Bandung News | Media Lokal Rasa Global

Terbaru


Bdg.news. Jakarta - Massa berkumpul dalam aksi damai 2 Desember. Mereka membentangkan bendera hitam ukuran raksasa dengan tertib.

Terpantau di pusat aksi, yakni di depan Tugu Monas, Jakarta Pusat, Jumat (2/12/2016), bendera ini dibentangkan di atas kepala massa. Bendera itu diarak melewati mereka. Setelah bendera itu lewat, massa duduk kembali dengan tertib.

Terpantau, bendera hitam ini juga dibentangkan di Jalan MH Thamrin. Massa yang mengenakan baju putih terlihat berdiri memegang bendera.

Bendera hitam itu biasa disebut sebagai panji hitam Ar-Rayah. Bendera itu bertuliskan kalimat dalam bahasa Arab, berbunyi La Ilaha Illallah Muhammadarasulullah.



Selain itu, bendera serupa dengan ukuran yang lebih kecil juga dibawa oleh sebagian massa. Ada pula bendera Palestina yang sempat dibentangkan massa aksi. 

Sumber: detiknews



Bdg.News. Bandung. "Aksi hari ini esensinya adalah mengukuhkan persatuan umat menuntut keadilan atas penistaan al quran yang dilakukan oleh Ahok" ucap Ust Asep Sudrajat saat ditemui di kantor DPD 1 HTI Jawa Barat, jum'at (2/12). Ketika ditanya apakah Ahok akan ditahan setelah aksi bela islam hari ini? Beliau mengatakan apapun alasannya, Ahok harus ditangkap! Jika tidak segera ditangkap kemarahan umat akan semakin meningkat dan bisa jadi akan terulang Aksi Bela Islam Jilid 4. Aksi hari ini merupakan respon atas lambatnya sikap pemerintah dalam menyelesaikan kasus penistaan oleh Ahok lebih lanjut pengurus DPD 1 Jawa Barat ini mengatakan bahwa umat Islam tidak akan berdiam diri ketika kitabnya dihina karena Islam adalah agama fitrah, muslim yang ketaatannya kurang sekalipun pasti akan marah jika agamanya dihina.

Mengakhiri wawancara, beliau meyakini betul kecintaan dan kerinduan umat Islam terhadap syariat Islam semakin meningkat dan moment Aksi Bela Islam hari ini merupakan modal bagi umat Islam agar semakin merapatkan persaudaraan, selain itu beliau menegaskan jika Ahok sampai tidak ditangkap ini mengindikasikan bahwa sistem hukum yang berlaku saat ini tidak memberikan keadilan dan sebagai seorang muslim beliau berkeyakinan hanya sistem Islam saja yang mampu memberikan keadilan seadil-adilnya. [Irfan]



Assalaamu'alaikum wr.wb

UNDANGAN TERBUKA

Universitas Pendidikan Indonesia sebagai kampus yang konsen dalam bidang pendidikan pasti jagonya dalam pendidikan.

Tapi tahukah anda? Bagaimana Islam memandang pendidikan, dan bagaimana Islam mengatur pendidikan? baik dari segi konsep, kurikulum, tujuan, metode, materi, evaluasi dan komponen pendidikan lainnya. Penasaran ? Lets join

KALAM UPI Proudly Present

PAMERAN PENDIDIKAN ISLAM

"Islamic Education Model For The Better Future of Indonesia"

Rincian Agenda :
A. Bedah Buku MENGGAGAS PENDIDIKAN ISLAMI "Meluruskan Paradigma Pendidikan" Jilid 1 Karya UKM KALAM UPI

hari/tanggal : Jumat, 9 Desember 2016
waktu : 16.00-18.00 WIB
tempat : Gedung Geugeut Winda (PKM) Lantai 1 UPI

Bersama :
1. Keynote Speaker Prof. Dr. Nunuy Nurjanah, M. Pd (Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia)

Narasumber :
1. Dr. Syahidin, M. Pd (Ketua Umum Asosiasi Dosen Pendidikan Islam Seluruh Indonesia)

2. Tatang Hidayat (Ketua Umum UKM KALAM UPI/Mahasiswa Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam DPU FPIPS UPI)

B. Seminar Pendidikan Islam
Tema : Menggagas Pendidikan Islami Untuk Indonesia Lebih Baik

hari/tanggal : Sabtu, 10 Desember 2016
waktu : 08.00-12.00 WIB
tempat : Gedung Gegeut Winda (PKM) Lt 1 UPI

Narasumber :
1. Pendidikan Dalam Perspektif Islam oleh Dr. Aam Abdussalam, M. Pd (Ketua Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam DPU FPIPS UPI)

2. Pendidikan Islam Dalam Perspektif Sejarah oleh Wildan Insan Fauzi, M. Pd (Dosen Departemen Pendidikan Sejarah FPIPS UPI)

C. Presentasi Makalah

"Peran Ekonomi dan Keluarga untuk Pendidikan"

hari/tanggal : Sabtu, 10 Desember 2016
waktu : 13.00-15.00 WIB
Tempat : Gedung Geugeut Winda (PKM) Lt 1 UPI

Pengantar : Dr. Retty Isnendes, M. Hum (Dosen UPI/Penulis Buku)

Narasumber :
1. Peran Ekonomi Dalam Pendidikan oleh Eko Ruslamsyah (Sekjen UKM KALAM UPI/Mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam FPEB UPI)

2. Peran Pendidikan Dalam Melahirkan Generasi Gemilang oleh Muhammad Lukman Hakim, S. Pd (Guru)

3. Peran Pendidikan Keluarga sebagai Pondasi Ketahanan Pribadi Anak oleh Murni Maulina (Kadep DPP DIVAN KALAM UPI/Mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI)

4. Implementasi kerjasama Orang tua dan Guru dalam Menanamkan nilai-nilai Keagamaan pada Anak Ajeng Sri Hikmayani, M. Pd. (Praktisi Pendidikan)

D. Pameran Pendidikan Islam (Tujuan, Kurikulum, Sarana dan pra sarana, Guru dan Murid, Materi, Metode dan Evaluasi)

E. Bazar Buku

Tunggu apalagi, ayo segera daftarkan dirimu krn PESERTA TERBATAS dengan:
Ketik REG-PPI_'NAMA_NIM_JURUSAN_FAKULTAS_KAMPUS

kirim ke : 0856-5961-7206 (laki-laki)
0896-6080-6740 (perempuan)

Tunggu apalagi, yuk segera daftar! 😄
GRATIS

Fasilitas : Ilmu bermanfaat E_Sertifikat, Sahabat baru dan banyak Door Prize

=== #‎YukKajiIslam #‎BackToTheRightWay ===

Organized by : Unit Kegiatan Mahasiswa Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

Suported by : Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Kota Bandung

Media Partner : Humas UPI, @infoUPI, @hitsUPI, Nyala Dakwah, Islam Inspiring, Inspirasi Muslim, MQ FM, Bdg News, Muslim Bandung, Voa Islam, dakwahkampus.id, Dakwah Islam, Tausyiah Cinta


Sponsored by : Resfect Denim clothing, Walkout clothing, Free Kick clothing, Mabda artword.

Contak person:
> Kadivar :089652222523
> Kadivan :087888998408

Media Resmi KALAM UPI

Facebook : KALAM UPI | KALAM UPI DIVAN
Instagram: kalamupi | kalamupidivan
Line. : @plm4365o(Kalam) @ixo668y (KalamUpiDivan)
Website : kalam.ukm.upi.edu

Sekretariat : Jalan Dr. Setiabudhi Gd PKM Lt 2 Ruang 17 UPI Bandung


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir (Ketua GNPF-MUI)

Panggilan Aksi Bela Islam 3, Jumat, 2 Desember 2016 tak terbendung. Sejak aksi ini dideklarasikan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), penghadangan secara sistematis, terstruktur, dan masif dilancarkan oleh mereka yang tidak ingin Ummat Islam bersatu menyuarakan Keadilan Sosial dan Keadilan Hukum. Mulai dari tudingan politisasi hingga isu makar.

Semua tuduhan itu hanya isapan jempol belaka. Ummat Islam tidak percaya lagi dengan propaganda dan agenda setting semacam itu. Sebaliknya, ummat Islam semakin menguatkan ketaatan dan keterikatan kepada ulama dalam bingkai syariat. Itu terlihat pada aksi Bela Islam 2 dan berlanjut pada Aksi Bela Islam 3.

Melihat gejala Aksi Bela Islam 3 pada tanggal 2 Desember 2016 hakekatnya adalah gerakan ideologi soft Muslim People Power dalam bentuk aksi Super Damai yang digerakkan oleh kesamaan rasa akibat penistaan agama dan Kitab Suci Ummat Islam. Penistaan itu dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, khususnya atas Surat Al-Maidah 51.

Namun, ini hanya gunung es. Gerakan Bela Islam yang mirip apel gabungan ummat Islam Nasional bahkan Internasional merupakan akumulasi berbagai kasus Ketidakadilan Sosial Indonesia, terutama ummat Islam sebagai pihak yang sering tersudutkan dan ideologinya dinistakan.

Mereka sering tertuduh sebagai pihak yang tidak Nasionalis, Anti Pancasila, tidak pro pada Bhinneka Tunggal Ika, dan lain-lain. Ironisnya, hak-haknya sebagai rakyat kecil terpinggirkan demi kepentingan Pemodal Asing dan Aseng.

Karena itu, Aksi Bela Islam adalah gerakan murni akibat keraguan ummat Islam terhadap penegakan supremasi hukum oleh rezim saat ini. Hal itu terbukti dalam kasus penistaan agama oleh BTP, andai tidak ada Aksi Bela Islam 1 masyarakat pesimis Ahok akan diproses hukum, dan andai tidak ada Aksi Bela Islam 2 masyarakat juga pesimis Ahok akan diproses dengan tegas, cepat dan transparan.

Atas dasar lumpuhnya Keadilan Hukum dan Keadilan Sosial inilah maka Aksi Bela Islam 3 disambut secara heroik oleh masyarakat muslim khususnya.

Aksi Bela Islam bukan tanpa target. Selain menguatkan rasa dan barisan Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Ukhuwah Wathaniyah (Persaudaraan Nasionalisme), aksi ini bertujuan untuk mengokohkan Persatuan Ummat Islam yang membawa pada Persatuan Indonesia, mengokohkan Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan nilai-nilai UUD 1945 yang asli.

Yang tak kalah pentingnya juga, aksi ini menuntut Keadilan Sosial dan Keadilan Hukum bagi seluruh rakyat Indonesia serta melawan kekuatan Oligarki yang telah membuat Indonesia terjajah secara politik, ekonomi, sosial, dan hukum. Penjarakan Penista Agama secepatnya!

Konsep acara Aksi Bela Islam 3 adalah unjuk rasa Islami dan Syar’i, walau ada pihak yang berusaha menggembosi bahwa ini bukan unjuk rasa tapi Majelis Zikir dan Doa, namun TUNTUTAN PENJARAKAN PENISTA AGAMA ADALAH TUJUAN UTAMA.

Walau ada upaya pengaburan yang ingin berujung pada pengaburan tujuan utama aksi Super Damai 212, konsep acara 212 adalah konsep Super Damai yang sangat agung dan suci dimana ummat Islam mengadukan nasibnya kepada Allah SWT dalam bentuk zikir, doa, tausiah, dan shalat Jumat secara bersama-sama sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan sosial dan tumpulnya keadilan hukum bagi Pribumi dan terkesan menganakemaskan kaum pemodal Aseng dan Asing yang telah menyuap kaum oligarki elite politik Indonesia .

MERDEKA!!!
Jakarta, 1 Desember 2016

Sumber : Media Resmi GNPF-MUI (www.belaquran.com)


Bdg.News. Bandung. “Ketika semangat juang telah menyala di dada, apapun bisa dilakukan termasuk bila harus bertaruh nyawa” twett Ust Ismail Yusanto di twitter pribadinya menanggapi aksi Long March umat muslim dari Ciamis menuju Jakarta yang akan mengikuti Aksi Bela Islam 212 besok.

Umat muslim ciamis dikabarkan telah tiba di Cimahi sore ini,  seperti dilansir dari news.detik.com, Koordinator Lapangan (Korlap) Long March Deden Bardukamal mengatakan bahwa tujuan Long March  ini untuk mensosialisasikan kepada masyarakat yang nanti kita lewati. Kita ini benar-benar ke Jakarta melakukan aksi damai, bukan untuk makar.

Diperkirakan jutaan umat muslim akan berkumpul di Jakarta menuntut keadilan atas penistaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Ahok Adapun Aksi Bela Islam yang digagas oleh GNPF-MUI besok akan digelar di Lapangan Monas dan sekitarnya dari pukul 08:00 hingga shalat jum’at.

Mengenai aksi besok, GNPF-MUI telah mengeluarkan pernyataan sikap bahwa Ahok harus ditahan karena beberapa alas an, diantaranya Ahok sudah dinyatakan sebagai tersangka dengan ancaman 5 tahun penjara sesuai pasal 156a KUHP, ungkap Juru Bicara FPI Munarman saat memberi keterangan pers di Jakarta, Jumat (18/11/2016). [Irfan]



Dalam negara sekuler seperti Indonesia saat ini, keberadaan media adalah perwujudan dari hak asasi, manifestasi dari kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Karenanya, konten media massa tidak dibatasi dengan tegas. Demikian pula penggunaan individu terhadap media sosial (medsos) bisa untuk apa saja. Tidak ada yang memberi batasan dan pengarahan penggunaan.

Akibatnya, media lebih banyak menyebarkan informasi sampah dan membangun persepsi dan pemahaman yang justru merusak. Bahkan, saat ini media massa menjadi salah satu faktor pengancam generasi. Konten-konten porno bertebaran dan menjadi komoditas menguntungkan segelintir pihak. Dalam masyarakat kapitalis- sekuler, seks dianggap hal yang harus selalu dihadirkan di tengah kehidupan. Wajar masyarakatnya dipenuhi perselingkuhan, zina, kekerasan seksual, dan kebejatan moral. Keluarga hancur dan masa depan generasi terancam.

Individu juga memanfaatkan media sosial untuk tujuan serupa; kesenangan syahwat, mengejar popularitas bermodal mengumbar kecantikan fisik. Lihatlah, apa yang bisa kita harapkan dari generasi ala Awkarin. Terkait langsung dengan ketahanan keluarga, lembaga konsultan perkawinan AS menyebut 80% perkawinan di AS berakhir dengan perceraian karena pemicu media sosial.
Di Indonesia, trennya menuju ke arah sama. Sejak 2013, di Probolinggo Jatim sudah mulai ada kasus perceraian disebabkan penggunaan facebook.

Setidaknya beberapa hal berikut menjadikan media sosial juga bisa merusak ketahanan keluarga:

– Lebih banyak menghabiskan waktu bermedia sosial dibanding bersama keluarga.
– Membangun kemesraan di media sosial.
– Mengumbar masalah rumah tangga di media sosial.
– Menjadi sarana menuju selingkuh/zina.
– Lebih asyik berkomunikasi dengan media sosial dibanding dengan suami/istri.

Melihat data di atas, memang dibutuhkan kampanye penggunaan sosial media yang sehat. Yakni penggunaan media sosial untuk kepentingan kebaikan, syiar, dan dakwah. Perlu terus diopinikan agar mewaspadai penggunaan medsos yang berpotensi merusak ketahanan keluarga.

Tak kalah penting, harus disadari bahwa kita membutuhkan hadirnya negara secara nyata untuk mengarahkan masyarakat agar benar dalam memanfaatkan media. Negara juga harus hadir untuk menghapus semua media yang menyajikan pemahaman, contoh perilaku dan gaya hidup yang merusak masyarakat, juga mengancam ketahanan keluarga.

Namun, bisakah kita harapkan peran tersebut bisa dihadirkan oleh negara sekuler sebagaimana saat ini? Nampaknya tidak. Kita butuh negara berdasarkan syariat yang berkomitmen utuh untuk melindungi seluruh sisi kehidupan rakyat dari segala bentuk kerusakan.[]

Iffah Ainur Rochmah
Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget