Bandung News | Media Lokal Rasa Global

Terbaru


"Kapitalisme telah gagal sebagai jalan menyejahterakan rakyat" tulis salah satu poster yang diusung pada demo buruh.
.
Apa itu kapitalisme?
Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang berasaskan kebebasan.
.
Sederhananya siapa yang punya uang banyak ia akan menguasai perekonomian
"Kaya semakin kaya, miskin makin miskin" bila saya biasa menyampaikan pembahasan ini di depan peserta didik.
.
Ciri Kapitalisme adanya kebebasan individu untuk mengelola faktor-faktor produksi.
.
Faktor produksi terbagi menjadi 4, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, Modal dan Skill.
Sebagaimana kita lihat saat ini, Sumber Daya Alam yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh para kapital, misal tambang minyak, tambang emas.
Bahkan pendidikan, kesehatan dan pelayanan umum lainnya.
.
Dalam kapitalisme peran pemerintah dalam mengatur perekonomian sangat minim, justru jika peran pemerintah terlalu dominan, akan mengakibatkan keburukan pada sistem ekonomi ini.
.
Negara yang menerapkan sistem ini dipastikan akan sering mengalami inflasi, pengangguran akan banyak dan kesenjangan pendapatan akan lebar.
.
Mengapa akan sering terjadi inflasi?
Karena bunga (bank) menjadi roda utama penggerak sistem ini. Lebih spesifiknya yaitu uang non rill, jika keberadaan uang beredar tanpa di backup dengan emas, maka tunggu saatnya infalsi akan meninggi.
.
Mengapa sering terjadi pengangguran?
Tentu pengangguran salah satu dampak inflasi.
Selain itu, karena para kapital menguasai faktor-faktor produksi, mereka dengan leluasa mengangkat dan memberhentikan pegawai atau dengan mekanisme kerja kontrak untuk menekan pengeluaran dan memaksimalkan laba.
.
Kesenjangan pendapatan jelas akan terjadi, karena dalam sistem kapitalisme masyarakat terbagi menjadi tiga: kaum kapital (pemilik modal/uang), kaum buruh (pekerja) dan kaum pemilik tanah (bangsawan/penguasa).
Maka lihatlah negeri ini, sudahkan negeri ini mengalami fenomena-fenomena seperti di atas?
Jika sudah, maka negeri ini sedang berjalan di atas rel yang salah.
Karena menurut teori pertumbuhan ekonominya Sombart, kapitalisme diawali dengan Prakapitalisme, Kapitalis Madya, Kapitalis Raya dan Kapitalis Akhir.
.
Maka tunggulah saatnya kapitalis hancur dengan sendirinya.
Lalu ekonomi islam akan segera muncul kembali.
Wallahu'alam
.
Oleh Irfan Wahyudin (guru ekonomi SMA)

#ekonomi #economic #akuntansi #accounting #guru #teacher #islam #kapitalisme #ekonomiislam #ekonomikapitalis #capitalism #buruh #killcapitalism


Bdg.news.BANDUNG - Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Bandung kembali menggelar Diskusi Publik DIALOGIKA bertajuk “SUMPAH PEMUDA: RELEVANSI TERHADAP TANTANGAN ZAMAN” bertempat di Warung Jajan 11, Cikapayang, Bandung, Rabu (25/10). Dialogika ini dihadiri oleh beberapa pembicara diantaranya Edo Mashanriza Landaoe (Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Kota Bandung), Andika Permadi Putra (Koordinator Forum Pemuda Mahasiswa Islam), Aji Teja Hartanto (Ketua Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Bandung), sedangkan perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Islam Kota Bandung tidak bisa menghadiri acara ini dikarenakan lain hal. Dialogika kali ini dihadiri juga oleh BKLDK Jawa Barat, Pembebasan Bandung, Rumah Pergerakan, mahasiswa ITB, UPI, UNPAS, UNIKOM, STKS, UNISBA, UIN SGD Bandung, dan mahasiswa Kota Bandung lainnya.
Edo, selaku Ketua GMNI Kota Bandung menyampaikan bahwa sepanjang perjalanan pergerakan mahasiswa menemukan titik kritisnya ‘’Dengan diawali momentum sumpah pemuda, sejarah pergerakan kala itu dimotori dengan keinginan untuk bersatu melawan penjajahan, diainilah nilai yang dapat diperoleh sebagai wujud keinginan untuk ber gotong royong,’’ katanya. Edo menambahkan bahwa negeri ini belum merdeka, dikarenakan masih adanya Neo-Imperialisme dan Neo-Kapitalisme. ‘’Negeri ini masih terjajah dengan tindak tanduk Neo-Imperialisme dan Neo Kapitalisme yang digaungkan barat/asing. Bahkan pergerakan mahasiswa sempat dibungkam oleh kebijakan NKK/BKK era Orba sebagai wujud tindakan represif demi melanggengkan keberpihakan khianat penguasa’’ jelasnya.
Andika, selaku Koordinator Forum Pemuda Mahasiswa Islam (FPMI) menjelaskan bahwa semangat sumpah pemuda tidak akan pernah terealisasi kalau kelakuan rezimnya seperti ini. ‘’Boro-boro poin-poin sumpah pemuda terealisaasi, dengan kelakuan rezim yang seperti ini’’ jelasnya. Andika memberikan pandangan FPMI terkait PERPPU ORMAS, dengan jelas mereka menolaknya. ‘’Kami dengan tegas menolaknya, setidaknya ada lima alasan, pertama tidak memberikan ruang kepada pihak tertuduh untuk membela diri, kedua pengalihan kewenangan dari yudikatif ke eksekutif, ketiga kriminalisasi ajaran Islam, keempat mengkriminalisasi ajaran Islam, dan yang kelima PERPPY ini seperti pisau bermata dua yang bisa digunakan sebagai alat untuk memukul lawan politik,’’ jelasnya.
Ketua Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan Kota Bandung, Aji, menyatakan bahwa poin-poin sumpah pemuda bertolak belakang dengan tatanan masyarakat (zaman) yang tidak berangkat dari semangat sumpah pemuda. Justru tata kelola masyarakat terbentuk dari prinsip sekularisme. ‘’Melalui sistem demokrasi-Kapitalisme kondisi zaman terbentuk sedemikian rupa dengan ruang kebijakan neolib yang terbuka lebar. Sumpah pemuda yagg tersimpulkan dalam wujud 4 Pilar hanya menjadi tameng dalam melegalkan perampokan kekayaan negeri dan penindasan terhadap umat gaya baru. Maka, bagi pergerakan mahasiswa yang telah mendapatkan musuh utama kapitalisme dan turunannya, harus diperkuat dengan basis perlawanan ideologi Islam. Hal ini adalah wujud kesadaran akan aktivitas perubahan yang diperuntukan untuk kebangkitan umat Islam sebagai sandaran pengaturan tatanan sosial kemasyarakatan.’ jelasnya.


Bdg.news. Bandung, 30 Oktober 2017 – Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Bandung menyelenggarakan aksi damai bertajuk “Evaluasi Total 3 Tahun Kepemimpinan Jokowi JK: Lawan Kamuflase Politik Rezim Neolib Melaui Upaya Depolitisasi Mahasiswa!”. Aksi yang di akomodir oleh GEMA Pembebasan Kota Bandung ini yang menempuh rute dari Galap Nyawang – UNPAD - Gedung Sate mengikutsertakan organ-organ kelembagaan lain seperti FKPM, BKLDK, CSR, Mahasiswa ITB dan perwakilan dari berbagai kampus lainnya seperti UIN Bandung.

Dalam tuntuannya, Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Bandung menyampaikan bahwa Rezim Jokowi-JK saat ini seolah telah menggeser fokus publik kearah persoalan-persoalan cabang yang dimunculkan oleh ulah rezim sendiri, yakni menyoal permasalahan intoleransi atau apa yang diklaim sebagai politik penyeragaman. Hal ini meski diakui sebagai problem yang mengilhami Nawa Cita, sadar tidak sadar kondisi tersebut adalah hasil dari kegagalan Negara mewujudkan keadilan dalam pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat sehingga memicu konflik antar golongan. Atau dominasi golongan tertentu untuk mengambil alih pengaturan urusan rakyat.

“Nawa Cita dengan harapan mewujudkan kedaulatan akan eksistensi Negara dan melahirkan stabilitas dalam perekonomian secara mandiri telah gagal direalisasikan. Hal ini ditunjukan dengan berbagai peristiwa politik dan kebijakan pemerintah yang malah semakin Neolib. Misalnya, Pemerintah memberikan perpanjangan kontrak freeport hingga 2045, Penjualan aset-aset BUMN, hutang yang menggunung hingga mendekati 4000 Triliun, belum lagi hadirnya lembaga-lembaga tandingan pemberantasan korupsi yang muncul dari koalisi partai yang berbeda dalam ranah pengaturan kekuasaan seperti Densus Tipikor, Pansus Angket KPK yang semuanya telah menihilkan harapan kewibawaan Negara dan Kemandirian ekonomi” Papar Aktivis Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Bandung.

Dalam orasinya, berulang-ulang disampaikan bahwa Rezim hari ini tengah berkamuflase dibalik upaya penggembosan kampus dan pembungkaman suara kritis mahasiswa atau depolitisasi mahasiswa sehingga kebijakan-kebijakan neolib dan pro terhadap kapitalis terabaikan dari fokus pengkajian masyarakat. Disinilah, Gerakan Mahasiswa Pembebasan menyerukan agar Mahasiswa dan Pemuda cermat dan kritis dalam menyikapi berbagai propaganda Rezim Penguasa dan memfokuskan perlawanan terhadap ancaman Ideologi Kapitalisme-Sekuler dengan Ideologi Islam.


Bandung - Puluhan massa yang tergabung dalam Forum Pemuda dan Mahasiswa Islam (FPMI) Jawa Barat menggelar aksi damai dengan Tema tuntutan "Kami Muda, Kami Peduli Negeri, Tolak kampanye Anti Radikalisme, Tolak pembodohan Kampus" pada Jum'at (27/10/2017) dari Pusdai sampai Gedung Sate Kota Bandung.

Aksi tersebut dilakukan sebagai respon pemuda dan mahasiswa Islam terhadap program deradikalisasi di kampus-kampus baik Swasta maupun Negeri dan dilanjutkan pada kampanye anti radikalisme kampus pada tanggal 28 oktober 2017. Program ini disinyalir oleh FPMI bertujuan membidik mahasiswa agar tidak lagi melakukan sikap kritis dan pengawasan pada penguasa dengan kebijakan neolibnya, apalagi membahas ide-ide Islam sebagai problem solver.

"Rezim hari ini mengunakan berbagai cara agar terus menekan suara-suara kritis mahasiswa di kampus, namun di saat yang sama Rezim justru melakukan kezholiman kepada masyarakat negeri ini dengan kebijakan yang merugikan, sebut saja Perppu ormas yang sudah menjadi UU lalu menjadi alat memberangus ide atau ajaran Islam beserta para aktivisnya, padahal pemuda dan mahasiswa Islam lah yang senantiasa peduli kepada negeri ini" Ungkap Dhani, Koordinator FPMI Jawa barat.

Sementara itu, Andika Permadi sebagai koordinator aksi menyampaikan 5 tuntutan aksi yaitu :

1. Menyeru pada semua elemen negeri untuk menolak ide-ide kapitalisme sekuler liberal yang mendominasi negeri;

2. Menolak Perppu ormas no.2 tahun 2017 yang telah disahkan menjadi Undang-undang yang akan menjadi alat pemerintah melakukan tindakan represif terhadap umat Islam;

3. Hentikan Kampanye Anti Radikalisme yang digulirkan sarat tuduhan terhadap ajaran Islam dan umat Islam, yang karenanya ini adalah kampanye pembodohan dan penyesatan atas lingkungan intelektual;

4. Ajaran Islam adalah ajaran mulia dari sang Pencipta alam,manusia, dan kehidupan, sudah seharusnya diambil untuk menjadi problem solver kehidupan;

5. Kaum Muda dan Mahasiswa harus semakin cerdas dan kritis menyikapi berbagai situasi yang terjadi, terdepan untuk peduli masa depan negeri

Sejumlah tokoh mahasiswa menyampaikan orasinya di depan Gedung Sate dan aparat kepolisian turut mengamankan unjuk rasa yang berlangsung Tertib dan damai.

Selain aksi damai, FPMI juga diterima dengan baik ketika melakukan kunjungan pada radio Pro 2 RRI dan radio El-Shinta Bandung. []


          Oleh:  Tresna Dewi Kharisma S.I.Kom (Peminat Media, Alumni Fikom Unpad)


             Seorang jurnalis senior sebuah surat kabar ternama di Jakarta pernah mengatakan bahwa seorang jurnalis seharusnya melepaskan identitas agama yang dianutnya ketika hendak menggali dan menulis sebuah berita, sehingga informasi yang disampaikan benar-benar fair, tanpa dipengaruhi oleh keyakinan yang ia miliki. Kalau perlu, mengabaikan iman mereka saat menulis.

            Hal ini pulalah yang menjadi prinsip sebagian besar para jurnalis—tak terkecuali jurnalis Muslim-- saat ini terutama mereka yang berada dalam naungan media sekuler. Prinsip “fair dan netral” menjadi dalih agar berita bisa objektif. Tak dipungkiri juga, masih ada juga jurnalis Muslim yang sadar bahwa mereka tidak bisa melepaskan keyakinan yang mereka anut sebagai konskuensi keimanannya dalam menjalankan profesinya ini walau jumlahnya sedikit.

            Lalu bagaimana jurnalis Muslim harus menjalankan profesinya di tengah budaya kerja media yang sekuler? Pertama, jurnalis Muslim harus memiliki orientasi yang jelas dalam hidup dan profesinya, sebagai jurnalis sepaket dengan perannya sebagai Muslim. Dia tidak bisa melepaskan keimanannya dalam melakukan aktivitas jurnalistiknya. Al Quran dan As Sunah dijadikan sebagai standar aktivitasnya. Keyakinan yang  diabaikan dalam aktivitas jurnalistik merupakan bentuk adopsi jurnalisme Barat yang sekuler dan liberal. Kedua, berpihak pada kepentingan Islam dan kaum Muslimin. Jurnalis Muslim harus berupaya untuk mengimbangi pemberitaan tendensius media sekuler yang ujung-ujungnya memojokkan umat Islam dengan segala bentuk stigma yang dilekatkan. Ketiga, seorang jurnalis yang beriman selalu dituntut untuk berpihak kepada kebenaran karena menulis yg haq adalah bagian dari dakwah. Keempat, mengadvokasi masyarakat dan melakukan counter opini jika terjadi upaya mem-framing fakta yang mendiskreditkan Islam,simbol dan pemikirannya. Di sinilah seorang jurnalis dituntut untuk mencerahkan para pembacanya bukannya malah mengaburkan atau bahkan mengikuti arus media yang tidak pro terhadap kaum Muslimin.

            Ruppert Murdoch, pengusaha media skala internasional pernah menyatakan bahwa jika ingin menguasai dunia maka kuasailah media. Pernyataannya ini bisa kita rasakan saat ini, di mana media-media mainstream dikuasai oleh kaum sekuler sehingga mereka bisa menguasai kaum Muslimin dengan cara menyesatkan opini, melekatkan stigma tertentu dan melakukan framing dalam pemberitaan.

            Tak dipungkiri, umat Islam kerap menjadi objek penderita. Bukan sesekali umat Islam menjadi bulan-bulanan media sekuler dan selalu menjadi korban penyesatan opini. Ketika pemberitaan media sekuler itu begitu dominan dan terus-menerus disajikan secara tak berimbang, maka babak belur lah umat ini, tanpa sebuah pembelaan.

                 Jurnalis Muslim melalui lisan dan penanya selayaknya melakukan pembelaan bagi agama dan umat Islam , walau mungkin akan menghadapi berbagai tantangan dan resiko. Inilah ‘perjuangan” kecil namun berarti yang bisa dilakukan oleh para jurnalis Muslim.






    

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget