadits, otoritasnya dan integritas para shahabat. Saya punya buku batahannya. Menarik.

Pendapat Abu Rayah sudah dibantah oleh sejumlah ulama seperti Syaikh Musthafa al-Siba’i, Syaikh Muhammad Abu Shuhbah, Syaikh Muhammad al-Samahi, Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Muhammad Ajaj al-Khathib, dll.

Gaung ingkar hadits juga bergaung di Amerika hingga Nusantara. Jekanya bisa dilacak dari gejala-gejala yang muncul di lapangan, sebagiannya bahkan sudah berani tampil secara terbuka.

Di Indonesia, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya di Jakarta pada Tanggal 16 Ramadhan 1403 H, bertepatan dengan tanggal 27 Juni 1983 M telah menetapkan bahwa paham Ingkar Sunnah/Hadits sebagai sesat.

Pokok-pokok pemahaman dan pemikiran ingkar sunah intinya adalah Islam hanyalah al-Qur’an, Nabi tidak berhak menjelaskan al-Qur’an dan Hadis-hadis yang beredar ini palsu.

Kritik Metodologi dan Epistemologi
Ada satu kelemahan yang paling menonjol dalam metodologi Schacht, yaitu seringnya dia menarik suatu kesimpulan berdasarkan argumentum e silentio, yakni alasan ketiadaan bukti. Padahal ketiadaan bukti yang didapat oleh peneliti, bukan berarti bukti itu tidak ada.

Kerapuhan metodologi ini tidak terlalu mengejutkan, karena Schacht dan orang-orang semacam dia memang berangkat dari niat buruk untuk merobohkan pilar-pilar Islam. Karena dipandu oleh niat buruk ini, maka kajiannya pun diwarnai oleh sikap pura-pura tidak tahu dengan sengaja mengabaikan data yang tidak mendukung asumsi-asumsinya dan memanipulasi bukti-bukti yang ada demi membenarkan teori-teorinya (abuse of evidence).

Terkait dengan kerancuan metodologi adalah sikap ‘paradoks’ (berpendirian ganda) dan ‘ambivalen’ (menganut nilai kebenaran ganda). Disatu sisi mereka meragukan dan bahkan mengingkari kebenaran sumber-sumber yang berasal dari orang Islam (karena metodologinya menghendaki demikian). Sementara di sisi lain mereka menggunakan sumber-sumber Islam tersebut sebagai bahan referensi (yang berarti tanpa disadari mereka akui kebenarannya).

Adapun secara epistemologis, secara umum dapat dikatakan bahwa sikap orientalis dari awal hingga akhir penelitiannya adalah skeptis. Mereka mulai dari keraguan dan berakhir dengan keraguan pula. Meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Apa yang membenarkan praduga yang dikehendaki itulah yang di cari, dan jika perlu, diada-adakan. Sebaliknya, apa-apa yang tidak sesuai dengan misi yang ingin dicapainya akan dimentahkan. Konsekuensi lainnya dari pendekatan skeptis ini adalah terjebak dalam lingkaran setan. Menurut Syamsuddin Arif, mereka akan berputar-putar dalam lingkaran keraguan tanpa berhasil keluar dari sana.

Berhenti Ngigau dan Bangunlah dari Tidur Lelapmu!
Jika ada seseorang yang pandangannya selaras dengan pandang para orientalis, maka hanya ada 2 kemungkinan: (1) kebetulan sama karena kebodohannya dalam mengutip/merujuk/mendengar, atau (2) sebagai penerus agenda orientalisme dan ingkar sunnah. Untuk kasus kelucuan sosial paling akhir, dugaan saya sih yang pertama. Karena kalau yang kedua terlalu mewah.

Jika kesamaan gagasan tersebut karena kebodohannya ketika mengutip/merujuk/mendengar, maka hanya ada dua kemungkinan juga: (1) tidak sadar atau (2) dengan kesadaran.Kalau mengutip dengan tanpa sadar, maka beri tahu dan bangunkan, mungkin dia lelah sehingga banyak ngigau dalam tidur lelapnya. Memang benar, psikologi orang panik itu apapun akan dijadikan pegangan meski itu sebuah tumpukan jerami. Namun, kalau dia mengutip dengan sadar, maka kasih tahu juga agar segera mawas diri kalau sekarang ini abad 21. Mengapa? Karena jika mengulang nyanyian lama tanpa proses “daur ulang gagasan”, maka akan jadi cemoohan orang banyak. Ini dunia nyata dan abad 21 bung, sedangkan gagasan tadi sudah tumbang sejak puluhan tahun bahkan ratusan tahun silam.

Penutup
Terakhir, saya kutipkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31).

Nabi bersabda,

((من أحيا سنة من سنتي فعمل بها الناس، كان له مثل أجر من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئاً))

“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“ [HR Ibnu Majah (no. 209), pada sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna]

===
*Penulis adalah Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat, dan Pengasuh Majelis Kajian Hadits Khadimus Sunnah Bandung.


Khilafah adalah Kepemimpinan Pasca-Kenabian
(Kajian Hadits Kepemimpinan)

Oleh: Hafid Karmi
Pengkaji di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat

Teks Hadits

« كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء ، كلما هلك نبى خلفه نبى ، وإنه لا نبى بعدى ، وسيكون خلفاء فيكثرون . قالوا فما تأمرنا قال فوا ببيعة الأول فالأول ، أعطوهم حقهم ، فإن الله سائلهم عما استرعاهم »

Arti Hadits

”Dulu Bani Israel diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka banyak.” Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama. Maka yang pertama saja. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang diminta agar mereka mengurusnya.”

Takhrij

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Abu Awanah, Abu Ya’la, Ibnu Abi Syaibah, dll.

Jenis Hadits

Berdasarkan jumlah rawi, termasuk Hadits Ahad, karena tidak memenuhi ciri-ciri sebagai Hadits Mutawatir. Berdasarkan matan, dari segi bentuk matan, termasuk Hadits qauli (ucapan). Dari segi sandaran (idhafah) matan, termasuk Hadits marfu’ (idhafah pada Nabi), dan karena tanda bentuk dan idhafahnya eksplisit maka disebut haqiqi. Berdasarkan sanad, termasuk Hadits muttashil (bersambung).

Kualitas Hadits

Setelah kami mengkaji secara seksama aspek sanad dan matannya (dari semua jalur periwayatannya), berdasarkan kualitasnya, hadits tersebut masuk ke dalam hadits maqbul dengan kategori hadits shahih. Hadits shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi adil dan dhabith, sanadnya muttashil (liqa’), tidak ada illat (penambahan pengurangan dan penggantian), dan tidak ada kejanggalan (tidak bertentangan dengan al-Qur’an, Hadits shahih, dan akal sehat). Secara i’tibar, konvensi muhadditsin bahwa jenis kitab hadits menjelaskan kualitas Haditsnya, maka karena hadits ini terdapat dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim, maka dapat disimpulkan hadits ini memiliki derajat shahih.

Tathbiq Hadits

Hadits ini terkategori ma’mul bih (dapat diamalkan), karena lafazhnya muhkam (jelas). Adapun jika mutasyabih (lafazhnya tidak jelas), mansukh (hukum yang dihapus, jika ta’arudh), dan marjuh (yang dilemahkan, jika ta’arudh), maka ghair ma’mul bih (tidak dapat diamalkan)

Penjelasan dan Maksud Lafazh

قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيل تَسُوسهُمْ الْأَنْبِيَاء كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيّ خَلَفَهُ نَبِيّ ) أَيْ : يَتَوَلَّوْنَ أُمُورهمْ كَمَا تَفْعَل الْأُمَرَاء وَالْوُلَاة بِالرَّعِيَّةِ ، وَالسِّيَاسَة : الْقِيَام عَلَى الشَّيْء بِمَا يُصْلِحهُ . وَفِي هَذَا الْحَدِيث : جَوَاز قَوْل : هَلَكَ فُلَان ، إِذَا مَاتَ ، وَقَدْ كَثُرَتْ الْأَحَادِيث بِهِ ، وَجَاءَ فِي الْقُرْآن الْعَزِيز قَوْله تَعَالَى : { حَتَّى إِذَا هَلَكَ قُلْتُمْ لَنْ يَبْعَث اللَّه مِنْ بَعْده رَسُولًا } .

قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( وَتَكُون خُلَفَاء فَتَكْثُر قَالُوا : فَمَا تَأْمُرنَا ؟ قَالَ : فُوا بَيْعَة الْأَوَّل فَالْأَوَّل ) قَوْله : ( فَتَكْثُر ) بِالثَّاءِ الْمُثَلَّثَة مِنْ الْكَثْرَة ، هَذَا هُوَ الصَّوَاب الْمَعْرُوف ، قَالَ الْقَاضِي : وَضَبَطَهُ بَعْضهمْ ( فَتُكْبَر ) بِالْبَاءِ الْمُوَحَّدَة كَأَنَّهُ مِنْ إِكْبَار قَبِيح أَفْعَالهمْ ، وَهَذَا تَصْحِيف . وَفِي هَذَا الْحَدِيث : مُعْجِزَة ظَاهِرَة لِرَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيث : إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَةٍ بَعْد خَلِيفَة فَبَيْعَة الْأَوَّل صَحِيحَة يَجِب الْوَفَاء بِهَا ، وَبَيْعَة الثَّانِي بَاطِلَة يَحْرُم الْوَفَاء بِهَا ، وَيَحْرُم عَلَيْهِ طَلَبهَا ، وَسَوَاء عَقَدُوا لِلثَّانِي عَالِمِينَ بِعَقْدِ الْأَوَّل أَوْ جَاهِلِينَ ، وَسَوَاء كَانَا فِي بَلَدَيْنِ أَوْ بَلَد ، أَوْ أَحَدهمَا فِي بَلَد الْإِمَام الْمُنْفَصِل وَالْآخَر فِي غَيْره ، هَذَا هُوَ الصَّوَاب الَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابنَا وَجَمَاهِير الْعُلَمَاء ،

وَقِيلَ : تَكُون لِمَنْ عُقِدَتْ لَهُ فِي بَلَد الْإِمَام ، وَقِيلَ : يُقْرَع بَيْنهمْ ، وَهَذَانِ فَاسِدَانِ ، وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوز أَنْ يُعْقَد لِخَلِيفَتَيْنِ فِي عَصْر وَاحِد سَوَاء اِتَّسَعَتْ دَار الْإِسْلَام أَمْ لَا ، وَقَالَ إِمَام الْحَرَمَيْنِ فِي كِتَابه الْإِرْشَاد : قَالَ أَصْحَابنَا : لَا يَجُوز عَقْدهَا لِشَخْصَيْنِ ، قَالَ : وَعِنْدِي أَنَّهُ لَا يَجُوز عَقْدهَا لِاثْنَيْنِ فِي صُقْع وَاحِد ، وَهَذَا مُجْمَع عَلَيْهِ . قَالَ : فَإِنْ بَعُدَ مَا بَيْنَ الْإِمَامَيْنِ وَتَخَلَّلَتْ بَيْنهمَا شُسُوع فَلِلِاحْتِمَالِ فِيهِ مَجَال ، قَالَ : وَهُوَ خَارِج مِنْ الْقَوَاطِع ، وَحَكَى الْمَازِرِيُّ هَذَا الْقَوْل عَنْ بَعْض الْمُتَأَخِّرِينَ مِنْ أَهْل الْأَصْل ، وَأَرَادَ بِهِ إِمَام الْحَرَمَيْنِ ، وَهُوَ قَوْل فَاسِد مُخَالِف لِمَا عَلَيْهِ السَّلَف وَالْخَلَف ، وَلِظَوَاهِر إِطْلَاق الْأَحَادِيث . وَاَللَّه أَعْلَم .( شرح النووي على صحيح مسلم, 6: 316)

Makna Siyasah

Syaikh Samih Athif Az-zain dalam As-siyasah wa As-siyasatu Ad-dauliyyah, menjelaskan makna siyasah secara bahasa sebagai berikut:
ساس الدوب يسوسها سياسة, اذا قام عليها وراضها وادبها...
"Apabila seseorang mengurus hewan tersebut, membimbing serta melatihnya". Maka pengertian politik kebanyakan digunakan untuk ri'ayah (pemeliharaan), pembinaan serta pelatihan hewan tunggangan. Kemudian secara majazi digunakan untuk ri'ayah (pemeliharaan) terhadap urusan masyarakat.

Pengarang kitab Al-mughrib fii tartibil Mu'rib, juga menegaskan hal yang sama:
وَيُقَالُ الرَّجُلُ ( يَسُوسُ ) الدَّوَابَّ إذَا قَامَ عَلَيْهَا وَرَاضَهَا ( وَمِنْهُ ) الْوَالِي يَسُوسُ الرَّعِيَّةَ سِيَاسَةً أَيْ يَلِي أَمْرَهُمْ
Jadi dapat kita simpulkan bahwa kata siasah identik ri'ayah.

Secara lebih spesifik pengertian politik di dalam Islam didiskripsikan di dalam Mu'jamu Lughah al-Fuqaha' dengan:
رعاية شئون الامة بالداخل والخارج وفق الشريعة الاسلامية

Terkait Para Khalifah yang Banyak

وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيث : إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَةٍ بَعْد خَلِيفَة فَبَيْعَة الْأَوَّل صَحِيحَة يَجِب الْوَفَاء بِهَا ، وَبَيْعَة الثَّانِي بَاطِلَة يَحْرُم الْوَفَاء بِهَا ، وَيَحْرُم عَلَيْهِ طَلَبهَا ، وَسَوَاء عَقَدُوا لِلثَّانِي عَالِمِينَ بِعَقْدِ الْأَوَّل أَوْ جَاهِلِينَ ، وَسَوَاء كَانَا فِي بَلَدَيْنِ أَوْ بَلَد ، أَوْ أَحَدهمَا فِي بَلَد الْإِمَام الْمُنْفَصِل وَالْآخَر فِي غَيْره ، هَذَا هُوَ الصَّوَاب الَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابنَا وَجَمَاهِير الْعُلَمَاء ...

"Makna hadits ini adalah apabila terjadi bai'ah untuk seorang khalifah setelah (sebelumnya dibai'ah) khalifah, maka bai'ah yang pertamalah yang benar, dan wajib mencukupkan diri dengan bai'ah untuk yang pertama tersebut. Sedangkan bai'ah yang kedua adalah bathil dan haram mencukupkan diri dengan bai'ah tersebut. Dan haram atas yang kedua menuntut bai'ah, baik apakah dia tahu ataupun tidak terhadap bai'ah yang pertama. Baik mereka berdua ada di dua negeri atau di satu negeri, atau salah satu dari keduanya berada di negerinya yang (posisinya) terpisah sedangkan yang lain di luar negerinya. Inilah yang benar dimana shahabat-shahabat kita di dalamnya, begitupula mayoritas ulama'…"

Pemahaman dan Hukum

1. Kata “tasusuhum” menunjukkan bahwa para Nabi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menerapkan hukum kepada para pengikut mereka; atau dengan kata lain, mengatur urusan mereka dengan aturan yang diturunkan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada mereka.
2. Kata “khulafa” merupakan jamak dari kata “khalifah”, dan dengan kata kerja “yaktsurun” menunjukkan bahwa akan ada banyak khalifah setelah Rasulullah. Dengan demikian, hadits ini memberikan bantahan atas pendapat yang mengatakan bahwa khilafah hanya ada pada masa khulafa ar-rasyidin saja.
3. Memang ada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa khilafah berlangsung selama 30 tahun. Menurut Ibnu Taimiyah, hadits tersebut hanya menunjukkan suatu masa (periode) khilafah yang benar-benar mengikuti sunnah dan berjalan sesuai dengan metode Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu masa khulafa ar-rasyidin). Jadi hadits tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi periode khilafah hanya 30 tahun. Dengan cara menggabungkan dua pemahaman tersebut, maka kedua hadits tersebut dapat dipahami secara utuh.
4. Sebagaimana penjelasan Imam an-Nawawi, hadits ini menunjukkan bahwa dalam satu periode, kaum muslim hanya diperbolehkan memiliki seorang khalihah saja; dan bai’at yang diberikan kepada orang lain, sementara telah ada seorang khalifah, dianggap sebagai bai’at yang tidak sah.
5. Wajib berusaha melanjutkan kehidupan Islam dengan menegakan Khilafah. Upayanya memang membutuhkan proses panjang, sehingga perlu kesabaran dan senantiasa menjaga keikhlasan
6. Khilafah identik dengan kebaikan,
«يَكُوْنُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِيْ خَلِيْفَةٌ يَحْثُوْ الْمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا»
Akan ada pada akhir umatku seorang khalifah yang memberikan harta secara berlimpah dan tidak terhitung banyaknya. (HR. Muslim)

Wallahu a’lam.

@RaudhahTsaqafiyyah

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget